Sabtu, 01 Februari 2014

Pak Tua ngomong soal energi dan cahaya I

Rek, tak kandani yo. Iki asli. Pak Tua sing biasane teko ben isuk lan sore nggolek sak jumput-rong jumput kopi karo rokok iku pancen wali. Haha. Wes tah percoyo ae. Percoyo gak percoyo poko’e ngene iki.


Pinter-pinterlah bersyukur kepada Allah tentang apa-apa yang sudah Allah kasih kepada kita. Tidak hanya terbatas pada skala luas menyangkut lingkup materi, wadag, yang kadang-kadang aku banyak terjebak disini. Struktur materi kan banyak. Ia bisa terpola pada satu kesatuan wujud harta benda, maupun cara pandang tentang harta benda itu sendiri—materialistik. 

lho emang kita gak boleh materialistik ya, itu satu ilmu yang diberikan Tuhan agar kamu bisa mengolah harta Bung “ 

“ Ndak gitu juga maksudku Bang “ 

“ Lha terus. Mbok jangan nemen-nemen menghimpit dan mencerca dunia (baca,- harta), lha wong kamu sendiri adalah bagian dari dunia itu sendiri “  

“ Aku ndak mempersoalkan bentuk padatan dari dunia itu Bang. Yang kuprotes adalah cara pandang keliru dari adanya dunia itu sendiri. Lha kita kan khalifah. Mestinya, derajat kita adalah diatas dunia, bukan kita yang’ndilati pantatnya’ dunia. 

Kamu sudah mulai ber-silat lidah “ 

“ Berfilsafat Bang “ 

“ Yo wes. Di udud dulu trubusnya, ben encer “  

Dengan analogi sederhana, uang adalah materi. Sedang nilai dari materi adalah ya materi. Ia tidak bermakna apa-apa, ia hanya sebuah kausalitas kecil dari proses berputarnya transaksi antar manusia—dalam konteks ekonomi. Maka, agar materi tidak hanya bernilai sebagai materi ia harus diolah, disublim, ‘dimanipulir’ agar menjadi energi. Kita infak, shodaqoh, nguruni, nombo’i duit untuk beli lampu, konsumsi, dan lain sebagainya. Maka ada dialetika ‘harmonis’ antara materi dengan rohani. Disitulah anda akan mulai belajar arti ketulusan, keikhlasan, kerelaan, kemauan untuk berkorban, aweh dengan sesama. Secara perlahan, diam-diam—disadari atau tidak—derajat kemanusiaan kita naik beberapa tahap. Dan jangan lupa, Tuhan tersenyum sama kita. 

Jika pelan-pelan kita bisa mengolah materi sedemikian rupa menjadi energi, maka energi itu pun secara bertahap akan menjadi cahaya. Semua lelaku, tindak tanduk, riuh rendah pergulatan hidup, cara bergaul dengan teman, memompa semangat untuk terus bangkit dan apapun saja cahaya Allah senantiasa murup di hati, akal, dan karakter anda. 

Aku tak mengerti apa-apa soal bisnis dan cara menghitung materi. Maka, kubesar-besarkan hatiku dengan hitung-hitungan tak rasional seperti ini. 

“ Wes yo sinaune “ Pak Tua mau berpamitan pergi 

“ Wah, sek to Pak, kulo tasek wonten permasalahan niki “ Aku mencoba menahannya

“ Sesok ketemu maneh. Tak duduhi asal muasale kopi iku teko ndi “ Pak Tua ngeloyor pergi.

Pak..Pak... Njenengan niku pancen mboten saras nopo “ teriakku sambil berlari menyongsong beliau

Dan Pak Tua seperti berjalan begitu cepat dan menghilang begitu saja.

Anshofa, 03/01/2014 

CINTA VERSI GURU TAHSIN

Saat pertama kali berjumpa denganmu, aku bagaikan berjumpa dengan saktah, hanya bisa terpana dengan menahan nafas sebentar.

Aku di matamu mungkin bagaikan nun mati di antara idgham billaghunnah, terlihat, tapi dianggap tak ada.

