Sabtu, 01 Juni 2013

Aliran-aliran Sesat di Indonesia

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
        Perkembangan akan pemahaman Islam dari dahulu hingga sekarang memunculkan aliran-aliran/ ide-ide yang berbeda-beda. Beberapa tahun terakhir ini di Indonesia banyak ditemukan aliran-aliran yang menyimpang dari syariat dan ketentuan Islam atau biasa disebut dengan aliran sesat.
        Aliran-aliran tersebut muncul dan menyebabkan konflik atau pertentangan diantara kaum muslimin dengan pengikut aliran sesat tersebut. Diantara aliran-aliran tersebut, yang ada dan tersebar di Indonesia adalah: Syiah di Indonesia, Ahmadiyah, LDII atau Lembaga Dakwah Islam Indonesia biasa disebut Lemkari, Zaytun, dan lain sebagainya. Oleh karena itu penulis akan menjelaskan aliran-aliran tersebut.   

1.2 Rumusan Masalah
        Berdasarkan latar belakang di atas, penulis mempunyai rumusan masalah sebagai berikut:
a.    Apa dan bagaimana pengertian aliran sesat?
b.    Apa saja faktor-faktor munculnya aliran sesat?
c.    Apa saja macam-macam aliran sesat di Indonesia?
d.    Bagaimana solusi terhadap pengaruh aliran sesat?

1.3 Tujuan
        Dari rumusan masalah di atas, penulis mempunyai tujuan sebagai berikut:
a.    Mengetahui pengertian aliran sesat
b.    Mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan munculnya aliran sesat
c.    Mengetahui macam-macam aliran sesat di Indonesia  
d.    Mengetahui cara atau solusi agar tidak terpengaruh aliran sesat

BAB II
PEMBAHASAN
A.     Pengertian Aliran Sesat dan Faktor yang Menyebabkannya

Mengenai pengertian aliran sesat, ada beragam versi. Ketua Dewan Fatwa MUI, KH. Ma'ruf Amin, mendefinisikan aliran sesat adalah aliran di luar kesepakatan wilayah perbedaan dan melenceng di luar manhaj yang shahih. Sedangkan menurut KH Miftah Faridl, suatu tindakan dikategorikan sesat apabila pelakunya menggunakan nama Islam tapi ajaran yang dianut dan disebarkannya tidak sesuai dengan ajaran pokok Islam yang prinsip. Misalnya, mereka tidak percaya dengan wajibnya shalat lima waktu, atau mereka tidak percaya pada As-Sunah (Hadis) sebagai salah satu sumber hukum Islam. Pada intinya, aliran sesat adalah aliran yang paham atau ajarannya tidak sesuai dengan Al- qur’an dan hadits.
Adapun faktor – faktor yang menyebabkan munculnya berbagai aliran sesat secara umum adalah sebagai berikut:
·           Ditinjau dari latar belakang orang yang mengikuti aliran sesat[1]
1)     Keawaman tentang agama
Sudah menjadi pemandangan umum di mana-mana, bahwa banyak orang yang mengaku beragama islam tetapi tidak banyak tahu tentang ajaran-ajarannya, kecuali hanya sebatas shalat, puasa, zakat, dan haji. ada sangat banyak permasalahan aqidah (keyakinan) yang wajib diketahui oleh setiap muslim, dan dengan itu maka ia dapat terselamatkan dari pengaruh paham sesat.
2)     Kekaguman
Banyak orang yang memutuskan untuk mengikuti paham seseorang tentang agama semata-mata karena kagum pada kemampuan pribadi orang tersebut, seperti: Hafal al-Qur'an, hafal hadis, sering mengeluarkan dalil, mengemukakan pemikiran yang terkesan baru ditemui, kepribadian yang menyenangkan, cara dakwah yang simpatik, dan lain sebagainya yang membuat seseorang merasa baru menemukan pencerahan dan jalan kebenaran di dalam beragama.
3)     Kebutuhan materi atau faktor ekonomi
Takut lapar dan kesusahan menjadi peluang paling mudah bagi orang-orang sesat untuk merekrut pengikut, terlebih bagi golongan sesat yang berkelebihan materi atau sumber-sumber dana. Mereka dapat menarik simpati korbannya dengan lebih dulu mengambil simpati melalui program-program santunan atau bantuan bahan makanan. Setelah tumbuh kepercayaan mereka terhadap para penyantun, jadilah mereka seperti kerbau yang dicocok hidung; ke mana saja ikut yang penting makan.
Bukan hanya orang yang takut lapar atau susah yang mudah diperdaya dengan cara seperti itu. Orang-orang yang punya kepentingan bisnis atau keuntungan materi pun bisa menjadi sasaran empuk kesesatan mereka, yang dengan mudah dapat diperdayai dengan hubungan kerja sama, peluang bisnis, peluang kerja, bantuan modal, dukungan dana, atau pemberian hadiah.
·           Ditinjau dari ulama’ atau ahli agama[2]
1)         Belum mampu menyebarkan informasi Islam yang benar dan lengkap ke semua komponen masyarakat.
2)         Belum bisa memberikan teladan kepada masyarakat.
3)         Belum mampu menyumbangkan solusi praktis bagi permasalahan umat.
4)         Belum mampu mengantisipasi secara dini rongrongan “pihak asing”.

