Kamis, 10 Oktober 2013

Kilas Reportase Ta'lim 08/10/2013



* Menelisik Sejarah Adam As, Hawa, dan Khonnas*  

Mengkaji surat Al-Fatihah dari berbagai aspek siglikal yang meliputi ma’anil kalimatnya, tafsir kontekstualnya, tasawuf, pesan tersirat dan yang tersurat, serta tidak lupa akan keilmuan bahasanya (nahwu, sharaf, balaghah dan lain-lain), maka ta’lim tadi malam berlanjut pada Surat An-Nas yang berarti ‘selesai’ sudah kajian ta’lim ma’anil qur’an yang selama ini dibahas.
Ada banyak ilmu, yang meliputi berbagai aspek, yang sesungguhnya ada baiknya dipaparkan secara utuh mengenai kajian surat An-Nas. Namun, karena adanya keterbatasan-keterbatasan, agaknya hanya selembar dua lembar yang hanya bisa direportase pada kesempatan kali ini. nyowone gak jangkep pas ngaji. Hehehe.

Pada lafadh “Min syarril waswasil khannas” yang artinya (dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi) ini disamping menjelaskan tentang keburukan-keburukan di dalam diri manusia yang mendarah daging, juga menyimpan kohesi sejarah empiris tentang manusia pertama Adam As dengan rival abadinya yang kita menyebutnya sebagai Iblis. 

Kita mulai dulu dari lafadh khonnas. Abi Imam Muslimin menjelaskan bahwa Iblis itu mempunyai keturunan yang banyak. Anak pertamanya bernama khonnas. Khonnas inilah yang dipakai Iblis untuk memperdaya Adam dan Hawa untuk kedua kalinya setelah mereka diturunkan dari surga. Diceritakan bahwa, Iblis membawa khonnas turun ke dunia, dan ia dititipkan kepada Hawa agar mau merawatnya. Disinilah sesungguhnya Hawa benar-benar diuji. Karena Hawa adalah Perempuan, maka ia tidak bisa mengelak dengan segala ke-naluriahanya sebagai Ibu. ia trenyuh, kasihan, dan iba melihat khonnas. Lalu dirawatlah khonnas, anak dari Iblis ini. 

Ketika Adam As mengetahui hal ini, ia marah. Atas kesepakatan Adam As dan Hawa, maka khonnas harus disingkirkan. Agar tidak membawa malapetaka, tidak membawa keburukan-keburukan dari sifat aslinya, sifat Iblisnya. Namun yang terjadi adalah khonnas tidak bisa diapa-apakan. Dibakar tidak mempan, dibunuh tidak mati. Setiap kali dibunuh, khonnas kembali hidup, begitu seterusnya. Sampai akhirnya, Adam As dan Hawa memakannya. Maka, khonnas merasuk dalam tubuh, mengalir dalam darah, bergerak disetiap sel-sel otak, jantung, menyatu di dalam diri Adam As hingga keturunanya kelak. 

Iri, dengki, sombong, hasud, marah, dengan segala keburukan yang lain adalah representasi dari khonnas itu sendiri. Karena ia mengalir dalam darah, ia bersifat tersembunyi, lembut, dan sangat halus. Manusia harus selalu meminta perlindungan kepada Allah agar dijauhkan dari bisikan-bisikan lembut Iblis, bisikan tersembunyi Khonnas. 

Bukti Arkeologi tentang Adam As dan Hawa

Adam As diturunkan di gunung Rohun (puncak gunung Eferest, India). Disana ditemukan artefak dua telapak tangan besar manusia pertama di atas bumi. Lebarnya 30 meter dan lebarnya 72 meter.

