Kamis, 26 April 2012

Tamu itu bernama Bau kentut

            Kegundahan serta ketidaktenangan itu muncul tatkala ada satu siluman, bau kentut tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam tanpa izin sang empunya rumah, tanpa basa-basi andhap ashor, dan membuat suasana gaduh tanpa merasa sungkan dan dosa. Seisi rumah terkena imbas bau yang tidak sedap. Entah, makan apa dia sehingga kentutnya begitu  "wangi" dan menebar. Imbas hakikinya berupa salah paham, interkoneksi dalam berkomunikasi, munculnya duga'an-duga'an subjektif dan yang paling ekstrim satu keluarga harmonis itu mulai berhalusinasi bahwa ada satu proses saling meng-intrik diantara mereka.

Rabu, 25 April 2012

Pelantkan Omik Fakultas Humbud periode 2012-2013

Pelantikan OMIK Fakultas Humaniora dan Budaya Uin maliki Malang periode 2012-2013 beberapa waktu lalu (20/05) di gedung Sc lt.02 menjadi awal dari sebuah tanggung jawab dan perjuangan baru dalam mewujudkan kesuksesan bersama. Dema-F, Hmj BSi, Hmj BSA, dan Hmj PBA mengikuti acara pelantikan ini dengan khidmat. Acara yang diselenggarakan oleh Sema-F fakultas ini adalah satu rentetan dari beberapa acara yang lainnya. Setelah semua Omik mengikuti pelantikan, mereka selanjutnya akan digodok dengan pelatihan organisasi yang dilaksanakan di ruang auditorium dan galeri lt.3 fakultas Humbud. 

Selasa, 24 April 2012

Coretan untuk Sahabat



Mengurus suatu kelembagaan, organisasi, himpunan, pergerakan, atau apa saja menjadi suatu tanggung jawab yang benar-benar harus dilaksanakan. Tanggung jawab itu berupa banyak hal menurut kadar kemampuan masing-masing. Tidak harus ahli dalam spesifikasi tentang ilmu tertentu, bukan itu. Seorang pemimpin bukanlah mereka yang handal, linier cara berfikirnya dalam menjalankan roda organisasi yang dipimpinnya. Pemimpin yang handal ialah mereka yang bisa meracik segala pluralitas yang ada disekelilingnya. Jika ia menemukan bawang dan tomat, ia akan membentuk satu komposisi lezat yang dinamakan sambal.

Mahasantri Ma'had Sunan Ampel Al- 'Aly itu akhirnya muntab

            Lagi-lagi kisruh mewarnai kehidupan ini dengan berbagai segmen yang meliputi. Sesungguhnya ada latar belakang dan alasan rasional kenapa kekisruhan tak dapat di elakkan. Sistem sosial, birokrasi kampus, politik kekuasaan “kecil” dunia mahasiswa, feodalisme fakultas maupun jurusan, maupun  kebijakan ma’had dimana mahasiswa Uin maliki berkutat dengan urusan intelektual, moral, dan sosial. Selama ini, tidak ada gerakan praktis untuk mengatasi problem-problem yang terjadi. Idealnya, seorang musyrif dan murabbi adalah penyambung lidah, pengayom, teman curhat, sahabat dekat, konco ngopi, dan tanggap dengan masalah-masalah yang dihadapi mahasantri. Apa keinginan mereka, selama tidak melanggar tatanan sosial dan budaya, harusnya ditanggapi dengan hati yang lapang, fikiran yang jernih dan prinsip silaturahmi yang terbangun. Namun yang terjadi, musyrif maupun murabbi seakan terjebak pada structural formal. Musyrif dan murabbi bukannya menjadi penyambung dari problematika mahasantri namun justru berubah menjadi algojo dan pengeksekusi mahasantri.  

