Pelantikan OMIK Fakultas Humaniora dan Budaya Uin maliki Malang periode 2012-2013 beberapa waktu lalu (20/05) di gedung Sc lt.02 menjadi awal dari sebuah tanggung jawab dan perjuangan baru dalam mewujudkan kesuksesan bersama. Dema-F, Hmj BSi, Hmj BSA, dan Hmj PBA mengikuti acara pelantikan ini dengan khidmat. Acara yang diselenggarakan oleh Sema-F fakultas ini adalah satu rentetan dari beberapa acara yang lainnya. Setelah semua Omik mengikuti pelantikan, mereka selanjutnya akan digodok dengan pelatihan organisasi yang dilaksanakan di ruang auditorium dan galeri lt.3 fakultas Humbud.
Rabu, 25 April 2012
Selasa, 24 April 2012
Coretan untuk Sahabat
Mahasantri Ma'had Sunan Ampel Al- 'Aly itu akhirnya muntab
Lagi-lagi kisruh mewarnai kehidupan ini dengan berbagai
segmen yang meliputi. Sesungguhnya ada latar belakang dan alasan rasional
kenapa kekisruhan tak dapat di elakkan. Sistem sosial, birokrasi kampus,
politik kekuasaan “kecil” dunia mahasiswa, feodalisme fakultas maupun jurusan,
maupun kebijakan ma’had dimana mahasiswa
Uin maliki berkutat dengan urusan intelektual, moral, dan sosial. Selama ini,
tidak ada gerakan praktis untuk mengatasi problem-problem yang terjadi.
Idealnya, seorang musyrif dan murabbi adalah penyambung lidah, pengayom, teman
curhat, sahabat dekat, konco ngopi, dan tanggap dengan masalah-masalah yang
dihadapi mahasantri. Apa keinginan mereka, selama tidak melanggar tatanan
sosial dan budaya, harusnya ditanggapi dengan hati yang lapang, fikiran yang
jernih dan prinsip silaturahmi yang terbangun. Namun yang terjadi, musyrif
maupun murabbi seakan terjebak pada structural formal. Musyrif dan murabbi
bukannya menjadi penyambung dari problematika mahasantri namun justru berubah
menjadi algojo dan pengeksekusi mahasantri.
Santri dan Peci
Santri dan Peci
Seorang kawan cerita bahwa ia baru
saja menemui, sowan ke salah seorang Kyai di
kota Malang, berharap dalam hatinya ia akan mendapatkan nasehat, petuah,
atau do’a-do’a yang bersifat kontekstual yang sesuai dengan keadaan dirinya. Kebiasaan
seseorang yang sowan kepada orang yang dianggap tua adalah satu bentuk sungkem,
andap ashor, tata karma di dalam menghormati orang tua. Khususnya orang alim.
Rasulullah SAW meng-SK mereka sebagai waratsatul Anbiya’ asistennya para
Nabi, manusia dengan derajat khusus yang mendapatkan mandat kehormatan, prestisius,
wibawa, juga sekaligus ‘cobaan’.
Senin, 23 April 2012
Neng Chacha
Siapa yang tidak kenal dengan Marsyanda atau Neng chacha. Artis Indonesia yang sudah melambai namanya hingga ke pelosok desa. Neng Chacha (panggilan ankrabnya) kami temui beberapa waktu lalu di Jakarta untuk wawancara tentang arti sebuah jilbab.Bagi Chacha, jilbab adalah sebuah rasa syukur kepada Allah terhadap semua nikmat yang telah diberikan.
" Aku memakai jilbab ini adalah karena syukurku padaNya". Ujar Neng Chacha.
" Aku memakai jilbab ini adalah karena syukurku padaNya". Ujar Neng Chacha.
Kamis, 19 April 2012
Kaping telu wong sholeh kumpulono
Ada Salah satu butir syair Tombo Ati yang berbunyi "kaping telu wong kang sholeh kumpulono". Syair jawa yang digubah oleh ayahanda Gus Mus tersebut merupakan syair jawa yang sangat populer di kalangan umat muslim Indonesia, khususnya kaum santri di pesantren.
Khusus bait diatas, mempunyai kohesi didalam lingkungan hidup untuk menciptakan kepribadian yang baik maupun buruk. Anda tentu tahu, siapa yang berkumpul dengan tukang minyak, dia akan ikut menjadi wangi. Pun sebaliknya, jika anda bergaul dengan tukang besi, segala apa yang berkaitan dengan itu juga ikut mempengaruhi anda.
Khusus bait diatas, mempunyai kohesi didalam lingkungan hidup untuk menciptakan kepribadian yang baik maupun buruk. Anda tentu tahu, siapa yang berkumpul dengan tukang minyak, dia akan ikut menjadi wangi. Pun sebaliknya, jika anda bergaul dengan tukang besi, segala apa yang berkaitan dengan itu juga ikut mempengaruhi anda.
Senin, 16 April 2012
Maiyahan
Silaturahmi ke Cak Nun dalam rutinan maiyah padhang mbulan jombang alhamdulillah selalu kami ikuti setiap bulan. Cak Nun adalah tokoh nasional yang sampai saat ini masih eksis di forum-forum. Entah di masyarakat, mahasiswa, aktivis, dan lain-lain. Semoga kami bisa selalu mengikuti forum-forum dimana Cak Nun ada.
Rabu, 29 Februari 2012
Suratku untuk Bapak Imam Suprayogo
Assalamu’alaikum Wr Wb
Puji syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan
berbagai karunia, nikmat, rahmad kepada kita selaku hambaNya sehinggga bisa
melakukan aktivitas, menemukan ilmu dimana pun kita berada, menghirup nafas
rezki yang tiada henti-hentinya mengalir di sekeliling kita untuk mencapai satu
ucapan syukur kepada Tuhan sang pencipta.
Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan pada
manusia mulia, manusia agung, pemegang tonggak peradaban terbesar dalam sejarah
dunia. nabi akhiruz zaman, raja dari para nabi( mulukan nabiyya), seorang
lelaki penggenggam hujan. Dialah Muhammad SAW, yang telah mengantarkan manusia
dari kubangan dosa menuju kolam intan permata nan cahaya, yaitu Islam.
Bapak Rektor yang
terhormat…..
Ijinkan mahasiswa Bapak ini menyampaikan satu dua kata
untuk menyampaikan sesuatu, curhat, testimony, komunikasi dengan Bapak walau
hanya sebatas corat-coret dengan tulisan yang sederhana ini. Tentunya,
komunikasi yang baik harus dimulai dengan etika yang baik, tata karma yang
sopan, andap ashor kata orang jawa untuk memulai suatu perbincangan
antara murid dengan guru, ksatria dengan brahmana, santri dengan ustadz, maupun
mahasiswa dengan rektornya. Titik temu untuk bisa menemukan etika yang baik
kiranya bisa dimulai dengan satu pemahaman utuh bahwa kita adalah manusia,
bukan yang lain. Kita sering dihadapkan pada kenyataan sosial tentang hubungan
antar manusia yang selalu salah paham dalam memahami pemikiran, maksud hati,
dan keinginan untuk menyampaikan sesuatu hanya karena kita merasa paling benar
diantara yang lain, paling unggul, paling pintar, paling dewasa, menang
pengalaman dan lain-lain. Nah, disini saya sebagai mahasiswa Bapak apapun yang
saya katakan, entah solusi maupun kritik tolong anggaplah saya ini sebagai
manusia, yang segala sesuatu tidak bisa terlepas dari salah, khilaf, dan dosa.
Kiranya bapak juga demikian, tanggalkan dulu jabatan, pengalaman, prestisiusitas,
njenengan dulu agar kita bisa saling memahami, saling instropeksi diri,
bisa embat-embatan hati satu sama lain. Karena jaman sekarang, orang
sudah tidak berani menjadi manusia, mereka beraninya menjadi bupati, gubernur,
presiden, dan lain-lain. Mereka belum berani menjadi manusia seutuhnya. Kebanggaan
dan keberanian mereka satu-satunya adalah menjadi manusia struktural. Maka,
dengan ini saya dan anda mari menjadi manusia seutuhnya. Saya mohon dengan hati
yang lapang, bapak benar-benar mau sedikit mendengar keluh kesah, cerewet saya
yang selama ini saya pendam untuk bapak Imam yang terhormat.
