Sabtu, 28 April 2012

Untuk Perempuan yang bernama May


May, sejenak ingin ketinggaalkaan jejak langkah yang baru kemarin kubuat
Hanya sejenak, tidak akan lama

Kau tahu kan, dinamika hidup begitu kejam, ekstrim, penuh intrik
Kekejaamannya membuat derap langkah menjadi berat, berat sekali
Galau?
Tidak may, itu hanya alasan yang dibuat-buat
Mari tengok sejarah
Pahami dimana ia beralur

Kamis, 26 April 2012

Tamu itu bernama Bau kentut

            Kegundahan serta ketidaktenangan itu muncul tatkala ada satu siluman, bau kentut tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam tanpa izin sang empunya rumah, tanpa basa-basi andhap ashor, dan membuat suasana gaduh tanpa merasa sungkan dan dosa. Seisi rumah terkena imbas bau yang tidak sedap. Entah, makan apa dia sehingga kentutnya begitu  "wangi" dan menebar. Imbas hakikinya berupa salah paham, interkoneksi dalam berkomunikasi, munculnya duga'an-duga'an subjektif dan yang paling ekstrim satu keluarga harmonis itu mulai berhalusinasi bahwa ada satu proses saling meng-intrik diantara mereka.

Rabu, 25 April 2012

Pelantkan Omik Fakultas Humbud periode 2012-2013

Pelantikan OMIK Fakultas Humaniora dan Budaya Uin maliki Malang periode 2012-2013 beberapa waktu lalu (20/05) di gedung Sc lt.02 menjadi awal dari sebuah tanggung jawab dan perjuangan baru dalam mewujudkan kesuksesan bersama. Dema-F, Hmj BSi, Hmj BSA, dan Hmj PBA mengikuti acara pelantikan ini dengan khidmat. Acara yang diselenggarakan oleh Sema-F fakultas ini adalah satu rentetan dari beberapa acara yang lainnya. Setelah semua Omik mengikuti pelantikan, mereka selanjutnya akan digodok dengan pelatihan organisasi yang dilaksanakan di ruang auditorium dan galeri lt.3 fakultas Humbud. 

Selasa, 24 April 2012

Coretan untuk Sahabat



Mengurus suatu kelembagaan, organisasi, himpunan, pergerakan, atau apa saja menjadi suatu tanggung jawab yang benar-benar harus dilaksanakan. Tanggung jawab itu berupa banyak hal menurut kadar kemampuan masing-masing. Tidak harus ahli dalam spesifikasi tentang ilmu tertentu, bukan itu. Seorang pemimpin bukanlah mereka yang handal, linier cara berfikirnya dalam menjalankan roda organisasi yang dipimpinnya. Pemimpin yang handal ialah mereka yang bisa meracik segala pluralitas yang ada disekelilingnya. Jika ia menemukan bawang dan tomat, ia akan membentuk satu komposisi lezat yang dinamakan sambal.

Mahasantri Ma'had Sunan Ampel Al- 'Aly itu akhirnya muntab

            Lagi-lagi kisruh mewarnai kehidupan ini dengan berbagai segmen yang meliputi. Sesungguhnya ada latar belakang dan alasan rasional kenapa kekisruhan tak dapat di elakkan. Sistem sosial, birokrasi kampus, politik kekuasaan “kecil” dunia mahasiswa, feodalisme fakultas maupun jurusan, maupun  kebijakan ma’had dimana mahasiswa Uin maliki berkutat dengan urusan intelektual, moral, dan sosial. Selama ini, tidak ada gerakan praktis untuk mengatasi problem-problem yang terjadi. Idealnya, seorang musyrif dan murabbi adalah penyambung lidah, pengayom, teman curhat, sahabat dekat, konco ngopi, dan tanggap dengan masalah-masalah yang dihadapi mahasantri. Apa keinginan mereka, selama tidak melanggar tatanan sosial dan budaya, harusnya ditanggapi dengan hati yang lapang, fikiran yang jernih dan prinsip silaturahmi yang terbangun. Namun yang terjadi, musyrif maupun murabbi seakan terjebak pada structural formal. Musyrif dan murabbi bukannya menjadi penyambung dari problematika mahasantri namun justru berubah menjadi algojo dan pengeksekusi mahasantri.  