Aku ungkapkan maksud dan tujuan perasaanku seperti Idzhar, jelas dan terang.

Jika mim mati bertemu ba disebut ikhfa syafawi, maka jika aku bertemu dirimu, itu disebut cinta.

Sejenak pandangan kita bertemu, lalu tiba-tiba semua itu seperti Idgham mutamaatsilain, melebur jadi satu.

Cintaku padamu seperti Mad Wajib Muttasil, paaaaaling panjang di antara yang lainnya.

Setelah kau terima cintaku nanti, hatiku rasanya seperti Qalqalah kubro, terpantul-pantul dengan keras.

Dan akhirnya setelah lama kita bersama, cinta kita seperti Iqlab, ditandai dengan dua hati yang menyatu.

Sayangku padamu seperti mad thobi'I dalam quran, buaaanyak banget.

Semoga dalam hubungan, kita ini kayak idgham bilaghunnah ya, cuma berdua seperti lam dan ro'.

Meski perhatianku ga terlihat kayak alif lam syamsiah, cintaku padamu seperti alif lam Qomariah, terbaca jelas.

Kau dan aku seperti Idghom Mutaqooribain, perjumpaan 2 huruf yang sama makhrajnya tapi berlainan sifatnya.

Aku harap cinta kita seperti waqaf lazim, terhenti sempurna di akhir hayat.

Layaknya huruf Tafkhim, namamu pun bercetak tebal di fikiranku.

Seperti Hukum Imalah yg dikhususkan untuk Ro' saja, begitu juga aku yang hanya untukmu.

Semoga aku jadi yang terakhir untuk kamu seperti mad aridlisukun.

Tiga model manusia ‎

Ta’lim Qur’an (Ma’anil Kallimat)
____** Jadilah orang yang mengerti terhadap objek. Banyaknya pengetahuan bukan untuk menghakimi mereka yang tidak tahu apa-apa. Kitalah yang harus lebih bijak, lebih tahu. Kita sudah menjadi langit, jangan suruh mereka menjadi langit. Turunlah ke Bumi untuk menggadeng tangannya, untuk membuatnya lebih mengerti, untuk mengangkat derajatnya menjadi langit bersama kita. Itulah kebijaksanaan. __Abi Muslimin__
Masih seputar surat Al-Baqarah, yang berarti sapi betina. Banyak catatan maupun penjelasan mengapa surat ini bernama sapi betina, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya.
“ Ini juga ada kaitannya dengan kelabilan—dalam konteks nafsu. Artinya, sapi betina adalah sebuah simbolik atas penggambaran nafu yang sedang labil.

Manusia—yang digambarkan di surat ini—sesungguhnya terbagi menjadi tiga bagian. Pertama, manusia yang oleh Allah disebut Muttaqin. Mereka manusia “jelas”. Ayat 1-5 menjadi legitimasi atas semua itu. Kedua, kafirin. Kafir itu artinya tertutup, ingkar. Bukan Allah yang menutup hati, pendengaran, penglihatan, mereka. Jutru karena perbuatan mereka itulah Allah mengunci segala indra mereka. Terhadap kebaikan, kebenaran, maupun kemulyaan.

Pengarang Syi'ir Tombo Ati



Pengantar 

Isuk Ngaji, Awan Ngaji, Sore Ngaji, Bengi Ngaji, Koyok Bu Nyai Ae. (Ustadz Syafa’at)

Usai ba’da sholat Isya’, sebagaimana jadwal yang ada, Fashohah berjalan seperti biasa. Sebelum Fashahah dimulai, tampak Abi Imam Muslimin ngobrol ringan dengan Ustadz Syafaat. Dan para santri sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti fashahah yang ‘digelar’ setiap dua minggu sekali ini. 

‘Rehatnya’ aktivitas kuliah tidak membuat santri Anshofa berleha-leha dengan semua kegiatan yang ada. Dengan efisiensi waktu yang disepakati, justru santri anshofa mengisi libur kuliah dengan kegiatan yang manfaat, kultual, dan asyik. 

