Minggu, 11 Agustus 2013

Renung Senja #8



Benar-benar harus tahan banting. Beban mental, tanggung jawab moral, sosial, heterogensi masyarakat dalam membangun system kedasaran natural antar manusianya. Ketika kesadaran mulai menjadi pola fikir, maka peraturan hanya menjadi tatanan hidup nomor sekian karena semua manusia sudah tidak membutuhkan atur-mengatur dalam berdialektika sosial. Sungguh nyaman dan mesra, tatakala hubungan suatu komunitas, kelompok, masyarakat tertata dengan apik, penuh dengan paguyuban ilmu, semangat kultural kolegial dalam mengayuh peradaban manusia yang disebut dengan masyarakat madani. Sudah tidak dibutuhkan lagi idiom-idiom afala ta’kilun, afala tatafakkarun, afala tadzakkarun. Sindiran “apakah kau tidak berfikir, mengapa kau tidak menganalisis, mengapa kau tidak sadar’ hanya menjadi sindrom, racun yang ditakuti setiap manusia karena akan menempatkan mereka pada golongan khasirun. Sudah rugi gak entuk bati.
 
Kebahagiaanku sebagai makhluk merdeka adalah tatkala semua orang bisa menempatkan kemerdekaannya dimana mereka berada. Pun, tetap pada koridor, batasan-batasan dimana kemerdekaan tetap membutuhkan aturan. Makan soto, rawon itu nikmat tapi kalau perutmu sudah mancal-mancal, aturan fairnya kau harus sudahi nggragasmu mangan. Jika kau tak bisa menjaga objektivitas perut, maka segala penilaianmu tentang sesuatu akan jauh dari keadilan, pun juga objektivitas. Rentetannya demikian.  

Sabtu, 03 Agustus 2013

Firasat

Setiap orang dengan cara berfikirnya yang matang, sensivitas hatinya yang bekerja acapkali mendapat firasat dalam gerak langkahnya. Terlepas, bagaimana ia mengaktualisasikan firasatnya dalam lakon hidup yang ia jalankan.

Kayaknya, nanti pada usia 25 keatas, banyak sekali momentum ‘berat’ yang harus diperjuangkan, direnungkan, dibicarakan dengan serius, dirasakan betul-betul, agar hidup ini semakin matang dalam berproses. Hidup sekali, maka harus berarti. 

Kayaknya, harus benar-benar slulup untuk mencari sahabat sejati. Yang siap bergandeng tangan, berpeluk kasih dan cinta agar apa-apa yang bergobar dalam dada bisa direndam, bisa saling mengelus satu sama lain. melengkapi hasrat pengetahuan, dinamika cinta, kelaparan hidup, kesabaran, momong anak, tetangga, masyarakat, hingga bangsa dan Negara. 

Spiritual harus selalu tatag. Bismillah dengan kehendaknya. Urusan kodrat salah dan lupa menjadi keasyikan tersendiri untuk selalu bisa ngroso, ngrogoh sukmo bahwa kebenaran mutlak hanya berasal dari Tuhan. Manusia hanya menginterpretasikan ke dalam wilayah dan nilai-nilai kemaslahatan. 

Berpijak pada tiga tingkat kebenaran. Benere dewe, benere wong akeh, benere gusti Allah. 

Mumpung diciptakan sebagai manusia, berolah kekuatan untuk mendapatkan kebahagiaan tanpa batas. Meningkat dari kebagaiaan materi pada kebahagian cahaya, nur, jasadi rohani. 

Memanusiakan keharmonisan, men-sastrakan estetika, menggali peradaban mulia dan nyata. Membuka hijab mata akan sinar, pendaran-pendaran hidayah Allah di setiap sendi kehidupan.

Semua yang akan tersibak, mana mungkin terpahat dengan detail-detail bahasa yang akan disampaikan. Ia absurd, namun jelas. Ia samar, tapi menyimpan sinar kepastian. Bersenandung syair, yang setiap mentrum, diksi, pola kalimat yang diucap dan ditulis terasimilas dengan pengetahuan ilahiyah. Ladunni. 

