Jumat, 27 Juli 2012
Selasa, 24 Juli 2012
Makna Sluku-Sluku Bathok
Tembang jawa ini dinilai mempunyai filosofi yang mendalam yang menjelaskan arti hidup, bagaimana kedekatan emosional manusia dengan Tuhan, juga betapa manusia sangat menginginkan dolanan-dolanan sebagai penghibur hati, penenang jiwa.
1. Sluku-sluku
bathok, bathoke ela-elo (sluku-sluku bathok, bathoknya
geleng-geleng-red), berasal dari kata “Usluk fa usluka bathnaka, bathnaka ila Allah” (masuk masuklah
bathinmu , bathinmu kepada Tuhan), atau bathinmu harus lailaha illallah. Ada
juga yang berpendapat, itu dari kata “Ghuslu Ghuslu Bathnaka…”(sucikanlah
batinmu) . Entah mana yang benar, yang jelas, kita juga tahu saat seseorang
berdzikir Laa ilaa ha illallah, kepalanya akan bergeleng2 ke kiri ke kanan,
persis seperti bathok kelapa yang ela-elo (geleng-geleng). Oya, bathok adalah
tempurung kelapa, yang secara filosofi dan bentuknya seperti kepala manusia.
Daun-daun kering
Ku tajuk sebuah tali yang mulai putus itu
Demi tersambungnya ikatan hati yang sudah pudar
Ku raih simfoni alam yang sangat memabukkan
Untuk meraih satu kekuatan besar yang bernama persaudaraan
Ku ambil daun daun kering nan hampir layu
Untuk mengambil hikmah..
Bahwa manusia pun hati lebih kering dibanding dedaunan yang sudah mengering
Hai semesta yang penuh ketawadduan kepada Tuhan
Hai langit yang kokoh tanpa tiang-tiang
Sesungguhnya hati siapa yang tak menangis
Jiwa mana yang tidak terkapar dan luka
Jika persaudaraan yang indah....
Harus terurai layak dedaunan yang sudah mengering diterpa angin..
Minggu, 01 Juli 2012
Makhluk pemenggal leher
Aku merasakan dingin tidak hanya pada musim dingin saja.
Di siang bolong segala aktivitasku dipenuhi dengan dingin-dingin yang menusuk.
Di amalam hari semakin bertambah. Cara berjalan, bertanya, komunikasi,
berdagang, belajar semua diliputi oleh dingin. Hingga akal, hati pun menjadi
dingin. Teman-temanku merasa aneh dengan sikap dan kelakuanku. Apa yang
kutatap, kupegang, kudengar, kebicarakan selalu menjadi es karena setiap
gerakku adalah dingin.
Aku
hampa ditengah kedinginan ini. Ingiiiiin rasanya memeluk, merangkul, sedikit
bermesraan dengan seseorang yang kurindukan. Ketika hati ini beku, telingaku
menjadi tuli. Ketika mataku buta, fikiranku tambah menjadi hambar. Serasa
menghisap aroma panas api. Aku tak punya teman. Kesejatianku terututp oleh
kesombongan bak Musa menantang Tuhan karena Kepandaiannya, kepintarannya,
kecerdasannya. Tapi Musa adalah Nabi, manusia biasa dengan kolektifisnya
sebagai hamba Allah. Hamba Sang hyang Taya, Yahofa. Tentu berbeda jauh denga
aku. Haha..lha aku ini siapa. Kolektifitasku bukanla pahala dan ibadah, tapi
bertribun-tribun dosa dan maksiat. Ditambah lagi dengan keangkuhan berat yang
bernama kesombongan. Ingin menjadi seperti Musa As? Ah..basi. Kau hanya bisa
meniru kesombongannya, bukan penghambaaanya kepada sang Tuhan.