Tampak berbeda dari biasanya, fashahah kali ini Ustadz Syafaa’at memberikan ulasan isi materi yang begitu komprehensif dan historis. Pemaknaan tentang keihklasan, asal usul lirik tombo ati, epistimologi lafadh hawa nafsu, dan mengurai hal-hal yang sifatnya kontekstual. 

Kilas Reportase  

Sebelum mengisi ta’lim, Ustadz Syafaat meminta kepada seluruh santri agar mengingatkan jadwal ta’lim yang beliau isi.
“ Saya tolong diingatkan. Karena beberapa hari yang lalu saya ada acara, dan lupa kalau hari itu adalah jadwal saya bersama kalian. Mbok ada yang jadi Sie Peng-sms gitu lho “ ujar beliau sambil mencairkan suasana disambut tawa para santri. 

Pemaknaan Ikhlas

Syirik Ashgar adalah syirik kecil. Kalau riya’ adalah tidak melakukan sesuatu kebaikan karena khawatir dipuji/riya’

Orang yang ikhlas adlah dimana semua gerakannya, diamnya, aktivitasnya, ada atau tidak ada orang lain, ia melakukannya hanya karena Allah semata. Nderes misalnya, ada orang dan tidak ada orang, ia tetap nderes, kuliah libur atau masuk, ia pun juga tetap nderes. Hadirnya manusia tidak membawa pengaruh apa-apa dalam dirinya, karena semua yang berpegaruh dalam dirinya hanyalah kepada Allah, untuk Allah. 

Bahkan dalam definisi yang radikal, jika orang sudah mampu menyamakan antara cacian dengan pujian, sesungguh demikianlah tingkatan ikhlas yang paling tinggi. Dicaci dan dipuji bagaimanapun ia melakukan segala hal, jika menurut pandangan Allah itu baik, ia tetap berpegang teguh dengan apa yang ia lakukan itu. 

Pengertian hawa nafsu 

Nafsu adalah melakukan sesuatu untuk menguntungkan dirinya sendiri. Hawa adalah melakukan sesuatu yang nikmat—yang dalam bahasa modern disebut hedonisme. Maka, hawa nafsu adalah menghalalkan sesuatu apapun, kepentingan apapun, yang berorientasi untuk kenikmatan dirinya sendiri. Itulah Hedonisme, aliran kenikmatan. Ia akan melakukan apapun jika semua itu menguntungkan dirinya. Suruh berjuang, ia tidak mau. Suruh berkorban, ia enggan. 

Sari’ As-Tsaqofi adalah guru dari Imam Junaid Al-Bagdadi. Sari’ As-Tsaqofi pada suatu ketika pernah bersyukur kepada Allah karena gledaknya terselamatkan dari kebakaran, sedang gledak orang-orang disekitar Sari’ As-Tsaqofi musnah terbakar. Dalam syukurnya Sari’ As-Tsaqofi mengucapkan Hamdalah. Dan ketika malamnya beliau bermimpi bertemu entah dengan Rasulullah atau sahabat Rasulullah sendiri (beliau tidak memastikan) dan dimarahi habis-habisan. 

“ Kamu adalah orang yang paling alim, paling santri, paling tinggi ilmunya, diantara orang-orang yang ada di pasar.  Tapi kenapa kamu masih sempat-sempatnya bersyukur atas kenikmatanmu sendiri ditengah-tengah penderitaan orang lain, mestinya kamu ikut susah dan menangis kepada Allah, mengapa orang lain susah dan hanya saya sendiri yang tidak susah “ 

Sejak itulah beliau bertaubat selama empat puluh tahun, hanya karena mensyukuri nikmatnya sendiri. Bukankah orang hebat adalah mereka yang memikirkan nasib orang lain, bukan memikirkan nasib dirinya sendiri. 

Berbekal pengalaman yang serupa, Ustadz Syafa’at juga menuturkan pernah bermimpi dimarahi gurunya karena kelalaian beliau dalam menjaga Al-Qur’an. 

