Rabu, 27 Maret 2013

Lunga ! Kaji. Sekarang juga bisa.



Tak perlu menunggu tahun ini.
Tingginya animo masyarakat yang ingin pergi haji/lunga kaji/naik haji ke Mekkah menimbulkan sejumlah keterpendingan (ketertundaan) yang harus dilakukan oleh pemerintah, karena keterbatasan kuota yang tersedia dibandingkan jumlah pendaftar naik haji dari tahun ke tahun. Bahkan untuk 10 (sepuluh) tahun yang akan datang pun sebagian kuota telah terpenuhi. Untuk wilayah Jatim saja berlaku daftar tahun sekarang (2011), berangkat tahun 2021.
Dan sejumlah keterpendingan itu tentunya menimbulkan dana tertahan bertahun-tahun di bank, yang memungkinkan bank mengelola untuk aktivitas perbankkan yang ada (misalnya kredit-kredit (KPR dll) di masyarakat melalui BPR, bank thithil, lembaga finance) dan macet serta sulit mengembalikannya. Namun yang terpenting adalah memicu peredaran rente/riba/duit bunga berbunga yang semakin tak terkendali dan menimbulkan sejumlah kredit macet di masyarakat saat ini. Hal ini cukup beralasan, karena uang yang terlanjur masuk dalam pendaftaran ongkos naik haji (ONH) sangat sulit ditarik kembali oleh pemiliknya sekalipun dengan berbagai macam alasannya.
 Animo yang demikian besar untuk naik haji/lunga kaji menunjukkan, bahwa setiap orang ingin mulia di hadapan Tuhannya. Dan salah satunya adalah menjadi seorang haji/kaji. Namun selama itukah untuk mendapatkan kemuliaan yang dicita-citakan ? Padahal  kalau bisa sekarang, mengapa harus menunggu besok, apalagi 10 (sepuluh) tahun yang akan datang ?
            Keterpendingan sebenarnya bukan idealisme bagi setiap calon jamaah haji (CJH), karena kalau bisa sekarang mengapa harus tahun ini, apalagi 10 (sepuluh) tahun yang akan datang ? Namun kebijakan kuota pengunjung Mekkah al-Mukarromah yang ditetapkan oleh pemerintah Arab Saudi memang harus diberlakukan, karena keterbatasan fasilitas dan tempat (terutama) di Mekkah itu sendiri, walaupun kebijakan itu tentu ”merugikan” bagi CJH yang mengalami ketertundaan cita-citanya mendapat kemuliaan yang diinginkan yaitu menjadi haji yang mabrur yang tiada balasannya kecuali surga.
            Kalau menilik sejumlah keterpendingan pemberangkatan dari pembayaran ONH yang ada, mungkin Tuhan belum berkenan menerima para tamuNya, karena dianggap belum memenuhi syarat-syarat tamu Tuhan yang menjadi haji mabrur, sehingga untuk itu (haji para CJH melalui ONH) harus dipending terlebih dulu. Demikiankah ? Hanya Tuhanlah yang maha mengetahuinya. Namun demikian ada sedikit celah penerang yang bisa memberikan informasi, salah satunya yaitu melalui istilah naik haji dan lunga kaji.

Naik Haji       
Naik merupakan aktivitas seseorang dari tempat/kelas/strata/tingkat yang rendah ke tempat/kelas/strata/grade yang lebih tinggi. Demikian juga jarang sekali orang yang memaknai naik haji, sebagai sebuah kenaikan ke strata/tingkat yang lebih tinggi atau naik ke kelas yang lebih tinggi. Haji merupakan bagian dari rukun islam tertinggi yang ke-lima.
            Idealismenya seorang haji adalah orang yang ideologinya hanya menghamba kepada Tuhan (syahadat); terdepan (menjadi imam) dalam mendirikan/mengadopsi/menggunakan sistem shalat dalam seluruh aktivitas ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan (ipoleksosbudhankam)nya (mendirikan/aqimish shalat mencegah kerusakan dan kemungkaran); mampu mengendalikan (puasa/shiyam) dan mendistribusikan (lung-lung, weh-weh, memberi)  seluruh potensi kemampuannya ke dalam beragam sektor kehidupan (perdagangan/bai'un (modal, barang, jasa) , pertemanan/khullatun, pertolongan (pinjaman/pelunasan hutang) /syafa'ah); telah sedang akan mampu mengelola dan menyalurkan (lung-lung, weh-weh, memberi) zakat (shadaqah, infaq, pemberian, fai)nya sabagai bagian kecil dari potensi kemampuannya kepada yang berhak fakir, miskin, amil, gharim, muallaf, riqob, sabilillah dan ibnu sabil (seperti person-person tercantum dalam kata shadaqah, infaq dll); baru kemudian mendaftarkan wisuda sarjana haji ke Mekkah karena aktivitas lung-lung, weh-weh, memberi yang telah optimal dijalankannya, sehingga telah ka-aji/kaji di lingkungannya dan layak menjadi haji.
 Demikiankah  para CJH dan para haji itu saat ini ? Belum, dimana hal ini ditunjukkan secara jelas oleh indikatornya yaitu renten/riba semakin berkembang dan tidak semakin hilang. Bahkan oleh bank yang berlabel syariah sekalipun. Padahal Tuhan telah jelas memberikan solusi bagi peredaran riba yang merajalela yaitu melalui sedekah yang subur dimana-mana. Namun yang terjadi adalah banyaknya juru tagih (debt collector) bank/lembaga kredit/koperasi yang beredar dimana-mana menjadi centhengnya dan sedikit sekali orang/lembaga (termasuk pemerintah) yang melakukan pembelaan dengan sedekahnya bagi terhutang yang masih kesulitan untuk membayar cicilan yang disepakati.
“Hai orang-orang yang beriman nafkahkan hartamu dari apa yang Aku rizqikan kepadamu sebelum datang kepadamu satu masa yang tidak ada di dalamnya perdagangan, pemberdayaan kerja/pertemanan dan pertolongan (mati pen.). Dan orang-orang yang mendustakan (kafir terhadap adanya  perdagangan, pemberdayaan kerja/pertemanan dan pertolongan) termasuk dalam golongan orang-orang yang dzalim (QS.2:255)
Allah menghapuskan riba dan menyuburkan shadaqah. Dan barang siapa kufur, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang kafir dan membikin dosa/kesalahan  (QS.276).
           