B. Ciri – ciri Aliran Sesat

Diantara ciri – ciri sebuah aliran dapat dikatakan sesat adalah sebagai berikut:[3]
1.  Mengutamakan akal diatas hadits-hadits shahih;
2.  Berusaha mementahkan hukum-hukum islam dengan akalnya, membantah hadits-haidts shahih dengan akalnya;
3.  Memalingkan tafsir ayat-ayat Al quran agar sesuai dengan hawa nafsunya, alias menafsirkan ayat-ayat Al Quran seenaknya sendiri;
4.  Ajarannya bersifat rahasia, tidak terbuka untuk umum, pengajarannya bersifat tertutup, hanya untuk kalangannya sendiri;
5.  Tidak berani terang-terangan menyampaikan ajaran kelompoknya kepada public;
6.  Mewajibkan pengikutnya menyerahkan harta, meskipun berkedok untuk infak/shadaqah, apalagi jika angkanya besar, misalnya 20% dari gaji, terutama jika penggunaan dana tersebut tidak transparan;
7.  Menganggap kafir mayoritas umat islam yang bukan kelompoknya (takfiri);
8.  Menganggap pemeluk agama lain juga akan masuk surga (pluralisme);
9.  Menganggap negara indonesia tidak berlu memakai hukum islam (sekulerisme);
10. Melakukan ritual-ritual yang tidak diajarkan nabi, yang tidak ada dalilnya dari hadits-hadits shahih;
11. Mendukung terorisme.