Tentang Tombo Ati

Imam Al-Khusyairi (pengarang kitab Ar-Risalah AL-Khusyairiyyah) meng-copy righ ungkapan Syeikh Ali AL-Khawwas tentang dawaul qolbi khomsatun, yang kita sebut dengan tombo ati ada lima. Menurut beliau, justru yang mengarang tombo ati bukanlah orang Indonesia, indikasinya adalah karena penjelasan dan syair tombo ati itu sendiri persis ada di dalam penjelasan kitab Syeikh Ali AL-Khawwas tersebut.  

Rabu, 04 Desember 2013

# Renung Senja 16

Ya Allah sandaran cintaku
Ya Allah pondasi jiwaku
Ya Allah Sang penabur kelembutan ...
Ya Sin’ atap ku
Kaf Ha Ya ‘Ain Shad kecukupanku
Ha Mim ‘Ain Sin Qaf pelindungku
Ya Allah wahai cahaya
Wahai yang Haqq
Wahai penolong
Kenakan aku sebagian cahaya-Mu
Ajarkan aku sebagian ilmu-Mu

‎# Renung Senja 15‎

Sudahlah.

Filosofikan hidupmu sedemikian rupa. Semampu-mampumu, sekuat-kuatmu, sesuai kadar kekuatan dan kelemahanmu sendiri. Manusia, sekalipun prototipe sempurna ciptaan Tuhan, tetap mempunyai kadar batas kemerdekaan, dimana ia mampu menimbang segala apa yang ia ucap, ia dengar, ia lakukan.
Mengapa harus filosofi..?

Itulah letak kebijaksanaan. Yang hampir semua manusia enggan mencari, bahkan untuk sejenak menoleh sedikitpun aras-arasen. Skala dan aksentuasinya begitu luas, tapi anda bisa memulainya dari diri sendiri.

Produk paling gampang adalah membuat orang, dan siapapun disekitar anda merasa senang, merasa gembira. Itu sudah cukup. Dan berdo’alah kepada Tuhan ditengah kebahagiaan mereka, ditengah kegembiraan mereka.

Kamis, 28 November 2013

‎# Renung Senja 14

Emm...

Lama aku tidak menyapamu wahai pelantun hati...

Diary ini terlalu lama tidak kusapa sebagaimana lamanya aku tak bersapa dengan pemilikmu. Iya, pemilikmu itu. Yang nun berada ‘jauh’ disana, mengembara mencari jati dirinya, mencari cicilan cinta untuk kehidupannya. Juga diriku, berusaha semampu mungkin memperbaiki diri, menata hati.

Pemilikmu itu wahai pelantun hati...

Entah sedang melakukan hal apa disana. Apa yang sedang ia fikirkan. Apakah ia sedang bahagia ataukah dirundung kesedihan aku sama sekali ‘buta’. Ah. Pemilikmu itu wahai pelantun hati, yang aku memanggilnya May. Semoga Tuhan mengiringi langkahnya. 

Rabu, 27 November 2013

TILANG

# Subyek cerita di alihkan akan tetapi kejadiannya bener/fakta.

Polisi (P) : Selamat siang mas, bisa lihat Sim dan STNK?

Sopir (Sop) : Baik Pak…

P : Mas tau..kesalahannya apa?
Sop : Gak pak

P : Ini nomor polisinya gak seperti seharusnya (sambil nunjuk ke plat nomor taksi yg memang gak standar sambil lalu menulis dengan sigap di buku tilang)


Sop : Pak jangan ditilang deh…plat aslinya udah gak tau kemana… kalo ada pasti saya pasang

P : Sudah…saya tilang saja…banyak mobil curian sekarang (dengan nada keras!!)
Sop : (Dengan nada keras juga ) Kok gitu! taksi saya kan Ada STNK nya pak , ini kan bukan mobil curian!

