Senin, 13 Mei 2013

Menangis

Oleh : Emha Ainun Nadjib
 
Sehabis sesiangan bekerja di sawah-sawah serta disegala macam yang diperlukan oleh desa rintisan yang mereka dirikan jauh di pedalaman, Abah Latif mengajak para santri untuk sesering mungkin bershalat malam.

Senantiasa lama waktu yang diperlukan, karena setiap kali memasuki kalimat “iyyaka na’budu….”. Abah Latif biasanya lantas menangis tersedu-sedu bagai tak berpenghabisan.
Sesudah melalui perjuangan batin yang amat berat untuk melampaui kata itu, Abah Latif akan berlama-lama lagi macet lidahnya mengucapkan “wa iyyaka nasta’in….”
Banyak di antara jamaah yang bahkan terkadang ada satu dua yang lantas ambruk ke lantai atau meraung-raung.

“Hidup manusia harus berpijak, sebagaimana setiap pohon harus berakar”, berkata Abah Latif seusai wirid bersama, “Mengucapkan kata-kata itu dalam Al-Fatihah pun harus ada akar dan pijakannya yang nyata dalam kehidupan. Harus di situ titik beratnya bukan sebagai aturan, melainkan memang demikianlah hakekat alam, di mana manusia tak bisa berada dan berlaku selain di dalam hakekat itu”.

“Astaghfimllah, astaghfirullah”, geremang turut menangis mulut parasantri.

“Jadi, anak-anakku”, beliau melanjutkan, “apa akar dan pijakan kita dalam rnengucapkan kepada Allah iyyaka na’budu?”

“Bukankah tak ada salahnya mengucapkan sesuatu yang toh baik dan merupakan bimbingan Allah itu sendiri, Abah?” bertanya seorang santri.

“Kita tidak boleh mengucapkan kata, Nak, kita hanya boleh mengucapkan kehidupan”.

“Belum jelas benar bagiku, Abah”.

“Kita dilarang mengucapkan kekosongan, kita hanya diperkenankan mengucapkan kenyataan”. “Astaghfirullah, astaghfirullah”, geremang mulut para santri terhenti ucapannya. Dan Abah Latif meneruskan, “Sekarang ini kita mungkin sudah pantas mengucapkan iyyaka na’budu. Kepada-Mu aku menyembah. Tetapi Kaum Muslimin masih belum memiliki suatu kondisi keumatan untuk layak berkata kepada-Mu kami menyembah, na’budu”.

“Al-Fatihah haruslah mencerminkan proses dan tahapan pencapaian sejarah kita sebagai diri pribadi serta kita sebagai umatan wahidah. Ketika sampai di kalimat na’budu, tingkat yang harus kita capai telah lebih dari ‘abdullah, yakni khalifatullah. Suatu maqam yang dipersyarati oleh kebersamaan Kaum Muslimin dalam menyembah Allah di mana penyembahan itu diterjemahkan ke dalam setiap bidang kehidupan. Mengucapkan iyyaka na’budu dalam shalat mustilah memiliki akar dan pijakan di mana kita Kaum Muslimin telah membawa urusan rumah tangga, urusan perniagaan, urusan sosial dan politik serta segala urusan lain untuk menyembah hanya kepada Allah. Maka, anak-anakku, betapa mungkin dalam keadaan kita dewasa ini lidah kita tidak kelu dan airmata tak bercucuran tatkala harus mengucapkan kata-kata itu?”

“Astaghfirullah, astaghfirullah”, geremang mulut para santri.

“Al-Fatihah hanya pantas diucapkan apabila kita telah saling menjadi khalifatullah di dalam berbagai hubungan kehidupan. Tangis kita akan sungguh-sungguh tak berpenghabisan karena dengan mengucapkan wa iyyaka nasta’in, kita telah secara terang-terangan menipu Tuhan. Kita berbohong kepada-Nya berpuluh-puluh kali dalam sehari. Kita nyatakan bahwa kita meminta pertolongan hanya kepada Allah, padahal dalam sangat banyak hal kita lebih banyak bergantung kepada kekuatan, kekuasaan dan mekanisme yang pada hakekatnya melawan Allah”.

“Astaghfirullah, astaghfirullah”, gemeremang para santri.