C.    Macam – Macam Aliran Sesat

a)     LDII
Sejarah singkat LDII
LDII adalah nama baru dari sebuah aliran sesat terbesar di Indonesia, yang selama ini sudah sering berganti nama karena sering dilarang oleh pemerintah Indonesia. Lembaga ini didirikan oleh Mendiang Ubaidah Lubis. Diantara nama- nama LDII pada zaman dahulu adalah Darul Hadits (1951), Islam Jama’ah, LEMKARI, dan yang terakhir LDII(1990).
Keberadaan LDII mempunyai akar kesejarahan dengan Darul Hadist/Islam Jamaah yang didirikan oleh H. Nur Hasan Al Ubaidillah pada tahun 1951. Setelah aliran tersebut dilarang pada tahun 1971, kemudian berganti nama dengan Lembaga Karyawan Islam (LEMKARI) pada tahun 1972, selanjutnya LEMKARI  tahun 1972 tersebut berganti nama lagi dengan Lembaga karyawan Islam pada tahun 1981 yang disingkat juga yaitu LEMKARI (1981). Dan kemudian berganti nama lagi dengan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) pada tahun 1990 sampai sekarang. Penggantian nama tersebut dikaitkan dengan upaya pembinaan Darul Hadits/Islam Jamaah agar mereka meninggalkan ajaran Darul Hadits/Islam Jamaah yang telah dilarang tersebut.[4]
Pokok-pokok Ajaran LDII
1. Orang Islam di luar kelompok mereka adalah kafir dan najis, termasuk kedua orang tua sekalipun.
2. Wajib taat kepada amir atau imam.
3. Alquran dan hadist yang boleh diterima adalah yang manqul yang keluar dari mulut imam atau amir mereka.
“Barang siapa yang mengucapkan (menerangkan) kitab Allah yang Maha Mulia dan Maha Agung dengan pendapatnya (secara tidak manqul) walau benar maka sungguh ia telah salah”.[5]
Dengan ilmu manqul amal ibadah seseorang menjadi sah, diterima oleh Allah, diberi pahala oleh Allah, dan dimasukkan surga. Tetapi tanpa manqul ibadah seseorang tidak sah dan dimasukkan neraka. Hal ini berdasarkan dalil:
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung jawabnya”. (Al-Isra’: 36)
 4. Dosa bisa ditebus kepada sang amir atau imam.
5. Infak sadaqah dan zakat hanya diperuntukkan amir atau imam dan haram berinfak kepada orang lain.
6. Halal mengambil harta milik orang lain di luar kelompok mereka.
7. Haram nikah di luar kelompok mereka.

b)     Ahmadiyah

Gerakan Ahmadiyah didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad di India. Ahmadiyah masuk Indonesia pada tahun 1935, kini sudah mempunyai 200 cabang, terutama Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatra Barat, Palembang, Bengkulu, Bali, NTB, dan lain- lain. Aliran ini sudah banyak dilarang secara lokal/daerah, tetapi belum secara nasional.[6]

Pokok-pokok ajaran ahmadiyah[7]
1.    Mirza Ghulam mengaku dirinya nabi dan rasul utusan Tuhan
2.    Mereka meyakini bahwa kitab suci Tadzkiroh sama sucinya dengan kitab suci Al-qur’an, karena sama-sama wahyu dari Tuhan
3.    Wahyu tetap turun sampai hari kiamat, begitu juga nabi dan rasul tetap diutus sampai hari kiamat juga
4.    Mereka mempunyai tempat suci tersendiri yaitu qadian dan rabwah
5.    Wanita Ahmadiyah haram menikah dengan non- Ahmadiyah tetapi lelaki Ahmadiyah boleh menikah dengan wanita non- Ahmadiyah
6.    Tidak boleh bermakmum dengan imam yang bukan Ahmadiyah
7.    Ahmadiyah mempunyai tanggal, bulan dan tahun sendiri, yaitu: 1. Suluh 2. Tabligh 3. Aman 4. Syahadah 5. Hijrah 6. Ihsan 7. Wafa 8. Zuhur 9. Tabuk 10. Ikha 11. Nubuwwah 12. Fatah. Sedang nama tahun mereka adalah Hijri syamsi.

