Selasa, 09 Oktober 2012

Allah,2014


Ditulis Oleh: Muhammad Ainun Nadjib

            Sejak jauh sebelum hari Pilgub Jakarta, sejumlah teman saya tanya “lebih ok mana Foke-Nara atau Jokowi-Ahok?” muncul labirin dan mosaik jawaban.
            Ada jawaban “close-up” : si FN bagusnya di sini, kacaunya di situ; si JA hebatnya begini, memblenya begitu — tentu saja semua dalam skema nilai-nilai baku kebangsaan dan kenegaraan: kualitas kepemimpinan, kematangan manajemennya, kreativitas pembangunannya, watak sosial budayanya, juga kadar kasih sayang kerakyatannya.
            Jawaban yang ini ada yang ambil dari konsep demokrasi modern, ada yang dari filosofi dan budaya tradisi, ada yang dari Agama, tapi tentu saja banyak yang “common sense” atau “kata ini”, “menurut itu” dan lain sebagainya. Yang dari Agama misalnya menyebut pemimpin harus soleh. Soleh maksudnya kebaikan yang dikerjakan dengan konsep, perencanaan dan perhitungan komprehensif sedemikian rupa sehingga “dipastikan” sangat minimal mudlaratnya.
            “Soleh” itu “baik” pada formula yang demikian. Ada “baik-baik” yang lain dalam bahasa Tuhan. “Khoir” itu kebaikan yang universal, cair, bahkan Kristal, belum berbentuk, belum aplikatif. “Ma’ruf” itu kebaikan yang sudah melalui dialektika, diskusi, perundingan, pergesekan-pergesekan antar manusia, sehingga kemudian disepakati sebaga aturan bersama. “Ihsan” itu kebaikan yang lahir murni dari nurani manusia: orang berbuat baik meskipun tidak disuruh, tidak diwajibkan, tidak diatur oleh hukum atau etika. Ada lagi “birr”, yang menghasilkan istilah “mabrur” : itu puncak pencapaian kebaikan dalam hubungan spesifik antara manusia dengan Tuhan, pada posisi di mana dunia dipunggungi atau sekurang-kurangnya dinomer-duakan secara total.
            Kalau memakai “close-up” pemahaman yang ini, benar-benar tidak gampang menilai mana yang lebih oke antara FN dengan JA. Begitu luasnya kemungkinan dalam kehidupan, namun begitu jauh lebih luasnya cakrawala probabilitas pada diri manusia. Kalaupun persepsi, analisis dan kesimpulan kita tepat tentang JA dan FN, kebenarannya direlatifkan oleh teori ilmu teater: “Tidak ada aktor yang buruk. Yang ada adalah pemain yang berada di tempat yang tepat atau tidak”.
            Jadi, soal “casting”. Hidung seindah dan semancung apapun menjadi mengerikan kalau letaknya tergeser setengah sentimeter. Shalat menjadi kebaikan kepada Tuhan hanya kalau dilaksanakan pada interval waktunya. Berdzikir siang-siang itu buruk ketika berbarengan dengan istri bingung tak punya beras. Bernyanyi dan bermusik dangdut itu sangat dilaknat kalau dilaksanakan di halaman Masjid ketika orang sedang shalat Jumat berjamaah.