P : Kamu itu kalo di bilangin kok ngotot (dengan nada lebih tegas) kamu terima aja surat tilangnya (sambil menyodorkan surat tilang warna MERAH)
Sop : Maaf pak saya gak mau yang warna MERAH suratnya…Saya mau yg warna BIRU aja

P : Hey! (dengan nada tinggi) kamu tahu gak sudah 10 Hari ini form biru itu gak berlaku!
Sop : Sejak kapan pak form BIRU surat tilang gak berlaku?

P : Inikan dalam rangka OPERASI, kamu itu gak boleh minta form BIRU… Dulu kamu bisa minta form BIRU… tapi sekarang ini kamu Gak bisa… Kalo kamu gak mau kamu ngomong sama komandan saya (dengan nada keras dan ngotot)
Sop : Baik pak, kita ke komandan bapak aja sekalian (dengan nada nantangin tuh polisi)

Dalam hati saya …berani betul sopir taksi ini …
P : (Dengan muka bingung) Kamu ini melawan petugas!?
Sop : Siapa yg melawan!? Saya kan cuman minta form BIRU… Bapak kan yang gak mau ngasih

P : Kamu jangan macam-macam yah… saya bisa kenakan pasal melawan petugas!
Sop : Saya gak melawan!? Kenapa bapak bilang form BIRU udah gak berlaku? Gini aja pak saya foto bapak aja deh… kan bapak yg bilang form BIRU gak berlaku (sambil ngambil HP)

Wah … wah hebat betul nih sopir …. berani, cerdas dan trendy … (terbukti dia mengeluarkan hpnya yang ada berkamera.

P : Hey! Kamu bukan wartawan kan! ? Kalo kamu foto saya, saya bisa kandangin (sambil berlalu)

Kemudian si sopir taksi itupun mengejar itu polisi dan sudah siap melepaskan “shoot foto pertama” (tiba-tiba dihalau oleh seorang anggota polisi lagi )

P 2 : Mas, anda gak bisa foto petugas sepeti itu
Sop : Si bapak itu yg bilang form BIRU gak bisa dikasih (sambil tunjuk polisi yg menilangnya)

lalu si polisi ke 2 itu menghampiri polisi yang menilang tadi, ada pembicaraan singkat terjadi antara polisi yang menghalau si sopir dan polisi yang menilang. Akhirnya polisi yg menghalau tadi menghampiri si sopir taksi

P 2 : Mas mana surat tilang yang merah nya? (sambil meminta)
Sop: Gak sama saya pak…. Masih sama temen bapak tuh (polisi ke 2 memanggil polisi yang menilang)

P : Sini tak kasih surat yang biru (dengan nada kesal)

Lalu polisi yang nilang tadi menulis nominal denda sebesar Rp.30.600 sambil berkata “nih kamu bayar sekarang ke BRI … lalu kamu ambil lagi SIM kamu disini, saya tunggu”.

S : (Yes!!) Ok pak …gitu dong kalo gini dari tadi kan enak…

Kemudian si sopir taksi segera menjalankan kembali taksinya sambil berkata pada saya, “Pak .. maaf saya ke ATM sebentar ya. mau transfer uang tilang. Polisi berkata "ya silakan".

Sopir taksipun langsung ke ATM sambil berkata, … “Hatiku senang banget pak, walaupun di tilang, bisa ngasih pelajaran berharga ke polisi itu.” “Untung saya paham macam2 surat tilang.”

Tambahnya, “Pak kalo ditilang kita berhak minta form Biru, gak perlu nunggu 2 minggu untuk sidang Jangan pernah pikir mau ngasih DUIT DAMAI…. Mending bayar mahal ke negara sekalian daripada buat oknum!”

Dari obrolan dengan sopir taksi tersebut dapat saya infokan ke Anda sebagai berikut:

SLIP MERAH, berarti kita menyangkal kalau melanggar aturan Dan mau membela diri secara hukum (ikut sidang) di pengadilan setempat.. Itupun di pengadilan nanti masih banyak calo, antrian panjang, Dan oknum pengadilan yang melakukan pungutan liar berupa pembengkakan nilai tilang. Kalau kita tidak mengikuti sidang, dokumen tilang dititipkan di kejaksaan setempat, disinipun banyak calo dan oknum kejaksaan yang melakukan pungutan liar berupa pembengkakan nilai tilang.