c)     Syi’ah
     Syi’ah dilihat dari segi bahasa berarti pengikut, pendukung, partai, atau  kelompok. Sedangkan secara terminologis adalah sebagian kaum muslimin yang dalam bidang spiritual dan keagamaannnya selalu merujuk pada keturunan nabi Muhammad saw atau orang yang disebut ahl bait. Poin penting dalam doktrin Syi’ah adalah pernyataan bahwa segala petunjuk agama itu bersumber dari ahlul bait, mereka menolak petunjuk yang berasal dari para sahabat selain ahl bait atau para pengikutnya.[8]
     Gerakan syiah di Indonesia luar biasa aktifnya. Mereka sangat pintar menempatkan orang-orangnya di posisi penting serta sangat lihai melobi para pejabat pemerintah. Kelompok syiah Indonesia dengan dukungan yang terang-terangan dari kedutaan besar Iran di Jakarta. Posisi yang mereka atur antara lain adalah:[9]
1.      Dr. Jalaluddin Rachmat untuk menggarap keluarga mantan wakil Presiden Soedarmonno serta kelompok elit kebayoran Baru dengan menggunakan Yayasan (pengajian sehati).
2.      Ir. Haidar Bagir (pemimpin di Harian Umum Republika) menggarap orang-orang dekat Habibie (ketua ICMI- Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia- yang kemudian jadi WAPRES dan sempat jadi Presiden sementara melanjutkan Soeharto) dan kelompok intelektual lainnya.
3.      Prof. Dr. Quraisy Shihab yang menggarap tokoh agama termasuk Majelis Ulama Indonesia, kalau ada keputusan MUI yang mau keras terhadap aliran-aliran sempalan. Dan dengan pendekatannya yang intensif dengan keluarga cendana akhirnya dia terpilih menjadi menteri agama pada cabinet pembangunan VII, sehingga LPPI mengeluarkan brosur kecil yang berjudul: Syiah dan Quraisy Shihab. Seandainya dia terpilih lagi menjadi Menteri Agama oleh Presiden Habibie, maka LPPI akan menerbitkan buku yang lengkap tentang Quraisy Shihab mengenai keterlibatannya dengan Syiah terutama mengenai buku-buku tulisannya.
Gerakan Syiah di Indonesia mempunyai beberapa percetakan penerbitan besar serta modern untuk menerbitkan buku-buku syiah. Menurut LPII tahun 1996 yang lalu, mereka telah menyebarkan 82 jilid buku tentang Syiah.

d)     NII KW IX
NII KW IX adalah kepanjangan dari Negara Islam Indonesia komandan wilayah IX. Dalam kurun waktu di bawah kepemimpinan H. Abdul karim dan H. Muhammad Rais dari tahun 1984-1992 maupun di bawah kepemimpinan Abu Toto Asy-syaikh AS Panji Gumilang sejak dari tahun 1992 s/d 2001 telah menimbulkan banyak korban. Suatu tindakan pemurtadan sekaligus penindasan dan kemiskinan telah berlangsung terhadap umat islam Indonesia yang dilakukan oleh KW IX di Indramayu, jawa barat, gerakan sesat yang mengatas namakan NII di balik pesantren mewah al-zaitun. Suatu tindak kejahatan politik, social dan pelanggaran ham yang sangat serius yang mungkin belum pernah dilakukan oleh kelompok sempalan manapun yang ada dalam masyarakat dan bangsa Indonesia.
Penyimpangan NII[10]
1.     Penyimpangan akidah
NII menciptakan syirik. Aliran ini menyusun sistematika tauhid secara serampangan. Diantara paham sesat ketauhidan mereka adalah sebagai berikut:
1)     Mereka mengumpamakan Tauhid rububiyah dengan kayu, mulkiyah adalah batang kayu dan uluhiyah adalah buahnya. Selain itu mereka juga menafsirkan rububiyah dengan undang-undang, mulkiyah adalah Negara dan uluhiyah adalah umatnya.[11]
2)     Meyakini kerasulan dan kenabian itu tidak akan berakhir selama masih ada orang yang menyampaikan dakwah Islam kepada manusia
3)     Menciptakan ajaran dan keyakinan tentang adanya otoritas nubuwwah pada diri dan kelompok mereka dalam menerima, memahami, dan menjelaskan serta melaksanakan Al-qur’an dan hadist hingga tegaknya syari’ah dan kekhalifahan di muka bumi.
4)     Melakukan tipu daya kepada pengikutnya dengan memberikan iming-iming pangkat ataupun jabatan serta futuh, yang dalam istilah mereka merujuk pada sebuah ayat “nashrun minallahi wafathun qariib”.

