Sabtu, 27 April 2013

Puisi Berantai 'Tahi-Tahi burung'


.Setiap manusia mempunyai estetika bahasa ketika mereka ingin atau akan mengucapkan sebuah kalimat ‘mendalam'. Kalimat yang dirasa mempunyai pola rasa, pola pengalaman pribadi yang tak bisa diungkap dengan bahasa biasa. ia menggambarkan keteduhan jiwa, kedalaman makna, dan hakikat subtansi dimana mereka sendiri yang bisa memahami. Bahasa atau kalimat seperti itu biasanya kita menyebutnya puisi. Ada banyak macam puisi dengan berbagai spektrumnya. 

Salah satunya adalah puisi berantai. Puisi berantai ini tidak bisa difahami dengan satu paragraph dimana satu makna dengan yang lain saling berkaitan. Puisi berantai tidak. ia lebih kepada penggabungan isi, diksi, metafora yang jauh berbeda dan kontradiksi satu sama lain. misal bagaimana empat tema beragam bisa menyatu dalam satu pementasan pembacaan. Katakanlah empat tema beragam—komedi ( telur ayam dan tahi burung), perjuangan, dan cinta—bisa tersampaikan dengan alur yang sistemik tanpa kehilangan subtansi makna yang terkandung. Akhirnya, semua penyair tidak kehilangan pesan puisnya.

Penyair ' tahi-tahi burung' (Evi)


Aku lebih menyebutnya pada puisi komedi. Jempol buat Mbak Anjanis (penyair ‘telur-telur ayam), Evi (penyair ‘tahi-tahi burung’), Didin (penyair ‘bahaya rokok), Anis Khairuna (penyair ‘perjuangan’) dan Handrini (penyair ‘cinta’). Semakin hidup tatkala penari banyuwangi (Riska) membawakan tarian dengan syair-syair yang lembut, indah. Tetap berkarya dan berkarya. Salah seorang penyair mendapat applous standing dari penonton—evi penyair ‘tahi-tahi burung’—yang mengocok perut dan membuat suasana pementasan hidup. 

Retorika dan mimic wajah ketika mengucap ‘tahi’ benar-benar menjiwa, mendalam, dan terukur. Sehingga kata yang secara kebudayaan dianggap ‘kotor’ mampu membalik kekotoran itu menjadi kata yang ‘hidup’, tidak ‘sakral’ dan tidak tereduksi. Anda bisa membayangkan bagaimana mimik wajah Evi ketika mengucapkan kata itu. mantap sekali.Praktis, grrrrrrrrr semua tertawa dan terpingkal.  Hampir semua apresiasi seni ini dilatarbelakangi dengan berbagai macam peran serta karakter yang berbeda. 

Handrini sebagai Penyair 'cinta' ( paling kanan)
Ada gelagat yang tidak bisa dipungkiri bahwa dengan ada keterbukaan seni, parodi, teater, debat, diskusi, termasuk puisi akan menambah ikatan batin dimana semua orang akan terlihat jati dirinya, sifatnya, cara berfikirnya, kepribadiaanya bahkan potensi terpendam dimana Tuhan menitipkan pada setiap insan. Teman-teman putra bahkan kaget kalau Evi--yang dianggap pendiam--ternyata bisa 'menjingkrakkan' (hehe ) tawa.
Para penyair sedang ber-action
Dalam sebuah puisi, ada tiga jenis intonasi antara lain sebagai berikut :Tekanan dinamik yaitu tekanan pada kata- kata yang dianggap penting. Tekanan nada yaitu tekanan tinggi rendahnya suara. Misalnya suara tinggi menggambarkan keriangan, marah, takjud, dan sebagainya. Suara rendah mengungkapkan kesedihan, pasrah, ragu, putus asa dan sebagainya. Tekanan tempo yaitu cepat lambat pengucapan suku kata atau kata. Terlepas dari itu semua, teori hanyalah baju pelengkap dari sebuah kemauan, semangat, ke-telatenan. Action dulu, keilmuan yang bersifat teoritis belakangan. Dunia adalah milik pekerja, bukan pemikir. Berani mementaskan diri untuk berpuisi bukan hanya berani membuat teori-teori puisi yang bisu dan kaku.

Ada banyak hal sesungguhnya dalam hidup  ini. Musik, teater, puisi, spiritualitas, sosial, budaya, pendidikan dengan segala aksentuasinya masing-masing. Termasuk hal- hal yang perlu diperhatikan dalam membaca puisi sebagai berikut: Ketepatan ekspresi/mimik.Ekpresi adalah pernyataan perasaan hasil penjiwaan puisi. Mimik adalah gerak air muka. Kinesik yaitu gerak anggota tubuh. Kejelasan artikulasi. Artikulasi yaitu ketepatan dalam melafalkan kata- kata. Timbre yaitu warna bunyi suara (bawaan) yang dimilikinya. Irama puisi artinya panjang pendek, keras lembut, tinggi rendahnya suara. Intonasi atau lagu suara.  

Tapi pada dasarnya, setiap manusia punya kehendak untuk mengungkapkan segala perasaannya. Dengan jalan, metoda, apapun saja--termasuk berpuisi untuk selalu menemukan hakikat potensi yang dititipkan Tuhan padanya. Sugeng mikaryo.

Penyair 'Perjuangan' dan 'bahaya tembakau' 
 Mbak Re membawakan syair  'telur-telur ayamnya'