Person-person dalam shadaqah di atas yang terdiri dari beberapa kelompok masyarakat antara lain; fakir (orang yang tak memiliki penghasilan dan pekerjaan seperti pengangguran), miskin (orang yang memiliki pekerjaan dan penghasilan , namun tidak mencukupi), amil (orang yang mendapat mandat mengambil dan mendistribusikan shadaqah/zakat yang dihimpun), muallaf (orang yang bertaubat), riqab (orang yang ingin memerdekakan dari perbudakan menjadi orang mandiri/usaha mandiri),  gharimin (orang yang mempunyai utang dan kesulitan untuk melunasinya seperti orang yang terlilit rente bank thithil hingga bank konvensional), sabilillah (orang yang sedang menjalankan tugas kemasyarakatan seperti pendidik), ibnu sabil (orang yang dalam perjalanan misalnya musafir, pelajar, mahasiswa)

Sesungguhnya shadaqah itu bagi orang-orang yang faqir, orang-orang miskin, orang-orang yang membagikan, orang-orang yang hatinya tertambat menjadi hamba Tuhan, budak yang ingin merdeka, orang-orang yang punya utang, orang-orang yang berjuang di jalan Tuhan, dan orang-orang yang bersafar (QS.10:60)”.

“Mereka bertanya tentang untuk siapa infaq itu. Dan apa-apa yang diinfaqkan dari sesuatu yang baik untuk kedua orang tuanya, kerabatnya, para yatim, orang-orang miskin dan orang-orang dalam perjalanan. Dan apa yang baik yang engkau lakukan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya (QS.2:215)

Dengan demikian menuju naik haji seharusnya setiap person menjalani lelaku yang terdapat rukun Islam sebelumnya. Jadi bila seseorang ingin naik haji, sebagaimana terungkap di atas maka tahapan yang harus ditempuh adalah pertama syahadat dahulu, kedua mendirikan shalat, ketiga menunaikan zakat, keempat melaksanakan puasa, baru kelima naik haji.
  