2.     Penyimpangan syariah
1)     Mengubah syariah zakat fitri
Bagi mereka pembayaran zakat bukanlah senilai 3,5 liter sebagaimana yang telah ditentukan dalam Islam, akan tetapi bagi mereka pembayaran zakat lebih besar dari itu. Yang mana hasil dari zakat ini pada hakikatnya tidak disampaikan pada mustahiqin tetapi dipakai untuk kepentingan pribadi.
2)     Mengubah Syari’at Qurban
Bagi mereka berkurban bukan harus dengan binatang akan tetappi dengan barang lain juga sah dengan dalil “qurban adalah apa-apa yang bisa mendekatkan diri kepada Allah dengan cara menyembelih atau dengan yang lainnya”.[12]


BAB III
PENUTUP

1.     Kesimpulan
Dari pemaparan tentang aliran- aliran sesat yang telah dipaparkan di dalam pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa:
·         Aliran sesat adalah aliran penganut ajaran yang telah menyimpang dari ajaran yang sebenarnya, yakni Al- qur’an dan hadits.
·         Aliran sesat telah menyebar di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Aliran- aliran tersebut antara lain: NII KW IX, LDII, Inkar Sunah, Ahmadiyah, Isa Bugis, Lembaga Kerasulan dan Salamullah-nya Lia Aminuddin.
·         Diantara faktor yang menyebabkan munculnya aliran – aliran tersebut adalah: kebelum mampuan umat Islam/ ahli agama menyebarkan informasi Islam yang benar dan lengkap ke semua komponen masyarakat, belum bisa memberikan teladan kepada masyarakat, belum mampu menyumbangkan solusi praktis bagi permasalahan umat, dan belum mampu mengantisipasi secara dini rongrongan “pihak asing”.

2.     Saran
Mengingat begitu banyaknya aliran sesat yang telah menyebar di sekitar kita, maka hendaknya kita waspada dan berhati- hati dalam menanggapi berbagai paham atau ajaran yang baru kita terima. Beberapa hal yang dapat kita lakukan(sebagai orang yang awam terhadap agama) untuk menghindari keterjebakan dalam aliran sesat adalah:
a.    Menghindari pembahasan agama dengan mereka kecuali kita telah memiliki pemahaman yang matang tentang agama Islam yang benar sehingga tidak terbawa oleh arus kesesatan.
b.    Meminjami mereka buku- buku yang berkaitan dengan paham mereka yang telah ditulis oleh ulama terdahulu.
c.    Mengajak mereka kepada guru atau kiai yang memiliki pengetahuan yang matang tentang agama.
d.    Menunjukkan penolakan secara tegas
Sedangkan kepada para ahli agama (ulama’) yang benar - benar telah memahami agama, maka hendaknya meneruskan dakwah Islam secara merata ke semua komponen masyarakat dengan cara yang sesuai situasi dan kondisi masyarakat sebagai penerima ajaran Islam yang mereka sampaikan sehingga ajaran tersebut mudah dipahami dan tidak dianggap mempersulit.



Daftar Pustaka
Ahmad, Hartono. 2002. Aliran dan Paham Sesat di Indonesia. Jakarta: Pustaka Al- kautsar.
Rozak, Abdul dan Anwar, Rosihon. 2009. Ilmu Kalam Untuk UIN, STAIN, PTAIS. Bandung: Pustaka Setia.
Hafiluddin, Bambang Irawan. 1999. Bahaya Islam Jama’ah, LEMKARI, LDII. Jakarta: Al- kautsar.
Stroumsa, Sarah. 2006. Para Pemikir Bebas Islam, Mengenal Pemikiran Teologi Ibn Ar- Rawandi dan Abu Bakar Ar- Rozi. Yogyakarta: LkiS Pelangi Aksara.
Djamaluddin, M. Amin. 2003. Capita Selekta Aliran – aliran Sempalan Di Indonesia. Jakarta: Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam.
Departemen Agama RI. 2007. Respon Pemerintah, ORMAS, dan Masyarakat Terhadap Aliran Keagamaan Di Indonesia. Jakarta: Puslitbang Kehidupan Keagamaan.
file:///C:/Documents%20and%20Settings/Aspire%20one/My%20Documents/newwwwwwwwww/Fenomena%20Aliran%20Sesat%20dan%20Refleksi%20bagi%20Umat%20%C2%AB%20Our%20Indonesia.htm