Rabu, 27 Juni 2012
Baju kesombongan manusia
Puji syukur kehadiran Tuhan yang
masa kuasa aku ditakdirkan menjadi makhluk dari golongan manusia. Menjadi sosok
agung dengan multi talenta, mengalahkan makhluk-makhluk jagad nan perkasa
sekaliber Jin, Syetan, bahkan malaikat. Bukan menyombongkan diri karena
mentang-mentang sudah dinash dalam alkitab “sesungguhnya Kami
telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (A-Tin :04).
Manusia dengan segala multi talentanya, kekuatan internalnya, kreativitasnya,
sesungguhnya merupakan satu qodrat yang haram untuk dipersombongkan. Lha
wong Raja-raja besar mbah-mbah kita seperti Panembahan Senopati, raja
Majapatih, Prabu Yudistira yang terkenal dengan nama lakobnya Raden darma
Putra, Mas Aryo penansang, hingga manusia suci layak malaikat seperti Semar,
Pandawa Gareng, Petruk, Bagong dan panakawan saja tidak nggedekno awak.
Apalagi kita yang hanya cecunguk kecil dihadapan Tuhan.
Njawab Soal Ngawur Tapi Karena Benar
Kabeh podo khusyuk, repot, seakan ndunyo
mau kiamat. Segala referensi dibuka, dianalisis, disingkep, disinanuni
demi terwujudnya satu kulminasi kepuasan yang bernama nilai. Nilai itu
macem-macem lho, ada yang sekedar nyontek lalu puas syukur-syukur dapat nilai
pucak. A. Ada yang pasrah, tawakkal, kuliah cuma formalitas, ngisi absen, kupu
kupu (kuliah-pulang2) dapat nilai apik syukur, dapat nilai abang yo
tetep syukur. Ngikut aliran jabariyah pokoknya. Ada yang sibuk di dunia sosial,
organisasi intra maupun ekstra, berjuang dengan keilmuan empiris, kenyataan
bahwa lingkup sosial harus diperjuangkan demi mewujudkan kesadaran kolektif,
bahwa mahasiswa adalah pendobrak sejarah, pembaharu peradaban, dengan membela
hak-hak temannya, sahabatnya, adek-adeknya, masyarakatnya dalam memperoleh
keadilan. Praktis, ketika UAS, opo sing digowo, lha wong kuliahnya di
jalan, di pelataran kantin, diskusi-diskusi ilmu hidup dll. Lha, tipikal model
mahasiswa demikian biasanya penuh idealisme. Nggak iso nggarap soal ya wajar,
lha wong jarang sinau diskursus ilmunya.
Senin, 25 Juni 2012
Css Mora Uin Maliki : Antara Ego, kewajiban dan kepentingan
Bismillahirrahmanirrahim…..
Forum sosialisasi masalah penempatan anggota Css Mora
baru saja digelar. Sekian menit yang lalu, pada hari Rabu tanggal 20 Juni 2012
di kantor HTQ pada pukul 19.00-22.00 Wib. Menjadi satu moment penting untuk menentukan
langkah, masa depan arek-arek dalam menata dirinya maupun organisasinya yang
masih bau kencur ini. Entah, aku selalu suudzon mengapa forum-forum yang
terjadi selama ini hanyalah kamuflase belaka, kebohongan structural, dan
pembodohan mental serta pendidikan yang diterapkan (Ya Allah, semoga ini
salah). Aku hanyalah pemuda bodoh yang mencoba mencari langkah, menemukan
solusi terhadap lingkungan yang kugeluti. Di organisasi, masyarakat, maupun
konco-konco sejawat. Segmentasi menjadi penting, karena itu adalah proses
dimana manusia mulai menemukan siapa dirinya dan siapa Tuhannya.