Lunga! Kaji
Lunga! Kaji merupakan istilah dalam bahasa Jawa yang diartikan secara umum dengan makna pergi haji (tindak haji), .Namun jarang sekali yang memaknai lunga ! kaji, sebagai lafal dan kalimat perintah dari kata kerja bahasa Jawa lung  yang artinya memberi dan mendapat khiran huruf a (ao bhs. Jawa)  berbunyi lungo ! yang berarti memberilah ! , maka kaji/keaji/ kajen  (dimuliakan/mendapat kemuliaan). Lunga dalam bahasa Jawa salah satunya berarti weweha (memberilah). 
Sangat dalam makna pernyataan Lunga! Kaji di atas, namun masih dimengerti pada tataran makna harfiah pergi saja dan belum pada makna lelaku distribusi potensi kepada setiap anggota masyarakat di sekitar calon jamaah haji.  Padahal untuk itu sejatinya untuk menjadi kaji syaratnya sangat mudah  yaitu lunga !  Lung-lung (memberi) kepada yang berhak dan berkenan  menerima dan membutuhkan pemberian (lungan) tidak perlu menunggu waktu yang lama, sekarang pun bisa. Jadi untuk kaji/keaji/kajen, sekarang pun bisa dan tidak harus menunggu tahun ini, apalagi 10 tahun yang akan datang.
            Dalam aktivitas lung-lung tidak ada pembatasan apa dan berapa yang harus dilungkan. Apapun dan berapapun bukan menjadi pembatas aktivitas ini, bisa uang, beras, barang, pekerjaan, modal, pinjaman, sarana prasarana, pelunasan hutang dan lain-lain. Sedikit dan banyak bukan menjadi ukuran untuk melakukan pemberian.  Setidaknya setara dengan kemampuan orang yang melakukan pemberian. Sedikit boleh. Banyak  pun apalagi lebih boleh. Namun tentunya kepada yang tepat untuk mendapatkan pemberiannya, sebagaimana tersebut pada ayat al-Qur'an di atas. Terutama tetangga yang lebih dekat dengan pemberi. Setidaknya 40 (empat puluh) rumah tetangga di sekitar pemberi.
Untuk itu seorang CJH memang seharusnya orang yang benar-benar kaya segalanya baik moral maupun material.  Dan menjadi pemimpin masyarakatnya yang berpegang pada tali Allah, menjadi khalifah dalam khilafah/pemerintahan bagi masyarakat sekitarnya,setidaknya ketua satu RT dalam wilayahnya misalnya, jadi setidaknya diri dan keluarganya serta 40 (empat puluh) rumah tetangga di sekitarnya, menjadi hamba Tuhan yang beriman dan bertaqwa. Haji/kaji adalah orang yang sudah menjalankan aktifitas lung lung/ weh weh bagi siapapun yang membutuhkannya. Sehingga dia aji/mulia di masyarakatnya, walaupun belum haji ke Mekkah. sehingga pada masanya baru kemudian wisuda haji  ke Mekkah setelah optimal lung lungnya. Menjadi haji adalah menjadi waliullah yang menguasai suatu wilayah disebut waliul-amri (pemimpin (ketua/lurah/camat/bupati/gubernur/presiden/raja) pemerintahan (RT, RW, kelurahan, kabupaten, propinsi, negara, kerajaan), sekaligus waliud-din yang menguasai tatanan masyarakat, adab, dan budaya dalam kehidupan suatu masyarakat.Untuk itu gerakkan  Lunga!   bakal/akan Kaji. 
Pembimbing = wali
Pembimbing sering digunakan untuk memaknai kata wali. Untuk itu seorang pembimbing haji seharusnya adalah seorang wali. Dan seorang wali adalah seorang pemimpin/pengayom/ pendidik/tempat bergantung bagi masyarakatnya. Dengan demikian tidak terlalu salah, bila seorang haji adalah orang yang kaji dalam masyarakatnya. Orang telah kaji  lunga/pergi ke Mekkah dan tentunya telah menjadi pelaku  lunga! / memberilah !, sehingga masyarakat dan dirinya sendiri yang bisa menilai kelayakannya disebut kaji. Jadi Menjadi haji adalah menjadi waliullah yang menguasai suatu wilayah disebut waliul-amri, sekaligus waliud-din yang menguasai tatanan masyarakat, adab, dan budaya dalam kehidupan suatu masyarakat.
Kalau menilik dari idealisme naik haji dan lunga kaji  di atas, maka setiap para pembimbing manasik haji seharusnya menjadi orang-orang yang memimpin suatu wilayah kewalian setidaknya 40 (empat puluh) tetangga di sekitarnya , minimal 1(satu RT, apalagi kalau jamaah bimbingannya setiap tahun 100-400 orang, maka banyak orang yang ideal mendapat manfaat dari seorang pembimbing manasik haji ).
Untuk itulah seharusnya upaya para pembimbing (pembimbing lho !!) untuk naik  tangga ke haji  yaitu melewati tahap salah satunya adalah aktivitas memberi-memberi /lung-lung/aweh-aweh antara lain; zakat, shadaqah, infaq, aatal mall. Namun bila yang terjadi saat ini banyak pembimbing manasik haji yang belum masuk dalam idealisme yang demikian, tentunya kembali lagi pada pembimbing itu dalam memahami agamanya dalam aplikasi tuntunan itu ke dalam kehidupannya sehari-hari apakah mereka pelaku lung-lung  itu atau bukan.

Mabrur tidak ke Mekkah
Pada satu kisah diceritakan bahwa ada seseorang/CJH hendak pergi haji ke Mekkah. Di perjalanan dia merasakan lapar yang sangat, tiba-tiba mencium bau daging yang sedang dibakar. Bertambah pula hasratnya untuk menemukan sumber bau sedap daging yang dibakar. Hingga akhirnya dia menemukan seorang perempuan bersama anak-anaknya sedang menunggui daging yang dibakarnya matang. Kemudian CJH ini mendekati perempuan itu dan hendak membeli sebagian daging yang dibakarnya. 
Namun ...perempuan itu menolak menjual maupun memberikannya dengan mengatakan,"daging ini halal bagi kami, namun haram bagi tuan".
Sang CJH pun bertanya,"Mengapa engkau melarangku untuk membeli dan memberikannya kepadaku. Aku lapar. butuh makanan yang aku makan."
"Ya, kami mengetahui kalau tuan lapar dan butuh makanan. Namun daging ini haram dimakan tuan, tapi halal bagi kami. Kami kelaparan dan tidak ada uang atau barang yang bisa kami gunakan untuk membeli atau menukar dengan makanan yang halal. Dan tidak ada orang yang datang memberi kami santunan. Ketahuilah tuan! daging ini adalah daging bangkai keledai di jalan yang saya ambil sebagian untuk mengganjal perut kami sementara, agar tidak mati kelaparan.  Karena itu saya mengatakan," daging ini halal bagi kami, namun haram bagi tuan". jawab perempuan itu dengan menjelaskan duduk perkaranya.
Mendengar penuturan perempuan itu, maka CJH itu langsung tersentuh hatinya, kemudian memberikan bekal yang dibawanya dari rumah menuju ke Mekkah kepada perempuan itu.
Dan akhirnya pada kisah itu diceritakan bahwa kurang lebih 600000 orang jamaah haji di Mekkah yang diberitakan para malaikat telah tertolak (mardud) hajinya. Kemudian menjadi mabrur karena perilaku CJH yang gagal berangkat di atas. Wallaahu a'lam.