Bapak Imam yang tak
pernah lelah berjuang…..
Dulu, ketika awal saya menjadi maba, satu hal yang saya
catat di memorandum saya adalah bahwa seorang pemimpin sejati pasti mempunyai
trik-trik, ilmu politik praktis, demi kelangsungan mempertahankan system yang
akan diterapkan pada pola kepemimpinannya. Namun, formula itu belum saya
temukan. Baru saya temukan ketika saya mendengarkan langsung pidato bapak
tentang empat pilar yang luar biasa dan terkenal di kampus ini yaitu, kedalaman
spiritual, keagungan akhlak, keluasan ilmu dan kematangan professional. Empat
formula itu akan bereksplorasi menjadi kekuatan batin, memompa semangat
kemanusiaan, membentuk karakter kepribadian yang berorentasi menjadi manusia
ulul albab. Konsep dasar ini benar-benar anda ‘plokamirkan’ dalam setiap
pidato, ceramah, khutbah dimana saja. Tidak cukup dengan itu, pengejawentaahan
yang nyata dalam bentuk yang lebih kongkrit muncul seiringan dengan gagasan
anda itu.Yaitu, ma’had sebagai wilayah srategis untuk membentuk kepribadian
‘akhlakis’, agamis, namun tetap kritis dalam membaca wacana-wacana global
tentang sosial. Inilah yang membuat saya sedikit terinspirasi dan termotivasi
untuk selalu menemukan kesejatian diri, dan selalu mengambil ilmu dari Bapak.
Bapak Imam yang selalu
di rahmati Allah….
Tidak mungkin seorang pemimpin itu mengeberi kepentingan
mahasiswa untuk kepentingan dirinya. Saya yakin itu. Maksudnya, pola system
yang diterapkan di kampus tentunya mempunyai dasar, latar belakang pemikiran,
histografis letak, untuk menciptakan budaya akademis progresif untuk kemajuan
bersama. Tidak hanya untuk kampus, tapi juga untuk masyarakat, agama, bangsa
dan Negara. Maka, dalam penerapan system yang ada, seharusnya mahasiswa selalu
diikutsertakan, di ajak rembuk untuk menciptakan kebijakan dan aturan yang ada.
Realita yang ada, banyak faktor mis komunikasi antar birokrasi dan elemen
mahasiswa dalam memahami kepentingan-kepentingan yang ada. Mahasiswa seakan
dikomodiskan sebagai pelengkap, objek pelaku system tanpa mereka mengetahui
mengapa harus ikut aturan itu. Misalnya, kasus dekat-dekat kemarin-mahasiswa
demo tentang SPP, yang berujung pada kasus yang lebih besar dan tidak terduga.
Bapak dituduh korupsi dana Negara untuk pembangunan masjid ulul albab. Saya
kira, kesalahan fatal Bapak dengan elemen jajaran birokrasi adalah meniadakan
peran mahasiswa dalam menentukan aturan, rembuk bersama, untuk menemukan
kesepakatan-kesepakatan yang bijak dan cerdas antara birokrator dan mahasiswa.
Wahai Bapak, ajaklah kami selaku mahasiswa untuk bisa urun pendapat dan
gagasan untuk menentukan langkah dimana kami yang selalu menjadi objek pelaku
aturan. Jangan menunggu didemo baru kami bisa mengajukan gagasan atau
tuntutan.. Itu salah sesungguhnya.
Bapak Imam yang bersahaja…..
Kalau boleh jujur, kepemimpinan Bapak dalam kaca mata
subjektif saya sangat luar biasa, dimata sebagian mahasiswa, karyawan, dosen
maupun di lingkup luas nasional. H.R. Taufiqurrochman dalam bukunya Imam
al-jami’ah menulis bahwa banyak sekali tokoh-tokoh termuka yang menaruh
simpati atas kesuksesan Bapak dalam
membangun kampus ini. Muhammad Maftuh Bayuni Menteri Agama menilai bahwa anda
adalah tokoh yang intens, total, dan tidak mengorbankan satu untuk lainnya. Prof.
Drs. A. Malik Fadjar, M.Sc Menteri Pendidikan Nasional juga megungkapkan hal
yang sama. Prof. Dr. Yahya Muhaimin Menteri Pendidikan Nasional kabinet
persatuan, Prof. Komaruddin Hidayat, Ph.d Rektor UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta, sampai dengan Basri Zain, MA, Ph.D ketua pusat studi tarbiyah ulul
albab UIN Maliki Malang. Semua sangat apresiasi terhadap cirri khas, gaya,
retorika kepemimpinan anda. Namun, ada yang janggal dalam buku Imam
Al-jami’ah karangan H.R Taufiqurrochman tersebut, yaitu tidak adanya
statement dari mahasiswa terhadap Bapak. Yang ‘dipajang’ hanyalah statement
orang-orang yang mempunyai prestisius besar dengan menempati posisi srategis
dalam birokrasi maupun kepemerintahan. Bapak boleh berbangga, tetapi jangan
lupakan bahwa sesungguhnya penilaian yang sejati, jujur, objektif, mempunyai
supremasi hukum, adalah penilaian mahasiswa. Bukan orang-orang ‘besar’ seperti
yang telah diungkapkan. Karena pelaku utama dari aturan-aturan yang diterapkan
adalah mahasiswa. Mahasiswa bukanlah objek, tapi mereka adalah subjek. Otoritas
tertinggi secara hukum, subtansi, filosofi, social development adalah mereka.
Rektor, wakil rektor, dekan, wakil dekan, kajur, wakil kajur, kamahasiswaan,
karyawaan, adalah buruh dan pemimpinnya adalah mahasiswa. Jajaran birokrasi
hanyalah orang yang dibayar untuk menemani mahasiswa belajar, mencari ilmu,
mandiri dan lain-lain. Jangan semena-mena dan sombong dengan jabatan akademik
dengan meniadakan peran mahasiswa dalam berkontribusi untuk kampusnya. Wahai
Bapak, elus kepala kami dengan kasih sayang layaknya orang tua kepada anaknya.
Tidak hanya secara struktural, namun lebih kepada romantisme hubungan kultural.
Wahai Bapak Imam yang
selalu sabar….
Napak tilas perjuangan Bapak saya yakin akan
dikenang oleh siapa saja yang mau menghargai akan sebuah perjuangan. Saya ingat
satu cita-cita luhur Bapak untuk kampus ini kedepan, yaitu menjadikan kampus
ini unggul, unggul, dan unggul. Keunggulan itu diperkuat dengan banyaknya
jajaran birokrasi, pemimpin fakultas, maupun universitas yang hafal Al qur’an.
Sebagai mahasiswa, sungguh itu adalah cita-cita luhur nan luar biasa. Beberapa
bulan ke depan, Bapak sudah tidak memimpin kammpus ini, tapi Bapak sudah
meninggalkan warisan cita-cita, mimpi dan impian untuk kampus, mahasiswa, dan
semuanya untuk depannya.
Sekali lagi apapun yang saya ungkapakan, terimalah saya
sebagai manusia yang penuh salah dan dosa. Trima kasih Pak mau membaca surat
sederhana ini. Semoga Rahmad Allah selalu menaungi kita dalam melakkukan
aktivitas sehari-hari. Amin.
Wassalamu’alaikum Wr Wb
Senin, 16 Januari 2012
Prabu Brawijaya
Prabu Brawijaya (lahir: ? - wafat: 1478) atau kadang
disebut Brawijaya V adalah raja terakhir Kerajaan Majapahit versi naskah-naskah babad dan
serat, yang memerintah sampai tahun 1478. Nama Brawijaya berasal dari kata Bhra Wijaya. Gelar bhra adalah singkatan dari bhatara,
yang bermakna "baginda". Sedangkan gelar bhre yang banyak
dijumpai dalam Pararaton berasal dari gabungan kata bhra i, yang
bermakna "baginda di". Dengan demikian, Brawijaya dapat juga disebut Bhatara
Wijaya.
