Senin, 14 Januari 2019

CINTA ITU MEMBAHAGIAKAN. KATA SIAPA ?

oleh : Adenovit Rachmawan 
Tidak ada manusia di dunia ini yang tidak menginginkan kebahagiaan. Semua tindak-tanduk aktifitas yang dilakukan manusia sudah pasti akan berorientasi pada satu tujuan, yaitu kebahagiaan. Lalu apakah makna kebahagiaan itu sendiri ?. Arisoteles memberikan pengertian menarik tentang ini. Menurutnya, kebahagiaan adalah good feeling (perasaan senang), having fun (besenang-senang),  having a good time (mempunyai waktu yang baik), atau sesuatu yang membuat pengalaman yang menyenangkan. Nah, hari-hari ini nih banyak diantara kita ketika sedang mencari kebahagiaan, selalu saja diidentikkan dengan pasangan (khususnya yang muda-mudi nih, heuheu), yang seakan-akan pasangan adalah segala-galanya, dan jomblo adalah status mengerikan yang sebisa mungkin harus dihindari, yang selama ini jomblo seakan-akan menjadi orang yang terkucilkan dalam sebuah tatanan masyarakat. Untung saja tak ada hukuman pasung bagi para jomblo. Huahaha. “Jomblo itu berat, kamu tak akan kuat, biar aku saja. heueheu”. Realitas seperti itu sudah tak bisa lagi dihindarkan lagi hari-hari ini. Realitas yang memberikan sebuah kesan bahwa “punya pasangan berarti bahagia, tidak punya pasangan berarti tak bahagia”. Maka jangan heran jika pada saat ini, manusia (anak muda) semakin menyempitkan makna kebahagian dengan hanya membubuhkan pasangan sebagai sumber kebahagian. Pun juga sebaliknya, bahwa sumber kesedihan orang terletak hanya dari seorang pasangan. Seakan sangat sulit menemukan kebahagian hidup selain mengenai pasangan. Realitas yang membuat saya semakin bertanya-tanya dengan kualitas hidup di zaman modern. Sebercanda itukah cinta ?. ecieeeee.

Biografi Siingkat Imam Al Ghazali

Sosok pribadi Imam AL Ghazali
Nama lengkapnya adalah Abu Hamid bin Muhammad al Ghazali, dilahirkan di Thus, sebuah kota di Khurasan, Persia pada tahun 450 H atau 1058 M. ayahnya adalah seorang pemintal wool yang selalu memintal dan menjualnya sendri di kota itu.[1] al-Ghazali mempunyai seorang saudara. Ketika akan meninggal, ayahnya berpesan kepada sahabat setianya agar kedua putranya itu diasuh dan disempurnakan pendidikan setuntas-tuntasnya. Sahabatnya segera melaksanakan wasiat ayah Al-Ghazali. Kedua anank didik itu disekolahkan, setelah harta pusaka peninggalan ayah mereka habis,mereka dinasehati agar meneruskan mencari ilmu semampu-mampunya.  Imam al-Ghazali seal kecil dikenal sebagai pecinta  ilmu pengetahuan dan penggandrung pencari kebenaran  yang hakiki, sekalipun diterpa duka cita, dilanda aneka rupa duka nestapa.
Di masa anak-anak imam al-Ghazali belajar kepada Ahwaad bin Muhammad ar-Radzikani di Thus, kemudian belajar kepada Abi Nasr al-Ismaili di Jurjani dan akhirnya ia kembali ke Thus lagi. Pada kali yang lain diceritakan bahwa dalam perjjalanan pulangnya ia dihadang sekawanan pembegal yang kemudian merampas harta dan kebutuhan-kebutuhan yang mereka bawa. Para pembegal tersebut merebut tas al-Ghazali yang berisi buku-buku filsafat dan pengetahuan yang ia senangi. Kemudian al-Ghazali berharap  agar sudi mengembalikan tasnya, karena ia ingin mendapatkan berbagai macam pengetahuan yang terdapat pada buku-buku itu. kawanan perampok itu merasa iba hati dan kasihan kepadanya, akhirnya merekaa mengembalikan kitab-kitab itu kepadanya.

Olah Rasa Mendekat Kepada Sang Gusti

Oleh : Adenovit Rachmawan 
Aku berjalan tertunduk lesu di bawah gerimis kencang saat itu. berjalan dengan membawa keresahan luar biasa saat semua yang aku impikan gagal begitu saja di hari itu. aku mengutuk semua yang ada, mengutuk diriku sendiri, usahaku, waktuku, bahkan aku lantang berkata bahwa Tuhan sudah tak adil pada diriku. Kalut yang berujung pada tak bisa menerima dengan segala hal yang ada. aku hanya merunduk saja, membiarkan kepalaku dihujam rintik air gerimis. “Hantam saja”, gumamku waktu itu.
                Seolah sebuah antitesa luar biasa, dibawah langit suram saat aku berjalan sambil komat-kamit yang berisikan umpatan yang tak henti, aku melihat sesuatu yang kemudian membuatku tertegun, berhenti dalam melangkah dan terisak malu bercampur kagum. Di sebuah lorong, jalan menuju tempat aku pulang, dibalik jendela yang sedikit tertutup tirai, aku melilhat seorang yang aku sendiri mengira adalah malaikat pembawa kabar gembira. Badanku mendadak kaku. Hanya ingin melihat sejenak saja pada dia, saat itu. dibalik jendela itu ada seorang gadis yang sedang mengaji merdu, sedang adiknya yang berada dalam pangkuannya serius menyimaknya dengan seksama. Aku tak menyangka, di dunia yang serba carut marut ini, masih ada panorama seindah ini. aku kira, di dunia ini dimana saat hujan semua sedang berlomba mencipta puisi, ini ada seorang yang dengan tenang membaca dengan indahnya. Gadis itu tiba-tiba melihatku, dan aku pun meluncur cepat meninggalkan tempatku berpijak. Aku tak sadar, bahwa bibirku yang sedari tadi mengumpat, kini terdiam dan berujung pada sebuah senyuman yang melegakan setiap orang yang melihatku.

#Renung Senja 30

Sejauh ini tak ada pencapaian apa-apa dalam hidupku. Pencapaian itu penting, karena ia merupakan loncatan batas dimana seluruh puncak kemampuanmu terlihat. Bukankah Tuhan melimpahkan kelebihan pada setiap manusia? Maka, kelebihan yang Ia berikan haruslah dimanfaatkan, dicari bahkan dikelupas sedemikian rupa agar engkau tahu dimana sesungguhnya puncak tertinggi dari kualitasmu.

Emha bilang ‘ berdaaulatlah atas dirimu sendiri. Kamu jangan bergantung pada orang lain. Berdaulat artinya, carilah siapa sesungguhnya dirimu. Apa bakatmu. Bagaimana kecenderunganmu. Jadilah dirimu yang sebenar-benarnya dirimu. Jika kamu sudah mengerti dengan betul siapa dirimu, maka kamu akan berdaulat penuh atas dirimu. Orang lain tak akan mampu merebut kedaulatanmu.