 Sarjana haji bukan sarjana manasik

CJH ibaratnya seperti seorang calon mahasiswa baru yang hendak memasuki perguruan tinggi untuk mendapatkan titel seorang sarjana, maka tidak cukup dengan hanya membayar uang masuk perguruan tinggi, kemudian menjadi sarjana. Di samping harus membayar ongkos masuk perguruan tinggi, dia mendapat keharusan mengikuti perkuliaan yang ada dan lulus, praktek kerja- praktek kerja sesuai dengan bidang yang diambil, menulis skripsi pada akhirnya dan lulus ujian skripsinya, baru kemudian sang calon mahasiswa mendapat gelar sarjana. Sehingga layak mengikuti prosesi wisuda sarjana.  Jadi Sarjana didapatkan bukan melalui sebuah prosesi wisuda sarjana saja, tetapi melalui proses-proses (ospek, kuliah, lulus, praktek kerja lapang, lulus, bikin skripsi, diuji, lulus) di atas.
Demikian juga seharusnya dengan gelar haji bukan  didapatkan melalui prosesi manasik haji saja seperti yang sering diselenggarakan para petugas pembimbing manasik haji, tetapi   dilaksanakan oleh seorang warganya  melalui tahapan-tahapan dalam rukun Islam di atas. Sarjana haji bukan sarjana manasik.
Sehingga dengan demikian Departemen Agama RI pun tidak kebingungan menyeleksi siapa-siapa yang telah layak berangkat haji, dan tidak perlu terjadi pemendingan yang sekian lama, karena masing-masing orang bisa menilai kelayakan dirinya untuk berangkat wisuda menjadi Sarjana Haji.
Demikian juga seharusnya pemerintah kerajaan Arab Saudi tak perlu kerepotan merubah situs-situs bersejarah yang ada.

Haji Hne H mung siji dudu H H H H HA HA Hi Hi Hi

Haji merupakan gelar yang sering terpampang di depan nama seseorang yang pada umumnya telah mengikuti prosesi ritual pergi ke Mekkah, namun apa jadinya bila gelar haji (H) dipampang di depan nama setiap orang yang pulang haji. Tentu menjadi  H H H H H H H Hi Hi Hi Hi Hi Fulan. Laksana orang tertawa atau keheranan Ha Ha Ha atau Ha ! H ! H !. Namun  tidak mungkin seseorang menempelkan H sebanyak di atas di depan namanya, karena tentu akan menggelikan dan ditertawakan.  Untuk itulah mengapa haji cukup dilakukan sekali saja. Walaupun mungkin bisa dikerjakan berkali-kali (dengan alasan menjadi pembimbing sekalipun, karena Hnya prosesi upacara pengukuhan H1 (satu/siji) saja), namun gelar yang terpampang Hnya h-nya satu saja. H. Bukan H H H H H atau Ha Ha Ha Ha atau Hi Hi Hi Hi.

PENUTUP
            Lunga ! kaji. Merupakan kalimat yang secara samar terungkapkan sebagai sebuah perintah kepada setiap orang untuk peduli menjaga keberimbangan kehidupan alam menutupi yang kurang dan mendistribusikan yang berlebih, sehingga menjadi sebuah sistem yang dinamis mengikuti qadha dan qadar/sunnatullah dan dinullah. Ini merupakan karunia pemahaman yang diberikan Tuhan kepada siapa saja hambaNya yang dikehendaki untuk membuka kembali pemahaman-pemahaman  dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari dalam penghambaannya kepada Tuhan. Dengan pemahaman di atas untuk kaji tidak perlu menunggu tahun ini apalagi 10 (sepuluh) tahun yang akan datang. Sekarang pun kita bisa LUNGA! Dan ... Kaji.
Yen pingin kaji/keaji/diajeni mangka Lunga! Piro wae saiki uga sing mbok LUNG ke marang wong kang butuhake, mangka slirane yo bakal Kaji. Lan  PING piro wae slirane budhal lunga menyang Mekkah, mangka gelar hajinira hamung siji. Haji hane hamung siji. Dudu H H H H dadi kaya wong kang ngguyu lan nggeguyu Ha Ha Ha Ha Ha Ha Ha!!! (Kalau menginginkan dimulyakan, maka memberilah! Berapapun dan sekarang juga anda memberikannya kepada orang membutuhkannya, maka anda pasti mulya. Dan berapakalipun anda bepergian ke Mekkah untuk haji, maka gelar haji anda pun Hnya satu saja. Haji Hnya Hnya satu. Bukan H H H H sehingga seperti orang tertawa dan menertawakan   Ha Ha Ha Hi Hi !!!