Santri dan Peci


Santri dan Peci
            Seorang kawan cerita bahwa ia baru saja menemui, sowan ke salah seorang Kyai di  kota Malang, berharap dalam hatinya ia akan mendapatkan nasehat, petuah, atau do’a-do’a yang bersifat kontekstual yang sesuai dengan keadaan dirinya. Kebiasaan seseorang yang sowan kepada orang yang dianggap tua adalah satu bentuk sungkem, andap ashor, tata karma di dalam menghormati orang tua. Khususnya orang alim. Rasulullah SAW meng-SK mereka sebagai waratsatul Anbiya’ asistennya para Nabi, manusia dengan derajat khusus yang mendapatkan mandat kehormatan, prestisius, wibawa, juga sekaligus ‘cobaan’.

Senin, 23 April 2012

Neng Chacha

Siapa yang tidak kenal dengan Marsyanda atau Neng chacha. Artis Indonesia yang sudah melambai namanya hingga ke pelosok desa. Neng Chacha (panggilan ankrabnya) kami temui beberapa waktu lalu di Jakarta untuk wawancara tentang arti sebuah jilbab.Bagi Chacha, jilbab adalah sebuah rasa syukur kepada Allah terhadap semua nikmat yang telah diberikan.
" Aku memakai jilbab ini adalah karena syukurku padaNya". Ujar Neng Chacha. 

Kamis, 19 April 2012

Kaping telu wong sholeh kumpulono

Ada Salah satu butir syair Tombo Ati yang berbunyi "kaping telu wong kang sholeh kumpulono". Syair jawa yang digubah oleh ayahanda Gus Mus tersebut merupakan syair jawa yang sangat populer di kalangan umat muslim Indonesia, khususnya kaum santri di pesantren.

Khusus bait diatas, mempunyai kohesi didalam lingkungan hidup untuk menciptakan kepribadian yang baik maupun buruk. Anda tentu tahu, siapa yang berkumpul dengan tukang minyak, dia akan ikut menjadi wangi. Pun sebaliknya, jika anda bergaul dengan tukang besi, segala apa yang berkaitan dengan itu juga ikut mempengaruhi anda.

Senin, 16 April 2012

Maiyahan

Silaturahmi ke Cak Nun dalam rutinan maiyah padhang mbulan jombang alhamdulillah selalu kami ikuti setiap bulan. Cak Nun adalah tokoh nasional yang sampai saat ini masih eksis di forum-forum. Entah di masyarakat, mahasiswa, aktivis, dan lain-lain. Semoga kami bisa selalu mengikuti forum-forum dimana Cak Nun ada. 

 


