Sabtu, 24 September 2011

Seorang juara


Berusahalah untuk tidak menjadi manusia yang berhasil tapi berusahalah menjadi manusia yang berguna. (Albert Einstein)
Agaknya kata bijak diatas perlu dimakzulkan lagi maknanya. Secara pengertian mudah dipahami sebagai kata inspirasi pengobar semangat. Namun, secara makna harus dipahami secara menyeluruh dan kritis agar tidak menimbulkan pemahaman yang berbeda dan salah. Tidak ada orang yang tidak ingin tidak berhasil dalam kehidupannya. Dalam berorganisasi, setiap individu mempunyai tanggung jawab penuh dalam progam yang dijalankannya agar mencapai sesuatu yang ril yang bisa dipertanggungjawabkan. Secara eksplisit, ini dikatakan sebuah proses menuju keberhasilan. dalam dunia akademis,seorang mahasiswa tentunya berharap ingin mendapat predikat yang memuaskan dalam proses pendidikan yang digelutinya. Sebuah keinginan untuk mencapai keberhasilan tentunya. Dimana saja, apa saja, dan siapa saja tidak ada yang  ingin menuai kegagalan dalam hidupnya. Yang ada dia menginginkan keberhasilan yang tergenggam dalam genggaman tangannya. Karena secara genetik, sifat alami manusia memang adalah seorang juara. Proses penciptaan mengakui itu. Berjuta-juta sel sperma berlari, saling mengejar satu sama lain agar bisa sampai ke ovum. satu sel berhasil mencapai itu, dan dia dinobatkan sebagai pemenang karena dia berhasil memenangkan dan mengalahkan sel-sel sperma yang lain. Nah, pemenang Itulah representasi kita. jadi sesungguhnya dan seharusnya, kita adalah seorang pemenang.
Berbeda memang antara makna berhasil dan berguna. Berhasil belum tentu berguna atau bermanfaat, dan berguna atau bermanfaat biasanya berhasil. Agaknya yang paling utama, menjadi insan yang berhasil sekaligus berguna. Keberhasilan didapat karena ada proses berliku nan melelahkan yang mengiringi langkah perjalanan. Berguna pun demikian, ada tujuan dan niat yang jelas dalam proses yang dilakukan. Niatnya ke jogja tapi tidak ada tujuan yang jelas, ya tidak dapat apa-apa. Podo ae karo ngglandang. Berbeda kalau ke jogja dengan tujuan belajar atau mempelajari budaya misalnya, maka dipastikan mendapatkan sesuatu, minimal ilmu dan pengalaman.
So, Berusahalah untuk menjadi manusia yang berhasil dan berusahalah menjadi manusia yang berguna.

Aan Cogito
18 Maret 2011



  

Jumat, 23 September 2011

SKS (Sistem Kebut Semalam)