Jaka Tingkir
Nama aslinya adalah Mas Karèbèt,
putra Ki Ageng Pengging atau Ki Kebo Kenanga. Ketika ia
dilahirkan, ayahnya sedang menggelar pertunjukan wayang
beber dengan dalang Ki Ageng Tingkir. Kedua ki ageng ini adalah murid Syekh
Siti Jenar. Sepulang dari mendalang, Ki Ageng Tingkir jatuh sakit dan
meninggal dunia.
Sepuluh tahun kemudian, Ki
Ageng Pengging dihukum mati karena dituduh memberontak terhadap Kerajaan
Demak. Sebagai pelaksana hukuman ialah Sunan Kudus.
Setelah kematian suaminya, Nyai Ageng Pengging jatuh sakit dan meninggal pula.
Sejak itu, Mas Karebet diambil sebagai anak angkat Nyai Ageng Tingkir (janda Ki
Ageng Tingkir).
Mas Karebet tumbuh menjadi pemuda
yang gemar bertapa, dan dijuluki Jaka Tingkir. Guru pertamanya adalah Sunan
Kalijaga. Ia juga berguru pada Ki
Ageng Sela, dan dipersaudarakan dengan ketiga cucu Ki Ageng yaitu, Ki
Juru Martani, Ki Ageng Pemanahan, dan Ki Panjawi.
Babad
Tanah Jawi
selanjutnya mengisahkan, Jaka Tingkir ingin mengabdi ke ibu kota Demak. Di sana ia tinggal
di rumah Kyai Gandamustaka (saudara Nyi Ageng Tingkir) yang menjadi perawat Masjid
Demak berpangkat lurah ganjur. Jaka Tingkir pandai menarik simpati
raja Demak Trenggana
sehingga ia diangkat menjadi kepala prajurit Demak berpangkat lurah
wiratamtama.
Beberapa waktu kemudian, Jaka
Tingkir bertugas menyeleksi penerimaan prajurit baru. Ada seorang pelamar
bernama Dadungawuk yang sombong dan suka pamer. Jaka Tingkir menguji
kesaktiannya dan Dadungawuk tewas hanya dengan menggunakan SADAK KINANG.
Akibatnya, Jaka Tingkir pun dipecat dari ketentaraan dan diusir dari Demak.
Jaka Tingkir kemudian berguru pada
Ki Ageng Banyubiru atau Ki Kebo Kanigoro (saudara tua ayahnya / kakak mendiang
ayahnya). Setelah tamat, ia kembali ke Demak bersama ketiga
murid yang lain, yaitu Mas Manca, Mas Wila, dan Ki Wuragil.
Rombongan Jaka Tingkir menyusuri
Sungai Kedung Srengenge menggunakan rakit. Muncul kawanan siluman buaya menyerang
mereka namun dapat ditaklukkan. Bahkan, kawanan tersebut kemudian membantu
mendorong rakit sampai ke tujuan.
Saat itu Trenggana sekeluarga sedang
berwisata di Gunung Prawoto. Jaka Tingkir melepas seekor kerbau gila yang
dinamakan sebagai Kebo Danu yang sudah diberi mantra (diberi tanah kuburan pada
telinganya). Kerbau itu mengamuk menyerang pesanggrahan raja, di mana tidak ada
prajurit yang mampu melukainya.
Jaka Tingkir tampil menghadapi
kerbau gila. Kerbau itu dengan mudah dibunuhnya. Atas jasanya itu, Trenggana
mengangkat kembali Jaka Tingkir menjadi lurah wiratamtama.
Kisah dalam babad tersebut seolah
hanya kiasan, bahwa setelah dipecat, Jaka Tingkir menciptakan kerusuhan di Demak, dan ia tampil
sebagai pahlawan yang meredakannya. Oleh karena itu, ia pun mendapatkan simpati
raja kembali.
Prestasi
Jaka Tingkir sangat cemerlang meskipun tidak diceritakan secara jelas dalam Babad
Tanah Jawi. Hal itu dapat dilihat dengan diangkatnya Jaka Tingkir sebagai
Adipati Pajang
bergelar Adipati Adiwijaya. Ia juga menikahi Ratu Mas Cempa, putri Trenggana.
Sepeninggal
Trenggana tahun 1546, puteranya yang bergelar Sunan
Prawoto seharusnya naik takhta, tapi kemudian ia tewas dibunuh Arya
Penangsang (sepupunya di Jipang) tahun 1549. Arya Penangsang membunuh
karena Sunan Prawoto sebelumnya membunuh karena Sunan Prawoto sebelumnya juga
membunuh ayah Aryo Penangsang yang bernama Pangeran Sekar Seda Lepen sewaktu ia
menyelesaikan salat ashar di tepi Bengawan Sore. Pangeran Sekar merupakan adik
kandung Trenggana sekaligus juga merupakan murid pertama Sunan Kudus.
Pembunuhan-pembunuhan ini dilakukan dengan menggunakan Keris Kiai Setan Kober.
Selain itu Aryo Penangsang juga membunuh Pangeran Hadiri suami dari Ratu
Kalinyamat yang menjadi bupati Jepara.
Kemudian
Aryo
Penangsang mengirim utusan untuk membunuh Adiwijaya di Pajang, tapi gagal.
Justru Adiwijaya menjamu para pembunuh itu dengan baik, serta memberi mereka
hadiah untuk mempermalukan Arya
Penangsang.
Sepeninggal
suaminya, Ratu Kalinyamat (adik Sunan
Prawoto) mendesak Adiwijaya agar menumpas Aryo
Penangsang karena hanya ia yang setara kesaktiannya dengan adipati Jipang
tersebut. Adiwijaya segan memerangi Aryo
Penangsang secara langsung karena sama-sama anggota keluarga Demak dan merupakan
saudara seperguruan sama-sama murid Sunan Kudus.
Maka,
Adiwijaya pun mengadakan sayembara. Barangsiapa dapat membunuh Aryo
PenangsangPati dan mentaok/Mataram sebagai
hadiah. akan mendapatkan tanah
Sayembara
diikuti kedua cucu Ki Ageng Sela, yaitu Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi. Dalam perang
itu, Ki Juru Martani (kakak ipar Ki Ageng Pemanahan) berhasil menyusun siasat
cerdik sehingga sehingga Sutawijaya (Anak Ki Ageng Pemanahan) dapat menewaskan Arya
Penangsang setelah menusukkan Tombak Kyai Plered ketika Aryo Penangsang
menyeberang Bengawan Sore dengan mengendarai Kuda Jantan Gagak Rimang.
Setelah
peristiwa tahun 1549 tersebut, Pusat kerajaan tersebut kemudian dipindah ke Pajang dengan
Hadiwijaya sebagai raja pertama. Demak kemudian dijadikan Kadipaten dengan anak
Suan Prawoto yang menjadi Adipatinya
Hadiwijaya
juga mengangkat rekan-rekan seperjuangannya dalam pemerintahan. Mas Manca
dijadikan patih bergelar Patih Mancanegara, sedangkan Mas Wila dan Ki Wuragil
dijadikan menteri berpangkat ngabehi.
Sumpah
setia Ki Ageng Mataram
Sesuai perjanjian sayembara, Ki Panjawi mendapatkan tanah Pati dan bergelar Ki
Ageng Pati. Sementara itu, Ki Ageng Pemanahan masih menunggu karena
seolah-olah Hadiwijaya menunda penyerahan tanah Mataram.