Rabu, 29 Februari 2012

Suratku untuk Bapak Imam Suprayogo



Assalamu’alaikum Wr Wb
            Puji syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan berbagai karunia, nikmat, rahmad kepada kita selaku hambaNya sehinggga bisa melakukan aktivitas, menemukan ilmu dimana pun kita berada, menghirup nafas rezki yang tiada henti-hentinya mengalir di sekeliling kita untuk mencapai satu ucapan syukur kepada Tuhan sang pencipta.
            Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan pada manusia mulia, manusia agung, pemegang tonggak peradaban terbesar dalam sejarah dunia. nabi akhiruz zaman, raja dari para nabi( mulukan nabiyya), seorang lelaki penggenggam hujan. Dialah Muhammad SAW, yang telah mengantarkan manusia dari kubangan dosa menuju kolam intan permata nan cahaya, yaitu Islam.
Bapak Rektor yang terhormat…..
            Ijinkan mahasiswa Bapak ini menyampaikan satu dua kata untuk menyampaikan sesuatu, curhat, testimony, komunikasi dengan Bapak walau hanya sebatas corat-coret dengan tulisan yang sederhana ini. Tentunya, komunikasi yang baik harus dimulai dengan etika yang baik, tata karma yang sopan, andap ashor kata orang jawa untuk memulai suatu perbincangan antara murid dengan guru, ksatria dengan brahmana, santri dengan ustadz, maupun mahasiswa dengan rektornya. Titik temu untuk bisa menemukan etika yang baik kiranya bisa dimulai dengan satu pemahaman utuh bahwa kita adalah manusia, bukan yang lain. Kita sering dihadapkan pada kenyataan sosial tentang hubungan antar manusia yang selalu salah paham dalam memahami pemikiran, maksud hati, dan keinginan untuk menyampaikan sesuatu hanya karena kita merasa paling benar diantara yang lain, paling unggul, paling pintar, paling dewasa, menang pengalaman dan lain-lain. Nah, disini saya sebagai mahasiswa Bapak apapun yang saya katakan, entah solusi maupun kritik tolong anggaplah saya ini sebagai manusia, yang segala sesuatu tidak bisa terlepas dari salah, khilaf, dan dosa. Kiranya bapak juga demikian, tanggalkan dulu jabatan, pengalaman, prestisiusitas, njenengan dulu agar kita bisa saling memahami, saling instropeksi diri, bisa embat-embatan hati satu sama lain. Karena jaman sekarang, orang sudah tidak berani menjadi manusia, mereka beraninya menjadi bupati, gubernur, presiden, dan lain-lain. Mereka belum berani menjadi manusia seutuhnya. Kebanggaan dan keberanian mereka satu-satunya adalah menjadi manusia struktural. Maka, dengan ini saya dan anda mari menjadi manusia seutuhnya. Saya mohon dengan hati yang lapang, bapak benar-benar mau sedikit mendengar keluh kesah, cerewet saya yang selama ini saya pendam untuk bapak Imam yang terhormat.     
Bapak Imam yang tak pernah lelah berjuang…..
            Dulu, ketika awal saya menjadi maba, satu hal yang saya catat di memorandum saya adalah bahwa seorang pemimpin sejati pasti mempunyai trik-trik, ilmu politik praktis, demi kelangsungan mempertahankan system yang akan diterapkan pada pola kepemimpinannya. Namun, formula itu belum saya temukan. Baru saya temukan ketika saya mendengarkan langsung pidato bapak tentang empat pilar yang luar biasa dan terkenal di kampus ini yaitu, kedalaman spiritual, keagungan akhlak, keluasan ilmu dan kematangan professional. Empat formula itu akan bereksplorasi menjadi kekuatan batin, memompa semangat kemanusiaan, membentuk karakter kepribadian yang berorentasi menjadi manusia ulul albab. Konsep dasar ini benar-benar anda ‘plokamirkan’ dalam setiap pidato, ceramah, khutbah dimana saja. Tidak cukup dengan itu, pengejawentaahan yang nyata dalam bentuk yang lebih kongkrit muncul seiringan dengan gagasan anda itu.Yaitu, ma’had sebagai wilayah srategis untuk membentuk kepribadian ‘akhlakis’, agamis, namun tetap kritis dalam membaca wacana-wacana global tentang sosial. Inilah yang membuat saya sedikit terinspirasi dan termotivasi untuk selalu menemukan kesejatian diri, dan selalu mengambil ilmu dari Bapak.
Bapak Imam yang selalu di rahmati Allah….