Ada fenomena menarik dikalangan civitas mahasiswa ketika akan menghadapi UTS atau UAS. Fenomena ini agaknya sudah menjadi suatu budaya yang sudah menjalar dan mengakar disetiap diri mahasiswa. sampai mengakar dan menjalarnya fenomena ini, menyebabkan satu pandangan merata bahwa setiap mahasiswa pasti tidak bisa terlepas dari budaya ini, walaupun sedikit dari mereka ada juga yang tidak terpengaruh dari budaya yang ada. Sesungguhnya pola fikir manusia sedikit banyak terpengaruh dari lingkungan dan budaya disekitarnnya. Anak kecil jika dibesarkan dilingkungan preman, maka sifat dan tingkah lakunya akan seperti preman. Seekor anak srigala jika dibesarkan oleh kambing sebagai induknya, maka ia akan mengikuti sebagaimana tingkah laku seekor kambing, walaupun srigala adalah hewan yang buas dan garang. Ini adalah fenomena, yang tidak semua orang menyadari dan merasakannya. Hanya orang yang bermadzhab sosialis yang dapat merasakan dan menyadari gejala ini.
Nah, fenomena yang terjadi ketika mahasiswa menghadapi UTS atau UAS adalah belajar ngotot dengan model dan metode yang saya anggap sebuah metode yang praktis dan efisien. Metode yang saya maksud adalah SKS (sistem kebut semalam) yang sudah mendapat acungan jempol dari berbagai kalangan dari mulai rektor sampai dosen. Metode ini sudah ditelaah dan dianalisis dengan berbagai teori yang ada. Konstruktivisme, behaviorisme, cybernetic, pendekan kognitif, afektifisme, dan lain-lain yang semua teori pembelajaran mencoba menganalisa metode baru yang bernama SKS ini.  Berbagai pandangan muncul, beragam definisi diartikan dan bermacam pro dan kontra diperdebatkan.
Menariknya lagi, sasaran objek yang diperbincangkan pun tidak ambil pusing terkait dengan masalah ini. Mereka enjoy-enjoy aja, menikmati suasana. Kembali pada masalah SKS, jadi mereka akan belajar ngoyo dan keras hanya ketika akan UAS. Waktu perkuliahan tidak dipergunakan dengan baik untuk belajar. Menghabiskan waktu hanya untuk ngopi di kedai terdekat. Membicarakan topik-topik basi, membincangkan tentang perempuan dan sekitarnya. Kadang di waktu yang senggang mereka beroprasi di wilayah keorganisasian, ikut andil dalam kegiatan sosial dan amal. Setidaknya ada sisi positif selain ngopi dan cangkru’an.
Belajar dalam prespektif mereka tidak hanya belajar ilmu. Tidak hanya mereview mata kuliah yang ber-“SKS”. Mereka mempelajari apa saja. Karena bagi mereka, apapun itu ilmu, dimanapun itu sekolahan, dan siapapun itu guru.
Maka dari itu SKS (sistem kebut semalam) ada sisi positif dan negatif disana yang harus di sinauni bersama. Jadi, SKS-kah model belajar anda?
Malang, 28 desember 2010

Kamis, 22 September 2011

Surga kita masih ditingkat dek.. (bawah)