Maka, jalan yang ditempuh mengharuskan untuk eling lan waspada. Menjaga lisan, karena ludah dan bau mulut yang keluar tunduk pada idu geni. Akal, hati, menyatu dalam sukma ilmu sangkan paraning dumadi. Ubun-ubun berpendar-pendar membikin saluran-saluran, frekuensi, gelombang akan hadirnya wahyu sejati. Sang hyang jamus kalimasada. Semua bingung harus berlindung dan meminta saran kepada siapa. Tidak ada kepemimpinan di negeri ini, yang ada hanya orang yang punya kuasa. Siapa yang berkuasa bukan berarti memimpin, dan siapapun yang memimpin ia pasti berkuasa. 

Berbondong-bondonglah manusia meneriakkan Tuhan di alam sadarnya. Ia mengiba, berusaha nyicil cinta, melakukan kebaikan-kebaikan, berharap uluran kasih Allah, rahmad Allah.  

Malang, 3 AGustus 2013  

Jumat, 02 Agustus 2013

LAKI-LAKI SEJATI



Cerpen Putu Wijaya

Seorang perempuan muda bertanya kepada ibunya.
Ibu, lelaki sejati itu seperti apa?

Ibunya terkejut. Ia memandang takjub pada anak yang di luar pengamatannya sudah menjadi gadis jelita itu. Terpesona, karena waktu tak mau menunggu. Rasanya baru kemarin anak itu masih ngompol di sampingnya sehingga kasur berbau pesing. Tiba-tiba saja kini ia sudah menjadi perempuan yang punya banyak pertanyaan.

Sepasang matanya yang dulu sering belekan itu, sekarang bagai sorot lampu mobil pada malam gelap. Sinarnya begitu tajam. Sekelilingnya jadi ikut memantulkan cahaya. Namun jalan yang ada di depan hidungnya sendiri, yang sedang ia tempuh, nampak masih berkabut. Hidup memang sebuah rahasia besar yang tak hanya dialami dalam cerita di dalam pengalaman orang lain, karena harus ditempuh sendiri.

Kenapa kamu menanyakan itu, anakku?
Sebab aku ingin tahu.
Dan sesudah tahu?
Aku tak tahu.

Wajah gadis itu menjadi merah. Ibunya paham, karena ia pun pernah muda dan ingin menanyakan hal yang sama kepada ibunya, tetapi tidak berani. Waktu itu perasaan tidak pernah dibicarakan, apalagi yang menyangkut cinta. Kalaupun dicoba, jawaban yang muncul sering menyesatkan. Karena orang tua cenderung menyembunyikan rahasia kehidupan dari anak-anaknya yang dianggapnya belum cukup siap untuk mengalami. Kini segalanya sudah berubah. Anak-anak ingin tahu tak hanya yang harus mereka ketahui, tetapi semuanya. Termasuk yang dulu tabu. Mereka senang pada bahaya.
Setelah menarik napas, ibu itu mengusap kepala putrinya dan berbisik.

Jangan malu, anakku. Sebuah rahasia tak akan menguraikan dirinya, kalau kau sendiri tak penasaran untuk membukanya. Sebuah rahasia dimulai dengan rasa ingin tahu, meskipun sebenarnya kamu sudah tahu. Hanya karena kamu tidak pernah mengalami sendiri, pengetahuanmu hanya menjadi potret asing yang kamu baca dari buku. Banyak orang tua menyembunyikannya, karena pengetahuan yang tidak perlu akan membuat hidupmu berat dan mungkin sekali patah lalu berbelok sehingga kamu tidak akan pernah sampai ke tujuan. Tapi ibu tidak seperti itu. Ibu percaya zaman memberikan kamu kemampuan lain untuk menghadapi bahaya-bahaya yang juga sudah berbeda. Jadi ibu akan bercerita. Tetapi apa kamu siap menerima kebenaran walaupun itu tidak menyenangkan?
Maksud Ibu?
Lelaki sejati anakku, mungkin tidak seperti yang kamu bayangkan.
Kenapa tidak?