Sedang Hawa diturunkan di Jiddah. Dimana Maqomnya (Maqbarah Ummi Hawa) ditumbuhi rerumputan sedang tanah disekitarnya gersang tandus. Dari Makkah berjarak sekitar 80-100 km. Hawa berpisah dengan Adam As selama 500 tahun. Dan selama itu sudah ada tanda-tanda akan dipertemukan. Pada tahun ke-301 Adam As maupun Hawa bermimpi bahwa mereka akan bertemu pada saatnya. Di tahun ke-500 itulah pertama kalinya mereka bertemu di Muzdalifah. Hingga pada pemaknaan padang arafah yang berarti Adam As dan Hawa sudah sangat yakin, mengetahui kesadaran pasti bahwa mereka sejatinya adalah Adam dan Hawa yang dulu pernah singgah di surga. Hingga berpuncak pada makna Rahmah—Jabal Rahmah— yang berarti pertemuan yang diselimuti dengan cinta, kasih, kerinduan, sayang. 

Ada sebuah Gua bernama ‘Gua Jam’an’ yang diyakini sebagai gua dimana Adam As dan Hawa melakukan hubungan biologis, jima’, pertama kalinya.

Allahu ‘alam
01.47 dini hari.

Reportase Ngaji ta'Lim. 04/10/2013.



Setelah beberapa menit dibuka dengan sholawat ‘kalamun’, Ustadz Syafaat memulai ta’lim dengan Fashohah. Ta’lim yang berlangsung setiap malam Sabtu ini, disamping mengkaji Al Qur’an dari sisi adab—lebih khusus kepada adab menghafal Alqur’an—juga memberi sangu tentang materi-materi Fashohah, dengan pedekatan Tartilul Qur’an surat Al-Hujrat. Tartil yang beliau ajarkan merupakan gubahan lagu-lagu Qira’ah, dalam hal ini Nahawan dan Hijaz.

Setidaknya, ada delapan hadist yang beliau jelaskan pada ngaji tadi malam. Yang meliputi beberapa persoalan, pahala, kemudahan dalam menghafal dan lain-lain. Hadist yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud misalnya bahwa tidak boleh ada rasa iri, cemburu, kecuali pada dua hal. Pertama, seorang laki-laki yang diberi kenikmatan harta, yang harta itu ia gunakan untuk kebaikan-kebaikan. kedua, seorang laki-laki yang Allah berikan nikmat berupa ‘hikmah’. Dalam tafsir beliau, hikmah disini adalah satu pengetahuan yang bersifat dhahir dan batin, ada yang menyebut bahwa hikmah ini adalah pengetahuan filsafat. Dengan pengetahuan ini, ia mengajarkannya pada banyak orang.

“ Jika kalian mengetahui dua orang ini, mintalah kepada Allah agar kalian diberi nikmat sebagaimana mana dua orang ini diberi nikmat” papar beliau.

Tentang keutamaan dalam membaca Alqur’an, beliau juga memberikan ulasan komprehensif mengenai itu. Bahwa setiap huruf dari Alqur’an mempunyai nilai kebaikan, yang oleh Allah dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan. “…aku tidak mengatakan bahwa alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf..(HR. Abu Isa Muhammad Bin Isa At Tirmidzi). Ustadz yang aktif mengasuh ta’lim di HTQ ini juga memberi ulasan.

“ Subhanallah luar biasa, tapi ingat, bukan berarti harus dipakai ketika shalat tarawih. Mentang-mentang bernilai sepuluh kebaikan, terus ketika ngimami baca shaaaaaaaaad allahu akbar. Ini harus difahami lebih dalam, bahwa Qiyas yang dipakai dalam hadist ini adalah Qiyas Auladi. Satu hurufnya saja mengandung sepuluh kebaikan, apalalgi kalau dibaca satu ayat, dua ayat, dan seterusnya”

Sesungguhnya, siapa saja yang di hatinya tidak terdapat nafas Alqur’an, ia bagaikan rumah kosong. Rumah kosong yang tak berpehuni, ia kotor, tidak terawat, dan tiada orang yang singgah. Maka, penuhi hatimu, sibukkan hatimu untuk selalu membaca Alqur’an.