Sampai tahun 1556, tanah Mataram masih
ditahan Adiwijaya. Ki Ageng Pemanahan segan untuk meminta. Sunan
Kalijaga selaku guru tampil sebagai penengah kedua muridnya itu. Ternyata,
alasan penundaan hadiah adalah dikarenakan rasa cemas Adiwijaya ketika mendengar
ramalan Sunan Prapen bahwa di Mataram akan lahir
sebuah kerajaan yang mampu mengalahkan kebesaran Pajang. Ramalan itu
didengarnya saat ia dilantik menjadi raja usai kematian Arya
Penangsang.
Sunan
Kalijaga meminta Adiwijaya agar menepati janji karena sebagai raja ia
adalah panutan rakyat. Sebaliknya, Ki Ageng Pemanahan juga diwajibkan bersumpah
setia kepada Pajang.
Ki Ageng bersedia. Maka, Adiwijaya pun rela menyerahkan tanah Mataram pada
kakak angkatnya itu.
Tanah Mataram adalah
bekas kerajaan kuno, bernama Kerajaan
Mataram yang saat itu sudah tertutup hutan bernama Alas Mentaok. Ki Ageng Pemanahan sekeluarga, termasuk Ki
Juru Martani, membuka hutan tersebut menjadi desa Mataram. Meskipun
hanya sebuah desa namun bersifat perdikan atau sima swatantra. Ki Ageng Pemanahan yang kemudian bergelar Ki
Ageng Mataram, hanya diwajibkan menghadap ke Pajang secara rutin
sebagai bukti kesetiaan tanpa harus membayar pajak dan upeti.
Menundukkan Jawa Timur
Saat
naik takhta, kekuasaan Adiwijaya hanya mencakup wilayah Jawa Tengah
saja, karena sepeninggal Trenggana, banyak daerah bawahan Demak yang melepaskan
diri.
Negeri-negeri
di Jawa
Timur yang tergabung dalam Persekutuan Adipati Bang Wetan saat itu dipimpin
oleh Panji Wiryakrama bupati Surabaya. Persekutuan adipati tersebut sedang menghadapi
ancaman invansi dari berbagai penjuru, yaitu Pajang, Madura,
dan Blambangan.
Pada
tahun 1568 Sunan Prapen penguasa Giri
Kedaton menjadi mediator pertemuan antara Hadiwijaya raja Pajang di atas
negeri yang mereka pimpin. Sebagai tanda ikatan politik, Panji Wiryakrama
diambil sebagai menantu Adiwijaya.
Selain
itu, Adiwijaya juga berhasil menundukkan Madura
setelah penguasa pulau itu yang bernama Raden Pratanu bergelar Panembahan Lemah
Duwur Arosbaya menjadi menantunya.
Dalam
pertemuan tahun 1568 itu, Sunan Prapen untuk pertama
kalinya berjumpa dengan Ki Ageng Pemanahan dan untuk kedua kalinya
meramalkan bahwa Pajang
akan ditaklukkan Mataram
melalui keturunan Ki Ageng tersebut.
Mendengar
ramalan tersebut, Adiwijaya tidak lagi merasa cemas karena ia menyerahkan
semuanya pada kehendak takdir.
Pemberontakan Sutawijaya
Sutawijaya
adalah putra Ki Ageng Pemanahan yang juga menjadi anak angkat
Hadiwijaya. Sepeninggal ayahnya tahun 1575, Sutawijaya
menjadi penguasa baru di Mataram, dan diberi hak untuk tidak menghadap selama setahun
penuh.
Waktu setahun berlalu dan Sutawijaya
tidak datang menghadap. Adiwijaya mengirim Ngabehi Wilamarta dan Ngabehi
Wuragil untuk menanyakan kesetiaan Mataram. Mereka
menemukan Sutawijaya
bersikap kurang sopan dan terkesan ingin memberontak. Namun kedua pejabat
senior itu pandai menenangkan hati Adiwijaya melalui laporan mereka yang
disampaikan secara halus.
Tahun demi tahun berlalu. Adiwijaya
mendengar kemajuan Mataram semakin pesat. Ia pun kembali mengirim utusan untuk
menyelidiki kesetiaan Sutawijaya. Kali ini yang berangkat adalah Pangeran
Benawa (putra mahkota), Arya Pamalad (menantu yang menjadi adipati Tuban), serta Patih
Mancanegara. Ketiganya dijamu dengan pesta oleh Sutawijaya.
Di tengah keramaian pesta, putra sulung Sutawijaya
yang bernama Raden Rangga membunuh seorang prajurit Tuban yang didesak
Arya Pamalad. Arya Pamalad sendiri sejak awal kurang suka dengan Sutawijaya
sekeluarga.
Maka sesampainya di Pajang, Arya
Pamalad melaporkan keburukan Sutawijaya, sedangkan Pangeran
Benawa menjelaskan kalau peristiwa pembunuhan tersebut hanya kecelakaan
saja. Hadiwijaya menerima kedua laporan itu dan berusaha menahan diri.
Pada tahun 1582 seorang keponakan Sutawijaya
yang tinggal di Pajang,
bernama Raden Pabelan dihukum mati karena berani menyusup ke dalam keputrian
menemui Ratu Sekar Kedaton (putri bungsu Adiwijaya). Ayah Pabelan yang bernama
Tumenggung Mayang dijatuhi hukuman buang karena diduga ikut membantu anaknya.
Ibu Raden Pabelan yang merupakan
adik perempuan Sutawijaya meminta bantuan ke Mataram. Sutawijaya
pun mengirim utusan untuk merebut Tumenggung Mayang dalam perjalanan
pembuangannya ke Semarang.
Kematian
Perbuatan Sutawijaya
itu menjadi alasan Hadiwijaya untuk menyerang Mataram. Perang
antara kedua pihak pun meletus. Pasukan Pajang bermarkas di
Prambanan
dengan jumlah lebih banyak, namun menderita kekalahan. Adiwijaya semakin
tergoncang mendengar Gunung Merapi tiba-tiba meletus dan laharnya ikut
menerjang pasukan Pajang
yang berperang dekat gunung tersebut.
Adiwijaya menarik pasukannya mundur.
Dalam perjalanan pulang, ia singgah ke makam Sunan
Tembayat namun tidak mampu membuka pintu gerbangnya. Hal itu dianggapnya
sebagai firasat kalau ajalnya segera tiba.
Adiwijaya melanjutkan perjalanan
pulang. Di tengah jalan ia jatuh dari punggung gajah tunggangannya,
sehingga harus diusung dengan tandu. Sesampai di Pajang, datang
makhluk halus anak buah Sutawijaya bernama Ki Juru Taman memukul dada Adiwijaya,
membuat sakitnya bertambah parah.
Adiwijaya berwasiat supaya anak-anak
dan menantunya jangan ada yang membenci Sutawijaya,
karena perang antara Pajang dan Mataram diyakininya sebagai takdir. Selain itu, Sutawijaya
sendiri adalah anak angkat Adiwijaya yang dianggapnya sebagai putra tertua.
Pada cerita rakyat dinyatakan bahwa sebenarnya Sutawijaya adalah anak kandung
Adiwijaya dengan anak Ki Ageng Sela.
Adiwijaya alias Jaka Tingkir
akhirnya meninggal dunia tahun 1582 tersebut. Ia dimakamkan di desa Butuh,
yaitu kampung halaman ibu kandungnya.
Pengganti
Hadiwijaya memiliki beberapa orang
anak. Putri-putrinya antara lain dinikahkan dengan Panji Wiryakrama Surabaya,
Raden Pratanu Madura, dan Arya Pamalad Tuban. Adapun putri yang paling tua
dinikahkan dengan Arya Pangiri bupati Demak. Arya Pangiri
sebenarnya adalah anak Sunan Prawoto, yang seharusnya memang menggantikan
Trenggana menjadi raja Demak.
Arya
Pangiri didukung Panembahan Kudus (pengganti Sunan Kudus)
untuk menjadi raja. Pangeran Benawa sang putra
mahkota disingkirkan menjadi bupati Jipang. Arya
Pangiri pun menjadi raja baru di Pajang dengan nama
tahta Ngawantipura.