            Bahkan ada orang yang ketepatannya adalah memelihara kambing, bukan ayam. Ada pejabat yang ketepatannya menjadi penjaga gudang. Ada tentara yang ketepatannya berpangkat Kolonel, sehingga Pak Riamirzad Ryacudu ketika menjadi KASAD pusing kepala karena ada temannya yang mengajukan Surat Mohon Tidak Naik Pangkat. Orang macam saya ini hampir sama sekali nir-tepat: jadi intelektual tidak tepat, jadi seniman, kiai, aktivis, dukun, pengasuh Sekolah, pemikir, dan macam-macam lagi — belum pernah benar-benar berada pada koordinat ketepatan.
            Kalau keruwetan hidup macam itu dituruti: bagaimana bisa punya presisi pengetahuan bahwa JA tepat memimpin Jakarta? Apalagi terkadang, entah berapa prosentasenya, justru yang diperlukan adalah ketidak-tepatan. Striker sebuah kesebelasan nendang bola agak melenceng, sehingga terkena kaki pemain belakang lawan, sehingga bola meleset dan masuk gawang.
            Nabi Muhammad SAW menyarankan mantan musuh utamanya sesudah “Kemenangan Mekah” agar segera cari istri dan berumah tangga. Dilaksanakan. Kelak putra beliau yang dikasih saran ini yang membunuh cucu Nabi. Jengis Khan menghancur-leburkan peradaban Islam meluluh-lantakkan perpustakaan besar Islam Bagdad, kemudian kelak cucunya menjadi tokoh Muslim yang membangun kembali tradisi intelektual dan kebudayaan Islam.
            Dalam kasus itu di mana letak ketepatan dan di mana ketidak-tepatan? Penguasa pembunuh keluarga Nabi Muhammad SAW itu menambah teks khutbah Jumat dengan kalimat kutukan kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Kelak cucunya menjadi Khalifah terbaik dalam sejarah Islam dan dia yang menghapus kalimat kutukan itu. Karena itu dalam sebuah peperangan, tatkala pasukan musuh keok dan tinggal dipenggal lehernya, Nabi Muhammad SAW melarangnya: “Jangan bunuh, saya sudah mendoakan kebaikan Islam bagi cucu-cucu mereka”.
            Jadi JA dan FN berangkulan aja dari maqamnya masing-masing untuk membangun kegembiraan rakyat Jakarta dengan kesungguhan hati dunia akhirat terserah Jokowi bisa wudlu atau tidak, itu wilayah konflik dia dengan Allah. Toh sudah sama-sama bisa makan berkecukupan, bisa beli pakaian lebih dari tiga lembar, punya mobil, dan sudah sama-sama aqil baligh.
            Aqil artinya sudah memiliki kesanggupan untuk menggunakan akal. Dan akal itu pasti sehat. Baligh artinya kemampuan untuk menyampaikan, menerapkan, mengaplikasikan, mewujudkan, mengejawentahkan atau mentransformasikan visi menjadi realitas, ilmu menjadi kenyataan, cita-cita dan cinta menjadi entitas kehidupan.
            Mereka toh juga sama-sama “Amirul Mu’minin”, pemimpin proses menuju “aman”, dengan landasan “iman”, membawa senjata “amanah”, dengan ujung doa “amin”. Amirul Mu’minin membangun iman amin amanah aman beras rakyatnya, aman sekolah anak-anaknya, aman pasarnya, aman kesehatannya, aman keadilannya, aman hartanya, aman kerjaannya, aman seluruhnya.
            Jokowi dan Foke sama-sama Muslim dan Mu’min. Kriteria, parameter atau tanda-tandanya: kalau ada Jokowi dan Foke, kalau ada Muslim dan Mu’min di suatu lingkungan, maka terjamin amanlah harta semua orang, aman martabat semua orang, dan aman nyawa semua orang.
            Tetapi jaminan “aman” itu belum pernah benar-benar menjadi pengalaman sejarah, sekurang-kurangnya belum dipercaya bahwa benar demikian. Sehingga atas pertanyaan tentang JA-FN itu muncul jawaban yang sangat lebih jauh “mempercayai” relativitas. Memang lebih luas namun ada semacam tarik-ulur antara kemungkinan dengan kepastian. Semacam jawaban agak bingung antara sangka baik dengan sangka buruk, antara kewaspadaan dengan rasa kapok — oleh suatu keberlangsungan realitas yang mungkin mengecewakan, bahkan mungkin menyiksa.
            Kehidupan ini sedemikian tidak pastinya sehingga ada suatu momentum pertandingan sepakbola di mana suatu kesebelasan lebih baik kalah dari pada menang. Karena faktor mental, karakter, route hati dan bioritme, situasi kebersamaan mereka, peta dan tahap turnamen — membuat kesebelasan itu lebih baik mengalami kalah dulu kali ini, demi kebangunan yang lebih matang pada tahap berikutnya. Juga karena kwalitas mental para pemain belum transenden dari situasi kalah atau menang.
