Kamis, 07 Juni 2012


Kuliah yes + organisasi yes = Selingan
Oleh : Andri Kurniawan*

Dikalangan teman-teman aktivis, bukan aktivis akademis melainkan aktivis organisatoris tertimbun satu ideologi klasik yang menjadi satu eksistensi dari keberadaan mereka. Eksistensi dengan dalih ideologi ini menjadi pola fikir yang tidak bisa dilepaskan dari sudut vertikal maupun horizontal. Ketika dihapkan pada sistem kaku, kolot, ideologi ini muncul sebagai bentuk pembrontakan dan perjuangan untuk melawan sistem kolot itu. Entah, aku juga tak bisa memberi representasi secara komperehensif mengapa aku menyebutnya sebagai ideologi. Yang kupahami adalah bahwa ketika manusia dihantam pada sebuah dinamika sosial, maka yang pertama berkehendak untuk bergerak apa dan bagaimana adalah dari pola fikir, metodologi pemikiran yang disebut dengan ideologi. Sek-sek, mungkin bukan ideologi tepatnya, mungkin “prinsip” lebih mendekati.

Selasa, 05 Juni 2012

Kesaktian Hape

       Sekarang ini, kalau tak punya Hape seakan nggak gaul, nggak mboys, ndeso. Hari gini gak punya Hape?..Hape sudah menjadi komoditas bagi semua segmen masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Dulu, awal tahun 200 an hanya segelintir orang yang nduweni alat canggih ini. Namun tidak untuk zaman kosmopolita sekarang, segmennya semakin luas. Mulai dari tukang sedot Wc, pasukan kuning, tukang jagal, tukang bakso, preman, mahasiswa, siswa, hingga pejabat Hape sudah menjadi daya gengsi, popularitas kecil dari majunya teknologi. Perubahan besar dari zaman konvensional menjadi digital. 

Sombong

Ku saksikan panorama alam
Membentang tegak nan tinggi menjulang
Gunung-gunung hampa resah menyaksikan
Segala sifat kesombongan manusia
Awan, kabut menagis deru melihat congkaknya peradaban
.
Bromo yang dingin itu menyengat apa saja
Kulit, tulang, hingga rasa usik dan geli
Gunung dengan julang yang tinggi itu berbisik
"hai manusia, akulah makhluk Tuhan yang senantiasa bersujud dan patuh kepadaNya
Tapi mengapa kau wahai manusia
Merasa sombong nan angkuh terhadap TuhanMu
.
Sejenak tiba-tiba angin kencang menderu
Bromo yang indah itu seakan menutup lukanya dengan bercik-bercik asap
Yang menempel disetiap kulit
.
Subhanallah......

Bromo, 1-2 Juni 2012








Kamis, 24 Mei 2012

Website resmi untuk Omik Fakultas Hudaya


Setiap lembaga, organisasi membutuhkan ruang khusus agar ia bias dikenal oleh masyarakat luas. Artinya, pengenalan diri kepada public sudah menjadi satu alat yang harus diterapkan agar setiap lembaga termsuk organisasi agar ia mempunyai bergend dimasyarakat, mahasiswa, dan segala segmentasi yang melingkupinya.
Salah satu segment yang mulai rame, gencar dengan aktivitas hari-hari ini tentunya adalah lembaga eksekutif mahasiswa baik Hmj maupun Dema. Dengan segala bentuk progam kerja, lembaga ini seyogyanya ingin merangkul seluruh jajaran mahasiswa agar mau berpartisipasi aktif dalam mengakomodir, memperjuangkan hak-hak mahasiswa, menyerap aspirasi public dalam menegakkan republic mahasiswa yang sehat, dan progresif. Lembaga ini terbukti menjadi motor organisasi yang kuat untuk memfilter kebijakan-kebijakan rektorat yang dianggap kurang pro dengan mahasiswa. Namun sayang, lembaga eksekutif belum sepenuhnya mendapat “apresiasi” secara komperehensif dari jajaran dosen, dekanat, hingga rektorat.

Sabtu, 19 Mei 2012

Gunting, Rambut Gondrong dan Bapak Berbrewok


            Suatu kali, aku mengantarkan seorang kawan ke sebuah kantor instansi di perguruan tinggi ternama di Malang. Maksud dan tujuan kawanku ke kantor institusi tersebut adalah meminta hak serta ngurusi administrasi yang berkaitan dengan proses beasiswanya di salah satu perguruan tinggi. Ini adalah kali kedua dia datang ke kantor instansi tersebut setelah kali yang pertama dia ditolak dan diusir dari tempat itu. Tentunya, ketika kawanku ini memberanikan diri untuk datang lagi dia sudah menyiapkan mental, kejernihan akal, dan sedikit srategi  agar tidak mengalami kali kedua seperti yang pertama dia alami pada waktu sebelumnya.
             Ketika kami sampai di kantor aku katakan kepadanya “Bleh, opo kowe siap?engko awakmu diusir maneh. “Ah..santae, sing penting aku maju dulu” ujarnya acuh. Sepertinya sudah mantap dia. Apapun hasilnya, diterima, ditolak, diusir kali ketiga, bahkan diblack list nama agaknya dia sudah tak peduli. Kebutuhan yang bersifat pragmatis sudah tak bisa ditunda lagi, harus segera direalisasikan. Idealis tak dibutuhkan saat ini.