Di padang Mahsyar kelak, akan ada tes membaca Alqur’an. itu akan mempengaruhi derajat seseorang dari ayat-ayat Alqur’an yang ia baca. Semakin sering ia membaca, semakin intens ia menghafal, semakin pula derajatnya meningkat. Ini bisa diasosiasikan kepada jumlah ayat yang kalian hafal. Syukur-syukur bisa khatam tiga puluh juz.

Dijelaskan pula, bahwa siapa saja yang membaca Alqur’an dan mengamalkannya, disamping ia mendapat pahala, orang tuanya akan dipakaikan mahkota di hari kiyamat. Dimana cahanya lebih terang dan berkilau dari sinar matahari.
 
Sufyan As Tsauri adalah orang yang sangat mencintai Alqur’an hingga melebihi apapun. Ia ditanya “ Apakah kau akan pergi berperang ataukah membaca Alqur’an? ia, memilih membaca Alqur’an, karena sebaik-baik manusia adalah mereka yang belajar Alqur’an dan mengamalkannya.

“ ini adalah pelajaran yang sangat berguna bagi kita. Terutama kalian. Kalau mau cari istri, suami, carilah yang hafal Alqur’an. Dan kalau disuruh memilih, pilihlah yang hafal Alqur’an. Cantik juga gak apa-apa.” Pesan Ustadz Syafa’at sekaligus mengakhiri Ta’lim.
Allahu A’alam.

Kamis, 03 Oktober 2013

Komitmen penuh asah, asih dan asuh

Bismillahirrahmanirrahim….
Atas nama kerukunan, guyub, rukun, kita diantara sesama…

Vila Bumiaji* dimana menjadi sentral acara Mantab II Css Mora Uin Malang disewa murah dengan harga tak wajar, berbanding terbalik dengan kebesaran gedungnya, luas hamparan tamannya, kolam renangnya. ia berdiri angkuh, misterius, seakan menyergap siapa saja yang tak hormat dengan kehadirannya. Tepat dibelakang gedung, ilalang, rerumputan, menjuntai panjang sampai tiga ratus meter kebelakang seperti sawahan yang tak terawat. Tak ada lampu, petromak, senter, yang menjadi penerang. Hanya sinar rembulan menjadi cahaya remang ditengah kegelapan yang kami terjang.

Vila Bumiaji adalah saksi atas kekuatan komitmen, janji, untuk selalu berproses, loyal, terhadap al-Qur’an yang kami junjung, terhadap amanah yang kami terima, terhadap kesejatian hati tuk selalu merasa. Bahwa Css Mora Uin Maliki Malang, sangat berbeda dengan Css Mora lainnya. Bukan main-main, kami dididik untuk belajar dewasa disini. Inti kedewasaan yang nampak adalah bersatunya cacak-cacak  salaf dengan konco-konco Tahfidh. Walau sesungguhnya, pautan usia diantara mereka jauh berbeda. Hormatku padamu cacak-cacakku sing salaf.

Vila bumiaji benar-benar membuat capek, kesel, atas berbagai format acara yang dihendel panitia. Mbulet namun berkesan, kopler namun asyik, frontal namun santun, bergidik namun gembira.

Sesungguhnya, di organ manapun saja, sumpah setia, baiat, menjadi satu kulminasi greget atas bukti loyal anggota kepada organisasinya. Ekstra maupun intra. Dari Hmj sampai Ukm, PMII sampai HTI, dan apapun saja. Syahadat, istigfar, dijadikan legitiminasi utuh, postulasi kongkrit sebagai jaminan atas hidup matinya anggota kepada organisasinya. Dilematis. Tuhan dibawa-bawa, syahadat dipanggul, istigfar dijunjung.

Harapku, sumpah setia di Css mora Uin bukanlah hasil dramatisasi atas rencana-rencana yang terkonsep. Ia natural, alamiah, tak ada perbincangan-perbincangan di internal. Ia muncul begitu saja. Maka, prosesi yang terjadi begitu lama dan meledak. Afif, secara pribadi curhat bahwa ia memang benar-benar menangis, ia tak pura-pura. Ulil, dirga, Edi dan semuanya. Paling tidak, ini menjadi cicilan cinta, cicilan komitmen, untuk terus berproses, memperbaiki management, tatanan organisasi yang masih dalam tahap masang batu bata, nambal daun pintu dan jendela.  