Santri dan Peci


Santri dan Peci
            Seorang kawan cerita bahwa ia baru saja menemui, sowan ke salah seorang Kyai di  kota Malang, berharap dalam hatinya ia akan mendapatkan nasehat, petuah, atau do’a-do’a yang bersifat kontekstual yang sesuai dengan keadaan dirinya. Kebiasaan seseorang yang sowan kepada orang yang dianggap tua adalah satu bentuk sungkem, andap ashor, tata karma di dalam menghormati orang tua. Khususnya orang alim. Rasulullah SAW meng-SK mereka sebagai waratsatul Anbiya’ asistennya para Nabi, manusia dengan derajat khusus yang mendapatkan mandat kehormatan, prestisius, wibawa, juga sekaligus ‘cobaan’.

Senin, 23 April 2012

Neng Chacha

Siapa yang tidak kenal dengan Marsyanda atau Neng chacha. Artis Indonesia yang sudah melambai namanya hingga ke pelosok desa. Neng Chacha (panggilan ankrabnya) kami temui beberapa waktu lalu di Jakarta untuk wawancara tentang arti sebuah jilbab.Bagi Chacha, jilbab adalah sebuah rasa syukur kepada Allah terhadap semua nikmat yang telah diberikan.
" Aku memakai jilbab ini adalah karena syukurku padaNya". Ujar Neng Chacha. 

Kamis, 19 April 2012

Kaping telu wong sholeh kumpulono

Ada Salah satu butir syair Tombo Ati yang berbunyi "kaping telu wong kang sholeh kumpulono". Syair jawa yang digubah oleh ayahanda Gus Mus tersebut merupakan syair jawa yang sangat populer di kalangan umat muslim Indonesia, khususnya kaum santri di pesantren.

Khusus bait diatas, mempunyai kohesi didalam lingkungan hidup untuk menciptakan kepribadian yang baik maupun buruk. Anda tentu tahu, siapa yang berkumpul dengan tukang minyak, dia akan ikut menjadi wangi. Pun sebaliknya, jika anda bergaul dengan tukang besi, segala apa yang berkaitan dengan itu juga ikut mempengaruhi anda.

Senin, 16 April 2012

Maiyahan

Silaturahmi ke Cak Nun dalam rutinan maiyah padhang mbulan jombang alhamdulillah selalu kami ikuti setiap bulan. Cak Nun adalah tokoh nasional yang sampai saat ini masih eksis di forum-forum. Entah di masyarakat, mahasiswa, aktivis, dan lain-lain. Semoga kami bisa selalu mengikuti forum-forum dimana Cak Nun ada. 

 