Oleh MD. Abduh
Pondok Kuningan
Tawangsari Garum Blitar Jatim Indonesia 081358139029

Sabtu, 16 Maret 2013

Teori Telo Untuk membuat Skripsi

Semua teman-teman harus ngoyo mengejar sesuatu pengetahuan yang tabu, abstrak dan bisu. Enta siiih, intepretasi tentang ketabuan, ke-abstrakan menurutku harus diciptakan dari ruang-ruang gelisah ketika kita dihadapkan pada sesuatu. Maka timbulah "ambisi" untuk mencari kepastian agar tidak lagi menjadi tabu, untuk menemukan "cahaya", langkah kongkrit untuk mencapai planing ke depan.
.
Aku ingin mengubah bahasa abstrak menjadi ambigu. Subhat.
.
Proposal, Skripsi itu ambigu, subhat. Bukan di wilayah pengetahuannya sebagai ilmu akademis. Tetapi lebih kepada juknis, metode, proses, realistisitas pelaku--mahasiswa--dalam mencapai finish ke-skripsiannya. Aku menghabiskan waktuku di kelas, di ruang "bisu" seminar, presentasi, diskusi, selama empat tahun ini. Untuk sinau tentang apa itu ini, apa itu itu. Berdebat ini berdebat itu. Ngecebret referensif atau non referensif. referensif itu artinya kita objektif dalam memahami pengetahuan dengan dasar teori, spektrum katalog yang komprehensif, pengolahan data yang akurat. Itulah akdemisi, bertanggung jawab secara ilmiah apa yang diucapkannya. Non referensif, nggacor sak udele dewe. Memutarbalikkan teori, membikin teori-teori sendiri,   meng-konsep pengetahua atas dasar penemuannya sendiri. Nah, itulah aku. Teoriku hanya satu untuk mengolah pengetahuan : Afala ta'kilun, Afala tatafakkarun, Afala tadzakkarun. Aku bermain retorika knowledge. Ada orang ngasih aku telo, maka kecerdasan berfikir adalah mengolah telo untuk jadi apa. Jadi kripik atau apa.
.
Seorang teman menolak cara berfikirku.
.
" Piye to, konsep berfikir macam apa itu" tanya seorang kawanku
" Ya macam telo itu"
" Telo? maksudmu"
"Ya telo. Telo itu kan enak, katanya bisa menghilangkan bau keringat.heuheu."
" Semprol"
.
Mengapa kita harus "terjebak" pada teori-teori untuk menelaah pengetahuan yang bersifat skriptif. Oke. Skripsi memang tak bisa dihindarkan dari kajian teori, penelaahan materi objektif, dan penelitian yang komprehensif. Aku faham itu. Keimiahan harusnya memang harus dikaji seperti itu. .
.
Ah..bukan aku males berfikir ilmiah. Apakah universitas hanya mencetak para pemikir tanpa proses berfikir? Apakah dengan banyak membaca banyak referensi orang semakin kaya akan kompleksitas keilmuan? apakah kita tidak boleh membuat analisis baru, analisis revolusioner dengan membuka diri untuk menciptakan teori-teori baru? Toh, juga pada akhirnya teori, referensi yang sama digunakan pada tahun berikutnya..?
.
Bagaimana kalau kita mengolah satu dua teori, lalu mencangkoknya untuk menemukan teori-teori baru dari ijtihad orsinil pemikiran kita.
.
Itulah Mujtahid. Bukan lagi Muttabi' apalagi Muqollid.
.
Kuucapkan dengan kebahagiaan hati kepada teman-teman. Selamat mengerjakan skripsi. Aku menghabiskan ngopi saja disini.
.
Tuhan bersama mahasiswa semester akhir.

Jumat, 01 Maret 2013

Renung Senja #7


Jangan berputus asa dari rahmad Allah, kalau kau belum apa-apa sudah putus asa, kau menjadi bagian orang-orang yang merugi. Begitu kata Allah. Allah sangat tahu kadar kemampuan, kekuatan para hambanya. Kekuatan mental, berfikir, bergaul, me-manage organisasi dan lain-lain. Jika dikatakan bahwa manusia haram, pantang berputus asa—merasa pun tidak boleh—itu hanya reorika Allah agar manusia sregep memaksimalkan potensi yang dititipkan Allah padaNya. Anda harus pintar membaca dialektika informasi Tuhan. Dengan cara berfikir, merenung, bertadabbur.

Kamu itu belum sregep memaksimalkan potensi kok ujug-ujug mengeluh. Mengeluh itu boleh, dalam batas kewajaran dimana manusia sudah mentok atas apa yang diusahakannya. Itu yang disebut tawakkal, pasrah.

Aku sampai saat ini masih belum faham, mengapa para intepreneur begitu mudah membolak-balik psikologis manusia untuk menemukan kebenaran, memupuk stimulus, memompa semangat para peserta seminar dengan durasi sedemikian singkat itu. kita sangat begitu lemah, pasrah buta, gelap tiada tara untuk nggole’i sendiri siapa kita sesungguhnya. Sensitive terhadap potensi yang diberikan Tuhan pun kita remang-remang, bingung untuk menemukan sak jane aku iki kate dadi opo to.  Dibuatlah seminar interpreneur, mengadopsi, ndlomongi “gombalan” sang interpreneur untuk mewujudkan ini itu dengan mimpi-mimpi, harapan tinggi namun belum pasti. Aku adalah termasuk orang yang anti, alergi mengikuti work shop- work shop begituan. Jangan ditiru.  

Rabu, 27 Februari 2013

Supra Fit dalam konsep Etika, Moral dan Akhlak.