            Jawaban yang ini berpandangan bahwa dalam hukum dialektika sejarah, belum tentu kalau JA menang itu pasti baik bagi diri mereka atau rakyat Jakarta. Juga kalau FN kalah belum tentu itu buruk bagi keduanya maupun bagi rakyat. Juga tak bisa dipastikan sebaliknya. Tetapi karena keterbatasan rasional, manusia harus mengambil ketetapan pandangan bahwa yang baik adalah kalau JA menang dan yang celaka adalah kalau FN menang. Sementara kalangan yang lain harus memastikan pendapat sebaliknya: bahwa yang aman adalah kalau FN menang dan yang bahaya adalah kalau JA menang.
            Keduanya memiliki kebenarannya masing-masing, sehingga yang terindah dalam kehidupan adalah kita manusia menyediakan ruang seluas-luasnya untuk apresiasi bahwa orang lain hidup dalam kebenarannya sendiri yang bisa jadi berbeda atau bertentangan dengan kebenaran kita. Kebudayaan dan peradaban dibangun oleh kesanggupan managemen, kerendah-hatian, dinamika-kontinyu ilmu, kearifan dan kelenturan mental pada manusia di antara perbedaan dan pertentangan itu.
            Itulah sebabnya selama pertandingan dua petinju saling mengincar, memukul dan menjatuhkan, kemudian selesai tanding mereka berpelukan, saling mengangkat dan mengacungkan tangan lawannya. Sebab mereka itu “musuh” selama pertandingan namun sahabat dalam kehidupan. Partnership yang kompak dalam ideologi untuk sama-sama menghormati sportivitas. Sportif itu bahasa moralnya: jujur. Bahasa hukumnya: adil. Bahasa keseniannya: pas.
            Jawaban yang paling “parah” berbunyi semacam “distrust statement”. Suatu ungkapan pesimis yang ternyata optimistik. Misalnya: “Jokowi atau siapapun pasti bisa berbuat baik dan sedikit mengubah Jakarta, tapi tidak akan berdaya menghadapi penyakit-penyakit Indonesia yang sudah terlalu akut. Yang dicuri terlalu banyak, yang mencuri terlalu banyak, modus pencuriannya, formulanya dan teknis strategi pencuriannya saling mendukung dan saling menggelembungkan dengan mental dan budaya kemunafikan yang hampir sempurna.”
            “Semua itu muncul di semua lini dan segmen, di semua bidang dan disiplin, di gedung pemerintahan, di sekolah, di lembaga-lembaga apapun, di jalanan, di tempat-tempat ibadah. Teraplikasi pada manusianya dan sistemnya, etika sosialnya dan hukumnya. Komplikasi penyakit Pemerintahan Indonesia di era apapun sudah bukan hanya tidak bisa diatasi, tapi bahkan semua bertengkar ketika mencoba merumuskannya. Dengan pendekatan ilmu dari bumi, planet-planet maupun dari langit sap tujuh”.
            “Ini bangsa semakin tidak mengerti dirinya. Ini Negara salah lahirnya. Ini rakyat menjalani 25 tahun Orde Lama untuk menyesalinya, menelusuri 32 tahun Orde Baru untuk mengutuknya, kemudian memanggul 14 tahun Reformasi untuk muntah dan pecah kepalanya. Bawa ke sini Mahatma Gandhi, Abraham Lincoln, Nelson Mandela, Firaun yang cacat teologi namun ratusan tahun sejahtera rakyatnya, serta semua pemimpin dunia yang terpuji dan emas catatan sejarahnya: gabungkan menjadi satu orang, mari bertaruh kalau sampai dia bisa mengatasi masalah Indonesia….”
            Jadi bagaimana pesismisme itu bisa bersifat optimistik? Teman itu menjawab: “Barang siapa tidak punya kemampuan untuk mengatasi masalah, maka ia tidak berkewajiban untuk menyelesaikan masalah. Barang berat yang mestinya dimuat oleh truk besar, tidak memberi kewajiban kepada becak atau andong untuk mengangkutnya. Kita yang becak lakukan terus darma perjuangan becak, yang andong aktif terus menyelenggarakan pengabdian becak.”
            “Setor-setor kerja keras dan kebaikan ke masa depan sesedikit apapun. Rajin tanam padi terus, karena ada sahabat-sahabat dari pegawai birokrasi alam semesta yang menjalankan kewajiban menumbuhkan padi itu dan menyiapkan panen raya. Ada ratusan Kabinet dalam kehidupan, termasuk yang meneteskan embun dari gigir daun-daun, yang memelihara detak jantung, juga yang menjadwal jam berapa kita buang air kecil pagi ini, siang nanti, sampai kelak kita mati atau datang kiamat besar atau kecil, tanpa bergantung pada keputusan DPR dan Sidang Isbat Depag”.
            “Ya Allah, nanti 2014 iku Pemilu dong…. Kalau Engkau berpartisipasi, jatah suara-Mu tak satu, melainkan hidayah-Mu dengan mudah merasuki semua mereka yang sedang bingung menentukan pilihan”.
Dimuat di Kolom, Majalah Gatra No. 47 XVIII 27 September – 3 Oktober 2012