Kamis, 17 Mei 2012

Terpasung


            Entah, ketika menapak langkah pada satu langkah kaki yang bernama kuliah tergambarkan pada ruang sadarku  tentang banyak corak, pola absurd, sketsa yang sampai sekarang belum kutemukan satu bentuk nyata sebenarnya terbentuk gambar apa dari sekian pola abstrak itu.
            Segala macam bentuk yang kuanggap abstrak itu berupa segala system yang dipatrap di kampus. Seperti mahasiswa harus berambut rapi, klimis, membuat makalah, masuk perkuliahan yang diabsen, haram berambut gondrong dan celana bolong dan lain-lain. Inilah abstrak-ku itu. Dengan alasan rasional memang dapat aku akui, bahwa kelembagaan itu mempunyai “otonomi” internal yang harus di manuti oleh segenap akademikanya. Jadi, siapapun anda ketika mlebu “kandang singa” mau tak mau anda minimal harus pakewuh dengan segala hal-hal yang berada disana terutama dengan system yang diterapkan.

Senin, 14 Mei 2012

Di Lorong Ibnu Aqil (3)


Membaca Indonesia lewat Lukisan
(Judul berita di Radar Malang  17 Mei 2012)




         Bursa dan Pameran Lukisan Kontemporer dalam rentetan acara Harlah PMII ke-52 yang diselenggarakan oleh Rayon Ibnu Aqil berlangsung pada hari Senin  (14/05/2012) menarik banyak kalangan untuk berdatangan untuk sekedar melihat maupun menawar harga lukisan yang ada. Dari mahasiswa banyak yang tertarik dengan model lukisan sketsa dan karikatur. Mahasiswa bisa langsung dilukis di tempat maupun menitipkan foto untuk dilukis sesuai dengan keinginan pemesan.
         Bursa dan pameran ini bekerja sama dengan Ojik galeri, Penjal (pelukis jalanan), ngakak (ngalam karikatr) dan PMII rayon perjuangan ibnu aqil. Empat puluh dua lukisan dipamerkan. Mulai dari sketsa, karikatur, maupun lukisan human interest dari tokoh bangsa. Emha ainun nadjib, Abdurahman Wahid (Gus Dur), Lukman Efendi, dan lain-lain.

Minggu, 13 Mei 2012

Sri Sultan Hamengku Buwono X ; Pemimpin itu harus ber- Tri Sakti Brata


   Malang pada (11/05/2012) benar-benar seperti mendapat durian runtuh. Seakan tidak percaya dengan apa yang benar-benar terjadi pada malam itu. Disaksikan ratusan mungkin ribuan orang menyambut kedatangan Sri Sultan Hamengku Buwono X di jalan ijen tepatnya di perpus kota Malang. Kedatangan Sri Sultan ini membawa aroma baru terhadap era kepemimpinan era modern yang mengangungkan republic sebagai system dari pada kerajaan sebagai manuver baru untuk memperbaiki kondisi bangsa. Kepemimpinan Sri Sultan yang berpusat di Ngayogyokarto adalah model monarki, sistem kerajaan utuh yang tidak dapat diintervensi oleh apapun, bahkan oleh Negara sekalipun. Kerajaan ini mempunyai otonomi independen untuk mengatur, membangun, dan mensejahterakan masyarakatnya sendiri. Presiden hanya bisa pakewuh, sungkem, dan andhap ashor jika sudah masuk wilayah Ngayogyokarto ini.

Sabtu, 12 Mei 2012

Cak Kum-Pimred Radar Malang- (sebuah spionase)


Kurniawan Muhammad, seorang pimred Koran lokal radar Malang ternyata adalah alumni Universitas Brawijaya fakultas perikanan. Aktif di sejumlah kegiatan pers mahasiswa dengan mengasuh majalah ketawang gede. Ada yang menarik untuk sedikit di pahami bahwa konsentrasi seseorang dalam menekuni sebuah bidang, perjalanan karier, dan pendidikan  belum tentu menjadi akhir finis yang linier terhadap diskursus ilmu yang ditekuninya. Cak Kum, panggilan akrab Kurniawan Muhammad adalah alumnus fakultas perikanan  tapi menjadi wartawan jawa pos dan pimred radar Malang. Ini kan tidak nyambung-Jaka tingkir numpak becak;gak nyambung cak-.
Seperti yang dia ceritakan tentang pengalaman hidupnya di perpus lt.2 dalam acara “Short Course Of Journalism And Creative Writing” (11/05/2012)
“Saya adalah alumnus fakultas perikanan, tapi sekarang saya malah menjadi wartawan”terangnya dengan ringan.

Di Lorong Ibnu Aqil (2)

Ada ruh Al-Ghazali dan Socrates di dalam dirimu 

Teori tentang individualisme muncul karena dia dianggap asing, aneh, tidak berbicara dan tidak  berbuat, apatis terhadap segala segmen kehidupan entah cultural maupun structural. Anda punya sensivitas yang cukup representatif untuk menilai gejala seperti ini jika anda sedikit mau membuka mata dan telinga. Ini titik yang paling sederhana dan mudah. Tengoklah di sekitar dimana anda berada, di masjid, gereja, warung, perkantoran, kampus, lapangan sepak bola, gedung-gedung megah metropolitan dan lain-lain. Bicaralah dengan akal dan hati terhadap siapa saja yang anda temui. Jangan mengedapankan ego dan status sosial, mentang-mentang dosen, ustadz, muallim, lalu menjaga jarak dengan tidak mau ngopi dan futsalan bareng. Kalian menutup diri dan kehilangan interaksi sosial dengan mengagung-agungkan jabatan dan prestisiusitas. Maqalah Ki hajar Dewantoro tentang Ing ngarso sung tulodo ing madyo mangun karso belum sepenuhnya terpatri dalam tingginya intelektualitas kita. Manusia pintar nan cerdas memang gampang dicari, tapi manusia yang paham dan mengerti seakan hilang tertelan bumi. Wahai bumi, segera keluarkan manusia-manusia itu dari perutmu.