Sebab di dalam mimpi, kamu sudah dikacaukan oleh bermacam-macam harapan yang meluap dari berbagai kekecewaan terhadap laki-laki yang tak pernah memenuhi harapan perempuan. Di situ yang ada hanya perasaan keki.
Apakah itu salah?

Ibu tidak akan bicara tentang salah atau benar. Ibu hanya ingin kamu memisahkan antara perasaan dan pikiran. Antara harapan dan kenyataan. 

Aku selalu memisahkan itu. Harapan adalah sesuatu yang kita inginkan terjadi yang seringkali bertentangan dengan apa yang kemudian ada di depan mata. Harapan menjadi ilusi, ia hanya bayang-bayang dari hati. Itu aku mengerti sekali. Tetapi apa salahnya bayang-bayang? Karena dengan bayang-bayang itulah kita tahu ada sinar matahari yang menyorot, sehingga berkat kegelapan, kita bisa melihat bagian-bagian yang diterangi cahaya, hal-hal yang nyata yang harus kita terima, meskipun itu bertentangan dengan harapan.
Ibunya tersenyum.
Jadi kamu masih ingat semua yang ibu katakan?
Kenapa tidak?
Berarti kamu sudah siap untuk melihat kenyataan?
Aku siap. Aku tak sabar lagi untuk mendengar. Tunjukkan padaku bagaimana laki-laki sejati itu.

Ibu memejamkan matanya. Ia seakan-akan mengumpulkan seluruh unsur yang berserakan di mana-mana, untuk membangun sebuah sosok yang jelas dan nyata.

Laki-laki yang sejati, anakku katanya kemudian, adalah… tetapi ia tak melanjutkan.
Adalah?
Adalah seorang laki-laki yang sejati.
Ah, Ibu jangan ngeledek begitu, aku serius, aku tak sabar.

Bagus, Ibu hanya berusaha agar kamu benar-benar mendengar setiap kata yang akan ibu sampaikan. Jadi perhatikan dengan sungguh-sungguh dan jangan memotong, karena laki-laki sejati tak bisa diucapkan hanya dengan satu kalimat. Laki-laki sejati anakku, lanjut ibu sambil memandang ke depan, seakan-akan ia melihat laki-laki sejati itu sedang melangkah di udara menghampiri penjelmaannya dalam kata-kata.
Laki-laki sejati adalah…
Laki-laki yang perkasa?!

Salah! Kan barusan Ibu bilang, jangan menyela! Laki-laki disebut laki-laki sejati, bukan hanya karena dia perkasa! Tembok beton juga perkasa, tetapi bukan laki-laki sejati hanya karena dia tidak tembus oleh peluru tidak goyah oleh gempa tidak tembus oleh garukan tsunami, tetapi dia harus lentur dan berjiwa. Tumbuh, berkembang bahkan berubah, seperti juga kamu.
O ya?

Bukan karena ampuh, bukan juga karena tampan laki-laki menjadi sejati. Seorang lelaki tidak menjadi laki-laki sejati hanya karena tubuhnya tahan banting, karena bentuknya indah dan proporsinya ideal. Seorang laki-laki tidak dengan sendirinya menjadi laki-laki sejati karena dia hebat, unggul, selalu menjadi pemenang, berani dan rela berkorban. Seorang laki-laki belum menjadi laki-laki sejati hanya karena dia kaya-raya, baik, bijaksana, pintar bicara, beriman, menarik, rajin sembahyang, ramah, tidak sombong, tidak suka memfitnah, rendah hati, penuh pengertian, berwibawa, jago bercinta, pintar mengalah, penuh dengan toleransi, selalu menghargai orang lain, punya kedudukan, tinggi pangkat atau punya karisma serta banyak akal. Seorang laki-laki tidak menjadi laki-laki sejati hanya karena dia berjasa, berguna, bermanfaat, jujur, lihai, pintar atau jenius. Seorang laki-laki meskipun dia seorang idola yang kamu kagumi, seorang pemimpin, seorang pahlawan, seorang perintis, pemberontak dan pembaru, bahkan seorang yang arif-bijaksana, tidak membuat dia otomatis menjadi laki-laki sejati!
Kalau begitu apa dong?