Jumat, 05 Oktober 2012

Tuhan ndak ndeso


            Allah itu ndak ndeso lo. Kita sering terjebak pada satu liniersi pemikiran dan ajaran  kalau Allah sudah menetapkan satu hukum dan  kita sengaja melanggarnya, sudah tentu dosa menjadi efeknya. Dalam ranah ibadhah mahdhah, shalat, puasa, zakat, dan haji menjadi tonggak utama kualitas keislaman kita sehingga tak ada dalil dalam pustaka apa saja bahwa kelima rukun islam itu boleh ditinggalkan. Tapi memang dasar kita, kadangkala mungkin juga seringkali kita ini ngajak “guyon” Gusti Allah. Jangan kaget jika ada santri sering ngomong “Afdhalul A’mal Assholatu fi Awwali Waktiha” ternyata diam-diam dia justru sering  shalat “Fi Akhiri Waktiha”.  Anda harus sedikit pintar, jangan buru-buru men-just bahwa dia menyepelekan shalat, kita tidak tahu bahwa ternyata Allah justru menaruh rahmad dan kasihNya kepada si santri ini. Nah lo.
            Inilah yang sering menjebak kita dalam menangkap berbagai kompleksitas permasalahan yang ada. Orang dengan seenaknya menghakimi sesuatu tanpa tahu persoalan dibelakangnya. Seorang dosen dengan mudah mengebiri nilai mahasiswanya hanya karena si mahasiswa sering terlambat dalam mata kuliahnya, padahal  mahasiswa ini setiap pagi harus bertarung melawan waktu dengan pertarungan yang tak rasional. Dari shubuh hingga pukul 06.30 dia harus membagi waktu dengan menjadi loper Koran sekaligus kuliah. Setiap hari tanpa berhenti. Praktis, dia sering telat masuk kuliah pagi. Pengebirian nilai itu tak akan terjadi bila tercipta hubungan harmonis dengan menanyakan alasan-alasan mengapa dia sering terlambat.
            Seorang santri dita’zir oleh keamanan pondok karena ketahuan tidak sholat jum’at pada suatu hari. Tanpa mengetahu alasan yang sebenarnya, keamanan pondok nyeramahi habis-habisan tanpa memberi kesempatan santri itu mengemukakan alasannya mengapa ia tak shalat jum’at. Alasan “klise”, shalat jum’at hukumnya wajib, sehingga jika ada seorang muslim tidak menunaikan shalat jum’at maka ketentukan syari’at sudah jelas ia akan berdosa sebagaimana meninggalkan shalat fardhu. Karena shalat jum’at adalah pengganti dari shalat dhuhur. Maka pendidikan di pesantren benar-benar mengajarkan akan pentingnya melaksanakan syari’at dengan sempurna. Dimulai dengan dipaksa diharapkan santri bisa terbiasa, jika santri sudah mampu melaksanakan syari’at dengan kebiasaan tanpa proses berfikir lagi itulah sesungguhnya letak keberhasilan pendidikan yang diterapkan. Pun dengan kelebihan dan kekurangannya. Maka, wajar jika keamanan pondok itu member sanksi kepada si santri walaupun jauh dibelakang ada alasan rasional dan logis mengapa si santri harus meninggalkan shalat jum’at.
Sebuah flash back
            Aku sedikit berani mengatakan Allah ndak ndeso salah satunya adalah karena faktor latar belakang dan konsekuensi logis dari mengapa si santri harus berat hati meninggalkan shalat jum’atnya. Gus santri ini dihadapkan pada dua hal yang membuatnya harus memilih . Tetap menunaikan kewajiban syari’atnya atau menolong orang kecelakaan di hadapannya. “Ah..Gusti Allah ndak ndeso” begitu batinnya sambil bergegas menolong pengendara motor yang kecelakan di depan matanya. Aku kira si santri tetap mendapatkan pahala shalat jum’atnya  sebagaimana kisah kyai yang mendapat predikat haji mabrur tetapi wurung berangkat ke makkah karena mentasarufkan tabungan hajinya kepada tetangganya yang sakit untuk berobat. Begitu juga dengan seseorang yang membatalkan puasa sunnahnya karena menghormati hidangan tuan rumah yang menjamunya.
            Salah satu output keislaman seseorang adalah dalam ranah sosialnya. Kebaikan dan kemaslahatan sosial harus diutamakan karena  frekuensi ampunan Allah tidak akan terwujud tanpa saling meminta maaaf dulu diantara manusia.   
            Saling husnudzonlah diantara sesama.
Malang, oktober 2012
             

