Minggu, 24 Januari 2016

POLA ISLAMISASI DI JAWA




BAB I 
PENDAHULUAN 
A.    Latar Belakang
Jawa adalah salah satu pulau di antara 13.000 pulau di indonesia. Ia menjadi tempat berdomisili sebagian besar penduduk Indonesia, karena itu pemerintah sudah sejak lama melaksanakan program transmigran yang dimaksudkan untuk pemerataan tingkat kepadatan penduduk di samping meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Jawa menjadi pusat perhatian keindonesiaan karena beberapa istilah yang berasal dari budaya, falsafah, dan bahasa jawa menjadi simbol bangsa. Beberapa pejabat pemerintah ikut andil dalam mempopulerkan istilah-istilah tersebut sehingga menjadi simbol bangsa itu. Istilah pancasila yang merupakan dasar negara berasal dari bahasa Jawa, begitu juga tulisan yang terpampang pada papan yang dicengkeram kaki burung Garuda, Bhinneka Tunggal Ika.[1]
Sejak zaman prasejarah penduduk kepulauan Indonesia dikenal sebagai pelayar-pelayar handal yang sanggup mengarungi lautan lepas. Sejak awal abad masehi sudah ada rute-rute pelayaran dan perdagangan antar kepulauan Indonesia dengan daerah di daratan Asia Tenggara. Wilayah Barat Nusantara dan sekitar Malaka sejak masa kuno merupakan wilayah yang menjadi titik perhatian, terutama karena hasil yang dijual disana menarik para pedagang dan menjadi lintasan penting antara China dan India.[2]

Di pulau jawa, sebelum kedatangan Islam. Masyarakat di ceritakan masih di pengaruhi oleh kasta, bagian dari sistem yang mengelompokkan dari golongan dan kelas. Bahwasanya siapa yang dari kelompok bangsawan atau kaya raya maka mereka akan dimuliakan, sedang yang hanya rakyat jelata mereka akan dipandang dengan sebelah mata. 
Sampai pada abad 1H atau 7M. Islam mulai dibawa para pedagang Arab melalui pesisir utara sumatera secara damai dengan kecerdasan dan ketinggian peradaban. Pada perkembangannya orang-orang pribumi ikut andil dalam penyebaran Islam di Nusantara.
Masuknya islam ke daerah-daerah di Indonesia tidak dalam waktu bersamaan. Pada abad ke-7 sampai ke-10 M. Kerajaan Sriwijaya meluaskan sampai ke Malaka dan Kedah. Hingga sampai akhir abad ke-12 perekonomian sriwijaya mulai melemah. Keadaan seperti ini dimanfaatkan Malaka untuk melepaskan diri dari Sriwijaya hingga beberapa abad kemudian islam masuk ke berbagai wilayah Nusantara dan pada abad ke-11 islam sudah masuk di pulau Jawa.[3]
Dari seluruh perkembangan Islam yang terjadi di Jawa, sesungguhnya ada dinamika pola yang terstruktur, pola yang dinamis yang menjadi bentuk dari suatu proses berkembangnya Islam di Jawa.
Maka, penulis disini mengambil sample—yang terbatasi pada—pola islamisasi di Jawa. Apa saja pola itu, akan dibahas di makalah ini.

B.     Rumusan Masalah
1.       Apa dan Bagaimana pola Islamisasi di Jawa ?
C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui Pola Islamisasi di Jawa
 