Dengan teman sebaya, aku tancap gas ke Malang kota. Menghadiri maulid bersama IKAPMII di kantor NU Malang. Supra fit siap menunggu di altar musholla depan. Motor butut tahun 2003 yang sampai hari ini masih setia menemani. Pun dengan konsekuensi logis. Namanya motor butut, perkara mogok, busi hangus, lampu kelap-kelip, rantai kendor menjadi bagian estetik dari ke-bututan motor tahun 2003 ini.

Maaf, keindahan itu tidak bisa terlepas dari tiga hal. Estetika, saintika, dan etika. Aksentuasi penerapannya terserah harus dipandang dari sudut mana dan siapa pelakunya. Termasuk teman sejatiku Supra Fit ini. Di dalam rengekan mesinnya, kelap-kelip lampu sorotnya, mengslenya dua kaca spion, deru knalpotnya dan seluruh anatomi mesinnya.

Estetika itu bentuk keindahan, pesona, aura perasaan yang tak terungkap. Perempuan misalnya. Jika bilogisitas menjadi estetik intuitif pada mata anda memandang, ya sudah yang indah hanya itu-itu saja. Eksploitasi sensual menjadi efek paling mengena, bahwa penilaian anda letaknya pada fisik bukan nilai. Hidungnya, matanya, wajahnya, bodinya, mulusnya, de el el. Supra fitku yang jadul, bagiku menyimpan akselerasi estetik yang sufistik (opo iku.hehehe). jadul itulah nilai estetikanya.  

Tingkat kedua adalah saintika. Pengetahuan. Pengetahuan esensi pada manusia sesungguhnya terletak pada dinamika berfikir, merenung, ber-tadabbur, kritis, sebagai landasan dasar dari proses mereka menggali sesuatu, menerapkan kekhalifahan di dunia. membuat stabilitas dimana ia berada. Ia menjadi mukmin—orang yang setia pada amanat— pengetahuan tentang amanat itulah yang menjadikan nilai keindahan menempati spectrum tinggi dalam pencapaian pengetahuan manusia. Amanat untuk ngedusi motor, ndandani busi, ngelap bodi, mungkin juga rajin nyervis di ahass motor. Heuheuheu.

Yang ketiga adalah etika. Beda terminology antara apa itu etika, moral dan akhlak. Etika itu ketika anda melakukan hal-hal—yang mencakup perilaku manusia—secara spontanitas, tetapi didahului oleh metodoli sikap, hakikat filosoif kemanusiaan, pengetahuan dasar akan kesadaran berperilaku. Ia terbangun dari sikap kritis dan komunikasi antar manusia. Anda bisa ngekos, ngontrak selama dua tahun berturut-turut tapi tidak mengenal teman kos samping kamar anda. Lalu anda mulai membuka ruang untuk mengenalnya, menyapanya, bertegur sapa, main-main ke kamarnya untuk membangun hubungan personal diantara sesama. Itulah etika.

Moral, ia adalah produk dari agama dan budaya. Ia bersifat elastis dan relative. Dimana setiap keberagaman budaya, adat, termasuk agama menyimpan heterogensi moral yang berbeda-beda. Orientasi vertikalnya mengacu pada perilaku positif sosialis. Anda menampung anak-anak yatim, mendidiknya dengan baik, mengasuhnya dengan kasih sayang, memberikan ruang kreativitas-kreativitas, agama melegitiminasi anda termasuk orang-orang yang beriman. Kebudayaan menghargai perbuatan anda dengan orang yang bermoral.

Sedang akhlak. Ia jamak dari lafadh khuluk yang berarti perangai, tingkah laku, atau tabiat. Seseorang dapat dikatakan berakhlak jika timbul dengan sendirinya dan didorong oleh motivasi dari dalam diri dan dilakukan tanpa banyak pertimbangan, pemikiran apalagi pertimbangan yang sering diulang-ulang, sehingga terkesan sebagai keterpaksaan untuk berbuat. Kesadaran intuitif dalam berperilaku. Setiap pagi, anda berkeliling desa, nyambangi ibu-ibu, nengok ke dapur, lalu memberikan semacam idkholul surur—nambahi uang saku untuk beli beras, uang jajan anak—anda termasuk orang yang berakhlak.

Tiba-tiba aku dikagetkan dengan bau gosong, sepertinya ada yang hangus.

“Aaaaaaa tidaaaaak…!!!”

Busi motorku kobong lagi.  

Nggole’i shiratal mustakim


1 batang surya….
Oke. Stimulus saja. Tulisan ini hadir ditengah ketidak pentingan mengapa aku menulis ini. Jadi, hanya angin yang menyapa saja.

            Aku sangat sadar, sesadar-sadarnya bahwa aku hidup di sebuah golongan, kelompok yang inferior atas kekuasaan structural. Omek (organisasi mahasiswa ekstra kampus) menjadi ladang, sekaligus lahan ilmu, pengalaman, management diriku sebagai mahasiswa. Dinamika pengetahuan akademis hanya menjadi ilmu samping dimana membuatku merasa bosan, terlalu formal, kaku dan bisa ditebak ending dari pengetahuan tersebut. Formula dan sistematikanya kurang asyik, karena pengetahuan akademis kurang estetetik. Ibarat nasi. Dia menjadi hambar tanpa lauk pauk. 