Sumpah. Ba’iate PMII, HMI, ndak sampai kayak gini lho. Kami disini diikat oleh tanggung jawab akademis dan pesantren. sedang di ekstra kami ‘diikat’ oleh ideology, partikulasi politik ‘kecil’ di skala yang kami kuasai.

Terlepas dari semua itu, ini hanyalah prosese pembentukan, proses belajar, untuk saling asih, saling asah, saling asuh di berbagai organisasi yang digeluti. Melengkapi pengetahuan satu sama lain. Mau berskpresi di Ukm, Hmj, Dema, PMII, HMI, HTI, GMNI, silahkan, asah bakat dan potensimu disana. Tapi jangan lupa, tetap tengok dan singgahlah di gubukmu Css yang ‘kering korontang’ itu. Sirami dengan pengetahuan yang kau dapat, yang kau pelajari. Berikan komposisi, bumbu sedap, agar ‘kekeringan’ itu berolah menjadi rasa lezat, nikmat, penuh kegembiraan.

Ingat-ingat gubukmu, kengenilah rumahmu.
Dengan akhlak yang mulia, dengan cinta yang setia…………..

Vila Bumiaji, 29 September 2013   

* Tak tahu persis apa nama vilanya. Anggap saja demikian. 

Sekedar berbagi

Asslamu’alaikum.
Teruntuk kekasih dan ruang rinduQ…..

May…

Ingin kukatakan padamu satu hal, mengenai hidup. Bahwa jika ingin kuda-kuda batin kita kuat, langkah kaki kita tegap maka sadarilah kelemahan. Paling tidak, dengan cara demikian kita bisa faham, tahu, letak kekuatan sendiri ada dimana, dalam bidang apa.

May..

Aku ketika menjelang tidur, entah dulu bagaimana ceritanya, seneng menghitung apa-apa yang sudah kulakukan dalam satu hari ini. Aktivitas apa saja dan dimana saja. Di organisasi, di pondok, bergaul dengan teman-teman, waktu kangen pean, apapun saja. Mencari detail kelemahan, kesalahan yang kuucap, yang kulakukan. Karena lisanku ini kalau sudah ngomong, nyeplosnya ndak karuan-karuan. Dari sekian banyak ngomong ini ngomong itu, banyak sekali reduksi antara ucapan dan tindakan. Apa aku berdoa saja biar lisan ini dipelatkan sebagaimana Nabiyullah Musa lidahnya juga pelat. Maafkan aku ya May kalau ada satu, dua, tiga, omongan yang menyakitkan hati.

May..

Beberapa hari ini aku dilemma tentang banyak hal. Sekian banyak itu, hingga aku bingung mau mempetakan mana yang harus  aku prioritaskan. Di wilayah akademis, organisasi, tanggung jawab orang tua, tanggung jawab pondok, hingga tanggung jawab akan masa depan. Kata teman-teman itu ndak usah dipikir, dijalanin aja. Satu nasehat yang sangat amat berguna. Namun, satu yang aku benar-benar mau mati rasa menjalaninya adalah tentang cinta. Ahhh. Cinta bukan dipikir dan dijalani, tapi harus dirasa. Wahai ruang rinduku May, jika kau faham apa itu cinta ceritakanlah kepadaku tentang semua itu ?

May…

Aku pernah berucap padamu. “ ya Allah, sudah dua tahunan lho may kita berhubungan”. Kuucap itu ketika kita berdua bertatap bersama di meja ukuran 1mx2m di altar Universitas Brawijawa. Aihh. Kau ayu sekali di sore itu May. Jilbab hijaumu, baju panjang putih bermotif bunga-bunga kecil berwarna hitam. Aku tak tahu soal busana, tapi di mataku kau adalah perempuan ayuku. Itu tidak akan pernah berubah sampai kapanpun.