Seorang laki-laki sejati adalah seorang yang melihat yang pantas dilihat, mendengar yang pantas didengar, merasa yang pantas dirasa, berpikir yang pantas dipikir, membaca yang pantas dibaca, dan berbuat yang pantas dibuat, karena itu dia berpikir yang pantas dipikir, berkelakuan yang pantas dilakukan dan hidup yang sepantasnya dijadikan kehidupan.
Perempuan muda itu tercengang.
Hanya itu?
Seorang laki-laki sejati adalah seorang laki-laki yang satu kata dengan perbuatan!
Orang yang konsekuen?
Lebih dari itu!
Seorang yang bisa dipercaya?
Semuanya!
Perempuan muda itu terpesona.

Apa yang lebih dari yang satu kata dan perbuatan? Tulus dan semuanya? Ahhhhh! Perempuan muda itu memejamkan matanya, seakan-akan mencoba membayangkan seluruh sifat itu mengkristal menjadi sosok manusia dan kemudian memeluknya. Ia menikmati lamunannya sampai tak sanggup melanjutkan lagi ngomong. Dari mulutnya terdengar erangan kecil, kagum, memuja dan rindu. Ia mengalami orgasme batin.

Ahhhhhhh, gumannya terus seperti mendapat tusukan nikmat. Aku jatuh cinta kepadanya dalam penggambaran yang pertama. Aku ingin berjumpa dengan laki-laki seperti itu. Katakan di mana aku bisa menjumpai laki-laki sejati seperti itu, Ibu?

Ibu tidak menjawab. Dia hanya memandang anak gadisnya seperti kasihan. Perempuan muda itu jadi bertambah penasaran.
Di mana aku bisa berkenalan dengan dia?
Untuk apa?

Karena aku akan berkata terus-terang, bahwa aku mencintainya. Aku tidak akan malu-malu untuk menyatakan, aku ingin dia menjadi pacarku, mempelaiku, menjadi bapak dari anak-anakku, cucu-cucu Ibu. Biar dia menjadi teman hidupku, menjadi tongkatku kalau nanti aku sudah tua. Menjadi orang yang akan memijit kakiku kalau semutan, menjadi orang yang membesarkan hatiku kalau sedang remuk dan ciut. Membangunkan aku pagi-pagi kalau aku malas dan tak mampu lagi bergerak. Aku akan meminangnya untuk menjadi suamiku, ya aku tak akan ragu-ragu untuk merayunya menjadi menantu Ibu, penerus generasi kita, kenapa tidak, aku akan merebutnya, aku akan berjuang untuk memilikinya.
Dada perempuan muda itu turun naik.

Apa salahnya sekarang wanita memilih laki-laki untuk jadi suami, setelah selama berabad-abad kami perempuan hanya menjadi orang yang menunggu giliran dipilih?
Perempuan muda itu membuka matanya. Bola mata itu berkilat-kilat. Ia memegang tangan ibunya.
Katakan cepat Ibu, di mana aku bisa menjumpai laki-laki itu?
Bunda menarik nafas panjang. Gadis itu terkejut.
Kenapa Ibu menghela nafas sepanjang itu?
Karena kamu menanyakan sesuatu yang sudah tidak mungkin, sayang.
Apa? Tidak mungkin?
Ya.
Kenapa?
Karena laki-laki sejati seperti itu sudah tidak ada lagi di atas dunia.
Oh, perempuan muda itu terkejut.
Sudah tidak ada lagi?
Sudah habis.
Ya Tuhan, habis? Kenapa?
Laki-laki sejati seperti itu semuanya sudah amblas, sejak ayahmu meninggal dunia.
Perempuan muda itu menutup mulutnya yang terpekik karena kecewa.
Sudah amblas?

