Sekarang ini, kalau tak punya Hape seakan nggak gaul, nggak mboys, ndeso. Hari gini gak punya Hape?..Hape sudah menjadi komoditas bagi semua segmen masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Dulu, awal tahun 200 an hanya segelintir orang yang nduweni alat canggih ini. Namun tidak untuk zaman kosmopolita sekarang, segmennya semakin luas. Mulai dari tukang sedot Wc, pasukan kuning, tukang jagal, tukang bakso, preman, mahasiswa, siswa, hingga pejabat Hape sudah menjadi daya gengsi, popularitas kecil dari majunya teknologi. Perubahan besar dari zaman konvensional menjadi digital.
Selasa, 05 Juni 2012
Sombong
Ku saksikan panorama alamMembentang tegak nan tinggi menjulang
Gunung-gunung hampa resah menyaksikan
Segala sifat kesombongan manusia
Awan, kabut menagis deru melihat congkaknya peradaban
.
Bromo yang dingin itu menyengat apa saja
Kulit, tulang, hingga rasa usik dan geli
Gunung dengan julang yang tinggi itu berbisik
"hai manusia, akulah makhluk Tuhan yang senantiasa bersujud dan patuh kepadaNya
Tapi mengapa kau wahai manusia
Merasa sombong nan angkuh terhadap TuhanMu
.
Sejenak tiba-tiba angin kencang menderu
Bromo yang indah itu seakan menutup lukanya dengan bercik-bercik asap
Yang menempel disetiap kulit
.
Subhanallah......
Bromo, 1-2 Juni 2012
Kamis, 24 Mei 2012
Website resmi untuk Omik Fakultas Hudaya
Setiap lembaga, organisasi membutuhkan ruang khusus agar ia bias
dikenal oleh masyarakat luas. Artinya, pengenalan diri kepada public sudah
menjadi satu alat yang harus diterapkan agar setiap lembaga termsuk organisasi
agar ia mempunyai bergend dimasyarakat, mahasiswa, dan segala segmentasi yang
melingkupinya.
Salah satu segment yang mulai rame,
gencar dengan aktivitas hari-hari ini tentunya adalah lembaga eksekutif
mahasiswa baik Hmj maupun Dema. Dengan segala bentuk progam kerja, lembaga ini
seyogyanya ingin merangkul seluruh jajaran mahasiswa agar mau berpartisipasi
aktif dalam mengakomodir, memperjuangkan hak-hak mahasiswa, menyerap aspirasi public
dalam menegakkan republic mahasiswa yang sehat, dan progresif. Lembaga ini
terbukti menjadi motor organisasi yang kuat untuk memfilter kebijakan-kebijakan
rektorat yang dianggap kurang pro dengan mahasiswa. Namun sayang, lembaga
eksekutif belum sepenuhnya mendapat “apresiasi” secara komperehensif dari
jajaran dosen, dekanat, hingga rektorat.
Sabtu, 19 Mei 2012
Gunting, Rambut Gondrong dan Bapak Berbrewok
Suatu kali, aku mengantarkan seorang kawan ke sebuah
kantor instansi di perguruan tinggi ternama di Malang. Maksud dan tujuan kawanku
ke kantor institusi tersebut adalah meminta hak serta ngurusi administrasi
yang berkaitan dengan proses beasiswanya di salah satu perguruan tinggi. Ini
adalah kali kedua dia datang ke kantor instansi tersebut setelah kali yang
pertama dia ditolak dan diusir dari tempat itu. Tentunya, ketika kawanku ini
memberanikan diri untuk datang lagi dia sudah menyiapkan mental, kejernihan
akal, dan sedikit srategi agar tidak
mengalami kali kedua seperti yang pertama dia alami pada waktu sebelumnya.
Ketika kami sampai
di kantor aku katakan kepadanya “Bleh, opo kowe siap?engko awakmu
diusir maneh. “Ah..santae, sing penting aku maju dulu” ujarnya acuh.
Sepertinya sudah mantap dia. Apapun hasilnya, diterima, ditolak, diusir kali
ketiga, bahkan diblack list nama agaknya dia sudah tak peduli. Kebutuhan yang
bersifat pragmatis sudah tak bisa ditunda lagi, harus segera direalisasikan.
Idealis tak dibutuhkan saat ini.