Senin, 28 November 2011
WAWASAN PENDIDIKAN NASIONAL DALAM PERSPEKTIF ISLAM
Istilah pendidikan
secara sederhana dapat diartikan sebagai usaha manusia untuk membina
kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai yang terdapat didalam masyarakat dan
bangsa. Pendidikan merupakan unsur elementer yang tidak dapat dilepaskan dari aspek
teologis. Komitmen Islam secara teologis terhadap pendidikan dapat dilacak pada
al-Qur’an surat al-Alaq (96):1-14. Ayat-ayat dalam surat ini menjelaskan
tentang signifikansi pengetahuan yang benar yang harus diketahui dan disebarkan
umat Islam secara khusus dan umat manusia umumnya. (Djumransjah :
2007 : 1)
Abdullah Yusuf Ali menjelaskan, ungkapan
“pengajaran” dan “pembacaan” yang ada pada ayat-ayat itu mengimplikasikan,
pemerintah mengajar dan membaca (meneliti dan sebagainya) tidak terbatas pada
penyampaian risalah Allah yang harus dilakukan Rasul, tetapi juga bersifat
universal, menukik pada tugas untuk menyebarkan kebenaran oleh semua orang yang
membaca dan memahami ajaran Al Quran.
Nilai-nilai dan komitmen Islam itu akan
makin tampak bila dikaitkan dengan Hadits A’isyah tentang permulaan turunnya
wahyu (lihat al-Bukhari, 18-24), di mana Tuhan menyuruh “membaca” kepada
Muhammad. Pertama kali Nabi menolak karena dia tidak bisa membaca. Namun, Tuhan
menjelaskan, “membaca” adalah kewajiban manusia; mencari dan mengamalkan
pengetahuan adalah sifat intrinsik yang harus ada pada manusia. Hadits ini juga
menggambarkan dengan jelas mengenai proses penyampaian pengetahuan dalam Islam,
yaitu sifatnya yang sangat menekankan pada penciptaan suasana dialogis dan
aktif.
Pada sisi ini batasan pendidikan Islam yang
ditawarkan Naquib al-Attas menjadi relevan untuk diangkat. Disebutkan,
pendidikan Islam pada prinsipnya merupakan proses pengenalan dan pengakuan yang
ditanamkan secara bertahap dan berkesinambungan dalam diri manusia mengenai
obyek-obyek yang benar sehingga hal itu akan membimbing manusia ke arah
pengenalan dan pengakuan terhadap eksistensi Tuhan dalam kehidupan.
Selanjutnya, dengan pengetahuan itu, manusia diarahkan untuk mengembangkan
kehidupan lebih baik.
Berdasarkan paparan itu dapat dikatakan,
pendidikan Islam dari perspektif teologis merupakan konsep yang allama ma lam
ya’lam (Tuhan mengajarkan segala hal yang tidak diketahui manusia). Hal itu
mengandung pengertian, Allah selalu mengajarkan suatu pengetahuan baru setiap
saat kepada manusia. Karena itu, manusia dituntut untuk belajar tentang apa
saja sepanjang hidupnya, dan hendaknya selalu berdialog dengan perkembangan
zaman. Lebih jauh, ayat itu menjelaskan, nilai semua pengetahuan menurut Al
Quran adalah sama pentingnya. Islam tidak mengenal pembedaan dikotomis antara
ilmu pengetahuan “agama” dan ilmu pengetahuan “sekuler”. Selama pengetahuan
bernilai baik, selama itu pula ia bernilai religius.
Untuk mendapat
gambaran yang lebih jelas tentang pendidikan Islam (at-tarbiyah al Islamiyah)
yang akan diuraikan selanjutnya menurut bahasa Islami, maka terlebih dahulu
dikemukakan pengertian dasar dari kata “pendidikan” dan “Islam”. Kata
pendidikan yang sering digunakan dalam
bahasa arabnya adalah tarbiyah.[1]
Selain itu, konsep ilmu dalam Islam-sebagai
salah satu unsur pendidikan-hendaknya mengacu kepada lingkungan dan kebutuhan
masyarakat. Karena itu harus bersifat applicable. Hal ini dapat dilacak dari
beragamnya pengetahuan yang diberikan Allah kepada para nabi dan umat mereka,
misalnya, Nuh (as) mendapatkan pengetahuan tentang pembuatan bahtera (surat
Hud, 11:37), Daud diberi pengetahuan tentang pembuatan baju besi (surat
al-Anbiya’, 21:80), umat Nabi Shaleh memiliki keahlian memahat gunung untuk
dijadikan tempat tinggal (surat al-Hijr, 15:82). Meski ragamnya berbeda, semua
memiliki nilai yang sama, yaitu karakternya bersifat teologis-transformatif.
Semuanya diarahkan untuk mengenal Tuhan dengan segala sifat-sifat-Nya sehingga
manusia selalu merasa di dekat-Nya, dan mampu mengubah dunia sesuai kebutuhan
manusia sekaligus melestarikannya. Dengan demikian, pengenalan pengetahuan itu
pada saat yang sama merupakan penanaman dan pembentukan serta pengembangan
nilai-nilai yang mencerahkan; mengantarkan manusia kepada kehidupan yang taqwa,
dan dapat menjauhkan dari kehidupan yang transgressive dan ekstrem.
Di sini ketaqwaan perlu dipahami sebagai
konsep yang menunjukkan kepribadian manusia untuk terintegrasi secara penuh dan
utuh, yaitu semacam stabilitas yang terbentuk setelah semua unsur-unsur yang
positif masuk ke dalam diri seseorang. Dengan kata lain, taqwa merupakan
kualitas kedirian manusia yang mampu mengendalikan manusia dari
kecenderungan-kecenderungan yang berlawanan dengan nilai-nilai kebaikan
universal dan perennial. Dengan ketaqwaan itu, manusia selalu berupaya berjalan
di atas jalan yang dikehendaki Tuhan, tunduk secara total kepada perintah-Nya
yang diekspresikan dalam bentuk menyebarkan kesejahteraan dan kedamaian bagi
sesama dan lingkungan.
A.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimanakah pendidikan
menurut perspektif nasional?
2.
Bagaimanakah pendidikan dalam
pesrpektif Islam?
3.
Apa Nilai Teologis
Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam?
4.
Apakah yang dimaksud dengan Pendidikan Islam Perspektif Lembaga
Pendidikan?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pendidikan Menurut Perspektif Nasional
Pendidikan seperti yang banyak
didefinisikan oleh para pakar yang apabila diambil intinya adalah upaya sadar
yang diberikan oleh si pendidik dalam rangka membawa si terdidik kepada manusia
ideal yang dicita-citakan itu dirumuskan sendiri oleh suatu bangsa atau suatu
komunitas. [2]
Pendidikan pada dasarnya merupakan suatu
upaya pedagogis untuk menstranfer sejumlah nilai yang dianut oleh masyarakat
suatu bangsa kepada sejumlah subjek didik melalui proses pembelajaran. Sistem
nilai tersebut tertuang dalam sistem pendidikan yang dirumuskan dalam
dasar-dasar pandangan hidup bangsa itu. Rumusan pandangan hidup tersebut
kemudian dituangkan dalam Undang-Undang Dasar dan perundang-undangan. Dalam
Undang-Undang Dasar dan perundang-undangan itu pandangan filosofis suatu bangsa
di antaranya tercermin dalam sistem pendidikan yang dijalankan.
Bagi bangsa Indonesia, pandangan filosofis
mengenai pendidikan dapat dilihat pada tujuan nasional sebagaimana termaktub
dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 paragraf keempat. Secara umum tujuan
pendidikan nasional adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Kemudian secara
terperinci dipertegas lagi dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional. Bertolak dari tujuan pendidikan nasional
tersebut, dapat dipahami bahwa tujuan pendidikan merupakan tujuan akhir yang
harus diterjemahkan lebih konkret melalui sebuah proses. Proses dimaksud adalah
usaha yang terpola, terencana, dan tersistematisasi melalui proses pendidikan.