Rabu, 29 Februari 2012

Suratku untuk Bapak Imam Suprayogo



Assalamu’alaikum Wr Wb
            Puji syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan berbagai karunia, nikmat, rahmad kepada kita selaku hambaNya sehinggga bisa melakukan aktivitas, menemukan ilmu dimana pun kita berada, menghirup nafas rezki yang tiada henti-hentinya mengalir di sekeliling kita untuk mencapai satu ucapan syukur kepada Tuhan sang pencipta.
            Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan pada manusia mulia, manusia agung, pemegang tonggak peradaban terbesar dalam sejarah dunia. nabi akhiruz zaman, raja dari para nabi( mulukan nabiyya), seorang lelaki penggenggam hujan. Dialah Muhammad SAW, yang telah mengantarkan manusia dari kubangan dosa menuju kolam intan permata nan cahaya, yaitu Islam.
Bapak Rektor yang terhormat…..
            Ijinkan mahasiswa Bapak ini menyampaikan satu dua kata untuk menyampaikan sesuatu, curhat, testimony, komunikasi dengan Bapak walau hanya sebatas corat-coret dengan tulisan yang sederhana ini. Tentunya, komunikasi yang baik harus dimulai dengan etika yang baik, tata karma yang sopan, andap ashor kata orang jawa untuk memulai suatu perbincangan antara murid dengan guru, ksatria dengan brahmana, santri dengan ustadz, maupun mahasiswa dengan rektornya. Titik temu untuk bisa menemukan etika yang baik kiranya bisa dimulai dengan satu pemahaman utuh bahwa kita adalah manusia, bukan yang lain. Kita sering dihadapkan pada kenyataan sosial tentang hubungan antar manusia yang selalu salah paham dalam memahami pemikiran, maksud hati, dan keinginan untuk menyampaikan sesuatu hanya karena kita merasa paling benar diantara yang lain, paling unggul, paling pintar, paling dewasa, menang pengalaman dan lain-lain. Nah, disini saya sebagai mahasiswa Bapak apapun yang saya katakan, entah solusi maupun kritik tolong anggaplah saya ini sebagai manusia, yang segala sesuatu tidak bisa terlepas dari salah, khilaf, dan dosa. Kiranya bapak juga demikian, tanggalkan dulu jabatan, pengalaman, prestisiusitas, njenengan dulu agar kita bisa saling memahami, saling instropeksi diri, bisa embat-embatan hati satu sama lain. Karena jaman sekarang, orang sudah tidak berani menjadi manusia, mereka beraninya menjadi bupati, gubernur, presiden, dan lain-lain. Mereka belum berani menjadi manusia seutuhnya. Kebanggaan dan keberanian mereka satu-satunya adalah menjadi manusia struktural. Maka, dengan ini saya dan anda mari menjadi manusia seutuhnya. Saya mohon dengan hati yang lapang, bapak benar-benar mau sedikit mendengar keluh kesah, cerewet saya yang selama ini saya pendam untuk bapak Imam yang terhormat.     
Bapak Imam yang tak pernah lelah berjuang…..
            Dulu, ketika awal saya menjadi maba, satu hal yang saya catat di memorandum saya adalah bahwa seorang pemimpin sejati pasti mempunyai trik-trik, ilmu politik praktis, demi kelangsungan mempertahankan system yang akan diterapkan pada pola kepemimpinannya. Namun, formula itu belum saya temukan. Baru saya temukan ketika saya mendengarkan langsung pidato bapak tentang empat pilar yang luar biasa dan terkenal di kampus ini yaitu, kedalaman spiritual, keagungan akhlak, keluasan ilmu dan kematangan professional. Empat formula itu akan bereksplorasi menjadi kekuatan batin, memompa semangat kemanusiaan, membentuk karakter kepribadian yang berorentasi menjadi manusia ulul albab. Konsep dasar ini benar-benar anda ‘plokamirkan’ dalam setiap pidato, ceramah, khutbah dimana saja. Tidak cukup dengan itu, pengejawentaahan yang nyata dalam bentuk yang lebih kongkrit muncul seiringan dengan gagasan anda itu.Yaitu, ma’had sebagai wilayah srategis untuk membentuk kepribadian ‘akhlakis’, agamis, namun tetap kritis dalam membaca wacana-wacana global tentang sosial. Inilah yang membuat saya sedikit terinspirasi dan termotivasi untuk selalu menemukan kesejatian diri, dan selalu mengambil ilmu dari Bapak.
Bapak Imam yang selalu di rahmati Allah….