Minggu, 30 September 2012

1000 hari wafatnya Gus Dur Sebuah paradigma kebangsaan dan keislaman plural**


            Tanggal 27-29 September 2012 di Pondok Pesantren Tebuireng sedang marak diadakannya peringatan 1000 hari wafatnya KH.Abdurahman Wahid atau yang sering disapa Gusdur. Peringatan ini bukanlah yang kali pertama diadakan, sebelumnya ketika peringatan 100 hari wafatnya Gus Dur, acara yang sama juga diselenggarakan. Komplek pesantren Tebuireng yang sudah mengalami perluasan arena semenjak era kepengasuhan Gus Shalahudin Wahid ini agaknya menjadi altar yang pas untuk acara-acara besar. Khususnya peringatan 1000 hari wafatnya Gus Dur pada hari ini (27/09/ 2012). Diberbagai segmen seminar, diskusi, bahkan di peringatan 1000 hari wafatnya beliau ini sosok kharismatik, kontroversi, dan seringkali dianggap nyleneh ini seakan tiada habis untuk selalu dikupas, dikaji,dan diulas dari hari ke hari. Terlepas dari sisi kelebihan dan kekurangannya sebagai manusia, semoga beliau mendapat tempat yang terbaik di sisiNya. Amin. 

Senin, 10 September 2012

Ibda’ Bi Nafsika. Sepatu Vs Sandal


            Rasulullah mengajarkan kepada umatnya tentang satu metode interaksi yang sangat mendalam, mencakup kohesitas antara hubungan manusia dan tuhan, terselip disitu sebuah pendidikan mental, personal, yang kyai-kyai dipesantren menyebutnya dengan “Ibda’ Binafsika” mulailah dari dirimu sendiri kira-kira begitu terjemahannya. Ada titik temu yang bersifat vertical dimana sesungguhnya manusia adalah guru bagi dirinya sendiri. Mandataris bagi akalnya, hatinya, jiwanya sendiri. “Ibda’ Binafsika” seakan menyindir, meraba sisi sensitivitas kita bahwa ternyata kita diam-diam dan secara tak sadar menjadi munafik, nggaya, pamer udel, merasa paling dintara yang paling dan lain-lain.