[1] KH. Siradjuddin Abbas dalam bukunya “I'tiqad Ahlus-Sunnah wal-Jama'ah”.
[2] Syekh Ali Jum'ah seorang Mufti di Mesir dalam bukunya “Kupas Tuntas Ibadah-ibadah Diperselisihkan
[3] Al-khayyath, kitab al- intishar, hal:123 dalam buku “Para Pemikir Bebas Islam”.
[4]Debby Murti Nasution. Bahaya Islam Jama’ah, LEMKARI, LDII. Hal: 20
[5] HR. Abu Dawud yang telah dimanipulasi oleh LDII, dalam buku Capita Selekta Aliran – aliran Sempalan Di Indonesia.
[6] Hartono Ahmad Jaiz. Aliran dan Paham Sesat di Indonesia. Hal: 56
[7] Hartono Ahmad Jaiz. Aliran dan Paham Sesat di Indonesia. Hal: 57
[8] Abdul Rozak, 2009. Hal: 89
[9] Hartono Ahmad Jaiz. Aliran dan Paham Sesat di Indonesia. Hal: 114-115
[10] MBM Al- Zaytun 6-7 tahun 2000 hlm: 99wawancara dengan Imam Shalahuddin (mantan NIIKWIX) dalam buku “Aliran dan Paham Sesat di Indonesia karya Hartono Ahmad Faiz”.
[11] Majalah al-zaitun no.11 th.2000hlm.31 tulisan Guru MAZ dalam buku “Aliran dan Paham Sesat di Indonesia karya Hartono Ahmad Faiz”.
[12] Kamus Al- Munjid hal. 617

Senin, 13 Mei 2013

Menangis

Oleh : Emha Ainun Nadjib
 
Sehabis sesiangan bekerja di sawah-sawah serta disegala macam yang diperlukan oleh desa rintisan yang mereka dirikan jauh di pedalaman, Abah Latif mengajak para santri untuk sesering mungkin bershalat malam.

Senantiasa lama waktu yang diperlukan, karena setiap kali memasuki kalimat “iyyaka na’budu….”. Abah Latif biasanya lantas menangis tersedu-sedu bagai tak berpenghabisan.
Sesudah melalui perjuangan batin yang amat berat untuk melampaui kata itu, Abah Latif akan berlama-lama lagi macet lidahnya mengucapkan “wa iyyaka nasta’in….”
Banyak di antara jamaah yang bahkan terkadang ada satu dua yang lantas ambruk ke lantai atau meraung-raung.

“Hidup manusia harus berpijak, sebagaimana setiap pohon harus berakar”, berkata Abah Latif seusai wirid bersama, “Mengucapkan kata-kata itu dalam Al-Fatihah pun harus ada akar dan pijakannya yang nyata dalam kehidupan. Harus di situ titik beratnya bukan sebagai aturan, melainkan memang demikianlah hakekat alam, di mana manusia tak bisa berada dan berlaku selain di dalam hakekat itu”.

“Astaghfimllah, astaghfirullah”, geremang turut menangis mulut parasantri.

“Jadi, anak-anakku”, beliau melanjutkan, “apa akar dan pijakan kita dalam rnengucapkan kepada Allah iyyaka na’budu?”

“Bukankah tak ada salahnya mengucapkan sesuatu yang toh baik dan merupakan bimbingan Allah itu sendiri, Abah?” bertanya seorang santri.