SLIP BIRU, berarti kita mengakui kesalahan kita dan bersedia membayar denda. Kita tinggal transfer dana via ATM ke nomer rekening tertentu (kalo gak salah no.rek Bank BUMN). Sesudah itu kita tinggal bawa bukti transfer untuk di tukar dengan

SIM/STNK kita di kapolsek terdekat dimana kita ditilang. You know what!? Denda yang tercantum dalam KUHP Pengguna Jalan Raya tidak melebihi 50ribu!

Dan dananya RESMI MASUK KE KAS NEGARA


KHAZANAH


Gara-gara kasus sholawat dalam program KHAZANAH yang ditayangkan TRANS 7 diangkat ke facebook dan dapat tanggapan ramai, bakdal kuliah Subuh para santri langsung berkerumun menonton televisi, menunggu program KHAZANAH ditayangkan. Sewaktu KHAZANAH mulai tayang dengan pemaparan mukjizat Nabi Muhammad Saw membelah bulan, para santri mengangguk-angguk meng-amin-i yang diungkapkan KHAZANAH.

Pada saat menyinggung lambang BULAN dan BINTANG yang digunakan sebagai lambang umat Islam, telinga para santri mulai menegang. Sebab dalam narasi yang dibacakan perempuan yang ‘fasih’ berbahasa Arab itu, ditegaskan bahwa lambang BULAN dan BINTANG itu awalnya digunakan oleh khilafah Turki Usmani, yakni pada masa Sultan Muhammad II menaklukkan Konstantinopel. Selama menaklukkan Konstantinopel itulah, orang Turki melihat lambang Dewa dan Dewi Byzantium kuno, yaitu Apollo dan Artemis. Lalu lambang BULAN dan BINTANG dari agama kuno itu dijadikan simbol kebesaran Turki Usmani oleh Sultan Muhammad II yang akhirnya dianggap sebagai simbol Islam.

Bertolak dari latar sejarah agama pagan pemuja Apollo dan Artemis itulah lambang BULAN dan BINTANG secara keliru dijadikan lambang Islam. Padahal, Rasulullah tidak pernah memberi contoh lambang itu. Bendera yang digunakan Rasulullah, hanya warna hitam, putih dan hijau. Jadi lambang BULAN dan BINTANG yang digunakan umat Islam saat ini adalah tidak memiliki dasar Keislaman sama sekali, karena BULAN dan BINTANG adalah lambang paganisme umat kafirin.

“Jancok, ini sejarah goblok yang menggoblokkan umat,” sergah Bahar Izzulhaqq, mahasiswa pasca sarjana arkeologi berkomentar,”Berani sekali orang goblok-goblok ngarang sejarah tanpa dasar, sak karepe dewe. Itu merusak ilmu pengetahuan. Itu menggoblokkan umat agar goblok seperti mereka.”

“Sabar Har, sabar,” tukas Dullah menenangkan,”Memangnya lambang BULAN dan BINTANG itu diambil Turki Usmani setelah Sultan Muhammad II menaklukkan Konstantinopel? Apa keliru penjelasan narator KHAZANAH itu?”

“Bukan keliru, tapi sengaja memutar-balik sejarah secara goblok,” sahut Bahar Izzulhaqq ketus, “Tahu tidak mereka bahwa mata uang era Arab Sassanians di bawah Umar bin Ubaydillah bin Mi’mar yang menjadi Gubernur Fars, tahun 686 M, yaitu 54 tahun setelah Rasulullah Saw wafat, sudah mencantumkan lambang BULAN SABIT dan BINTANG? Tahu tidak mereka bahwa mata uang zaman Umayyah, tahun 760 M sudah menggunakan lambang bergambar BULAN dan BINTANG? Tahu tidak mereka bahwa mata uang perak setengah dirham pada masa Sulayman menjadi gubernur Tabaristan di bawah Khilafah Abbasiyah tahun 784 M juga menggunakan lambang BULAN SABIT dan BINTANG? Tahu tidak mereka bahwa perhiasan-perhiasan kalung pada era kekuasaan Fatimiyyah di Mesir, abad 11, sudah menggunakan lambang BULAN SABIT dan BINTANG?”