            Tidak mungkin seorang pemimpin itu mengeberi kepentingan mahasiswa untuk kepentingan dirinya. Saya yakin itu. Maksudnya, pola system yang diterapkan di kampus tentunya mempunyai dasar, latar belakang pemikiran, histografis letak, untuk menciptakan budaya akademis progresif untuk kemajuan bersama. Tidak hanya untuk kampus, tapi juga untuk masyarakat, agama, bangsa dan Negara. Maka, dalam penerapan system yang ada, seharusnya mahasiswa selalu diikutsertakan, di ajak rembuk untuk menciptakan kebijakan dan aturan yang ada. Realita yang ada, banyak faktor mis komunikasi antar birokrasi dan elemen mahasiswa dalam memahami kepentingan-kepentingan yang ada. Mahasiswa seakan dikomodiskan sebagai pelengkap, objek pelaku system tanpa mereka mengetahui mengapa harus ikut aturan itu. Misalnya, kasus dekat-dekat kemarin-mahasiswa demo tentang SPP, yang berujung pada kasus yang lebih besar dan tidak terduga. Bapak dituduh korupsi dana Negara untuk pembangunan masjid ulul albab. Saya kira, kesalahan fatal Bapak dengan elemen jajaran birokrasi adalah meniadakan peran mahasiswa dalam menentukan aturan, rembuk bersama, untuk menemukan kesepakatan-kesepakatan yang bijak dan cerdas antara birokrator dan mahasiswa. Wahai Bapak, ajaklah kami selaku mahasiswa untuk bisa urun pendapat dan gagasan untuk menentukan langkah dimana kami yang selalu menjadi objek pelaku aturan. Jangan menunggu didemo baru kami bisa mengajukan gagasan atau tuntutan.. Itu salah sesungguhnya.
Bapak Imam yang bersahaja…..
            Kalau boleh jujur, kepemimpinan Bapak dalam kaca mata subjektif saya sangat luar biasa, dimata sebagian mahasiswa, karyawan, dosen maupun di lingkup luas nasional. H.R. Taufiqurrochman dalam bukunya Imam al-jami’ah menulis bahwa banyak sekali tokoh-tokoh termuka yang menaruh simpati  atas kesuksesan Bapak dalam membangun kampus ini. Muhammad Maftuh Bayuni Menteri Agama menilai bahwa anda adalah tokoh yang intens, total, dan tidak mengorbankan satu untuk lainnya. Prof. Drs. A. Malik Fadjar, M.Sc Menteri Pendidikan Nasional juga megungkapkan hal yang sama. Prof. Dr. Yahya Muhaimin Menteri Pendidikan Nasional kabinet persatuan, Prof. Komaruddin Hidayat, Ph.d Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sampai dengan Basri Zain, MA, Ph.D ketua pusat studi tarbiyah ulul albab UIN Maliki Malang. Semua sangat apresiasi terhadap cirri khas, gaya, retorika kepemimpinan anda. Namun, ada yang janggal dalam buku Imam Al-jami’ah karangan H.R Taufiqurrochman tersebut, yaitu tidak adanya statement dari mahasiswa terhadap Bapak. Yang ‘dipajang’ hanyalah statement orang-orang yang mempunyai prestisius besar dengan menempati posisi srategis dalam birokrasi maupun kepemerintahan. Bapak boleh berbangga, tetapi jangan lupakan bahwa sesungguhnya penilaian yang sejati, jujur, objektif, mempunyai supremasi hukum, adalah penilaian mahasiswa. Bukan orang-orang ‘besar’ seperti yang telah diungkapkan. Karena pelaku utama dari aturan-aturan yang diterapkan adalah mahasiswa. Mahasiswa bukanlah objek, tapi mereka adalah subjek. Otoritas tertinggi secara hukum, subtansi, filosofi, social development adalah mereka. Rektor, wakil rektor, dekan, wakil dekan, kajur, wakil kajur, kamahasiswaan, karyawaan, adalah buruh dan pemimpinnya adalah mahasiswa. Jajaran birokrasi hanyalah orang yang dibayar untuk menemani mahasiswa belajar, mencari ilmu, mandiri dan lain-lain. Jangan semena-mena dan sombong dengan jabatan akademik dengan meniadakan peran mahasiswa dalam berkontribusi untuk kampusnya. Wahai Bapak, elus kepala kami dengan kasih sayang layaknya orang tua kepada anaknya. Tidak hanya secara struktural, namun lebih kepada romantisme hubungan kultural.
Wahai Bapak Imam yang selalu sabar….
         Napak tilas perjuangan Bapak saya yakin akan dikenang oleh siapa saja yang mau menghargai akan sebuah perjuangan. Saya ingat satu cita-cita luhur Bapak untuk kampus ini kedepan, yaitu menjadikan kampus ini unggul, unggul, dan unggul. Keunggulan itu diperkuat dengan banyaknya jajaran birokrasi, pemimpin fakultas, maupun universitas yang hafal Al qur’an. Sebagai mahasiswa, sungguh itu adalah cita-cita luhur nan luar biasa. Beberapa bulan ke depan, Bapak sudah tidak memimpin kammpus ini, tapi Bapak sudah meninggalkan warisan cita-cita, mimpi dan impian untuk kampus, mahasiswa, dan semuanya untuk depannya.
            Sekali lagi apapun yang saya ungkapakan, terimalah saya sebagai manusia yang penuh salah dan dosa. Trima kasih Pak mau membaca surat sederhana ini. Semoga Rahmad Allah selalu menaungi kita dalam melakkukan aktivitas sehari-hari. Amin.
Wassalamu’alaikum Wr Wb
    

