Kamis, 22 September 2011

Surga kita masih ditingkat dek.. (bawah)


Orang beriman yang selalu beribadah kepada Allah pasti  akan menempauti surgaNya. Tapi perlu diingat, orang seperti ini surganya rendah, menempati posisi dek kapal paling bawah. Nah, orang Indonesia masih dalam kategori demikian, bikin sinetron yang direligi-religikan,  bikin lagu-lagu pop yang juga direligi-religikan.  Asal semuanya bisa mendongkrak nama dan popularitas, apalagi bisa menghasilkan money  street  semua model cara dilakukan. Pergi ke makkah melaksanakan haji dan umroh, padahal cuma rekreasi dan sensasi. Bikin lagu pop berlirik religius, tapi hanya untuk mendongkrak popularitas dan financial. Siapapun itu, artis, vocalis band, pemain sinetron, bahkan sekaliber koruptor pun ikut-ikutan. Untuk koruptor, Zawawi Imron dari Madura mengatakan” sulit mencari koruptor yang tidak naik haji, meskipun juga dibalik sulit mencari haji yang tidak koruptor”.  Mental juara yang dimiliki orang Indonesia masih seperti ini. Saya, anda, dan kita semua. Jadi, surga kita masih dibawah. Tapi kita juga harus tetap bersyukur, meskipun berada di bawah, setidaknya kita bisa berada di surga. Lumayan lah.
Yang kedua, orang yang menempati  surga tertinggi, dan bahkan diapun sendiri tidak membutuhkan surga, karena sejatinya dirinya lebih tinggi dari surga. Master piecenya Allah adalah manusia, karena dia adalah fi ahsani taqwim. Malaikat, syeitan, semuanya, pun tak ketinggalan juga surga. Jadi tidak mungkin dia menginginkan sesuatu yang tidak lebih tinggi darinya. Model orang yang seperti ini, tidak hanya mendapat kenikmatan surga, justru dia akan ditempatkan Tuhan dalam posisi yang proposional untuk dijadikan  kekasihNya.  Dikatakan siapapun yang selalu berfikir, mengambil hikmah, menganalisis pada setiap yang dia dengar, yang dia lihat, yang dia lakukan, maupun dari setiap benda dan apapun itu, lalu ia ambil hikmah dan makna untuk dijadikan pelajaran dalam hidupnya , maka siap-siaplah dia disapa Tuhan dan dijadikan kekasih serta disediakan nikmat untuknya. Bergembira dan beruntunglah dia. Nah, saya, anda, dan kita semua belum sampai kesana. 
Mental dan model paradigma kita tidak pernah menyentuh titik subtansial yang mengakar dan mendalam. Kita adalah orang yang setengah-setengah dan tidak pernah menjadi seutuhnya dalam menjalankan sesuatu. Meyakini dan melaksanakan ajaran agama, tapi masih menyakiti hati Tuhan. Sudah mempunyai penghidupan yang layak dan menjadi orang tertinggi dalam skala negara, tapi masih saja menggerogoti uang  rakyat.  Sudah melaksanakan ibadah tertinggi dalam rukun Islam, tapi belum memberikan uswah hasanah terhadap masyarakat. Yang baik ditanggalkan dan yang buruk diamalkan.  
Yang terbaik dan mungkin yang harus kita lakukan adalah muhasabah diri. Meniti langkah untuk menjadi yang lebih baik dan selalu mengambil hikmah dan pelajaran dibalik yang tersirat dan tersurat. Wallahu ‘alam.
Loyang disangka emas..
Emasnya dibuang-buang..
Kita makin buta mana utara mana selatan..
Yang kecil dibesarkan..yang besar diremehkan..
Yang besar disepelekan..yang sepele diutamakan..
(cak Nun)
Malang, 31 januari 2011
Andri Kurniawan
Css MoraUin Maliki Malang
Asal pesantren madrasatul Qur’an Tebuireng Jombang


Tuhan dan Munkar Nakir tak peduli dengan kehadiran dan kematianmu


             Aku mengalami jungkir balik kesulitan dan perjuangan dalam kesendirian tanpa sahabat maupun seorang perempuan yang menguatkanku.  Lagi-lagi mengapa harus perempuan yang harus  menjadi tendensi kekuatan dalam perjuangan. Seakan kehadiran makhluk bersifat lembut ini tak bisa dihilangkan dan disepelekan. Saya kira ada benarnya juga, napak tilas perjuangan orang-besar dulu. Rasul Muhammad SAW sangat begitu sukses dalam peradaban dunia dan contoh keteguhan seorang pemimpin karena dalam setiap perjuangan beratnya terdampingi seorang Khadijah Al-Kubra, yang Rasul dipeluk ketika menerima beratnya wahyu yang pertama. Pengorbana dalam bentuk tenaga, fikiran, dan harta seorang khadijah seakan tidak bisa tergantikan, bahkan oleh seorang Siti Aisyah pun. Disini, sekuat apaupun seorang laki-laki, setegar apapun seorang pahlawan, akan tetap  membutuhkan perempuan sebagai penopang, penguat, dan pengganti kekuatannya yang hilang. Begitu dahsyatnya kekuatan perempuan. Nah, disini aku berjuang tanpa seorang perempuan, kenyataan yang harus kuhadapi. Aku lemah, lemah sekali. Aku butuh seorang yang menguatkanku disaat aku terhimpit asa. Aku butuh seorang yang menghiburku disaat aku sedih, dan aku butuh seorang yang menjadikanku seorang yang yang berharga ketika aku dianggap hina. Aku merasa sepi di tengah keramaian. Dan aku merasa bahagia di tengah kesedihan. Kesedihan orang lain, kadangkala demikian. Adakah disana seorang yang mengerti keadaanku, ah..sepertinya tidak ada. Kutanyakan pada Tuhan tentang hal ini. Dia diam saja. Aku menangis di depan sajadah cinta, Dia juga diam. Jika Tuhan saja sudah diam dan tidak menganggapku sebagai hambaNya, lalu aku akan mengaduh kepada siapa. Kepada ayah?atau kepada Ibu. Mungkin tidak, keduanya akan semakin sedih jika mengetahui bagaimana keadaanku. Tidak tidak, aku tidak ingin membuat mereka bersedih. Sudah terlalu banyak kesusahan yang ku berikan kepada mereka.
            Perjuangan dan pengorbanan yang sia-sia. Tidak perlu diteruskan. Ada hal-hal lain yang bermanfaat selain berjuang dan berkorban. Mati. Engkau akan sedikit  tenang dan nyaman dengan ini. Toh, sekalipun kau mati tak ada orang yang peduli denganmu. Bahkan munkar nakir pun enggan menanyaimu di alam kubur.
Sesaat setelah aku menulis ini, tiba-tiba semuanya menjadi gelap.
Malang, 19 Mei 2011