“Anak-anakku, pergilah masuk ke dalam dirimu sendiri, telusurilah perbuatan-perbuatanmu sendiri, masuklah ke urusan-urusan manusia di sekitarmu, pergilah ke pasar, ke kantor-kantor, ke panggung-panggung dunia yang luas: tekunilah, temukanlah salah benarnya ucapan-ucapanku kepadamu. Kemudian peliharalah kepekaan dan kesanggupan untuk tetap bisa menangis. Karena alhamdulillah seandainya sampai akhir hidup kita hanya diperkenankan untuk menangis karena keadaan-keadaan itu: airmata saja pun sanggup mengantarkan kita kepada-Nya!”
Malang, 03 Rajab 1434/13 Mei 2013

Minggu, 12 Mei 2013

Merancang nasib

Tidak ada salahnya kok jika semua konco-konco mulai merangkai hidupnya untuk beberapa tahun kemudian. Mau menjadi apa, berprofesi dimana, ingin berkarier sampai dihari tua, apapun saja untuk kepentingan maslahat dirinya. Itu semua sekali lagi tidak salah, bahkan suatu kewajiban moral yang harus dipertanggungjawabkan. Mumpung masih muda, mumpung jek semangat, mumpung masih bisa berfikir cerdas, dan tidak gampang lupa. 

Sedemikian rupa aku tidak membatasi diri untuk bisa bergaul dengan siapa saja. Tanpa pandang bulu, ora ono pilih-pilih. Tampan, cantik, banci, meril, bondet, seng ora tahu sholat, sing paling alim, konco-konco aktivis, anak-anak kecil, ahli wiridan, bisnisman, tukang tambal ban, bakul gorengan—mereka adalah guru kehidupan, cermin kepribadian yang paling nyata untuk disinauni, diajak diskusi. 

Elaborasi dari banyaknya pergaulan itulah yang akan bisa menata seberapa bisa aku mempetakan diri ini akan menjadi apa dalam beberapa tahun ke depan. Suatu misal, seorang kawanku pada suatu kesempatan membombardir aku akan bodohnya manusia yang tidak bisa berfikir matang sesungguhnya ia harus menjadi apa dan harus berbuat apa—untuk sekarang dan dimasa depan. 

Kowe kudu nyelengi duwet Bro, biar kelak kamu punya simpanan ekonomi. Buat biaya nikahmu, istrimu, anak-anakmu” 

“ Apa harus selalu begitu ? “ jawabku

“ Ya iyalah. Itu harus. Karena ini masa depan. Kita itu tidak selamanya bisa mandiri. Minta duet ortu, ngutang sana-sini yang akhirnya kita sendiri yang repot. Kapitalisme global sangat mendominasi tatanan cara berfikir manusia hingga titik yang paling radikal sekalipun” 

Kawanku satu ini memang sangat matematis, pragmatis cara menata hidupnya. Termasuk dalam hal ekonomi. Dalam kesempatan yang lain. Dengan teman yang berbeda. 

“ Sesungguhnya bukan harta yang menjadi celengan kita And. Kamu lihat disekelilingmu. Makhluk-makhluk Tuhan yang bertebaraan di seluruh jagad raya ini. Semut, kadal, capung, tikus, Jin, Iblis, malaikat sudah dijamin takaran rizkinya sama Tuhan. 

“ Terus”

“ Yang kita tabung, yang kita celengi adalah tabungan kebaikan, tabungan kemulyaan, nilai kebenaran, resistensi berfikir yang jernih dan koreksi atas apa yang sudah kita lakukan. Dalam momentum hidup kita yang bermacam-macam nanti kamu akan lebih dulu ditolong Tuhan karena tabungan kebaikan dan celengan kemulyaanmu banyak” 

Temanku ini sedikit sufi. Tawakkalnya sama Tuhan begitu mantap, hingga meresap pada cara berfikirnya, penataan hati dan akalnya, hingga ketika ia menjalani hidup yang dilaluinya. Dengan sahabatku yang lain. 

“ Sudahlah. Mengalir saja seperti air. Berkilo-kilo, bermil-mil air yang mengalir pasti ada muaranya juga. Ia tetap akan menemukan titik pemberhetiannya. Entah di solokan, sungai, bengawan, laut, ataupun samudra. Tuhan ada disetiap aliran itu, didalam muara itu. tak usah kamu melakukan apa-apa, tak perlu bersusah-susah mau menjadi apa dan berkarier dimana. Ikut saja sama ketentuan takdir dan jalani hidup ini dengan positive thinking. Tuhan tahu yang terbaik”. 

  Pasrah total maksudmu..? “

 Seperti itulah kira-kira”

            Begitu kompleks, asyik, aneh cara berfikir manusia di dunia ini. Dalam menata dirinya, memimpin masyarakatnya, menentukan kehendaknya, mencari tahu siapa dirinya dengan pola serta karakter yang Tuhan tiupkan di setiap akal dan hati mereka. 

            Maka, begitu sombongnya dan angkuhnya jika anda menjadi manusia yang paling benar, paling pinter, paling bijaksana, dan paling-paling yang lain. Anda sudah berani mengkerek pada Tuhan. Nyolong baju kesombonganNya. 

2 Rajab 1433, 12 Mei 2013