Senin, 16 Januari 2012

Prabu Brawijaya


            Prabu Brawijaya (lahir: ? - wafat: 1478) atau kadang disebut Brawijaya V adalah raja terakhir Kerajaan Majapahit versi naskah-naskah babad dan serat, yang memerintah sampai tahun 1478. Nama Brawijaya berasal dari kata Bhra Wijaya.  Gelar bhra adalah singkatan dari bhatara, yang bermakna "baginda". Sedangkan gelar bhre yang banyak dijumpai dalam Pararaton berasal dari gabungan kata bhra i, yang bermakna "baginda di". Dengan demikian, Brawijaya dapat juga disebut Bhatara Wijaya.
Jaka Tingkir
            Nama aslinya adalah Mas Karèbèt, putra Ki Ageng Pengging atau Ki Kebo Kenanga. Ketika ia dilahirkan, ayahnya sedang menggelar pertunjukan wayang beber dengan dalang Ki Ageng Tingkir. Kedua ki ageng ini adalah murid Syekh Siti Jenar. Sepulang dari mendalang, Ki Ageng Tingkir jatuh sakit dan meninggal dunia.
            Sepuluh tahun kemudian, Ki Ageng Pengging dihukum mati karena dituduh memberontak terhadap Kerajaan Demak. Sebagai pelaksana hukuman ialah Sunan Kudus. Setelah kematian suaminya, Nyai Ageng Pengging jatuh sakit dan meninggal pula. Sejak itu, Mas Karebet diambil sebagai anak angkat Nyai Ageng Tingkir (janda Ki Ageng Tingkir).
            Mas Karebet tumbuh menjadi pemuda yang gemar bertapa, dan dijuluki Jaka Tingkir. Guru pertamanya adalah Sunan Kalijaga. Ia juga berguru pada Ki Ageng Sela, dan dipersaudarakan dengan ketiga cucu Ki Ageng yaitu, Ki Juru Martani, Ki Ageng Pemanahan, dan Ki Panjawi.
            Babad Tanah Jawi selanjutnya mengisahkan, Jaka Tingkir ingin mengabdi ke ibu kota Demak. Di sana ia tinggal di rumah Kyai Gandamustaka (saudara Nyi Ageng Tingkir) yang menjadi perawat Masjid Demak berpangkat lurah ganjur. Jaka Tingkir pandai menarik simpati raja Demak Trenggana sehingga ia diangkat menjadi kepala prajurit Demak berpangkat lurah wiratamtama.
            Beberapa waktu kemudian, Jaka Tingkir bertugas menyeleksi penerimaan prajurit baru. Ada seorang pelamar bernama Dadungawuk yang sombong dan suka pamer. Jaka Tingkir menguji kesaktiannya dan Dadungawuk tewas hanya dengan menggunakan SADAK KINANG. Akibatnya, Jaka Tingkir pun dipecat dari ketentaraan dan diusir dari Demak.
            Jaka Tingkir kemudian berguru pada Ki Ageng Banyubiru atau Ki Kebo Kanigoro (saudara tua ayahnya / kakak mendiang ayahnya). Setelah tamat, ia kembali ke Demak bersama ketiga murid yang lain, yaitu Mas Manca, Mas Wila, dan Ki Wuragil.
            Rombongan Jaka Tingkir menyusuri Sungai Kedung Srengenge menggunakan rakit. Muncul kawanan siluman buaya menyerang mereka namun dapat ditaklukkan. Bahkan, kawanan tersebut kemudian membantu mendorong rakit sampai ke tujuan.
            Saat itu Trenggana sekeluarga sedang berwisata di Gunung Prawoto. Jaka Tingkir melepas seekor kerbau gila yang dinamakan sebagai Kebo Danu yang sudah diberi mantra (diberi tanah kuburan pada telinganya). Kerbau itu mengamuk menyerang pesanggrahan raja, di mana tidak ada prajurit yang mampu melukainya.
            Jaka Tingkir tampil menghadapi kerbau gila. Kerbau itu dengan mudah dibunuhnya. Atas jasanya itu, Trenggana mengangkat kembali Jaka Tingkir menjadi lurah wiratamtama.
            Kisah dalam babad tersebut seolah hanya kiasan, bahwa setelah dipecat, Jaka Tingkir menciptakan kerusuhan di Demak, dan ia tampil sebagai pahlawan yang meredakannya. Oleh karena itu, ia pun mendapatkan simpati raja kembali.
            Prestasi Jaka Tingkir sangat cemerlang meskipun tidak diceritakan secara jelas dalam Babad Tanah Jawi. Hal itu dapat dilihat dengan diangkatnya Jaka Tingkir sebagai Adipati Pajang bergelar Adipati Adiwijaya. Ia juga menikahi Ratu Mas Cempa, putri Trenggana.