Selasa, 29 Januari 2013

Iblis mengajari kita arti kesejatian cinta dan kepatuhan mutlak



Setiap manusia, terlepas dari seberapa cerdas dan jeniusnya dia, dari tukang bakso hingga camat, tukang tambal ban hingga ilmuwan, penganut ilmu kejawen hingga darmo gandol, gatoloco, aboge (aliran rebo wage), hingga sekelas wali, rasul dan nabi mempunyai satu bentuk kodrat alamiyah yang Tuhan ciptakan agar ia selalu menemukan hikmah, pengetahuan yang tersirat, mutiara kehidupan maupun nilai subantasi tentang dirinya serta apa saja yang disebut saliik. Sang pencari. Kodrat inilah yang membedakan antara manusia sebagai khalifah dengan bangsa tak kasat mata Jin, Iblis dan Malaikat sebagai abdi Tuhan. Ruh khalifat inilah yang akhirnya membuat manusia menemukan kreativitas, system manajerial hidup, tatanan bernegara, bersosial, hubungan makhluk dengan Tuhan maupun reduksitas manusia yang bisa berganti-ganti wajah menjadi Iblis atau Malaikat. Bangsa lain Jin, Iblis, dan Malaikat hanya menjadi pola supremasi ketaatan perintah Tuhan yang disematkan pada mereka. Jika Allah perintahkan malaikat bersujud kepada Adam As, ya sudah tanpa cincong sujudlah mereka. Beda urusan dengan Iblis, kisah Iblis anda harus bisa membaca dari sisi mana. Multi intepretasi. Yang aku baca adalah begitu taatnya Iblis kepada Allah sehingga ia tidak mau membagi taatnya kepada Adam. Iblis tidak ingin memadu cinta, ia tidak ingin poligami. Bentuk prinsip yang tak bisa ditukar oleh apapun, dengan bagaimanapun. Sekalipun ia harus berkorban dengan pengorbanan yang ia sendiri harus terima hingga anak cucunya kelak sampai yaumil kiyamah. Dari Iblis kita belajar kesetiaan, kepatuhan mutlak, liniersi cinta, kesejatian prinsip, pengorbanan dan tanggung jawab moral. Iblis gak patheken Tuhan sebut sebagai aduwwun mubin (musuh yang nyata), Ar-Rajim (yang terkutuk). Baginya, Jiwanya sudah Manunggaling Kawula lan Gusti. Seluruh anatomi tubuhnya, sel-sel otaknya, jiwanya yang ada hanyalah Allah. Lalu, beberapa abad kemudian, kita mencaci maki Iblis, mengutuknya diberbagai forum. Di seminar, halaqah ilmiah, pengajian, presentasi makalah, khutbah jum’at, diskusi dan lain-lain. Kasihan Kyai Iblis.
Lha wong, kita sendiri saja tidak faham siapa kita. dan akhirnya benar-benar tidak mau menggali sesungguhnya siapa itu manusia. Manusia sudah semakin tidak mengenali dirinya sendiri, apalagi mengenali Setan atau Iblis, sehingga tidak pernah sadar atau instingitif mengetahui apakah ia sedang dipengaruhi oleh setan, apakah sedang didorong dan dimotivasi oleh si Setan. Ah..seandainya aku dititipi ilmu manteg aji ngrogoh sukmo oleh Tuhan untuk berinteraksi dengan Setan aku akan bilang “ Ngapunten wahai makhluk Allah yang terbuat dari api, kita para manusia belum ta’arufan dengan sampeyan. Jadi, kalau mereka mengada-ada, membuat definisi tentang sampeyan, segala keburukan dan nilai kegelapan diorentasikan kepada bangsa anda, saya mewakili bangsa manusia mohon maaf. Lha sampeyan sendiri ndak memperkenalkan diri sih”.
Di dalam Al-qur’an diceritakan “ Dan ketika dikatakan kepada malaikat: bersujudlah kepada Adam, maka bersujudlah mereka, kecuali Iblis, karena sombong dan lalai…”
Diam-diam, ketika aku ngopi di warung Mak Yem dengan setan ia berujar : “Kami sengaja tidak bersujud kepada Adam, kami minta satu periode zaman saja kepda Tuhan untuk membuktikan tantangan kenapa kami tidak bersujud kepda Adam. Hari ini saya nyatakan: Tidak relevan Iblis bersujud kepada Adam, karena anak turun Adam sekarang sudah beramai-ramai, kompak menyembah Iblis”.
Si Setan dengan santai nyedot Dji Sam Soenya.
Malang, Januari 2013