Orang beriman yang selalu beribadah kepada Allah pasti  akan menempauti surgaNya. Tapi perlu diingat, orang seperti ini surganya rendah, menempati posisi dek kapal paling bawah. Nah, orang Indonesia masih dalam kategori demikian, bikin sinetron yang direligi-religikan,  bikin lagu-lagu pop yang juga direligi-religikan.  Asal semuanya bisa mendongkrak nama dan popularitas, apalagi bisa menghasilkan money  street  semua model cara dilakukan. Pergi ke makkah melaksanakan haji dan umroh, padahal cuma rekreasi dan sensasi. Bikin lagu pop berlirik religius, tapi hanya untuk mendongkrak popularitas dan financial. Siapapun itu, artis, vocalis band, pemain sinetron, bahkan sekaliber koruptor pun ikut-ikutan. Untuk koruptor, Zawawi Imron dari Madura mengatakan” sulit mencari koruptor yang tidak naik haji, meskipun juga dibalik sulit mencari haji yang tidak koruptor”.  Mental juara yang dimiliki orang Indonesia masih seperti ini. Saya, anda, dan kita semua. Jadi, surga kita masih dibawah. Tapi kita juga harus tetap bersyukur, meskipun berada di bawah, setidaknya kita bisa berada di surga. Lumayan lah.
Yang kedua, orang yang menempati  surga tertinggi, dan bahkan diapun sendiri tidak membutuhkan surga, karena sejatinya dirinya lebih tinggi dari surga. Master piecenya Allah adalah manusia, karena dia adalah fi ahsani taqwim. Malaikat, syeitan, semuanya, pun tak ketinggalan juga surga. Jadi tidak mungkin dia menginginkan sesuatu yang tidak lebih tinggi darinya. Model orang yang seperti ini, tidak hanya mendapat kenikmatan surga, justru dia akan ditempatkan Tuhan dalam posisi yang proposional untuk dijadikan  kekasihNya.  Dikatakan siapapun yang selalu berfikir, mengambil hikmah, menganalisis pada setiap yang dia dengar, yang dia lihat, yang dia lakukan, maupun dari setiap benda dan apapun itu, lalu ia ambil hikmah dan makna untuk dijadikan pelajaran dalam hidupnya , maka siap-siaplah dia disapa Tuhan dan dijadikan kekasih serta disediakan nikmat untuknya. Bergembira dan beruntunglah dia. Nah, saya, anda, dan kita semua belum sampai kesana. 
Mental dan model paradigma kita tidak pernah menyentuh titik subtansial yang mengakar dan mendalam. Kita adalah orang yang setengah-setengah dan tidak pernah menjadi seutuhnya dalam menjalankan sesuatu. Meyakini dan melaksanakan ajaran agama, tapi masih menyakiti hati Tuhan. Sudah mempunyai penghidupan yang layak dan menjadi orang tertinggi dalam skala negara, tapi masih saja menggerogoti uang  rakyat.  Sudah melaksanakan ibadah tertinggi dalam rukun Islam, tapi belum memberikan uswah hasanah terhadap masyarakat. Yang baik ditanggalkan dan yang buruk diamalkan.  
Yang terbaik dan mungkin yang harus kita lakukan adalah muhasabah diri. Meniti langkah untuk menjadi yang lebih baik dan selalu mengambil hikmah dan pelajaran dibalik yang tersirat dan tersurat. Wallahu ‘alam.
Loyang disangka emas..
Emasnya dibuang-buang..
Kita makin buta mana utara mana selatan..
Yang kecil dibesarkan..yang besar diremehkan..
Yang besar disepelekan..yang sepele diutamakan..
(cak Nun)
Malang, 31 januari 2011
Andri Kurniawan
Css MoraUin Maliki Malang
Asal pesantren madrasatul Qur’an Tebuireng Jombang


Tuhan dan Munkar Nakir tak peduli dengan kehadiran dan kematianmu


             Aku mengalami jungkir balik kesulitan dan perjuangan dalam kesendirian tanpa sahabat maupun seorang perempuan yang menguatkanku.  Lagi-lagi mengapa harus perempuan yang harus  menjadi tendensi kekuatan dalam perjuangan. Seakan kehadiran makhluk bersifat lembut ini tak bisa dihilangkan dan disepelekan. Saya kira ada benarnya juga, napak tilas perjuangan orang-besar dulu. Rasul Muhammad SAW sangat begitu sukses dalam peradaban dunia dan contoh keteguhan seorang pemimpin karena dalam setiap perjuangan beratnya terdampingi seorang Khadijah Al-Kubra, yang Rasul dipeluk ketika menerima beratnya wahyu yang pertama. Pengorbana dalam bentuk tenaga, fikiran, dan harta seorang khadijah seakan tidak bisa tergantikan, bahkan oleh seorang Siti Aisyah pun. Disini, sekuat apaupun seorang laki-laki, setegar apapun seorang pahlawan, akan tetap  membutuhkan perempuan sebagai penopang, penguat, dan pengganti kekuatannya yang hilang. Begitu dahsyatnya kekuatan perempuan. Nah, disini aku berjuang tanpa seorang perempuan, kenyataan yang harus kuhadapi. Aku lemah, lemah sekali. Aku butuh seorang yang menguatkanku disaat aku terhimpit asa. Aku butuh seorang yang menghiburku disaat aku sedih, dan aku butuh seorang yang menjadikanku seorang yang yang berharga ketika aku dianggap hina. Aku merasa sepi di tengah keramaian. Dan aku merasa bahagia di tengah kesedihan. Kesedihan orang lain, kadangkala demikian. Adakah disana seorang yang mengerti keadaanku, ah..sepertinya tidak ada. Kutanyakan pada Tuhan tentang hal ini. Dia diam saja. Aku menangis di depan sajadah cinta, Dia juga diam. Jika Tuhan saja sudah diam dan tidak menganggapku sebagai hambaNya, lalu aku akan mengaduh kepada siapa. Kepada ayah?atau kepada Ibu. Mungkin tidak, keduanya akan semakin sedih jika mengetahui bagaimana keadaanku. Tidak tidak, aku tidak ingin membuat mereka bersedih. Sudah terlalu banyak kesusahan yang ku berikan kepada mereka.
            Perjuangan dan pengorbanan yang sia-sia. Tidak perlu diteruskan. Ada hal-hal lain yang bermanfaat selain berjuang dan berkorban. Mati. Engkau akan sedikit  tenang dan nyaman dengan ini. Toh, sekalipun kau mati tak ada orang yang peduli denganmu. Bahkan munkar nakir pun enggan menanyaimu di alam kubur.
Sesaat setelah aku menulis ini, tiba-tiba semuanya menjadi gelap.
Malang, 19 Mei 2011