            Sepeninggal Trenggana tahun 1546, puteranya yang bergelar Sunan Prawoto seharusnya naik takhta, tapi kemudian ia tewas dibunuh Arya Penangsang (sepupunya di Jipang) tahun 1549. Arya Penangsang membunuh karena Sunan Prawoto sebelumnya membunuh karena Sunan Prawoto sebelumnya juga membunuh ayah Aryo Penangsang yang bernama Pangeran Sekar Seda Lepen sewaktu ia menyelesaikan salat ashar di tepi Bengawan Sore. Pangeran Sekar merupakan adik kandung Trenggana sekaligus juga merupakan murid pertama Sunan Kudus. Pembunuhan-pembunuhan ini dilakukan dengan menggunakan Keris Kiai Setan Kober. Selain itu Aryo Penangsang juga membunuh Pangeran Hadiri suami dari Ratu Kalinyamat yang menjadi bupati Jepara.
            Kemudian Aryo Penangsang mengirim utusan untuk membunuh Adiwijaya di Pajang, tapi gagal. Justru Adiwijaya menjamu para pembunuh itu dengan baik, serta memberi mereka hadiah untuk mempermalukan Arya Penangsang.
            Sepeninggal suaminya, Ratu Kalinyamat (adik Sunan Prawoto) mendesak Adiwijaya agar menumpas Aryo Penangsang karena hanya ia yang setara kesaktiannya dengan adipati Jipang tersebut. Adiwijaya segan memerangi Aryo Penangsang secara langsung karena sama-sama anggota keluarga Demak dan merupakan saudara seperguruan sama-sama murid Sunan Kudus.
            Maka, Adiwijaya pun mengadakan sayembara. Barangsiapa dapat membunuh Aryo PenangsangPati dan mentaok/Mataram sebagai hadiah. akan mendapatkan tanah
            Sayembara diikuti kedua cucu Ki Ageng Sela, yaitu Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi. Dalam perang itu, Ki Juru Martani (kakak ipar Ki Ageng Pemanahan) berhasil menyusun siasat cerdik sehingga sehingga Sutawijaya (Anak Ki Ageng Pemanahan) dapat menewaskan Arya Penangsang setelah menusukkan Tombak Kyai Plered ketika Aryo Penangsang menyeberang Bengawan Sore dengan mengendarai Kuda Jantan Gagak Rimang.
            Setelah peristiwa tahun 1549 tersebut, Pusat kerajaan tersebut kemudian dipindah ke Pajang dengan Hadiwijaya sebagai raja pertama. Demak kemudian dijadikan Kadipaten dengan anak Suan Prawoto yang menjadi Adipatinya
            Hadiwijaya juga mengangkat rekan-rekan seperjuangannya dalam pemerintahan. Mas Manca dijadikan patih bergelar Patih Mancanegara, sedangkan Mas Wila dan Ki Wuragil dijadikan menteri berpangkat ngabehi.
Sumpah setia Ki Ageng Mataram
            Sesuai perjanjian sayembara, Ki Panjawi mendapatkan tanah Pati dan bergelar Ki Ageng Pati. Sementara itu, Ki Ageng Pemanahan masih menunggu karena seolah-olah Hadiwijaya menunda penyerahan tanah Mataram.
            Sampai tahun 1556, tanah Mataram masih ditahan Adiwijaya. Ki Ageng Pemanahan segan untuk meminta. Sunan Kalijaga selaku guru tampil sebagai penengah kedua muridnya itu. Ternyata, alasan penundaan hadiah adalah dikarenakan rasa cemas Adiwijaya ketika mendengar ramalan Sunan Prapen bahwa di Mataram akan lahir sebuah kerajaan yang mampu mengalahkan kebesaran Pajang. Ramalan itu didengarnya saat ia dilantik menjadi raja usai kematian Arya Penangsang.
            Sunan Kalijaga meminta Adiwijaya agar menepati janji karena sebagai raja ia adalah panutan rakyat. Sebaliknya, Ki Ageng Pemanahan juga diwajibkan bersumpah setia kepada Pajang. Ki Ageng bersedia. Maka, Adiwijaya pun rela menyerahkan tanah Mataram pada kakak angkatnya itu.
            Tanah Mataram adalah bekas kerajaan kuno, bernama Kerajaan Mataram yang saat itu sudah tertutup hutan bernama Alas Mentaok. Ki Ageng Pemanahan sekeluarga, termasuk Ki Juru Martani, membuka hutan tersebut menjadi desa Mataram. Meskipun hanya sebuah desa namun bersifat perdikan atau sima swatantra. Ki Ageng Pemanahan yang kemudian bergelar Ki Ageng Mataram, hanya diwajibkan menghadap ke Pajang secara rutin sebagai bukti kesetiaan tanpa harus membayar pajak dan upeti.