Kamis, 21 Juni 2012
Puasa Menuju Makan Sejati
Puasa : Menuju Makan
Sejati
(Emha Ainun Nadjib)
Puasa itu jalan sunyi
Tersedia makanan tapi tak dimakan
Tersedia kursi tapi tak diduduki
Tersedia tanah tapi tak dipagari
Puasa itu jalan sunyi
Menggambar tapi tak terlihat
Bernyanyi tapi tak terdengar
Menangis tapi tak diperhatikan
Puasa itu jalan sunyi
Menjadi tanpa eksistensi
Pergi menuju kembali
Hadir tapi tak dikenali
(Emha Ainun Nadjib)
Puasa itu jalan sunyi
Tersedia makanan tapi tak dimakan
Tersedia kursi tapi tak diduduki
Tersedia tanah tapi tak dipagari
Puasa itu jalan sunyi
Menggambar tapi tak terlihat
Bernyanyi tapi tak terdengar
Menangis tapi tak diperhatikan
Puasa itu jalan sunyi
Menjadi tanpa eksistensi
Pergi menuju kembali
Hadir tapi tak dikenali
ILMU Rasulullah Muhammad, "hanya makan ketika lapar dan
berhenti makan sebelum kenyang", telah menjadi pengetahuan hampir setiap
pemeluk Agama Islam, tetapi mungkin belum menjadi ilmu. Puasa demi puasa,
Ramadlan demi Ramadlan beserta fatwa demi fatwa yang senantiasa menyertainya
dengan segala kerendahan hati harus saya katakan belum cukup mengantarkan kita
dari permukaan pengetahuan menuju kedalaman ilmu.
Ada jarak yang tak terkirakan antara pengetahuan dengan ilmu,
meskipun khasanah kebahasaan kita dengan kalem menyebut ilmu pengetahuan di
lembaran-lembaran kamusnya. Dengan berkunjung ke sebuah museum, kita bisa
memperoleh pengetahuan tentang sebilah pedang, lengkap dengan semua data
tentang panjang-lebarnya, asal-usul sejarahnya, serta logam suku cadangnya,
termasuk berapa kepala yang dulu pernah dipenggalnya.
Tetapi, ilmu baru terjadi tatkala pedang itu telah menyatu
dengan tangan kita. Bukan saja kita sanggup menggenggamnya dan
mendayagunakannya dengan seribu teknik silat; lebih dari itu ilmu ditandai oleh
realitas menyeluruh, di mana pedang itu telah menjadi bagian dari diri kita,
bagian dari badan kita, akal pikiran kita, emosi hati kita, termasuk budi dan
kearifan jiwa kita.
Kamis, 14 Juni 2012
Sate, Rawon, Soto Dihari Kebangkitan Nasional (20 Mei )
Sangat menarik menelaah tulisan Djoko Susilo di rubric
opini jawa pos beberapa hari yang lalu (19/05/2012). Tulisan yang berjudul
“nasionalisme di belantara mal” itu mengangkat satu tema menarik tentang bangsa
kita dari sudut dan lorong yang berbeda untuk diambil pelajaran berharga
tentang rasa nasionalis kita terhadap bangsa ini.
Djoko Susilo memberi satu ulasan runtut tentang
nasionalisme dari pandangan fakta bahwa tidak bisa dipungkiri banyak dari kita
yang menganggap kemajuan suatu daerah, kota ditandai dengan adanya mal atau
pusat perbelanjaan modern di kawasan itu.
Bukan hanya itu, seakan mal masih dianggap kurang, sebuah daerah akan
merasa maju jika ditiap kecamatan terdapat banyak mart yang menjual
produk-produk asing (jawa pos,19/05/2012) Kenyataan tersebut patut kita
renungkan. Ya, kita renungkan setelah kita melewati hari kebangkitan nasional
20 Mei beberapa hari yang lalu.
Sabtu, 09 Juni 2012
Hijab Cinta

Wahai Tuhan semesta jagad
Malam ini angin berdesir begitu syahdu
Manancapkan semilirnya pada lubang hati yang sedang menganga
Juga
Terbukanya pintu syukur
Dengan kehadiran satu makhluk yang sebenarnya sangat "Menggangu"
Wahai Tuhan sang pembolak balik hati
Makhluk dengan keindahan semu itu menatapku
Menebar senyum "angkara" yang mematikan kalbu
Langganan:
Postingan (Atom)