Kamis, 17 Mei 2012
Terpasung
Entah, ketika menapak langkah pada satu langkah kaki yang
bernama kuliah tergambarkan pada ruang sadarku
tentang banyak corak, pola absurd, sketsa yang sampai sekarang belum
kutemukan satu bentuk nyata sebenarnya terbentuk gambar apa dari sekian pola
abstrak itu.
Segala macam bentuk yang kuanggap abstrak itu berupa
segala system yang dipatrap di kampus. Seperti mahasiswa harus berambut
rapi, klimis, membuat makalah, masuk perkuliahan yang diabsen, haram berambut
gondrong dan celana bolong dan lain-lain. Inilah abstrak-ku itu. Dengan alasan
rasional memang dapat aku akui, bahwa kelembagaan itu mempunyai “otonomi”
internal yang harus di manuti oleh segenap akademikanya. Jadi, siapapun
anda ketika mlebu “kandang singa” mau tak mau anda minimal harus pakewuh
dengan segala hal-hal yang berada disana terutama dengan system yang
diterapkan.
Senin, 14 Mei 2012
Di Lorong Ibnu Aqil (3)
Membaca Indonesia lewat Lukisan
(Judul berita di Radar Malang 17 Mei 2012)
Bursa
dan pameran ini bekerja sama dengan Ojik galeri, Penjal (pelukis jalanan),
ngakak (ngalam karikatr) dan PMII rayon perjuangan ibnu aqil. Empat puluh dua
lukisan dipamerkan. Mulai dari sketsa, karikatur, maupun lukisan human interest
dari tokoh bangsa. Emha ainun nadjib, Abdurahman Wahid (Gus Dur), Lukman
Efendi, dan lain-lain.
Minggu, 13 Mei 2012
Sri Sultan Hamengku Buwono X ; Pemimpin itu harus ber- Tri Sakti Brata
Sabtu, 12 Mei 2012
Cak Kum-Pimred Radar Malang- (sebuah spionase)
Kurniawan Muhammad, seorang pimred Koran lokal radar Malang
ternyata adalah alumni Universitas Brawijaya fakultas perikanan. Aktif di
sejumlah kegiatan pers mahasiswa dengan mengasuh majalah ketawang gede. Ada
yang menarik untuk sedikit di pahami bahwa konsentrasi seseorang dalam menekuni
sebuah bidang, perjalanan karier, dan pendidikan belum tentu menjadi akhir finis yang linier
terhadap diskursus ilmu yang ditekuninya. Cak Kum, panggilan akrab Kurniawan
Muhammad adalah alumnus fakultas perikanan tapi menjadi wartawan jawa pos dan pimred
radar Malang. Ini kan tidak nyambung-Jaka tingkir numpak becak;gak nyambung
cak-.
Seperti yang dia ceritakan tentang pengalaman hidupnya di perpus
lt.2 dalam acara “Short Course Of Journalism And Creative Writing”
(11/05/2012)
“Saya
adalah alumnus fakultas perikanan, tapi sekarang saya malah menjadi wartawan”terangnya
dengan ringan.
Di Lorong Ibnu Aqil (2)
Ada ruh Al-Ghazali dan Socrates di
dalam dirimu
Teori tentang individualisme muncul karena dia dianggap
asing, aneh, tidak berbicara dan tidak
berbuat, apatis terhadap segala segmen kehidupan entah cultural
maupun structural. Anda punya sensivitas yang cukup representatif untuk
menilai gejala seperti ini jika anda sedikit mau membuka mata dan telinga. Ini
titik yang paling sederhana dan mudah. Tengoklah di sekitar dimana anda berada,
di masjid, gereja, warung, perkantoran, kampus, lapangan sepak bola, gedung-gedung
megah metropolitan dan lain-lain. Bicaralah dengan akal dan hati terhadap siapa
saja yang anda temui. Jangan mengedapankan ego dan status sosial,
mentang-mentang dosen, ustadz, muallim, lalu menjaga jarak dengan tidak mau
ngopi dan futsalan bareng. Kalian menutup diri dan kehilangan interaksi sosial
dengan mengagung-agungkan jabatan dan prestisiusitas. Maqalah Ki hajar
Dewantoro tentang Ing ngarso sung tulodo ing madyo mangun karso belum
sepenuhnya terpatri dalam tingginya intelektualitas kita. Manusia pintar nan
cerdas memang gampang dicari, tapi manusia yang paham dan mengerti seakan
hilang tertelan bumi. Wahai bumi, segera keluarkan manusia-manusia itu dari
perutmu.