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pola Islamisasi di Jawa
Sebelum membahas secara khusus pola Islamisasi di Jawa, perlu kiranya menyinggung  pola islamisasi atau saluran yang dipakai pedagang muslim dalam upaya menyebarkan Islam secara umum di kepulauan Nusantara.
Kedatangan Islam dan penyebarannyaa kepada golongan bangsawan(ningrat) dan masyarakat umum  (rakyat) bisa disimpulkan berjalan secara damai. Keterlibatan Islam dalam suatu konflik dengan kekuasaan biasanya bukan sesuatu yang disengaja, atau direncanakan sejak semula untuk merebut kekuasaaan. Keterlibatan yang mengatasnamakan agama baru terjadi setelah Islam secara resmi menjadi dasar ideologi suatu kerajaaan. Namun tidak salahnya kiranya kalau ditegaskkan bahwa perang yang terjadi itu sebenaarnya bukan persoalan agama, tetapi hanya dorongan politis untuk merebut dan menguasai kerajaan yang ada disekitarnya.
Adapun cara-caraa  atau saluran-saluran islamisasi yang terjadi pada mulaa penyebaran Islam di Indonesia, seperti  diungkapkan oleh Uka Tjjandrasasmita dalam Sejarah Peradaban Islam karangan Badri Yatim, ada beberapa cara. Cara tersebut diuraikan sebagai berikut. [4]
1.      Perdagangan
Cara perdagangan adalah cara pertama yang dilakukan oleh para pedagang muslim dari Gujarat, Persia, dan Arab. Cara ini sangat menguntungkan karena para raja dan bangsawaan juga turut ambil bagian dalam aktiviitas perdagangan. Juga mereka mempunyai kapal dan saham. Aktivitas ini terpusat di daerah pesisir utara puau Jawa, demikian para pedagang asing itu banyak yang bermuim di daerah tersebut. Mereka juga berhasil mendirikanmasjid sebagai pusat kegiatan keagamaan. Dalam beberapa masa kemudian juga datang para mulla (sebutan bagi ulama’ Persia) yang disamping berdagang juga dijadikan sebagai guru spiritual para pedagang. Di sebgian tempat, bangsmawan-bangsawan yang menjabat sebagai bupati bawahan Majapahit yang ditempatkan di daerah pesisir itu banyak yang masuk Islam. Konversi mereka ke Islam, disamping karena faktor gesekan langsung, mungkin juga karena faktor politik dalam negeri Majapahit sedang dalam goyah.[5]

            Proses islamisasi di Indonesia terjadi dan dipermudah karena adanya dukungan dua pihak: orang-orang muslim pendatang yang mengajarkan agama Islam dan golongan masyarakat Indonesia sendiri yang menerimanya. Dalam masa-masa kegoncangan politik , ekonomi, dan sosial budaya, Islam sebagai agama dengan mudah dapat memasuki & mengisi masyarakat yang sedang mencari pegangan hidup, lebih-lebih cara-cara yg ditempuh oleh orang-orang muslim dalam menyebarkan agama Islam, yaitu menyesuaikan dengan kondisi sosial budaya yang telah ada. Dengan demikian, pada tahap permulaan islamisasi dilakukan dengan saling pengertian akan kebutuhan & disesuaikan dengan kondisi masyarakatnya. Pembawa dan penyebar agama Islam pada masa-masa permulaan memang golongan pedagang, yang sebenarnya menjadikan faktor ekonomi perdagangan sebagai pendorong utama untuk berkunjung ke Indonesia. Hal itu bersamaan waktunya dengan masa perkembangan pelayaran dan perdagangan internasional antara negeri-negeri di bagian barat, tenggara, dan timur Asia. Kedatangan pedagang-pedagang muslim seperti halnya yang terjadi dengan perdagangan sejak zaman Samudra Pasai dan Malaka yang merupakan pusat kerajaan Islam yang berhubungan erat dengan daerah-daerah lain di Indonesia, maka orang-orang Indonesia dari pusat-pusat Islam itu sendiri yang menjadi pembawa dan penyebar agama Islam ke seluruh wilayah kepulauan Indonesia.[6]
           
