Sabtu, 01 Februari 2014

Pak Tua ngomong soal energi dan cahaya I

Rek, tak kandani yo. Iki asli. Pak Tua sing biasane teko ben isuk lan sore nggolek sak jumput-rong jumput kopi karo rokok iku pancen wali. Haha. Wes tah percoyo ae. Percoyo gak percoyo poko’e ngene iki.


Pinter-pinterlah bersyukur kepada Allah tentang apa-apa yang sudah Allah kasih kepada kita. Tidak hanya terbatas pada skala luas menyangkut lingkup materi, wadag, yang kadang-kadang aku banyak terjebak disini. Struktur materi kan banyak. Ia bisa terpola pada satu kesatuan wujud harta benda, maupun cara pandang tentang harta benda itu sendiri—materialistik. 

lho emang kita gak boleh materialistik ya, itu satu ilmu yang diberikan Tuhan agar kamu bisa mengolah harta Bung “ 

“ Ndak gitu juga maksudku Bang “ 

“ Lha terus. Mbok jangan nemen-nemen menghimpit dan mencerca dunia (baca,- harta), lha wong kamu sendiri adalah bagian dari dunia itu sendiri “  

“ Aku ndak mempersoalkan bentuk padatan dari dunia itu Bang. Yang kuprotes adalah cara pandang keliru dari adanya dunia itu sendiri. Lha kita kan khalifah. Mestinya, derajat kita adalah diatas dunia, bukan kita yang’ndilati pantatnya’ dunia. 

Kamu sudah mulai ber-silat lidah “ 

“ Berfilsafat Bang “ 

“ Yo wes. Di udud dulu trubusnya, ben encer “  

Dengan analogi sederhana, uang adalah materi. Sedang nilai dari materi adalah ya materi. Ia tidak bermakna apa-apa, ia hanya sebuah kausalitas kecil dari proses berputarnya transaksi antar manusia—dalam konteks ekonomi. Maka, agar materi tidak hanya bernilai sebagai materi ia harus diolah, disublim, ‘dimanipulir’ agar menjadi energi. Kita infak, shodaqoh, nguruni, nombo’i duit untuk beli lampu, konsumsi, dan lain sebagainya. Maka ada dialetika ‘harmonis’ antara materi dengan rohani. Disitulah anda akan mulai belajar arti ketulusan, keikhlasan, kerelaan, kemauan untuk berkorban, aweh dengan sesama. Secara perlahan, diam-diam—disadari atau tidak—derajat kemanusiaan kita naik beberapa tahap. Dan jangan lupa, Tuhan tersenyum sama kita. 

Jika pelan-pelan kita bisa mengolah materi sedemikian rupa menjadi energi, maka energi itu pun secara bertahap akan menjadi cahaya. Semua lelaku, tindak tanduk, riuh rendah pergulatan hidup, cara bergaul dengan teman, memompa semangat untuk terus bangkit dan apapun saja cahaya Allah senantiasa murup di hati, akal, dan karakter anda. 

Aku tak mengerti apa-apa soal bisnis dan cara menghitung materi. Maka, kubesar-besarkan hatiku dengan hitung-hitungan tak rasional seperti ini. 

“ Wes yo sinaune “ Pak Tua mau berpamitan pergi 

“ Wah, sek to Pak, kulo tasek wonten permasalahan niki “ Aku mencoba menahannya

“ Sesok ketemu maneh. Tak duduhi asal muasale kopi iku teko ndi “ Pak Tua ngeloyor pergi.

Pak..Pak... Njenengan niku pancen mboten saras nopo “ teriakku sambil berlari menyongsong beliau

Dan Pak Tua seperti berjalan begitu cepat dan menghilang begitu saja.

Anshofa, 03/01/2014