“Lho apa iya toh, Har?” tukas Dullah.

“Arkeolog sedunia sudah pada tahu semua fakta itu,” kata Bahar Izzulhaqq,”Kalau mereka memutar-balik sejarah dengan menyatakan bahwa lambang BULAN dan BINTANG yang digunakan umat Islam baru muncul zaman Turki Usmani menaklukkan Konstantinopel abad ke-15, itu selain menyesatkan umat juga akan menjadi bahan tertawaan arkeolog sedunia. Nanti dipikir umat Islam goblok semua seperti mereka.”

“Lalu maksud mereka memutar-balik sejarah itu kira-kira apa?” gumam Dullah.

“Ya apalagi maksud utamanya kalau tidak mengabsahkan bahwa lambang Wahabi itulah yang paling benar dan Islami, sesuai tuntunan Rasulullah Saw,” kata Bahar Izzulhaqq tegas.

“Maksudnya yang lambang Islami sesuai tuntunan Rasulullah itu seperti bendera Saudi Arabia di atas kain hijau yang bertuliskan Laailaha ilallah Muhammad Rasulullah dengan gambar pedang di bawahnya?” tanya Dullah minta penegasan. Bahar Izzulhaqq mengangguk, membenarkan.

“Apa makna di balik bendera itu, menurut penafsiran arkeologis-mu Har?”

“Sesuai sejarah Wahabi, lambang tulisan Laailaha ilallah Muhammad Rasulullah itu adalah jargon utama mereka. Barangsiapa memberi makna beda atas kalimah Laailaha ilallah Muhammad Rasulullah sebagaimana mereka tafsirkan, pedang di bawah kalimah itulah yang akan berkelebat menyembelih. Begitulah, bendera itu adalah lambang gerakan Wahabi yang ditandai mengalirnya darah umat Islam di mana-mana,” kata Bahar Izzulhaqq menjelaskan.

“Yang susah, kalau semua lambang BULAN dan BINTANG sudah dimaknai secara Wahabisme sebagai pengaruh paganisme,”Kata Sufi Kenthir tiba-tiba menyela,”Karena organisasi Islam sudah terlanjur banyak yang menggunakan lambang BULAN dan BINTANG”.

“Haha, yang mula-mula kena dampak buruknya adalah Partai Bulan Bintang – PBB,” sergah Sufi Sudrun terbahak,”Bisa mumet bin puyeng itu Bang Yusril distigma Wahabi partainya tidak Islami tapi terpengaruh paganism Yunani-Romawi.”

“Bukan hanya PBB, kang,” sahut Sufi Senewen,”Muhammadiyyah pun bisa dinilai tidak Islami, karena lambang yang digunakan itu kan mirip SURYA MAJAPAHIT? SURYA MAJAPAHIT sendiri bisa dianggap terpengaruh Dewa Surya, dewa matahari. Juga terpengaruh Dewa Syiwa sebagai Rawi (matahari) yang bersinar cemerlang. Dus organisasi Muhammadiyyah bias dianggap terpengaruh paganism Hindu-buddha Majapahit.”

“Bukan hanya PBB dan Muhammadiyah, bro,” tukas Sufi Sudrun tergelak memegangi perutnya,”NU juga bias dianggap terpengaruh paganisme Hindu-Buddha, malah aliran yang lebih ganas yaitu pengaruh aliran Bhairawa-tantra pemuja Dewi Bumi : Pertiwi, Durga, Kali yang haus darah. Hmm, ada-ada saja cara licik dan curang Wahabi memutar-balik sejarah untuk membenarkan diri dan menganggap sesat umat lain.” 