            Tata cara islamisasi melalui media perdagangan dapat dilakukan secara lisan dengan jalan mengadakan kontak secara langsung dengan penerima, serta dapat pula terjadi dengan lambat melalui terbentuknya sebuah perkampungan masyarakat muslim terlebih dahulu. Para pedagang dari berbagai daerah, bahkan dari luar negeri, berkumpul dan menetap, baik untuk sementara maupun untuk selama-lamanya, di suatu daerah, sehingga terbentuklah suatu perkampungan pedagang muslim. Dalam hal ini orang yang bermaksud hendak belajar agama Islam dapat datang atau memanggil mereka untuk mengajari penduduk pribumi.[7]
2.      Perkawinan
            Para pedagang muslim banyak yang menetap cukup lama di Indonesia. Mereka menikahi wanita pribumi sebagai putrinya. Sebelum dinikasi, wanita yang belum beragama Islam diminta masuk. Islam terlebih dahulu. Di antara wanita yang dinikahi pedagang muslim adalah putri raja atau bangsawan. Khusus pada proses perkawinan yang melibatkan putri raja atau bangsawan sangat bermanfaat bagi penyebaran agama Islam. Dengan proses seperti itu, agama Islam menjadi cepat berkembang. Apabila seorang raja atau adipati sudah masuk Islam maka rakyatnya juga akan mudah diajak masuk Islam terlebih dahulu. [8]
            Secara ekonomi status para saudagar atau pedagang pendatang lebih baik dari pada warga pribumi. Warga pribumi akan memiliki kebanggan tersendiri jika anaknya dipinang dan  dijadikan istri para pedagang. Tentu saja karena syariat Islam mensyaratkan adanya kesamaan akidah, maka sang putri harus diislaamkan terlebih dahulu. Demikianlah yang terjadi antara raden Rahmad dengan Nyai Manila, Sunan Gunung Jati dengan Putri Kawunganten, Brawijaya dengan putrid Campa yang melahirkan Raden Patah, Maulana Ishak dengan putri Raja Blambangan yang melahirkan Sunan Giri, putri Adipati Tuban (R.A.Teja) dengan Syekh Abdurrahman (muslim arab) yang melahirkan Syekh Jali (Laleluddin). Dari pernikahan itu, terbentuk ikatana kekerabatan yang kuat dan lain-lain. Dari pernikahan itu, terbentuk ikatana kekerabatan yang kuat. 
            Hubungan perkawinan itu amat besar peranannya dalam proses Islamisasi di Jawa, apalagi di tengah  kehidupan masyarakat Jawa, raja, adipati atau bangsawan yang dianggap sebagai titisan dewa.
3.      Kesenian
            Islamisasi juga dilakukan melalui pertunjukan wayang yang disisipi ajaran agama Islam. Dengan demikian, masyarakat akan dengan mudah menangkap dan memahami ajaran Islam. Penyebaran Islam melalui kesenian contohnya dilakukan oleh Sunan Kalijaga dan Sunan Panggung memanfaatkan seni pertunjukan wayang sebagai media dakwah. Kalijaga selalu menyampaikan pesan-pesan islami dalam pertunjukan wayang ini. Bahkan, ia secara massal mengajak penonton bersama-sama mengucapkan kalimat syahadat. Cerita wayang diambil dari kisah Mahabarata dan Ramayana, tetapi oleh Sunan Kalijaga diseliptakan tokoh-tokoh dari pahlawan Islam. Nama tertentu disebutnya sebagai simbol Islam. Misalnya, panah kalimasada, sebuah senjata paling ampuh, dihubungkan dengan kalimat syahadat, pernyataan yang berisi pengakuan kepada Allah swt, dan Nabi Muhammad Saw. sebagai rukun islam yang pertama. Pesan-pesan islamisasi juga dilakukan melalui sastra, misalnya kitab primbon pada abad ke-16 M yang disusun oleh Sunan Bonang. Kitab-kitab tasawuf diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu dan bahasa daerah. Babad dan hikayat juga ditulis dalam bahasa daerah dengan huruf daerah dan Arab. 
4.       Pendidikan
            Penyebaran ajaran Islam melalui saluran pendidikan dilakukan melalui pesantren-pesantren. Proses belajar mengajar di pesantren dibimbing oleh seorang kiai atau ulama. Murid pesantren atau santri tinggal di dalam pondok atau asrama. Setelah lulus belajar, para santri pulang ke daerah asalnya. Mereka mempunyai kewajiban mengajarkan kembali ilmunya kepada masyarakat sektiar. Dengan cara itu, Islam terus berkembang memasuki daerah-daerah terpencil. Pesantren yang telah berdiri pada masa pertumbuhan Islam di Jawa, antara lain Pesantren Sunan Ampel di Surabaya dan Pesantren Sunan Giri di Giri. Pada saat itu, terdapat berbagai kyai dan ulama yang dijadikan guru agama atau penasihat agama di kerajaan-kerajaan. Kyai Dukuh adalah guru Maulana Yusuf di Kerajaan Banten. Kyai Ageng Sela adalah guru dari Jaka Tingkir. Syekh Yusuf merupakan penasihat agama Sultan Ageng Tirtayasa di Kerajaan Banten. 
5.      Politik
            Dalam arus utama pemikiran masyarakat, Raja, adipati, atau para bangsawan lainnya adalah titisan Dewa. Segala pengucap dan tindakan mereka diyakini sebagai sabda pandita ratu yang tidak boleh diabaikan. Hubungan antar kerajaan yang menjadi kemestian sejarah menjadi titik awal mereka membuka diri dengan apa saja yang terjadi di luar. Ajaran Islam yang sederhana dan telah banyak mendapat respon akhirnya turut juga mengundang mereka masuk ke dalamnya. Ada faktor eksternal yang menyebabkan mereka masuk Islam,  tapi yang jelas kini mereka berubah haluan menjadi muslim. Fakta itu akhirnya juga menjadi daya tarik tersendiri bagi kalangan rakyat yang mengikuti apa yang dilakukan rajanya
            Pola Islamisasi di Jawa mempunyai karakteristik tersendiri disbanding dengan  yang terjadi di daerah lain. Kalau di daerah lain, Islam relative bisa diterima dengan  cepat karena  berhadapan dengan budaya lokal yang masih sederhana [9]. Sementara di Jawa, Islam berhadapan dengan kekuatan budaya yang telah berkembang dengan amat kompleks, halus, dan rumit. Kebudayaan tersebut terus dipelihara dan dipertahankan oleh para bangsawan dan kaum ningrat atau cendekiawan Jawa. Oleh karena itu pola Islamisasi di Jawa berhadapan dengan dua model kekuatan lingkungan budaya: pertama, kebudayaan para petani lapisan bawah yng merupakan bagian terbesar  masyarakat yang hidup sederhana dan religi animism-dinamisme, dan kedua, tradisi istana yang merupakan tradisi agung dengan unsure-unsur filsafaat Hindu-Budhaa yang memperkaya dan  memperhalus budaya dan tradisi lapisan atas tersebut. [10]
  