            Tidak mungkin seorang pemimpin itu mengeberi kepentingan mahasiswa untuk kepentingan dirinya. Saya yakin itu. Maksudnya, pola system yang diterapkan di kampus tentunya mempunyai dasar, latar belakang pemikiran, histografis letak, untuk menciptakan budaya akademis progresif untuk kemajuan bersama. Tidak hanya untuk kampus, tapi juga untuk masyarakat, agama, bangsa dan Negara. Maka, dalam penerapan system yang ada, seharusnya mahasiswa selalu diikutsertakan, di ajak rembuk untuk menciptakan kebijakan dan aturan yang ada. Realita yang ada, banyak faktor mis komunikasi antar birokrasi dan elemen mahasiswa dalam memahami kepentingan-kepentingan yang ada. Mahasiswa seakan dikomodiskan sebagai pelengkap, objek pelaku system tanpa mereka mengetahui mengapa harus ikut aturan itu. Misalnya, kasus dekat-dekat kemarin-mahasiswa demo tentang SPP, yang berujung pada kasus yang lebih besar dan tidak terduga. Bapak dituduh korupsi dana Negara untuk pembangunan masjid ulul albab. Saya kira, kesalahan fatal Bapak dengan elemen jajaran birokrasi adalah meniadakan peran mahasiswa dalam menentukan aturan, rembuk bersama, untuk menemukan kesepakatan-kesepakatan yang bijak dan cerdas antara birokrator dan mahasiswa. Wahai Bapak, ajaklah kami selaku mahasiswa untuk bisa urun pendapat dan gagasan untuk menentukan langkah dimana kami yang selalu menjadi objek pelaku aturan. Jangan menunggu didemo baru kami bisa mengajukan gagasan atau tuntutan.. Itu salah sesungguhnya.
Bapak Imam yang bersahaja…..
            Kalau boleh jujur, kepemimpinan Bapak dalam kaca mata subjektif saya sangat luar biasa, dimata sebagian mahasiswa, karyawan, dosen maupun di lingkup luas nasional. H.R. Taufiqurrochman dalam bukunya Imam al-jami’ah menulis bahwa banyak sekali tokoh-tokoh termuka yang menaruh simpati  atas kesuksesan Bapak dalam membangun kampus ini. Muhammad Maftuh Bayuni Menteri Agama menilai bahwa anda adalah tokoh yang intens, total, dan tidak mengorbankan satu untuk lainnya. Prof. Drs. A. Malik Fadjar, M.Sc Menteri Pendidikan Nasional juga megungkapkan hal yang sama. Prof. Dr. Yahya Muhaimin Menteri Pendidikan Nasional kabinet persatuan, Prof. Komaruddin Hidayat, Ph.d Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sampai dengan Basri Zain, MA, Ph.D ketua pusat studi tarbiyah ulul albab UIN Maliki Malang. Semua sangat apresiasi terhadap cirri khas, gaya, retorika kepemimpinan anda. Namun, ada yang janggal dalam buku Imam Al-jami’ah karangan H.R Taufiqurrochman tersebut, yaitu tidak adanya statement dari mahasiswa terhadap Bapak. Yang ‘dipajang’ hanyalah statement orang-orang yang mempunyai prestisius besar dengan menempati posisi srategis dalam birokrasi maupun kepemerintahan. Bapak boleh berbangga, tetapi jangan lupakan bahwa sesungguhnya penilaian yang sejati, jujur, objektif, mempunyai supremasi hukum, adalah penilaian mahasiswa. Bukan orang-orang ‘besar’ seperti yang telah diungkapkan. Karena pelaku utama dari aturan-aturan yang diterapkan adalah mahasiswa. Mahasiswa bukanlah objek, tapi mereka adalah subjek. Otoritas tertinggi secara hukum, subtansi, filosofi, social development adalah mereka. Rektor, wakil rektor, dekan, wakil dekan, kajur, wakil kajur, kamahasiswaan, karyawaan, adalah buruh dan pemimpinnya adalah mahasiswa. Jajaran birokrasi hanyalah orang yang dibayar untuk menemani mahasiswa belajar, mencari ilmu, mandiri dan lain-lain. Jangan semena-mena dan sombong dengan jabatan akademik dengan meniadakan peran mahasiswa dalam berkontribusi untuk kampusnya. Wahai Bapak, elus kepala kami dengan kasih sayang layaknya orang tua kepada anaknya. Tidak hanya secara struktural, namun lebih kepada romantisme hubungan kultural.
Wahai Bapak Imam yang selalu sabar….
         Napak tilas perjuangan Bapak saya yakin akan dikenang oleh siapa saja yang mau menghargai akan sebuah perjuangan. Saya ingat satu cita-cita luhur Bapak untuk kampus ini kedepan, yaitu menjadikan kampus ini unggul, unggul, dan unggul. Keunggulan itu diperkuat dengan banyaknya jajaran birokrasi, pemimpin fakultas, maupun universitas yang hafal Al qur’an. Sebagai mahasiswa, sungguh itu adalah cita-cita luhur nan luar biasa. Beberapa bulan ke depan, Bapak sudah tidak memimpin kammpus ini, tapi Bapak sudah meninggalkan warisan cita-cita, mimpi dan impian untuk kampus, mahasiswa, dan semuanya untuk depannya.
            Sekali lagi apapun yang saya ungkapakan, terimalah saya sebagai manusia yang penuh salah dan dosa. Trima kasih Pak mau membaca surat sederhana ini. Semoga Rahmad Allah selalu menaungi kita dalam melakkukan aktivitas sehari-hari. Amin.
Wassalamu’alaikum Wr Wb