Keinginan luhur bangsa Indonesia itu lahir dari tatanan nilai yang dianut dan
terakumulasi dari dalam kesadaran dirinya sebagai bangsa dan kesadaran terhadap
dunia di sekitarnya.
Dilihat dari tridomain pendidikan (domain
kognitif, afektif, psikomotorik), tatanan nilai yang tertuang dalam pembukaan
UUD’45 khususnya yang tertuang dalam UU No 2/1989 dan UU No. 20/2003 lebih
banyak didominasi oleh domain afektif atau cendrung kepada pembentukan sikap.
Hal ini menunjukkan bahwa tatanan nilai (kepribadian yang luhur) berfungsi
sebagai pengayom domain lainnya. Artinya, kecerdasan dan keterampilan harus
berasaskan nilai-nilai luhur yang dianut bangsa. Di antara sekian banyak
nilai-nilai luhur tersebut, beriman, berakhlakul karimah, dan beramal saleh
adalah bagian dari nilai lihur itu.
Namun demikian, urgensitas nilai yang
demikian mendapat posisi strategis dalam konsep pendidikan nasional pada
kenyataannya tidak berperan secara riil dalam kepribadian peserta didik di
Indonesia. Kesenjangan ini diduga akibat dari beberapa faktor seperti (1) buku
teks atau buku pelajaran (bahan ajar) yang digunakan kurang mengarah pada
integrasi keilmuan antara sains dan agama, (2) penerapan strategi
belajar-mengajar yang belum maksimal dan belum relevan dengan tuntutan
kurikulum karena keterbatasan kemampuan pendidik, dan (3) lingkungan belajar
(hidden curricullum) belum kondusif bagi berlangsungnya suatu peoses
pembelajaran.
Konsekuensi dari ketiga faktor tersebut
adalah internalisasi nilai (domain afektif) belum mampu menghujam ke dalam diri
(kepribadian) subjek didik secara utuh. Selama ini proses pembelajaran di
madrasah belum mampu mengintegrasikan antara berbagai konsep atau teori
keilmuan sains dan dimensi nilai agama seperti nilai etika, nilai teologis, dan
lain-lain. Demikian juga proses pembelajaran sains belum mampu mengintegrasikan
domain afektif ke dalam domain kognitif dan psikomotorik. Hal ini terjadi tidak
hanya dalam bidang studi sains tetapi juga dalam semua bidang studi lain pada
umumnya.
Kenyataan di lapangan pendidikan, aspek
ideal itu (integrasi keilmuan) belum dominan terlihat, sehingga sistem
pendidikan nasional terkesan menganut sistem bebas nilai. Pendidikan nasional
cenderung berwajah sekularistik, seolah-olah tidak ada kaitan antara konsep
keilmuan tertentu dengan nilai-nilai yang sejatinya dimunculkan dalam setiap
disiplin ilmu.
B.
Ilmu
Pendidikan dalam Perspektif Islam
Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam,
Menurut Langgulung pendidikan Islam tercakup dalam delapan pengertian, yaitu
At-Tarbiyyah Ad-Din (Pendidikan keagamaan), At-Ta’lim fil Islamy (pengajaran
keislaman), Tarbiyyah Al-Muslimin (Pendidikan orang-orang islam), At-tarbiyyah
fil Islam (Pendidikan dalam islam), At-Tarbiyyah ‘inda Muslimin (pendidikan
dikalangan Orang-orang Islam), dan At-Tarbiyyah Al-Islamiyyah (Pendidikan
Islami).
Menurut Muhammad
Munir Marisy didalam kitab bahasanya “Al-Tarbiyah al Islamiyah” mengemukakan
bahwa tarbiyah berasal dari kata dasar robb-yarubbu-tarbiyyatan yang berarti
“tumbuh dan bertambah” sejalan dengan pengertian dasar “tarbiyah” tersebut maka
Ahmad Warson didalam analisanya mengemukakan bahwa tarbiyah berarti namaa, wa
zaada atau tumbuh dan bertambah. Penggunaan kata robba atau tarbiyyah yang
terdapat didalam Alqur’an pada dasarnya mengacu pada gagasan “pemilikan”
seperti pemilikan keturunan orangtua terhadap anak-anaknya untuk melaksanakan
kewajiban tarbiyah, yang sifatnya hanya menunjukkan jenis relasional saja.
Sedang “pemilikan” yang sebenarnya hanya pada Allah.[3]
Arti pendidikan Islam itu sendiri adalah
pendidikan yang berdasarkan Islam. Isi ilmu adalah teori. Isi ilmu bumi adalah
teori tentang bumi. Maka isi Ilmu pendidikan adalah teori-teori tentang
pendidikan, Ilmu pendidikan Islam secara lengkap isi suatu ilmu bukanlah hanya
teori.
Hakikat manusia menurut Islam adalah
makhluk (ciptaan) Tuhan, hakikat wujudnya bahwa manusia adalah mahkluk yang
perkembangannya dipengaruhi oleh pembawaan dan lingkungan.Manusia sempurna
menurut Islam adalah jasmani yang sehat serta kuat dan Berketerampilan, cerdas
serta pandai.
Tujuan umum pendidikan Islam ialah
terwujudnya manusia sebagai hamba Allah. Jadi menurut Islam, pendidikan
haruslah menjadikan seluruh manusia yang menghambakan kepada Allah. Yang
dimaksud menghambakan diri ialah beribadah kepada Allah.
Ilmu Pendidikan Islam adalah ilmu pendidikan yang berdasarkan
Islam. Isi ilmu adalah teori. Isi ilmu bumi adalah teori tentang bumi. Maka isi
Ilmu pendidikan adalah teori-teori tentang pendidikan, Ilmu pendidikan Islam
secara lengkap isi suatu ilmu bukanlah hanya teori, tetapi isi lain juga ada
ialah :
1. Teori.
2. Penjelasan tentang teori itu.
3. Data yang mendukung tentang penjelasan itu.
Islam adalah nama Agama yang dibawa oleh nabi Muhammad saw, yang
berisi seperangkat ajaran tentang kehidupan manusia ; ajaran itu dirumuskan
berdasarkan dan bersumber pada al Qur’an dan hadist serta aqal. Penggunaan
dasarnya haruslah berurutan :al Qur’an lebih dahulu ; bila tidak ada atau tidak
jelas dalam al Qur’an maka harus dicari dalam hadist ; bila tidak ada atau
tidak jelas didalam hadist, barulah digunakan aqal (pemikiran), tetapi temuan
aqal tidak boleh bertentangan dengan jiwa al Qur’an dan hadist.
Menurut al Syaibani, tujuan pendidikan Islam adalah :
1. Tujuan yang
berkaitan dengan individu, mencakup perubahan yang berupa pengetahuan, tingkah
laku masyarakat, tingkah laku jasmani dan rohani dan kemampuan-kemampuan yang
harus dimiliki untuk hidup di dunia dan di akhirat
2. Tujuan yang
berkaitan dengan masyarakat, mencakup tingkah laku masyarakat, tingkah laku
individu dalam masyarakat, perubahan kehidupan masyarakat, memperkaya
pengalaman masyarakat.
3. Tujuan
profesional yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran sebagai ilmu,
sebagai seni, sebagai profesi, dan sebagai kegiatan masyarakat.
Menurut al Abrasyi, merinci tujuan akhir pendidikan islam menjadi
1. Pembinaan akhlak.
2. Menyiapkan anak didik untuk hidup dudunia dan akhirat.
3. Penguasaan ilmu.
4. Keterampilan bekerja dalam masyrakat.
Menurut Asma hasan Fahmi, tujuan akhir pendidikan islam dapat
diperinci menjadi :
1. Tujuan keagamaan.
2. Tujuan pengembangan akal dan akhlak.
3. Tujuan pengajaran kebudayaan.
4. Tujuan pembicaraan kepribadian.
Menurut Munir Mursi, tujuan pendidikan islam menjadi :
1. Bahagia di dunian dan akhirat.
2. Menghambakan diri kepada Allah.
3. Memperkuat ikatan keislaman dan melayani kepentingan masyarakat
islam.