Ya. Sekarang yang ada hanya laki-laki yang tak bisa lagi dipegang mulutnya. Semuanya hanya pembual. Aktor-aktor kelas tiga. Cap tempe semua. Banyak laki-laki yang kuat, pintar, kaya, punya kekuasaan dan bisa berbuat apa saja, tapi semuanya tidak bisa dipercaya. Tidak ada lagi laki-laki sejati anakku. Mereka tukang kawin, tukang ngibul, semuanya bakul jamu, tidak mau mengurus anak, apalagi mencuci celana dalammu, mereka buas dan jadi macan kalau sudah dapat apa yang diinginkan. Kalau kamu sudah tua dan tidak rajin lagi meladeni, mereka tidak segan-segan menyiksa menggebuki kaum perempuan yang pernah menjadi ibunya. Tidak ada lagi laki-laki sejati lagi, anakku. Jadi kalau kamu masih merindukan laki-laki sejati, kamu akan menjadi perawan tua. Lebih baik hentikan mimpi yang tak berguna itu.
Gadis itu termenung. Mukanya nampak sangat murung.
Jadi tak ada harapan lagi, gumamnya dengan suara tercekik putus asa. Tak ada harapan lagi. Kalau begitu aku patah hati.
Patah hati?
Ya. Aku putus asa.
Kenapa mesti putus asa?
Karena apa gunanya lagi aku hidup, kalau tidak ada laki-laki sejati?
Ibunya kembali mengusap kepala anak perempuan itu, lalu tersenyum.

Kamu terlalu muda, terlalu banyak membaca buku dan duduk di belakang meja. Tutup buku itu sekarang dan berdiri dari kursi yang sudah memenjarakan kamu itu. Keluar, hirup udara segar, pandang lagit biru dan daun-daun hijau. Ada bunga bakung putih sedang mekar beramai-ramai di pagar, dunia tidak seburuk seperti yang kamu bayangkan di dalam kamarmu. Hidup tidak sekotor yang diceritakan oleh buku-buku dalam perpustakaanmu meskipun memang tidak seindah mimpi-mimpimu. Keluarlah anakku, cari seseorang di sana, lalu tegur dan bicara! Jangan ngumpet di sini!
Aku tidak ngumpet!
Jangan lari!
Siapa yang lari?
Mengurung diri itu lari atau ngumpet. Ayo keluar! 
Keluar ke mana?
Ke jalan! Ibu menunjuk ke arah pintu yang terbuka. Bergaul dengan masyarakat banyak.
Gadis itu termangu. 
Untuk apa? Dalam rumah kan lebih nyaman?
Kalau begitu kamu mau jadi kodok kuper!
Tapi aku kan banyak membaca? Aku hapal di luar kepala sajak-sajak Kahlil Gibran!

Tidak cukup! Kamu harus pasang omong dengan mereka, berdialog akan membuat hatimu terbuka, matamu melihat lebih banyak dan mengerti pada kelebihan-kelebihan orang lain.
Perempuan muda itu menggeleng.
Tidak ada gunanya, karena mereka bukan laki-laki sejati.
Makanya keluar. Keluar sekarang juga!
Keluar?
Ya.

Perempuan muda itu tercengang, suara ibunya menjadi keras dan memerintah. Ia terpaksa meletakkan buku, membuka earphone yang sejak tadi menyemprotkan musik R & B ke dalam kedua telinganya, lalu keluar kamar.

Matahari sore terhalang oleh awan tipis yang berasal dari polusi udara. Tetapi itu justru menolong matahari tropis yang garang itu untuk menjadi bola api yang indah. Dalam bulatan yang hampir sempurna, merahnya menyala namun lembut menggelincir ke kaki langit. Silhuet seekor burung elang nampak jauh tinggi melayang-layang mengincer sasaran. Wajah perempuan muda itu tetap kosong.
Aku tidak memerlukan matahari, aku memerlukan seorang laki-laki sejati, bisiknya.
Makanya keluar dari rumah dan lihat ke jalanan!
Untuk apa?

Banyak laki-laki di jalanan. Tangkap salah satu. Ambil yang mana saja, sembarangan dengan mata terpejam juga tidak apa-apa. Tak peduli siapa namanya, bagaimana tampangnya, apa pendidikannya, bagaimana otaknya dan tak peduli seperti apa perasaannya. Gaet sembarang laki-laki yang mana saja yang tergapai oleh tanganmu dan jadikan ia teman hidupmu!