Roben yang sudah panas dadanya ikut menyela,”Maaf para paklik, paman dan om-om yang terhormat. Kalau logika dalam tayangan KHAZANAH itu diikuti, berarti hanya lambang Saudi Arabia dan Hizbut Takrir saja yang Islami dan benar sesuai ajaran Rasulullah karena keduanya menggunakan tulisan Arab Laailaha Ilallah Muhammad Rasulullah, sedang yang lain lambangnya terpengaruh paganisme, apakah seperti itu alurnya?”

Sebelum para sufi menjawab, tiba-tiba Guru Sufi yang keluar dari Mushola menyahuti, “Jangan dipikir kalau sudah memakai lambang dengan tulisan Arab Laailaha Ilallah Muhammad Rasulullah itu sudah paling Islami dan paling sesuai tuntunan Rasulullah Saw.”

“Lhadalah, apa memang seperti itu, Mbah Kyai?” tukas Dullah dan Sukiran hampir berbarengan, “Bagaimana penjelasannya? Bagaimana lambang bertulisan huruf Arab Laailaha ilallah Muhammad Rasulullah bisa dianggap tidak selalu bermakna Islami dan sesuai tuntunan Rasulullah?”

“Jika pikiran kalian terhegemoni oleh lambang-lambang huruf Arab dengan makna bahwa itulah huruf Islami, maka kalian sangat keliru, karena faktanya huruf Arab sudah ada sebelum Nabi Muhammad Saw lahir ke dunia. Huruf Arab diawali sejak Huruf Paku zaman Hammurabbi hingga huruf Ibri, yang sudah hadir 5000 tahun sebelum masehi. Bahkan huruf Arab yang berkembang dari huruf Ibri, asalnya gambar-gambar bermakna seperti Aliph (sapi), Bait (rumah), Rosh (kepala), Mayim (air), ‘Ayn (mata), dan seterusnya. Nah bagaimana kalau huruf Arab kemudian dikaitkan dengan paganisme Arab pra Islam? Bukankah dalam fakta Nabi Muhammad Saw sendiri tidak pernah mencontohkan tulisan Laailaha Ilallah dalam huruf Arab? Dalam fakta, bendera warna Hijau, Hitam dan Putih yang digunakan Nabi Muhammad Saw dewasa itu pun tanpa gambar apa-apa. Polos. Jadi siapa mereka itu, mau menghegemoni pikiran kita untuk dipaksa meyakini bahwa lambang Tauhid Laailaha ilallah Muhammad Rasulullah yang ditulis dalam huruf Arab adalah yang paling Islami dan paling sesuai tuntunan Rasulullah Saw?” kata Guru Sufi menjelaskan.

“Woo iya Mbah Kyai,” sahut Dullah ketawa,”Nabi Muhammad Saw kan ummi dan tidak pernah memberikan contoh tulisan yang Islami? Bahkan Al-Qur’an pun disampaikan beliau dalam bentuk hafalan tanpa aksara.”

“Ya memang, itulah fakta. Jadi siapa yang menyatakan bahwa huruf Arab adalah huruf Islam? Bukankah Abu Jahal waktu itu kalau menulis surat menggunakan huruf Arab? Orang-orang Kristen Najran pun dewasa itu menulis dengan huruf Arab,” kata Guru Sufi tegas.

“Jadi?” sergah Dullah dan Sukiran berbarengan.

“Siapa bilang bendera Saudi Arabia dan bendera Hizbut Takrir adalah bendera berlambang Islam yang paling Islam dan paling sesuai contoh Rasulullah Saw?”

“Yang bilang ya Wahabi sendiri dan kemudian diakui sendiri kebenarannya.”

Para santri dan para sufi tertawa bersama. Sufi Sudrun yang duduk di samping Sufi Kenthir tiba-tiba berkata,”Kemarin bilangnya mau BOIKOT nonton KHAZANAH, ini semua kok malah rame-rame nonton KHAZANAH.”

“Nonton dagelan paklik,” sahut Bahar Izzulhaq,”Sekarang ada acara humor model baru, sayang kalau diboikot….hehehe.”

Oleh: Agus Sunyoto