Renung Senja # 6

          Sebenarnya, akankah ada perubahan, sebuah revolusi besar terhadap diri manusia jika ia benar-benar mau berkontlempasi atas kekerdilan dirinya sebagai manusia? Atau jangan-jangan manusia harus terjebak pada nilai-nilai subversi Iblis yang tak bisa dihindarkan. Iblis secara sifat ke-Ibllisannya sudah ber-oposisi kepada manusia dari zaman Adam hingga yaumil kiyamah nanti. Apa mau dikata. Kita harus bertahan atau sekalian perang akbar untuk gelut, paten pinaten dengan makhluk cerdas bernama Iblis. Artinya, bukan berarti harus mendiskreditkan Iblis dalam skala permusuhan, kebencian dia sebagai makhluk. Tapi sebagai “teman” yang selalu mengingatkan dengan model peringatan yang berbeda. Iblis hanya makhluk statis yang Tuhan ciptakan dengan segala pola nilai keburukan. Kodrasitas yang menepel pada seluruh anatomi gerak Iblis merupakan penyeimbang dari nilai keadilan yang Tuhan sudah atur di dunia. Nggak adil dong, jika anda memaki-maki Iblis karena kesesatan, kesombongan, keburukannya. Bagaimanapun anda tidak bisa mengenal kebaikan tanpa keburukan. Tidak bisa meneropong cahaya tanpa gelap. Tidak mengenal putih tanpa kehadiran si hitam. Inti mentalnya adalah, kita pun bisa belajar kepada Iblis tanpa harus mengikuti ajakannya. Kata Imam Ghazali, siapapun itu guru, apapun itu ilmu dan dimanapun itu sekolahan.  

Jumat, 25 Januari 2013

Lantunan shalawat diba’ di kolong speaker reyot

Peringatan maulid nabi kali ini, aku hanya mengurung diri di kamar sempit. Bermain dengan kesendirian bisu yang tak kunjung aku nikmati. Berbeda dengan sebelumnya, dimana aku masih bergelut dengan berbagai animo refleksitas di lapangan, organisasi, komunitas ku ajak teman-teman, sekelompok kawan untuk duduk melingkar, bersila, menikmati kekhusukan hati dengan bersama-sama melantunkan shalawat nabi. Al-barjanzi, Shalawat Burdah dan lain-lain. Diiringi hadrah, sejenis alat rebana yang biasanya digunakan untuk mengiringi lagu-lagu shalawat atau dalam suatu kebudayaan masyarakat, hadrah juga dipakai untuk ngarak orang sunatan atau upacara perkawinan. 
Biasanya, satu sampai dua jam kami Diba’an. Setelah itu dilanjutkan dengan makan-makan, cangkru’an sejenak sambil kebal-kebulDji Sam Soe. Sesederhana inilah kami meluapkan cinta kami kepada Rasulullah. Kami belum mampu mencapai maqam tinggi dimana segala refleksi hidup sesungguhnya sudah dicontohkan Nabi kepada umatnya, dimana umat islam harus mengeksekusi contoh perilaku nabi untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, aku hanyalah berandal yang hanya bisa berceloteh siang dan malam tanpa tahu apa sesungguhnya yang kucelotehkan itu.
Anta Syamsun Anta Badrun kau adalah matahari dan rembulan. Hatiku gemetar mendengar lantunan itu. dalam arti sesungguhnya, tak akan padam sinar matahari menerangi dunia. Begitu rupa kita disinari oleh cahaya wahyu yang Tuhan titipkan pada Muhammad. Sinar akhlak, ilmu pengetahuan, rahasia semesta, juklak kehidupan yang hakiki hingga hitungan matematis tentang rahasia Tuhan yang begitu luas bak samudra. Namun sinar Muhammad seakan pudar oleh kenistaan diri kita sendiri. Kita bangga dan mengagung-agungkan beliau, tapi menguburnya hidup-hidup dalam teks sejarah. Pujian kita lantunkan, tapi legitiminasi nilai moral kita sampingkan.
Tak apalah, aku hanya manusia awam yang belum bisa sepenuhnya mengambil sikap tegas untuk meneladani cara hidup Nabi. Yang aku bisa hanyalah selalu melantunkan pujian kepadanya, bershalawat untuknya. Ya rabbi shalli ala Muhammad ya rabbi salli ala’hi wasallim.
            Kelantunkan dalam kesendirian shalawat diba’ itu dengan hembusan angin malam dan suara derik pintu. Tak ada keramaian apalagi sorak gemontang kebersamaan. Hampa sekali namun sangat menyayat. Hening namun tenang. Aku mengandai-ngandai bergelayut di pangkuan Rasulullah (emange aku sopo kok enake dipangku Nabi).
Namun, suasana yang penuh dengan komtemplasi itu hilang tatkala corong, speaker masjid sebelah berdentum keras seakan tak mau tahu. Kudengar beramai-ramai orang melantunkan shalawat diba’. Dipimpin seorang ustadz yang lembut suaranya. Iringan serta alunan hadrah menyertai berbagai macam lagu shaalawat. Gegap gempita asma rasul dikumandangkan. Shallu ‘ala nabiiii Muhammad.
Para aktivis masjid maupun takmir seharusnya mempertimbangkan aturan teknis dalam beribadah. Terlebih perangkat pendukung seperti tape, speaker dan perangkat yang lain. Karena itu akan mendukung sarana dakwah. Siapapun yang mendengar lantunan shalawat dengan kualitas mic, speaker yang sudah reyot, telinga rsanya gatal. Eman-eman suara ustadz yang sangat indah itu laksana blek diseret. Mbok ya beli sound yang lebih bagus, mahal ndak masalah asal maslahah. Apalagi speaker masjid itu didengar orang banyak, masyarakat luas. 

Malang, Januari 2013