Jumat, 27 Juli 2012

Nyemplung di Sukopuro


Ayo konco nggrayahi karyo ning projo
Kene gogor gunung tandang gawe
Sayuk sayuk rukun bebarengan ro kancane
Lelo lan legowo kanggo mulya ning negoro
Siji loro telu papat
Maju papat papat diulang-ulangake 
tansoyo enggal rampunge
Kolobis kuntul bares

            Kalau dalam masyarakat madani ada system horizontal dimana setiap kelompok, komunitas, suku mempunyai kesadaran kolektif akan kebersamaan dalam menjunjung satiap perbedaan. Perbedaan ini mempunyai hierarkisitas yang bermacam-macam. Misal yang paling sederhana mungkin bisa dilihat dari sisi usia. Di pedesaan, yang disbut pamong, kamituo, sesepuh desa, petinggi sangat dihormati terlepas apakah yang menjadi kamituo muda atau tua. Yang dilihat bukan apakah dia mempunyai kapabilitas atau tidak. Apakah dia bersosiaal atau tidak. Apakah dia berkompeten dalam bidangnya atau apakah dia hanya sebatas nyantol di structural desa itu tidak penting. Di dusun Loring desa Sukopuro kecamatan Jabung Malang, kalau anda pernah sesekali main kesana jangan kaget kalau kepala desanya masih muda. Kemudaaannya bisa dilihat dari cara bergaul, bagaimana dia menghadapi masyarakat yang penuh dengan perbedaan, cara dia berbicara, bahkan cara dia berpakaian. Begitupun dengan pamong-pamong yang lain. Sekretaris desa juga misalnya, masih jejaka, belum menikah sekilas kalau anda menjumpai beliau nampak seperti preman, pakai celana seperempat, besar, dan agak serem. Itu baju luar pak heri sekretaris desa. Baju dalamnya beliau sangat sekeco, sederhana, dan selalu nyumanggakno. Pun dengan pamong-pamong yang lain. Sukopuro adalah pusat “peradaban” dari sekian desa yang mengelilinginya. Hiruk pikuk adat, budaya, keagamaan, sosial, ekonomi Sukopuro adalah pusat dari semua itu.

            Aiiiih….Puji syukurku pada Allah, aku dan teman-teman ditakdirkan nyemplung di dusun ini. Kalau sudah nyemplung, mau apalagi kalau tidak basah kuyup sekalian. Bicara kesan, terlalu sombong rasanya kalau berlebihan. Tetapi tidak dipungkiri kesan yang kami dapat benar-benar berkesan. Entah, bagaimana kabar teman-teman yang lain. Yang pasti, ketika kami sudah kembali ke kampus, kumpul di warung kopi, dikelas, mau diskusi, pasti ribut sana-sini. Yang ini nyerocos pengalaman ini, yang situ tak mau kalah, gegap gempita tukar cerita selama “terpenjara” empat puluh hari di tempat PKLI.  

            Selamat mencari pengalaman baru, bertukar ilmu, mengabdi kepada kebenaran sejati, mencari jati diri, dan bergelut dengan persoaalan-persoalan baru demi sebuah tingkat kedewasaan yang bernama kebijaksanaan.

Malang, Juli 2012