Kita bisa awet sampai sekarang ini tidak lain tidak bukan karena kita selalu dan saling berziarah hati satu sama lain. Ziaroh itu momen menengok perasaan orang yang kita sayangi.  Hati kita berdua nyambung, batin kita merasa, do’a kita selalu terucap. Kau tahu wahai RimayaQ, itulah kesejatian cinta, kemurnian rasa. Bukan karena seringnya bertatap, intensnya kita bertemu yang semua itu hanyalah wujud fisik, wujud biologis. Sesungguhnya kita berdua selalu bertemu kok. Dalam do’a, dalam harapan, dalam silaturahmi yang sifatnya metafisika.

May…

Surban yang aku kasihkan kemarin itu, yang kau kenakan untuk menutupi rasa dingin, menyimpan banyak kenangan. Termasuk ketika Edi kecelakaan di Cuban Talun dulu. Ia berdarah hebat, surban itu kupakai untuk menutupi pendarahan di kepalanya. Maka, masih ada bercak-bercak merah warna darah disitu. Begitu juga kau wahai RimayaQ, aku ingin surban itu jadi obat hati, obat rasaku padamu. Ya Allah beri kami luapan kerinduan yang sejati, yang murni.

May…

Bapak kemarin habis jatuh. Kebiasaan Bapak memang sukar dibatasi. Bapak selalu melakukan apa-apa dengan sendirian, dari hal-hal ringan sampai hal-hal yang berat. Padahal, anak-anaknya laki-laki semua. Tapi itulah Bapak, ia selalu berpesan. Dadi bocah lanang iku harus siap mandiri, tanggung jawab, tirakat. Minta do’a May, agar ia selalu diberikan sehat, kuat. Begitu juga dengan Amah, Abah, Ibu, dan Ayah pean.

May…

Aku capek sekali, belum tidur sejak prosesi pemba’iatan Css dini hari tadi. May, kau selalu menyita perhatianku. Maka, aku selalu mencuri-curi ruang untuk memandangmu. Kau sendiri mungkin tak sadar. Hehe. Sori ya nDuuuuut. ^_^.

May...

Sekian dulu ya. Mazzmu ini sedang ingin menyapamu saja. Cinta Mazz hanya untuk pean. Titip rahasia, titip aurat kita berdua.

Semoga pean sehat disana, tak kekurangan apa-apa.
**yang selalu merindukan pean**

   __________A’and__________
Malang, 30/09/2013, 02.17 Dini Hari

Senin, 16 September 2013

Ahmad Ma’arif


Di altar ruang tamu pesantren, tepatnya aku ngobrol panjang dengan kawan lama. Kawan sepesantren dulu. Satu kamar, satu komplek. Ia asli Tuban. Tubuhnya dempal, gagah, fanatic dengan bahasa inggris, namun tak juga pernah ia mahir dengan bahasa asing itu.  
Ia sudah khatam tiga puluh juz. Seperti kewajiban santri yang sudah khatam pada umumnya, ia pun menjadi badal. Suatu amanat Kyai untuk momong para santri dalam hal bacaan, fashohah, dan setoran hafalan. Tapi, yang kulihat ia tidak bahagia, tidak menikmati keasyikannya menjadi badal. Walau berat hati, ia tetapkan hatinya untuk istiqomah nyimak ba’da shubuh.

“ Ting, aku tak pernah meminta untuk diangkat menjadi badal. Tak pernah kuminta itu. tapi mengapa mereka teteap saja memberi amanah berat ini kepadaku “ curhat ia pada suatu hari.

yo wes dilakoni wae. Kowe kan sudah khatam.  Emang kenapa to?” tanyaku

“ emmmm…ini sudah lama aku nahan hati Ting. Ada perasaan berdosa, ndak pantas, rasanya aku seperti dihantam palu malaikat. Aku seperti tak punya wajah. aku dadi munafik Ting”

Aku tak tahu apa maksudnya ia berkata seperti itu. seperti ada sesuatu yang ia tahan, namun tak berani mengatakannya dengan jujur. Ma’arif, begitu namanya, santri apa adanya, loman kepada sesama.