4. Akhlak mulia.
Islam merupakan
syari'at Allah bagi manusia yang dengan bekal syari'at itu manusia beribadah agar
manusia mampu memikul dan merealisasikan amanat besar itu, syari'at itu
membutuhkan pengamalan, pengembangan, dan pembinaan. Pengembangan dan pembinaan
itulah yang dimaksud dengan pendidikan Islam.[4]
C.
Nilai Teologis
Di antara sekian banyak nilai yang tersentralisasikan
dalam suatu tatanan nilai, maka nilai teologis adalah bagian integral dari
sejumlah tatanan nilai yang ada. Nilai teologis secara eksplisit disebutkan
dalam tujuan pendidikan nasional yaitu dalam kalimat ‘menciptakan manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa’. Kalimat ini secara hierarkhis
mengindikasikan bahwa di samping memayungi juga berfungsi merangkul aspek
tujuan lain dalam satu jalinan yang integral.
Perealisasian tujuan pendidikan melalui
ibadah tidak diartikan sebagai upaya manusia yang terfokus pada aspek ritual.
Untuk menyempurnakannya, kita harus memaknai ibadah sebagai ketaatan yang
mencakup seluruh aspek kehidupan. Dengan demikian, pada dasarnya konsep
pendidikan Islam pun mencakup seluruh tujuan pendidikan yang dewasa ini
diserukan oleh Barat. Lebih dari itu, pendidikan Islam adalah satu-satunya
konsep pendidikan yang menjadikan makna dan tujuan pendidikan lebih tinggi
sehingga mampu mengarahkan manusia pada visi ideal dan menjauhkan manusia dari
ketergelinciran serta penyimpangan. Karena Islamlah, pendidikan memiliki misi
sebagai pelayan kemanusiaan dalam mewujudkan kebahagiaan individu masyarakat.
Artinya, Islam akan berhasil mewujudkan tujuan pendidikan yang selama ini
menjadi obsesi tokoh pendidikan Barat.[5]
Dalam tradisi pendidikan Islam sampai
sekarang ini, internalisasi nilai teologis hanya diberikan secara terbatas
dalam pendidikan akidah (teologi Islam). Yaitu kajian yang menyangkut
permasalahan ketuhanan yang hanya berdimensi transendental-kontemplatif.
Tradisi ini sudah sejak lama berlangsung, sehingga nilai-nilai teologis belum
mengintegral ke dalam disiplin-disiplin ilmu lainnya secara holistik. Bahkan
pendekatan pembelajaran yang digunakan dalam proses internalisasi nilai-nilai
teologis ini hanya sebatas pendekatan imani.
Kecenderungan pendekatan dalam proses
belajar mengajar seperti ini jelas mempersempit bahkan mendistorsi pemahaman
peserta didik secara objektif terhadap nilai-nilai teologis yang sebenarnya.
Akibatnya peserta didik cenderung memahami dimensi nilai teologis sebatas pada
tataran ritualistik-formalistik dan dogmatis-sakralistik. Pendekatan yang
demikian, menjadikan kajian dimensi teologis semakin absurd, abstrak, melangit,
dan kurang menyentuh persoalan-persoalan riil kemanusiaan. Ditambah lagi dengan
anggapan bahwa wilayah kajian teologi adalah wilayah sakral-absolut sehingga
tidak memberikan ruang reinterpretasi secara kreatif dan aktual-kontekstual
terhadap penafsiran sebelumnya.
Berdasarkan pengamatan dan kajian literatur
diketahui bahwa madrasah-madrasah di Indonesia pada umumnya didapati masih juga
menerapkan model pembelajaran yang tidak jauh berbeda sebagaimana diuraikan di
atas. Hal ini terjadi hampir di semua bidang studi intern ilmu agama Islam , lebih
lagi bidang studi sains. Sepertinya belum ada transformasi berarti dalam
reorientasi sistemik dan filosofis baik muatan materi ajar maupun metodologi
pengajaran ke arah yang relevan dengan tuntutan perubahan zaman. Karena itu
dituntut adanya pembaharuan pemahaman terhadap masalah ini sehingga
memungkinkan terwujudnya pendidikan Islam yang mumpuni bagi zamannya.
D. Pendidikan Islam Perspektif Lembaga
Pendidikan
Di Indonesia, ada dua Departemen yang
menangani bidang pendidikan, yakni Departemen Pendidikan Nasional dan
Departemen Agama. Dalam pelaksanaannya Departemen Pendidikan Nasional membawahi
lembaga pendidikan mulai TK, SD, SMP, SMA, hingga Perguruan Tinggi Umum.
Sedangkan Departemen Agama mengurusi lembaga pendidikan dari RA, MI, MTs, MA,
hingga Perguruan Tinggi Agama Islam (UIN/IAIN/STAIN) dan PTAIS. Menyikapi
manajemen pendidikan seperti itu, menurut penulis buku ini akan membawa kita
kepada pemahaman tentang adanya dikotomi penyelenggaraan pendidikan, yakni
adanya sekolah umum dan sekolah agama. Kedua lembaga penyelenggara pendidikan
tersebut semua diakui sah dan merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional.
Dikotomi ternyata tidak saja menyangkut kelembagaannya, akan tetapi merambah
pada jenis ilmu yakni ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum.. Pihak-pihak yang
berkompeten, terutama dari kalangan UIN/IAIN/STAIN melihat terjadinya dikotomi
dalam memandang ilmu tersebut, pada umumnya tidak sepakat dan harus segera
diakhiri. Ilmu, kata mereka, adalah satu, akan tetapi pada kenyataannya secara
operasional tidak mudah menyatukan kedua jenis ilmu tersebut. Buktinya,
kehadiran Universitas Islam Negeri (UIN) di beberapa kota yakni UIN Jakarta,
UIN Yogyakarta, UIN Malang, UIN Pekanbaru, UIN Makasar, dan UIN Bandung yang
misi awalnya adalah untuk mengembangkan ilmu yang bersifat integratif antara
ilmu agama Islam dan Ilmu umum, tetapi pada kenyataannya di masing-masing UIN
tersebut selain mengembangkan fakultas agama juga mengembangkan
fakultas-fakultas umum. Akibatnya ilmu agama dan ilmu umum lagi-lagi masih terlihat
dengan jelas terpisah, yakni masih memelihara pandangan dan perlakuan dikotomi
ilmu.[6]
Melalui penelusuran sejarah, ditemukan
bahwa kehadiran IAIN selain dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan Departemen
Agama, juga memiliki misi yang sangat jelas yaitu ingin menjadikan para
lulusannya sebagai sarjana (intelek) sekaligus ulamaâ??. Sebutan sarjana
(intelek) untuk menggambarkan seseorang yang telah menamatkan pendidikan di
perguruan tinggi. Sedangkan ulama adalah sebutan terhadap seseorang yang
memiliki pengetahuan, penghayatan, dan pengamalan ajaran Islam secara mendalam.
Mengenai dikotomi ilmu berikut upaya pemecahannya. Bangunan ilmu yang bersifat
integratif adalah dengan memposisikan al-Qurâ??an dan hadits sebagai sumber
ayat-ayat qawliyah. Sedangkan hasil observasi, eksperimen, dan penalaran logis
diposisikan sebagai sumber ayat-ayat kawniyah. Di buku ini juga disertai gambar
dan contoh nyata seperti yang dikembangkan di UIN Malang tentang bangunan ilmu
yang bersifat integratif sehingga pembaca dapat lebih mudah untuk memahaminya.