Rabu, 21 September 2011

Tidak ada yang berhak menilai


Menjadi yang terbaik adalah impian banyak orang walau dalam persepsi yang berbeda. Dalam setiap komunitas ada satu yang dianggap nuwe’i dan kuoso dan dia adalah pemegang kendali atau yang disebut dengan ketua komunitas atau ketua geng. Dalam pembelajaran di kelas, ada satu atau dua orang yang minteri diantara yang lain. Dalam perlombaan, juga pastinya ada satu dua, bahkan tiga orang yang menjadi pemenang kompetensi. Itu wajar dalam kehidupan. Menjadi  yang terbaik pastinya memberi sebuah efek kejiwaan mendalam bagi sang empunya keinginan. Dia akan di pandang, dipuji, ataupun dicaci maki oleh beragam orang karena yang terbaik sudah menjadi miliknya. Eksistensi keberadaannya akan tampak. Orang sudah tidak menganggapp sebelah mata, kata-katanya diikuti, perintahnya ditaati, larangannya dijalankan, dan ide-idenya diperhitungkaan. Dia sudah tidak menghamba dengan “nilai”, justru “nilai” itulah yang menghamba padanya. Karena sang terbaik  telah muncul sebagai pemenang.
Menjadi yang terburuk bukanlah dambaan semua orang. Efek yang dirasakan sangat tidak menguntungkan.  Menjadi momok setiap orang agar tidak mendapatkannya. Dalam kehidupan, yang terburuk tidak mendapat tempat dalam skala komunitas, hanya dianggap pelengkap saja. Kata-kata dan pendapatnya seakan berlalu ditelinga saja. “nilai” seakan menjauh darinya karena sang teburuk tenggelam dalam keterburukannya.
Lalu siapakah yang menilai dan mengklaim dia yang terbaik dan terburuk?
Tuhankah, manusiakah, diri sendiri kah?
Tuhan sendiri telah menetapkan bahwa semua manusia hakikatnya sama, laki-laki dan perempuan sama. Tingkat ketakwaannyalah yang membedakannya.
Penilaian manusia tidak selalu benar. Bermacam-macam patokan yang digunakan, hasil yang diputuskan pun menilai pro dan kontra. Subjektifitas dan objektifitas menjadi perdebatan dan pertimbangan.
Kesadaran akan diri sendiri  hanya milik mereka yang benar-benar menggunakan akal dan hatinya. Walau sudah berkali-kali disindir dengan Al-qur’an, banyak yang masih belum sadar. Apakah kalian berfikir, berakal, mengingat adalah bahasa Kitab yang menyindir mereka. Hanya manusia tertentu yang mentadaburi sindiran Tuhan. Selainnya, tidak mau ambil pusing dan cenderung acuh tak acuh.
 Lalu siapakah yang menilai dan mengklaim dia yang terbaik dan terburuk?
Malang, 30 desember 2010