Yang kutahu, anak-anak yang sudah khatam memang diberikan ijazah dari Kyai untuk ikut ngramut para santri yang masih dalam tahap binnadhar, dan tahfidh. Mendapat ijazah seperti ini tidaklah gampang. Disamping harus khatam tiga puluh juz, masih harus tashih minima tiga kali serta membaca tiga puluh juz di masjid dengan disimak para asatidz. Mereka yang lulus diapresiasi dan tentunya mendapat kepercayaan dari Kyai. Suatu kebanggaan tentunya.
Kurasakan memang, sebuah perjuangan, membutuhkan istiqomah, kesabaran ketika mengahafal al Qur’an. huruf demi huruf, satu dua ayat, surat, juz. Hingga puncaknya, mereka yang khatam akan diwisuda dan dibaiatul huffadh.

Ada keasyikan, perjuangan, kelelahan, jengkel, ketdakpuasan, dalam semua proses itu. Juga semacam kebahagiaan tiada terkira yang sulit diungkapkan dengan kata. Aku kangen masa-masa itu.

Namun, itu semua tidak kudapatkan dari seorang Ahmad ma’arif. Berbanding terbalik dengan apa yang kurasakan. Dan aku tak faham.

Ia selalu murung. Ada setetes air mata di hatinya yang tak kunjung mereda.   


Minggu, 15 September 2013

Hormat


Roman atau aku suka menyebutnya dengan romansa, menempati satu pengetahuan sastra yang aku minati, tidak hanya hanya sebatas unsur sastrawinya namun juga plot dinamika kisahnya yang dinamis. Banyak sastrawan hebat, cerdas, yang aku kagumi karya-karyanya. Pramodya ananto toer, pria kelahiran kota Blora yang hampir separuh hidupnya dihabisan dalam penjara. Disisi lain, ia juga berkali-kali masuk dalam daftar kandidat pemenang nobel sastra. Aku kagum dengan idealisnya, prinsip indenpensinya sebagai penulis ‘macan’, ia berhasil dan lulus menjadi dirinya sendiri. tanpa kepentingan public, politis. Ia telah menjadi ananta toer. Roman Arok Dedesnya membuatku kepincut.

Sudah barang tentu, menulis menjadi detak jantungnya. Siapapun saja dan bagaimanapun keadaannya. Termasuk Chairil Anwar, hormatku kepadamu Bung Chairil.

Sampai sekarang aku tak faham, tak mengerti dasar filosofi apa yang membuat mereka begitu tekun, telaten menghabiskan hidupnya dengan untaian kata dan kalimat.

Tahun 2010, bersama teman-teman kami sowan ke Batang-batang Sumenep Madura. Silaturahmi ke salah sastrawan nasional yang popular dengan karyanya celurit emas D Zawawi Imron. Kami disambut hangat dan ramah. Beliau begitu bersahaja. Rumahnya yang sederhana dengan altar yang dipenuhi lukisan-lukisan ciptaannya. Disamping rumah beliau ada musholla sederhana yang ditempati lima puluh anak-anak, orang tua cacat. Kami akhirnya tahu bahwa baliau manampung mereka, dididik, disinaui, diajari ngaji. “ mereka juga aku ajari tentang sastra” tutur beliau.

Beliau bercerita lebar tentang perjalanan hidupnya. Termasuk pengaalaman pertama dalam menulis sastra. Beliau hanya lulusan SR ( setara SD) namun pengetahuan tentang teori-teori sastra, hakikat sastra, sejarah sastra, perlu mendapat apresiasi yang luar biasa. paling tidak menjadi pecut semangat bagi kami yang masih proses belajar.