Agar lebih mudah difahami, penulis juga memaparkan tentang batas materi kajian
yang terdapat dalam ajaran Islam. Selama ini kita sebagai umat Islam sepakat
bahwa Islam merupakan agama yang bersifat Universal. Namun, seperti yang kita
saksikan di lembaga pendidikan Islam, mulai dari tingkat Ibtidaiyah hingga
perguruan tinggi, bahkan terjadi di pondok pesantren, ketika orang menyebut
pelajaran agama Islam, maka yang muncul adalah pelajaran Tauhid, Fiqh, Akhlaq
dan Tasawuf, al-Qurâ??an dan Hadits, Bahasa Arab, dan lain-lain. Demikian juga
di perguruan tinggi, Fakultas yang dikembangkan adalah Tarbiyah, Syariah,
Ushuluddin, Dakwah, dan Adab. Bahkan pembidangan ilmu seperti ini juga terjadi
di Universitas Al-Azhar yang telah berdiri lebih dari 1000 tahun yang lalu.
Oleh karenanya, menurut penulis perlu untuk
melakukan upaya-upaya perluasan batas terhadap pemahaman al-Qurâ??an
lebih-lebih jika dikaitkan dengan kemajuan sains dan teknologi yang demikian
cepat. Al-Ghazali membagi ilmu berdasarkan hukum mencarinya, yakni fardlu ain
dan fardlu kifayah. Ilmu yang termasuk pertama (fardlu ain) adalah ilmu agama
Islam berupa al-Qurâ??an dan hadits. Sedangkan ilmu yang termasuk jenis kedua
(fardlu kifayah) adalah ilmu yang dipandang penting dan diperlukan untuk
memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, misalnya ilmu administrasi, ilmu teknik,
ilmu pendidikan, ilmu ekonomi, ilmu humaniora, dan sebagainya. Dalam perspektif
kurikulum, bangunan ilmu yang bersifat integratif tersebut digunakan metafora sebuah
pohon yang tumbuh subur, lebat, dan rindang. Masing-masing bagian pohon dan
bahkan tanah di mana sebatang pohon itu tumbuh digunakan untuk menjelaskan
keseluruhan jenis ilmu pengetahuan yang harus dikaji oleh seseorang agar
dianggap telah menyelesaikan program studinya.. Selayaknya sebatang pohon
terdiri atas tanah di mana pohon itu tumbuh, akar yang menghujam ke bumi dengan
kuatnya. Akar yang kuat dapat menjadikan batang sebuah pohon berdiri tegak dan
kokoh. Pohon itu juga akan menumbuhkan dahan, ranting, daun, dan buah yang
sehat dan segar. Bagian-bagian itu digunakan sebagai alat untuk menjelaskan
posisi masing-masing jebis mata kuliah yang harus ditempuh oleh seseorang agar
dianggap telah menyelesaikan seluruh program studinya. (Imam Suprayogo: 2006)
Dalam konteks Indonesia, peranan lembaaga
pendidikan Islam termasuk didalamnya madrasah, sekolah Islam dan pesantren,
tidak bisa diabaikan dalam hal penyediaan pendidikan yang mudah diakses
masyarakat luas, khususnya masyarakat muslim. Lembaga pendidikan Islam telah
menjadi bagian penting perkembangan bangsa ini. Di zaman penjajahan lembaga
pendidikan Islam tampil menjadi salah satu pilar yang memperjuangkan
kemerdekaan bangsa Indonesia. Setelah merdeka, lembaga pendidikan Islam tetap
memainkan peranannya sebagai penyedia pendidikan yang mudah diakses.[7]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Selama kaum Muslimin memandang kebudayaan
Barat sebagai satu-satunya kekuatan yang dapat meregenerasi kebudayaannya yang
macet, maka mereka menghancurkan kepercayaan kepada diri mereka sendiri dan
secara tidak langsung menopang penegasan Barat bahwa Islam adalah satu
“kekuatan yang telah habis dikerahkan. “Pendidikan pada hakekatnya merupakan
suatu upaya mewariskan nilai, yang akan menjadi penolong dan penentu umat
manusia dalam menjalani kehidupan, dan sekaligus untuk memperbaiki nasib dan
peradaban umat manusia. Tanpa pendidikan, maka diyakini bahwa manusia sekarang
tidak berbeda dengan generasi manusia masa lampau, yang dibandingkan dengan manusia
sekarang, telah sangat tertinggal baik kualitas kehidupan maupun proes-proses
pembedayaannya. Secra ekstrim bahkan dapat dikatakan, bahwa maju mundurnya atau
baik buruknya peradaban suatu masyarakat, suatu bangsa, akan ditentukan oleh
bagaimana pendidikan yang dijalani oleh masyarakat bangsa tersebut.
Krisis pendidikan di Indonesia, oleh H.A.
Tilaar [1991] secara umum, diidentifikasi dalam empat krisis pokok, yaitu
menyangkut masalah kualitas, relevansi, elitisme dan manajemen. Berbagai
indicator kuantitatif dikemukakan berkenaan dengan keempat masalah di atas,
antara lain analisis komparatif yang membandingkan situasi pendidikan antara
negara di kawasan Asia. Memang disadari bahwa keempat masalah tersebut
merupakan masalah besar, mendasar, dan multidimensional, sehingga sulit dicari
ujung pangkal pemecahannya [Sukamto, 1992]
DAFTAR PUSTAKA
Nur Uhbiyati., 1998, Ilmu Pendidikan
Islam., CV. Pustaka Setia., Bandung
Ahmad Tafsir., 2001, Ilmu Pendidikan
Dalam Perspektif Islam., PT. Remaja Rosdakarya., Bandung
Tilaar, Prof. Dr., 2004, Manajemen
Pendidikan Nasional, PT. Remaja Rosdakarya., Bandung
Imam Suprayogo, Prof. Dr., Januari 2006, Paradigma
Pengembangan Keilmuan Islam Perspektif UIN Malang., Penerbit : UIN-Malang
Press., Cet Ke-1, Malang
Ahmad Syafii Maarif, 1996, Keutuhan dan
Kebersamaan dalam Pengelolaan Pendidikan Sebagai Wawasan Pendidikan
Muhammadiyah, Makalah pada Rakernas Pendidikan Muhammadiyah di Pondok Gede,
Jakarta.
HM. Arifin, 1991, Kapita Selekta
Pendidikan, Bina Aksara, Jakarta.
Hifni Muchtar, 1992, Fakta dan Cita-Cita
Sistem Pendidikan Islam di Indonesia, UNUSIA No. 12 Th. XIII, UII, Yogyakarta.
Muslih Usa, 1991, Pendidikan Islam di
Indonesia, Antara Cita dan Fakta [Suatu Pengantar], Tiara Wacana, Yogyakarta.
Suyata, 1992, Penataan Kembali Pendidikan
Islam pada Era Kemajuan Ilmu dan Teknologi, UNISIA No. 12 Th. XIII, UII,
Yogyakarta.
Soeroyo, 1991, Berbagai Persoalan
Pendidikan, Pendidikan Nasional dan Pendidikan Islam di Indonesia, Jurnal Ilmu
Pendidikan Islam, Problem dan Prospeknya, Volume I, Fak. Tarbiyah IAIN Suka,
Yogyakarta.
H.A.R. Tilaar, 1991, Sistem Pendidikan
Nasional yang Kondusif Bagi Pembangunan Masyarakat Industri Modern Berdasarkan
Pancasila, Makalah Utama Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional V.
[2] Haidar Putra Daulay,
Pendidikan Islam dalam Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia, Jakarta: Kencana,
2006, hal 195-196
[3] Djumransjah & Abdul
Malik Karim Amrullah, Pendidikan Islam, Malang: UIN-Malang Press, 2007, hal1-2
[4] Abdurrahman an Nahlawi, Pendidikan Islam Dirumah, Sekolah dan
Masyarakat, Jakarta: Gema Insani Press, 1995 hal 25
[5] Abdurrahman an Nahlawi, Pendidikan Islam Dirumah, Sekolah dan
Masyarakat, Jakarta: Gema Insani Press, 1995, hal 118
[6] Imam Suprayogo, Paradigma
Pengembangan Keilmuan Islam Perspektif UIN Malang, Malang;UIN-Malang Press,2006
[7] Kusmana, Paradigma Baru Pendidikan Islam, Jakarta: PIC UIN
Jakarta,2008, hal 285
Langganan:
Postingan (Atom)

