Selasa, 11 November 2014

Islam, Arab, Dan Ndungo Coro Jowo

Islam adalah agama yang dibawa Rasulullah, dimana ajarannya, konstelasi kehidupan mengenai tauhid dan apa saja diturunkan di Tanah arab. Akses kebudayaan, kehidupan social, dan apapun saja tidak bisa terlepas dari kultural teritorial yang disebut tanah arab. Cara berpakaianya, bahasa komunikasinya, adat budayanya, misuh serta guyonannya, cara berpikir mengenai Tuhan dan sebagainya Tanah arab menjadi landasan utama ketika orang harus dan akan menafsirkan Islam sebagai agama, sebagai ajaran. 
 
Islam dan tanah arab, mengapa diturunkan di tanah tandus dan gersang. Mengapa tidak diturunkan di Yunani atau Romawi. Keduanya merupakan pusat peradaban ilmu, peradaban filososi, peradaban pengetahuan. 
 
Aku menduga, ini bukan soal pengetahuan atau puncak penemuan peradaban. ada perbedaan yang sangat mengenai tanah arab, Romawi, maupun Yunani. Misalnya dengan pertanyaan mengapa Islam turun di tanah arab. 
 
Anda tahu, bangsa arab dikenal sebagai bangsa militan dalam hal berdagang. Mereka menyebar kemana-mana, menjaring relasi ekonomi, meregulasi barang-barang dagangan untuk mencari laba, melakukan transaksi dengan pedagang dari mana saja, menjalin kerja sama produktif pragmatis untuk keberlangsungan hidup mereka. Maka, berdagang menjadi ‘ideologi’ tatanan social ekonomi bangsa arab pada waktu itu. Demikian adanyalah, Allah menciptakan bangsa arab supaya Islam dapat menyebar kemana-mana. Begitupun Muhammad ketika masa mudanya. Pergi kemana-mana, melakukan perjalanan panjang dengan khabilah-khabilah, menjadi asisten manager dari saudagar kaya raya Khadijah Binti khuwailid. 
 
Jangan lupa, Bangsa arab sedemikian kolotnya, mereka begitu kental rasa persaudaraanya. Maka, perang antar suku menjadi pemandangan yang tidak mengherankan di arab. Maka, Muhammad berani mendobrak kekolotan orang arab dari primordial kesukuan menjadi universal kultural. Adanya suku-suku tetap dipertahankan, hanya saja muatan nilai akhlak, moral, kasih sayang, cinta kepada sesama manusia menjadi utama dalam kehidupan. 
 
Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmad “ (Al-Mukminun : 10). 
 
Karena sudah bersaudara, maka pernah salah seorang sahabat mengatakan “ Wahai Nabi, kami adalah umatmu, bukan umatnya nabi Musa (Bani Israel). Kami tidak akan dan tidak pernah ingin seperti mereka, dimana mereka mengatakan “ biarlah Musa dan Tuhannya berperang, dan ketika Musa dan Tuhannya menang, barulah kami akan masuk menjadi bagian dari umat Nabi Musa”. Kami tidak seperti itu wahai Nabi, seandainya engkau menyuruh kami masuk ke lobang api, kami akan memasukinya. 
 
Masuki alam pikiran dan hati bangsa arab, pelajari antropologi keseharian mereka, gen keturunan mereka, demikianlah adanya bangsa arab. Tapi anda tidak perlu menjadi orang arab. Kalau ngomong ndak usah pakek “antum, ana”, kalau memanggil Bapak dengan “Abi”, Ibu dengan “Umi”. Antropologi bangsa Nusantara berbeda, dan jauh lebih dahsyat daripada bangsa Arab.
Allah melindungi Islam salah satunya dengan rasa persaudaraannya bangsa arab dengan mau membela Nabinya, prinsip ajarannya. Yang tampak bukan status atau identitas ke-sukuan, ke-khabilahan, namun kemanusiaan, dan martabat hidup. Puji Allah atas keagunganNya. 
 
Dalam bangsa arab, masih terkandung ajaran-ajaran Hanif Nabiyullah Ibrahim As, seperti thowaf, berkurban, menjamu para tamu Tuhan, dan lainnya dimana semua itu adalah terusannya para Nabi. Bangsa arab menjunjung tinggi garis nasabnya. Nasab keturunan maupun ajarab leluhur yang diturunkan. 
 
Pra Islam, mereka menyembah berhala bukan berarti menyekutukan Tuhan. Mereka bilang “ Lho..kami tidak menyembah mereka kok. Kami tetap menyembah Allah, berhala-berhala ini hanya perantara agar kami semakin dekat dengan Allah”. 
 
Kemurnian pemikiran bangsa arab hanya terkontaminasi oleh kebodohan, ketidaktahuan, maka bangsa arab adalah bangsa yang paling suci dan paling lugu cara berpikirnya. Membunuh bayi perempuan karena dianggap aib keluarga, berbuat riba dianggap taqarrub kepada Allah, berjudi, mabuk-mabukan untuk menunjukkan status social ke-darmawan, membuat patung-patung sebagai wasilah kepada Tuhan. Ketika Muhammad datang, seluruh kerusakan cara berpikir yang demikian dikonstruksi dan ditransformasikan kembali melalui dakwah Muhammad yang santun, tidak feodal, kultural, menjungjung tinggi harga diri dan martabat, dan sebagainya. 
 
Bangsa arab menyadari kekeliruannya, diam-diam membenarkannya, sekalipun masih malu-malu, gengsi, untuk mengakui kebenaran yang dibawa Muhammad. Mereka yang mendapat hidayah, masuk dalam cahaya ajaran Islam, selamat dengan mengikuti ajaran Allah dan rasulNya. Berbahagialah mereka, karena tidak akan diadzab karena dalam dirinya ada Muhammad. 
 
Islam dan Tanah Arab, maka demikianlah al Quran berbahasa arab. Persoalan bahasa, kitab suci, pokok-pokok ajaran Islam, maupun sunnah Nabi dituturkan dalam bahasa ini. Keistimewaannya bahasa arab dimana al Quran sendiri mengakuinya, membuat bahasa ini memungkinkan untuk menjadi sarana yang baik, efektif, tanpa bisa yang signifikan. Bilisanin arabiyyin mubin. 
 
Komprehensitas mengenai sejarah turunnya Islam di arab bukan berarti harus menyimpulkan bahwa sesuatu yang datang dari arab adalah Islam, atau Islam adalah identik dengan arab. Ada batas-batas tertentu yang mengikat dimana arab tidak bisa disamakan dengan Islam, maupun sebaliknya. 
 
Dan aku tak mau berdo’a dengan berbahasa arab, ya kadang-kadang harus memakai karena konteks suatu hal. aku tak bisa memaksakan diri untuk berdo’a dengan bahasa yang tak bisa aku mengerti dan pahami. Kemesraan dengan Tuhan tidak terbatas pada skat-skat bahasa, namun lebih kepada murninya hati dalam meminta. 
 
Ndungo coro Jowo luwih ampuh. Misalnya, “ Ya Allah…lare niku kok uayu tho, kok uadeeeem ngoten. Mbok Njenengan sambungaten ati kulo maring ati lare niko. Amiiiin. 
 
Anda tinggal niteni, kalau Allah berkenan, akan ada keajaiban yang terjadi. ^_^.
__Anshofa, 28 September 2014/03 Dzulhijjah 1435 H__