“ aku pertama kali menulis puisi-pusiku di lontar daun, karena saat itu aku tak punya kertas untuk menulis” paparnya

Sindiran sekaligus rekonstruksi semangat bagi kami. Teknologi sudah menempati presisi tertinggi di zaman ini. Laptop dan komputer sekarang sudah sedemikian canggih, tidak ada alasan untuk tidak memanfaatkannya dengan baik. Termasuk menumbuhkan produktifitas menulis atau apapun saja.

Hormatku pada kalian wahai para sastrawan.

**____Malang. 7/9/’13______**    

Sabtu, 24 Agustus 2013

Bagaimana Seharusnya II



Mas Hamzah, salah seorang staff HTQ yang beliau tempatkan sebagai administrator dan bendahara pesantren menambah spekulasiku akan tak fahamnya beliau tentang administrasi. Tidak hanya secara teknis, namun juga secara pengetahuan, keilmuan, dan segala bidang tentang ke-administrasian maupun keorganisasia. Ini hanya spekulasiku saja, tak akan menambah dosa karena smoga saja ini semua salah. 

Pengetahuan umum maupun prinsip didalam organisasi merupakan satu pengetahuan utuh yang baku, procedural, yang tidak boleh dikemukakan hanya sebagai wacana ‘sampingan’ apalagi sebagai pelengkap penderita dalam satu management baku disebuah instisusi, lembaga, atau apapun saja. Secara teknis, ada petanggungjawaban kolektif dalam mengatur, meng-evaluasi, mengontrol. Tidak hanya dalam urusan progam kerja, namun juga kepada tanggung jawab, job-disc masing-masing pengurus. 

Tapi sekali lagi, semoga saja spekulasiku ini salah. 

Aku jatuh cinta pesantren sederhana ini. Dengan orang-orangnya, watak keakraban diantara mereka, semuanya. Semacam ada gugatan, teriakan dalam hati bahwa teman-teman disini memang diam-diam sangat bersaudara, sangat menjalin cintanya yang tulus, ikhlas, dengan sesamanya. 

Aku jatuh cinta pesantren sederhana ini. dengan segala aturan-aturan ‘mencla-menclenya’. Dengan ambiguitas kebijakan pengasuhnya, bahwa ternyata kami dididik untuk mengatur sandal dengan rapi, markir motor jagrak tengah, mendengarkan music dengan headseat, mematikan kran air dengan benar,  dilarang merokok (isu yang terjadi) tanpa memperdulikan hal yang subtansi bagaimana agar semua rajin setoran, rajin jama’ah, aktif nderes, rajin puasa, hormat dan jujur diantara teman, dan lain sebagainya. 

Aku cinta pesantren sederhana ini. dengan pendidikan ke-materiaanya, bahwa kami harus mengedepankan keindahan fisik tanpa mengindahkan kebenaran nilai, kebenaran sejati, kejujuran hakiki. Apakah jika semua sudah beres mematikan kran air dengan benar, menata sandal, tidak boleh merokok sudah pasti semua rajin nderes, mudarrosah, hafalan semakin tambah. Sesungguhnya tidak ada kepemimpinan yang haq di pesantren sederhana ini. yang ada hanyalah kepemimpinan untuk selalu rasan-rasan, ngomong yang tidak-tidak, diantara teman-teman. Ya Allah. Kok ngene seeeh. Tapi itu semua tidak mengurangi cintaku pada pesantren ini. 

Pesantren sederhana ini masih mencari kunci, menata batu bata yang belum terpasang, menambal semen yang tercacar, memahat daun-daun pintu yang masih berupa kayu, pepohonan. 

Tidak ada kuasa apa-apa. Innama amruhu idza arada syaian an yaqula lahu kun fayakun. Keihklasan teman-teman ketika membaca wirid, ketulusan hati mereka ketika nderes, kemauan fikiran untuk selalu berbenah, menghitung, mengkalkulasi segala tindakan, semoga menjadi daftar panjang pahala dari Tuhan. Berharap semoga Tuhan pendarkan ke ubun-ubun mereka pengetahuan yang makrifati, hati yang bersih. 

Malang, 24 Agustus 2013