“Kita tidak boleh mengucapkan kata, Nak, kita hanya boleh mengucapkan kehidupan”.

“Belum jelas benar bagiku, Abah”.

“Kita dilarang mengucapkan kekosongan, kita hanya diperkenankan mengucapkan kenyataan”. “Astaghfirullah, astaghfirullah”, geremang mulut para santri terhenti ucapannya. Dan Abah Latif meneruskan, “Sekarang ini kita mungkin sudah pantas mengucapkan iyyaka na’budu. Kepada-Mu aku menyembah. Tetapi Kaum Muslimin masih belum memiliki suatu kondisi keumatan untuk layak berkata kepada-Mu kami menyembah, na’budu”.

“Al-Fatihah haruslah mencerminkan proses dan tahapan pencapaian sejarah kita sebagai diri pribadi serta kita sebagai umatan wahidah. Ketika sampai di kalimat na’budu, tingkat yang harus kita capai telah lebih dari ‘abdullah, yakni khalifatullah. Suatu maqam yang dipersyarati oleh kebersamaan Kaum Muslimin dalam menyembah Allah di mana penyembahan itu diterjemahkan ke dalam setiap bidang kehidupan. Mengucapkan iyyaka na’budu dalam shalat mustilah memiliki akar dan pijakan di mana kita Kaum Muslimin telah membawa urusan rumah tangga, urusan perniagaan, urusan sosial dan politik serta segala urusan lain untuk menyembah hanya kepada Allah. Maka, anak-anakku, betapa mungkin dalam keadaan kita dewasa ini lidah kita tidak kelu dan airmata tak bercucuran tatkala harus mengucapkan kata-kata itu?”

“Astaghfirullah, astaghfirullah”, geremang mulut para santri.

“Al-Fatihah hanya pantas diucapkan apabila kita telah saling menjadi khalifatullah di dalam berbagai hubungan kehidupan. Tangis kita akan sungguh-sungguh tak berpenghabisan karena dengan mengucapkan wa iyyaka nasta’in, kita telah secara terang-terangan menipu Tuhan. Kita berbohong kepada-Nya berpuluh-puluh kali dalam sehari. Kita nyatakan bahwa kita meminta pertolongan hanya kepada Allah, padahal dalam sangat banyak hal kita lebih banyak bergantung kepada kekuatan, kekuasaan dan mekanisme yang pada hakekatnya melawan Allah”.

“Astaghfirullah, astaghfirullah”, gemeremang para santri.

“Anak-anakku, pergilah masuk ke dalam dirimu sendiri, telusurilah perbuatan-perbuatanmu sendiri, masuklah ke urusan-urusan manusia di sekitarmu, pergilah ke pasar, ke kantor-kantor, ke panggung-panggung dunia yang luas: tekunilah, temukanlah salah benarnya ucapan-ucapanku kepadamu. Kemudian peliharalah kepekaan dan kesanggupan untuk tetap bisa menangis. Karena alhamdulillah seandainya sampai akhir hidup kita hanya diperkenankan untuk menangis karena keadaan-keadaan itu: airmata saja pun sanggup mengantarkan kita kepada-Nya!”
Malang, 03 Rajab 1434/13 Mei 2013

Minggu, 12 Mei 2013

Merancang nasib

Tidak ada salahnya kok jika semua konco-konco mulai merangkai hidupnya untuk beberapa tahun kemudian. Mau menjadi apa, berprofesi dimana, ingin berkarier sampai dihari tua, apapun saja untuk kepentingan maslahat dirinya. Itu semua sekali lagi tidak salah, bahkan suatu kewajiban moral yang harus dipertanggungjawabkan. Mumpung masih muda, mumpung jek semangat, mumpung masih bisa berfikir cerdas, dan tidak gampang lupa. 