Perempuan muda itu tecengang. Hampir saja ia mau memprotes. Tapi ibunya keburu memotong. Asal, lanjut ibunya dengan suara lirih namun tegas, asal, ini yang terpenting anakku, asal dia benar-benar mencintaimu dan kamu sendiri juga sungguh-sungguh mencintainya. Karena cinta, anakku, karena cinta dapat mengubah segala-galanya.
Perempuan muda itu tercengang.

Dan lebih dari itu, lanjut ibu sebelum anaknya sempat membantah, lebih dari itu anakku, katanya dengan suara yang lebih lembut lagi namun semakin tegas, karena seorang perempuan, anakku, siapa pun dia, dari mana pun dia, bagaimana pun dia, setiap perempuan, setiap perempuan anakku, dapat membuat seorang lelaki, siapa pun dia, bagaimana pun dia, apa pun pekerjaannya bahkan bagaimana pun kalibernya, seorang perempuan dapat membuat setiap lelaki menjadi seorang laki-laki yang sejati! ***

Denpasar, akhir 2004

Kamis, 01 Agustus 2013

Pernikahan yang menggaungkan ary

Menikah. Bagiku bukan hanya sebatas ikatan silaturahmi keluarga, juga ikatan suami istri yang hanya ngurusin anak, hubungan biologis, maupun ‘sebatas’ tuntutan usia serta kelangsungan atas keturunan. Bukan pula karena suatu dorongan, hasrat seks yang tidak tersalurkan. Sangat sempit memaknai perempuan hanya dalam batas ke-biologisannya. Walau tidak menampik, salah satu keindahan perempuan nyatanya memang terlihat dalam wadagnya, parasnya, tubuhnya, materi jasadnya. 

Menikah. Bagiku sangat picis hanya dimaknai sebatas ikatan horizontal antar laki-laki dan perempuan. Kohesi materi jasad yang tidak berumur panjang. Kebahagiaan sementara yang dipasung ruang dan waktu. Dinamika cinta sesaat yang tidak ter-prasasti dalam tinta sejarah yang itu sesungguhnya dicatat oleh Tuhan, bukan manusia. pernikahan adalah gaung langit yang menggetarkan asry, maka dari itu Tuhan memberi jaminan kebahagiaan yang disebut mawaddah warahmah. Malaikat tidak akan pernah memiliki kebahagiaan seperti demikian, karena mereka tidak pernah menikah seumur hidupnya, sepanjang ia diciptakan oleh Tuhan. 

Menikah. Sebuah ikatan, lembaga, instansi, untuk menciptakan ‘peradaban’ mulia, peradaban tentang kemanusiaan, tali asih, cinta yang sederhana namun memikat dan indah. Salah seorang kawan berkata ‘ pacaran itu enak, indah. Tapi kalau sudah menikah ndak enak, ndak indah’ . lho, kok bisa. Soalnya, pacaran itu enak, karena banyak setannya. Kalau sudah menikah, setannya nggak ada, jadi kurang indah. Aku ingin tertawa. Paradoksal. Keindahan syetan ternyata lebih nikmat daripada keindahan yang diciptakan Tuhan. 

Di dalam diri perempuan, dalam hatinya, perasaannya, cara berfikirnya, penataan mentalnya, naluri keibuannya, bukankah itu sebuah keindahan mutlak yang tidak bisa ditawar. Hanya kita saja yang terlalu asyik dengan mengeksploitasi seksualitasnya, biologisnya, sebagai kenikmatan indrawi. Sudrun..sudrun.. tolong mbah Sudrun.

            Pernikahan yang dilandasi cinta kasih ikhlas, tulus, apa adanya akan menciptakan kebahagiaan material yang akan meningkat pada level kebahagiaan yang bersifat cahaya. Nur. Sang suami atau istri akan saling melengkapi jasadi, rohaninya, satu sama lain. Itulah sakinah. 

Malang, 1 Agustus 2013