Oleh : Andri
Kurniawan*
Dikalangan
teman-teman aktivis, bukan aktivis akademis melainkan aktivis organisatoris
tertimbun satu ideologi klasik yang menjadi satu eksistensi dari keberadaan
mereka. Eksistensi dengan dalih ideologi ini menjadi pola fikir yang tidak bisa
dilepaskan dari sudut vertikal maupun horizontal. Ketika dihapkan pada sistem
kaku, kolot, ideologi ini muncul sebagai bentuk pembrontakan dan perjuangan
untuk melawan sistem kolot itu. Entah, aku juga tak bisa memberi representasi
secara komperehensif mengapa aku menyebutnya sebagai ideologi. Yang kupahami
adalah bahwa ketika manusia dihantam pada sebuah dinamika sosial, maka yang
pertama berkehendak untuk bergerak apa dan bagaimana adalah dari pola fikir,
metodologi pemikiran yang disebut dengan ideologi. Sek-sek, mungkin
bukan ideologi tepatnya, mungkin “prinsip” lebih mendekati.