Menundukkan Jawa Timur

            Saat naik takhta, kekuasaan Adiwijaya hanya mencakup wilayah Jawa Tengah saja, karena sepeninggal Trenggana, banyak daerah bawahan Demak yang melepaskan diri.
            Negeri-negeri di Jawa Timur yang tergabung dalam Persekutuan Adipati Bang Wetan saat itu dipimpin oleh Panji Wiryakrama bupati Surabaya. Persekutuan adipati tersebut sedang menghadapi ancaman invansi dari berbagai penjuru, yaitu Pajang, Madura, dan Blambangan.
            Pada tahun 1568 Sunan Prapen penguasa Giri Kedaton menjadi mediator pertemuan antara Hadiwijaya raja Pajang di atas negeri yang mereka pimpin. Sebagai tanda ikatan politik, Panji Wiryakrama diambil sebagai menantu Adiwijaya.
            Selain itu, Adiwijaya juga berhasil menundukkan Madura setelah penguasa pulau itu yang bernama Raden Pratanu bergelar Panembahan Lemah Duwur Arosbaya menjadi menantunya.
            Dalam pertemuan tahun 1568 itu, Sunan Prapen untuk pertama kalinya berjumpa dengan Ki Ageng Pemanahan dan untuk kedua kalinya meramalkan bahwa Pajang akan ditaklukkan Mataram melalui keturunan Ki Ageng tersebut.
            Mendengar ramalan tersebut, Adiwijaya tidak lagi merasa cemas karena ia menyerahkan semuanya pada kehendak takdir.

