Minggu, 15 September 2013

Hormat


Roman atau aku suka menyebutnya dengan romansa, menempati satu pengetahuan sastra yang aku minati, tidak hanya hanya sebatas unsur sastrawinya namun juga plot dinamika kisahnya yang dinamis. Banyak sastrawan hebat, cerdas, yang aku kagumi karya-karyanya. Pramodya ananto toer, pria kelahiran kota Blora yang hampir separuh hidupnya dihabisan dalam penjara. Disisi lain, ia juga berkali-kali masuk dalam daftar kandidat pemenang nobel sastra. Aku kagum dengan idealisnya, prinsip indenpensinya sebagai penulis ‘macan’, ia berhasil dan lulus menjadi dirinya sendiri. tanpa kepentingan public, politis. Ia telah menjadi ananta toer. Roman Arok Dedesnya membuatku kepincut.

Sudah barang tentu, menulis menjadi detak jantungnya. Siapapun saja dan bagaimanapun keadaannya. Termasuk Chairil Anwar, hormatku kepadamu Bung Chairil.

Sampai sekarang aku tak faham, tak mengerti dasar filosofi apa yang membuat mereka begitu tekun, telaten menghabiskan hidupnya dengan untaian kata dan kalimat.

Tahun 2010, bersama teman-teman kami sowan ke Batang-batang Sumenep Madura. Silaturahmi ke salah sastrawan nasional yang popular dengan karyanya celurit emas D Zawawi Imron. Kami disambut hangat dan ramah. Beliau begitu bersahaja. Rumahnya yang sederhana dengan altar yang dipenuhi lukisan-lukisan ciptaannya. Disamping rumah beliau ada musholla sederhana yang ditempati lima puluh anak-anak, orang tua cacat. Kami akhirnya tahu bahwa baliau manampung mereka, dididik, disinaui, diajari ngaji. “ mereka juga aku ajari tentang sastra” tutur beliau.

Beliau bercerita lebar tentang perjalanan hidupnya. Termasuk pengaalaman pertama dalam menulis sastra. Beliau hanya lulusan SR ( setara SD) namun pengetahuan tentang teori-teori sastra, hakikat sastra, sejarah sastra, perlu mendapat apresiasi yang luar biasa. paling tidak menjadi pecut semangat bagi kami yang masih proses belajar.

“ aku pertama kali menulis puisi-pusiku di lontar daun, karena saat itu aku tak punya kertas untuk menulis” paparnya

Sindiran sekaligus rekonstruksi semangat bagi kami. Teknologi sudah menempati presisi tertinggi di zaman ini. Laptop dan komputer sekarang sudah sedemikian canggih, tidak ada alasan untuk tidak memanfaatkannya dengan baik. Termasuk menumbuhkan produktifitas menulis atau apapun saja.

Hormatku pada kalian wahai para sastrawan.

**____Malang. 7/9/’13______**