Sabtu, 08 September 2012

Shiratal Mustaqim


            Hari ini kuurai sebuah kehidupan baru, awal sebuah kisah seorang yang sedang mencari dirinya. Dia ini tersesat dengan akal dan hatinya sendiri. Manusia itu diciptakan Tuhan untuk selalu berfikir. Terhadap apa saja. Dengan segmentasi yang heterogen ini, kalau manusia tidak bisa menggurui dirinya sendiri dengan software pemberian Tuhan yang bernama akal, ia laksana robot, berjalan kesasna kemari linglung, buta realita dan bisu keadaan. Akal adalah ruang, dimana semua ilmu, hikmah, kebijaksanaaan, rasa bersalah, atau apapun saja ngrumpel menjadi satu. Maka ia harus digali, direnungi.  Afala tatafakkarun, tadzakkarun, Takqilun kata Tuhan.  Loh..sampai mana ini. Kita kembali ke pemuda tadi. Pemuda ini mencoba mencari dirinya dengan sliwar-sliwer, grusak-grusuk ke semua segment organ disekelilingnya. Berharap, dengan grusak-grusuknya itu, dia akan mendapatkan sebuah “nubuwwah” dari Tuhan, berharap menemukan hikmah mengapa, bagaimana, dan siapa sebetulnya dirinya ini. Lebih tepatnya ini adalah proses  tentang pencarian jati diriku, yang sampai hari ini aku tak tahu, bahkan mengapa aku harus mau tahu tentang semua ini.

Rabu, 22 Agustus 2012

Lahir Kembali

Seakan lahir kembali, kayaknya seperti itu. Memandang siapa saja, dari arah dan kondisi apapun yang ada hati dan akal alhamdulillah bisa diajak kompromi. Selama ini, menghadapi berbagai segmen sosial yang melampang, harus membutuhkan ketangguhan mentral, kejernihan akal, dan kebersihan hati. Bondo tampang saja tak cukup, kau akan dimaki habis-habisan jika hanya tampang saja yang kau andalkan. Lha wong Gus Muhammad kurang apa pada kelembutan "tampang" beliau. 

Idul fitri ini adalah sebuah ruang. Dimana kiita menjadi botol kosong setelah beragam macam air memasuki diri kita. Air kedengkian, air ketidakadilan berpijak, mungkin juga air kesombongan yang menyala-nyala. Ya Allah...begitu beraninya makhlukMu memakai bajuMu yang bernama kesombongan. 

Berduyun-duyun setiap orang memasuki rumah demi rumah, berbondong-bondong tamu mengucapkan kemesraan kata maaf yang semuanya mengandung arti yang begitu luas untuk ditasfsirkan kembali. Minal a'idzin wal faizin ya? di hari yang penuh fitri ini, kita menjadi manusia suci, menambah kesejatian diri. 

Semua dan siapa saja sudah kumaafkan, tidak hanya dalam setiap momentum fitri ini. Tetapi dalam setiap kesempatan kumerenung, menghayati, kontemplasi diri, aku selalu berusaha dengan sekuat hati memaafkan kesalahan siapa saja, dengan bergam dan model kesalahan yang pernah diperbuat. 

Semoga kita diberi kekuatan oleh Allah Swt untuk selalu menggandeng siapa saja ke dalam kesucian diri, kebersihan hati dan keaslian jati diri. 