Sedemikian rupa aku tidak membatasi diri untuk bisa bergaul dengan siapa saja. Tanpa pandang bulu, ora ono pilih-pilih. Tampan, cantik, banci, meril, bondet, seng ora tahu sholat, sing paling alim, konco-konco aktivis, anak-anak kecil, ahli wiridan, bisnisman, tukang tambal ban, bakul gorengan—mereka adalah guru kehidupan, cermin kepribadian yang paling nyata untuk disinauni, diajak diskusi. 

Elaborasi dari banyaknya pergaulan itulah yang akan bisa menata seberapa bisa aku mempetakan diri ini akan menjadi apa dalam beberapa tahun ke depan. Suatu misal, seorang kawanku pada suatu kesempatan membombardir aku akan bodohnya manusia yang tidak bisa berfikir matang sesungguhnya ia harus menjadi apa dan harus berbuat apa—untuk sekarang dan dimasa depan. 

Kowe kudu nyelengi duwet Bro, biar kelak kamu punya simpanan ekonomi. Buat biaya nikahmu, istrimu, anak-anakmu” 

“ Apa harus selalu begitu ? “ jawabku

“ Ya iyalah. Itu harus. Karena ini masa depan. Kita itu tidak selamanya bisa mandiri. Minta duet ortu, ngutang sana-sini yang akhirnya kita sendiri yang repot. Kapitalisme global sangat mendominasi tatanan cara berfikir manusia hingga titik yang paling radikal sekalipun” 

Kawanku satu ini memang sangat matematis, pragmatis cara menata hidupnya. Termasuk dalam hal ekonomi. Dalam kesempatan yang lain. Dengan teman yang berbeda. 

“ Sesungguhnya bukan harta yang menjadi celengan kita And. Kamu lihat disekelilingmu. Makhluk-makhluk Tuhan yang bertebaraan di seluruh jagad raya ini. Semut, kadal, capung, tikus, Jin, Iblis, malaikat sudah dijamin takaran rizkinya sama Tuhan. 

“ Terus”

“ Yang kita tabung, yang kita celengi adalah tabungan kebaikan, tabungan kemulyaan, nilai kebenaran, resistensi berfikir yang jernih dan koreksi atas apa yang sudah kita lakukan. Dalam momentum hidup kita yang bermacam-macam nanti kamu akan lebih dulu ditolong Tuhan karena tabungan kebaikan dan celengan kemulyaanmu banyak” 

Temanku ini sedikit sufi. Tawakkalnya sama Tuhan begitu mantap, hingga meresap pada cara berfikirnya, penataan hati dan akalnya, hingga ketika ia menjalani hidup yang dilaluinya. Dengan sahabatku yang lain. 

“ Sudahlah. Mengalir saja seperti air. Berkilo-kilo, bermil-mil air yang mengalir pasti ada muaranya juga. Ia tetap akan menemukan titik pemberhetiannya. Entah di solokan, sungai, bengawan, laut, ataupun samudra. Tuhan ada disetiap aliran itu, didalam muara itu. tak usah kamu melakukan apa-apa, tak perlu bersusah-susah mau menjadi apa dan berkarier dimana. Ikut saja sama ketentuan takdir dan jalani hidup ini dengan positive thinking. Tuhan tahu yang terbaik”. 

  Pasrah total maksudmu..? “

 Seperti itulah kira-kira”

            Begitu kompleks, asyik, aneh cara berfikir manusia di dunia ini. Dalam menata dirinya, memimpin masyarakatnya, menentukan kehendaknya, mencari tahu siapa dirinya dengan pola serta karakter yang Tuhan tiupkan di setiap akal dan hati mereka. 

            Maka, begitu sombongnya dan angkuhnya jika anda menjadi manusia yang paling benar, paling pinter, paling bijaksana, dan paling-paling yang lain. Anda sudah berani mengkerek pada Tuhan. Nyolong baju kesombonganNya. 

2 Rajab 1433, 12 Mei 2013