BAB III
KESIMPULAN  

Adapun cara-cara atau saluran islamisasi yang terjadi pada awal mula penyebaran Islam di Indonesia,  yakni melalui: Perdagangan, Perkawinan, Pendidikan, Kesenian  dan Politik.
Penutup
Demikianlah makalah yang dapat kami sampaikan. Kami menyadari dalam penulisan makalah ini banyak kekurangan. Maka dari itu kritik dan saran sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan berikutnya. Semoga makalah ini memberikan manfaat bagi pembaca pada umumnya dan pemakalah pada khususnya. Amin.
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Khalil, Islam Jawa, Sufisme dalam Etika dan Tradisi Jawa,(UIN-Malang: Malang Press, 2008)
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Grafindo Persada,1994)
Fatah Syukur, Sejarah Peradaban Islam,( Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra,2010)
Sejarah Perjuangan Persis 1923-1983, Drs. Dadan Wildan Anas
Abdullah, Taufik (Ed). 1991. Sejarah Umat Islam Indonesia.hal 26-27 Jakarta; Majlis Ulama’ Indonesia.
Simuh, Sufisme Jawa (Yogyakarta : Bentang Budaya, 2002) 


[1] Ahmad Khalil, Islam Jawa, Sufisme dalam Etika dan Tradisi Jawa,(UIN-Malang: Malang Press, 2008), hlm.35
[2] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Grafindo Persada,1994), hlm.191
[3] Fatah Syukur, Sejarah Peradaban Islam,( Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra,2010), hlm. 189-190
[4] Lihat Badri, Sejarah Peradaban, 201 – 202.
[5] Khalil M fiil. 2008. Islam Jawa. Hal 75. UIN Malang Prees.
[6] Sejarah Perjuangan Persis 1923-1983, Drs. Dadan Wildan Anas
[7] Ibid
[8] Abdullah, Taufik(Ed). 1991. Sejarah Umat Islam Indonesia.hal 26-27 Jakarta; Majlis Ulama’ Indonesia.
[9] Seperti halnya di Aceh,Islam tidak banyak mengalami hambatan, bahkan segera diterima dan mendapat dukungan dari pihak Istana. Di kalangan masyarakat Melayu, Islam memberikan sumbangan huruf arab dan perhitungan tahun hijriyah untuk mengembaangkan tata-tulis dan sastra melayu. Karena itu, penyebaran sastra Melayu mendukung penyebaran Islam, demikian pula sebaliknya. Lihat Simuh, Sufisme Jawa (Yogyakarta : Bentang Budaya, 2002), hal 121.
[10] Ibid, hal 119