Jombang, 4 Syawal 1433 H
 

Kamis, 09 Agustus 2012

Gegap


Wahai Sahabat
Kau bercucuran keringat
Keringat semangat, idealis “buta”, semangat perjuangan
Demi penegakan kesejahteraan
Tunggu
Sebentar lagi aku menyusul
Demo-demo gegap gempita
BBM menjadi isu penting
.
Ya Allah
Pemerintah sudah kehilangan wibawa
Prestisiusitas mereka lumpuh, pudar
Masyarakat sudah cerdas, dewasa berfikir sekarang
.
Serba terbolak-balik
Sudra menjelma ksatria
Waisha mencapai derajat tinggi menjadi Brahmana
Kacau balau
Topeng-topeng Candala tersumbar di setiap wajah pemerintah kita
Hilang pusaka
Terlempar jauh, sangat jauh
.
UUD ’45 sudah layu
Pancasila menangis, sayapnya yang melambai anggun sedikit mulai merontok
.
Indonesia tanah airku..
Tanah tumpah darahku…
Maret 2012 10.17 WIB 

Selasa, 31 Juli 2012

Mahasiswa Uin Maliki malang itu hilang tertelan ombak.


            Saya sangat sedih mendengar kabar tentang sahabat karib saya Durahman mahasiswa UIN Maliki Malang Fakultas Saintek semester 4 ini hilang tertelan ombak ketika pengabdian masyarakat di Pantai Serang yang terletak di desa Serang, kecamatan Panggungrejo, Blitar beberapa hari yang lalu. Terhitung sejak hari Rabu 17 Agustus 2011 sampai sekarang jasadnya belum diketemukan. Penyisiran dan pencarian oleh tim SAR, penduduk setempat, kepolisian, dan para nelayan sampai sekarang (21 Agustus 2011) masih nihil. Menurut penuturan mas Icun, salah seorang  yang ikut terlibat dalam pencarian Durahman mengatakan “ini aneh mas, wes petang dino jasade durung ketemu, iki mesti ono hubungane embe’ mistik”tuturnya saat saya bertemu di kantin beberapa hari yang lalu.
            Begini kronologisnya ;(menurut penuturan saksi mata)
            Durahman dengan dua belas temannya ditugasi untuk melakukan pengabdian masyarakat di Blitar. Berangkat pada hari jum’at pukul 13.00 setelah shalat Jum’at. Sampai di Blitar pukul 16.00 dan mampir di pantai serang Blitar untuk melepas lelah dan menikmati surup di pantai itu. Sore itu ombak begitu besar sehingga memancing Durahman dan dua belas orang temannya untuk kecek dan ciprat-cipratan air di tepi pantai.
            Praktis, sedikit banyak pakaian mereka basah termasuk Durahman. Kalau teman-teman Durahman yang basah celananya, sedangkan Durahman sendiri yang basah jaketnya. Dia meminta izin sebentar untuk melepas jaket yang dikenakannya. Dan teman-temannya yang lain masih asyik bermain-main air.
            Nah, setelah melepas jaket, ada yang mengatakan Si Durahman ini jalan di tepi pantai, jalan dan terus jalan dan akhirnya lenyap menghilang.  Setelah puas menikmati suasana dan akan berlanjut pulang, teman-temannya sadar kalau Durahman sudah tidak ada. Mereka akhirnya menghubungi nelayan setempat, penduduk sekitar,  Lurah, RT, RW, termasuk pihak kampus, tim SAR, dan polsek  Serang. Dan diputuskan untuk melakukan pencarian selama tujuh hari, jika dalam jangka waktu tujuh hari belum diketemukan  jasadnya, wallahu ‘alam.
            Oke, diatas adalah sekilas kronologis empiris menurut saksi mata dan beberapa orang yang terlibat di tempat. Ikhtiyar yang dilakukan oleh team relawan untuk menemukan si Dur tidak hanya sebatas study empiris, melainkan juga melalui pendekatan mistik dan sugestif. Dimana-dimana jika ada orang yang tenggelam di pantai, hilang atau sejenisnya yang paling memungkinkan untuk didapati kesimpulan (dalam hal ini, mistis) adalah digondol nyi roro kidol. Saya tidak mengarang, tapi memang beginilah informasi yang saya peroleh.   
            Akhirnya, beberapa orang mencoba menghubungi orang pintar, kalau kita menyebutnya paranormal, dukun dan sejenisnya. Si mbah dukun ini disamping melakukan ritual khusus juga ikut melakukan penyisiran, dari mulai pantai serang sampai balekkambang. Nihil. Dari rawa ke rawa, muara ke muara. Juga nihil. Kata mbah dukun, “ini aneh mas, saya sering menolong orang dalam hal-hal seperti ini, jika dia memang benar-benar digondol nyi roro, biasannya saya mendengar ada jeritan minta tolong. Tapi, sudah sejauh ini saya tidak mendengar suara-suara minta tolong. Ini sangat aneh.  Senada dengan si mbah, Mas Icun juga menuturkan “jasad manusia kalau terkena air, itu ndak akan hancur, Cuma memutih. Dan kalau memang tertelan ombak, pasti ketemu.
            Dalam penglihatan si Mbah, Ternyata si Dur ini sudah diincar sejak awal oleh Nyi Roro di dunia ghaib untuk di jadikan mantu di alam sana. Disamping si Dur ini tampan, perangainya juga sopan. Nyi Roro kepincut. Di alam sana si Dur didampingi oleh seorang perempuan cantik dan berjilbab yang memungkinkan itu adalah jelmaan Jin. Mereka berdua diberi Nyi Roro sebuah masjid beratapkan emas dan megah. Praktis, si Dur krasan dan tidak mau kembali pulang. Dan akhirnya, terlepas benar dan tidaknya penuturan mbah, ini hanyalah ikhtiyar untuk menemukan Si Dur agar secepatnya bisa diketemukan. Percaya dan tidak percaya silahkan itu adalah hak anda. Saya hanya sebatas menginformasikan apa yang telah saya dapat dari berbagai penutur dan saksi mata.
            Akhirnya dan akhirnya, semoga sahabat karib kita Abdurahman bocah Jombang bisa cepat ditemukan. Wallahu ‘Alam.
malang, 21 Agustus 2011   