Pemberontakan Sutawijaya

            Sutawijaya adalah putra Ki Ageng Pemanahan yang juga menjadi anak angkat Hadiwijaya. Sepeninggal ayahnya tahun 1575, Sutawijaya menjadi penguasa baru di Mataram, dan diberi hak untuk tidak menghadap selama setahun penuh.
            Waktu setahun berlalu dan Sutawijaya tidak datang menghadap. Adiwijaya mengirim Ngabehi Wilamarta dan Ngabehi Wuragil untuk menanyakan kesetiaan Mataram. Mereka menemukan Sutawijaya bersikap kurang sopan dan terkesan ingin memberontak. Namun kedua pejabat senior itu pandai menenangkan hati Adiwijaya melalui laporan mereka yang disampaikan secara halus.
            Tahun demi tahun berlalu. Adiwijaya mendengar kemajuan Mataram semakin pesat. Ia pun kembali mengirim utusan untuk menyelidiki kesetiaan Sutawijaya. Kali ini yang berangkat adalah Pangeran Benawa (putra mahkota), Arya Pamalad (menantu yang menjadi adipati Tuban), serta Patih Mancanegara. Ketiganya dijamu dengan pesta oleh Sutawijaya. Di tengah keramaian pesta, putra sulung Sutawijaya yang bernama Raden Rangga membunuh seorang prajurit Tuban yang didesak Arya Pamalad. Arya Pamalad sendiri sejak awal kurang suka dengan Sutawijaya sekeluarga.
            Maka sesampainya di Pajang, Arya Pamalad melaporkan keburukan Sutawijaya, sedangkan Pangeran Benawa menjelaskan kalau peristiwa pembunuhan tersebut hanya kecelakaan saja. Hadiwijaya menerima kedua laporan itu dan berusaha menahan diri.
            Pada tahun 1582 seorang keponakan Sutawijaya yang tinggal di Pajang, bernama Raden Pabelan dihukum mati karena berani menyusup ke dalam keputrian menemui Ratu Sekar Kedaton (putri bungsu Adiwijaya). Ayah Pabelan yang bernama Tumenggung Mayang dijatuhi hukuman buang karena diduga ikut membantu anaknya.
            Ibu Raden Pabelan yang merupakan adik perempuan Sutawijaya meminta bantuan ke Mataram. Sutawijaya pun mengirim utusan untuk merebut Tumenggung Mayang dalam perjalanan pembuangannya ke Semarang.

Kematian

            Perbuatan Sutawijaya itu menjadi alasan Hadiwijaya untuk menyerang Mataram. Perang antara kedua pihak pun meletus. Pasukan Pajang bermarkas di Prambanan dengan jumlah lebih banyak, namun menderita kekalahan. Adiwijaya semakin tergoncang mendengar Gunung Merapi tiba-tiba meletus dan laharnya ikut menerjang pasukan Pajang yang berperang dekat gunung tersebut.
            Adiwijaya menarik pasukannya mundur. Dalam perjalanan pulang, ia singgah ke makam Sunan Tembayat namun tidak mampu membuka pintu gerbangnya. Hal itu dianggapnya sebagai firasat kalau ajalnya segera tiba.
            Adiwijaya melanjutkan perjalanan pulang. Di tengah jalan ia jatuh dari punggung gajah tunggangannya, sehingga harus diusung dengan tandu. Sesampai di Pajang, datang makhluk halus anak buah Sutawijaya bernama Ki Juru Taman memukul dada Adiwijaya, membuat sakitnya bertambah parah.
            Adiwijaya berwasiat supaya anak-anak dan menantunya jangan ada yang membenci Sutawijaya, karena perang antara Pajang dan Mataram diyakininya sebagai takdir. Selain itu, Sutawijaya sendiri adalah anak angkat Adiwijaya yang dianggapnya sebagai putra tertua. Pada cerita rakyat dinyatakan bahwa sebenarnya Sutawijaya adalah anak kandung Adiwijaya dengan anak Ki Ageng Sela.
            Adiwijaya alias Jaka Tingkir akhirnya meninggal dunia tahun 1582 tersebut. Ia dimakamkan di desa Butuh, yaitu kampung halaman ibu kandungnya.

Pengganti

            Hadiwijaya memiliki beberapa orang anak. Putri-putrinya antara lain dinikahkan dengan Panji Wiryakrama Surabaya, Raden Pratanu Madura, dan Arya Pamalad Tuban. Adapun putri yang paling tua dinikahkan dengan Arya Pangiri bupati Demak. Arya Pangiri sebenarnya adalah anak Sunan Prawoto, yang seharusnya memang menggantikan Trenggana menjadi raja Demak.
            Arya Pangiri didukung Panembahan Kudus (pengganti Sunan Kudus) untuk menjadi raja. Pangeran Benawa sang putra mahkota disingkirkan menjadi bupati Jipang. Arya Pangiri pun menjadi raja baru di Pajang dengan nama tahta Ngawantipura.