Teori tentang individualisme muncul karena dia dianggap
asing, aneh, tidak berbicara dan tidak
berbuat, apatis terhadap segala segmen kehidupan entah cultural
maupun structural. Anda punya sensivitas yang cukup representatif untuk
menilai gejala seperti ini jika anda sedikit mau membuka mata dan telinga. Ini
titik yang paling sederhana dan mudah. Tengoklah di sekitar dimana anda berada,
di masjid, gereja, warung, perkantoran, kampus, lapangan sepak bola, gedung-gedung
megah metropolitan dan lain-lain. Bicaralah dengan akal dan hati terhadap siapa
saja yang anda temui. Jangan mengedapankan ego dan status sosial,
mentang-mentang dosen, ustadz, muallim, lalu menjaga jarak dengan tidak mau
ngopi dan futsalan bareng. Kalian menutup diri dan kehilangan interaksi sosial
dengan mengagung-agungkan jabatan dan prestisiusitas. Maqalah Ki hajar
Dewantoro tentang Ing ngarso sung tulodo ing madyo mangun karso belum
sepenuhnya terpatri dalam tingginya intelektualitas kita. Manusia pintar nan
cerdas memang gampang dicari, tapi manusia yang paham dan mengerti seakan
hilang tertelan bumi. Wahai bumi, segera keluarkan manusia-manusia itu dari
perutmu.Kamis, 10 Mei 2012
Di Lorong Ibnu Aqil ( 1 )
"Umar bin Khataab" pengagum artis dan lagu-lagu india
Perawakannya yang besar, langkah
kakinya yang mantap dengan bumi, tegap badannya yang gagah layak perwira
jendral membuat warga rayon ibnu aqil sangat sungkem, pakewuh, terhadap
sosok ini. Dikenal tegas dan berani menggertak apa saja. Khususnya terhadap
hal-hal yang dianggap menyeleweng dan pada saat itu juga harus ada perubahan. Gak
peduli sopo wonge, salah yo tetep salah begitulah kira-kira satu prinsip
hidup yang terpatri dalam hatinya. Suatu contoh, pada hari kamis (03/05/2012) rayon perjuangan ibnu aqil menghelat acara
harlah dengan membaca manaqib bersama di depan gedung Sc dengan mengundang OMIK
kampus, OMEK, heksa rayon, dan UKM . Acara berbalut spiritual itu juga dihadiri
KH. Marzuki Mustamar (PCNU Malang), ketua komisariat PMII sunan ampel Malang
dan Presiden DEMA Universitas. Tentu acara ini membuat satu prestisius tersendiri
bagi warga rayon ibnu aqil karena dulu hingga sekarang acara yang dihelat ibnu
aqil selalau mengundang perhatian, kedigdayaan, dan kemegahan. Namun, kemegahan
itu seakan hampa karena kader-kader baru ibnu aqil angkatan sapu jagad tidak
turut serta[1]
dalam acara itu.
Perawakannya yang besar, langkah
kakinya yang mantap dengan bumi, tegap badannya yang gagah layak perwira
jendral membuat warga rayon ibnu aqil sangat sungkem, pakewuh, terhadap
sosok ini. Dikenal tegas dan berani menggertak apa saja. Khususnya terhadap
hal-hal yang dianggap menyeleweng dan pada saat itu juga harus ada perubahan. Gak
peduli sopo wonge, salah yo tetep salah begitulah kira-kira satu prinsip
hidup yang terpatri dalam hatinya. Suatu contoh, pada hari kamis (03/05/2012) rayon perjuangan ibnu aqil menghelat acara
harlah dengan membaca manaqib bersama di depan gedung Sc dengan mengundang OMIK
kampus, OMEK, heksa rayon, dan UKM . Acara berbalut spiritual itu juga dihadiri
KH. Marzuki Mustamar (PCNU Malang), ketua komisariat PMII sunan ampel Malang
dan Presiden DEMA Universitas. Tentu acara ini membuat satu prestisius tersendiri
bagi warga rayon ibnu aqil karena dulu hingga sekarang acara yang dihelat ibnu
aqil selalau mengundang perhatian, kedigdayaan, dan kemegahan. Namun, kemegahan
itu seakan hampa karena kader-kader baru ibnu aqil angkatan sapu jagad tidak
turut serta[1]
dalam acara itu.
Langganan:
Postingan (Atom)





