Sabtu, 01 Februari 2014

Renung Senja 17

Tidak mungkin Allah menciptakan manusia tidak beserta desain-desain khusus yang melingkupinya. Jasadnya, fisiknya, elemen-elemen hardware maupun sofwarenya. Kecondongan manusia satu dengan yang lainnya. Bakat, ketrampilan, cara pandang maupun arah berpikirnya, kreativitasnya, ‘sekuel’ manajement hatinya, kelebihan dan kekurangannya. Allah melengkapi semua struktur itu, itulah mengapa manusia disebut unik. Dari sidik jari hingga bentuk jempol kaki. Model rambut hingga lebar telinga, dan apapun saja. Tidak ada satu persamaan pun disetiap hadrware maupun sofware manusia sama. Allah maha detail atas segala hal. 

Maka, pluralisme sesungguhnya tidak ada. Karena hakikat perbedaan maupun keberagaman menjadi kenistaan, sunnatullah yang nyata. Plurali-tas yang menjadi hakikat sunnatullah tereduksi menjadi plural-isme. Ia menjadi faham, aliran, madzhab, golongan, dari sekian keberagaman yang ada. 


Who Am I

Kontekstualitas makna Khalifatullah Fil Ard—secara subtansial—adalah menjadi wakil Allah di bumi. Begitu general. Allah ngejamm sama anda. Ia bikin pohon, lalu anda mentransformasikannya menjadi kayu, pintu, jendela, dan lain-lain. Allah siapkan logam, anda meng-kretivitasinya menjadi gitar, sharon, baot, paku, dan apapun saja. Allah mencipta angin, anda pun ‘mengeksploitirnya’ menjadi teknologi canggih. Kipas angin, Ac, dan lain sebagainya. 

Begitupun dengan anda ‘yang’ manusia. Sebagaimana yang dikatakan Cak Nun “ Anda harus tahu tentang ilmu sangkan paran. Ilmu tentang asal usul. Siapa sesungguhnya dirimu, apa yang dimaui Tuhan kepadamu “. 

Ciptakan sensivitas yang dalam untuk menyelidiki kecenderungan-kecenderunganmu, kreativitasmu, pola pikirmu, keinginanmu. Tuhan sudah siapkan fasilitas internal dalam diri manusia agar anda mampu ber-khalifah di muka bumi.   

Tanya kepada Tuhan untuk apakah anda diciptakan.