Senin, 30 Juli 2012

What's Cinta

Kau tahu sahabat
bahwa semua lini kehidupan mempunyai frekuensinya masing-masing
Entah itu politik, budaya, ekonomi, kemanusiaan, ketuhanan,  maupun dalam spectrum kejiwaan yang sensitive bernama cinta
Setiap halnya ada titik kulminasi yang luar biasa utuk dirasakan, diendapkan dalam hati hingga MATI
Tak apa
Itu hanyalah proses dielektika perjuangan, pendidikan mental, dan kesutradaraan Tuhan
Agar ia tahu dan faham siapa sesungguhnya dirimu
.
Kau tahu sahabat
Salah satu tetes frekuensi yang mengobrak-abrik aku kali ini adalah CINTA
Sudah sepanjang abad berjalan, sedemikian rupa sejarah memberikaan hikmah dan makna
Kenapa manusia harus leleh, goncang seluruh tatanan dirinya
Jika berhadapan dengan yang namanya
CINTA
Bukankah CINTA hanya milik mereka yang faham apa itu cinta
Bukankah cinta hanya mau bersanding kepada mereka yang menghargai ketulusan
Akankah cinta mengenal manusia yang hanya menuruti nafsu atas nama cinta
Sudahlah…jangan kau koar-koar dengan lantang dihadapan seluruh penduduk bumi
Bahwa engkau tersakiti oleh cinta
Lihatlah keatas, pejamkan sejenak suara bising,  tadahkan tanganmu lebar-lebar
Bahwa
Tuhan adalah simbolik dari cinta
Dekatkan dirimu padaNya, sapa Dia dengan  do’a, rendahkan dirimu di hadapanNya
Maka kau akan benar-benar mengeri apa, bagaimana,dan siapa itu CINTA
30 Juli, 2012. 18.35 Wib