Kegundahan
serta ketidaktenangan itu muncul tatkala ada satu siluman, bau kentut tiba-tiba
menyeruak masuk ke dalam tanpa izin sang empunya rumah, tanpa basa-basi andhap
ashor, dan membuat suasana gaduh tanpa merasa sungkan dan dosa. Seisi rumah terkena imbas bau yang tidak sedap. Entah, makan apa dia sehingga kentutnya begitu "wangi" dan menebar. Imbas hakikinya berupa salah paham,
interkoneksi dalam berkomunikasi, munculnya duga'an-duga'an subjektif dan yang
paling ekstrim satu keluarga harmonis itu mulai berhalusinasi bahwa ada satu
proses saling meng-intrik diantara mereka.Kamis, 26 April 2012
Tamu itu bernama Bau kentut
Kegundahan
serta ketidaktenangan itu muncul tatkala ada satu siluman, bau kentut tiba-tiba
menyeruak masuk ke dalam tanpa izin sang empunya rumah, tanpa basa-basi andhap
ashor, dan membuat suasana gaduh tanpa merasa sungkan dan dosa. Seisi rumah terkena imbas bau yang tidak sedap. Entah, makan apa dia sehingga kentutnya begitu "wangi" dan menebar. Imbas hakikinya berupa salah paham,
interkoneksi dalam berkomunikasi, munculnya duga'an-duga'an subjektif dan yang
paling ekstrim satu keluarga harmonis itu mulai berhalusinasi bahwa ada satu
proses saling meng-intrik diantara mereka.Rabu, 25 April 2012
Pelantkan Omik Fakultas Humbud periode 2012-2013
Pelantikan OMIK Fakultas Humaniora dan Budaya Uin maliki Malang periode 2012-2013 beberapa waktu lalu (20/05) di gedung Sc lt.02 menjadi awal dari sebuah tanggung jawab dan perjuangan baru dalam mewujudkan kesuksesan bersama. Dema-F, Hmj BSi, Hmj BSA, dan Hmj PBA mengikuti acara pelantikan ini dengan khidmat. Acara yang diselenggarakan oleh Sema-F fakultas ini adalah satu rentetan dari beberapa acara yang lainnya. Setelah semua Omik mengikuti pelantikan, mereka selanjutnya akan digodok dengan pelatihan organisasi yang dilaksanakan di ruang auditorium dan galeri lt.3 fakultas Humbud.
Selasa, 24 April 2012
Coretan untuk Sahabat
Mahasantri Ma'had Sunan Ampel Al- 'Aly itu akhirnya muntab
Lagi-lagi kisruh mewarnai kehidupan ini dengan berbagai
segmen yang meliputi. Sesungguhnya ada latar belakang dan alasan rasional
kenapa kekisruhan tak dapat di elakkan. Sistem sosial, birokrasi kampus,
politik kekuasaan “kecil” dunia mahasiswa, feodalisme fakultas maupun jurusan,
maupun kebijakan ma’had dimana mahasiswa
Uin maliki berkutat dengan urusan intelektual, moral, dan sosial. Selama ini,
tidak ada gerakan praktis untuk mengatasi problem-problem yang terjadi.
Idealnya, seorang musyrif dan murabbi adalah penyambung lidah, pengayom, teman
curhat, sahabat dekat, konco ngopi, dan tanggap dengan masalah-masalah yang
dihadapi mahasantri. Apa keinginan mereka, selama tidak melanggar tatanan
sosial dan budaya, harusnya ditanggapi dengan hati yang lapang, fikiran yang
jernih dan prinsip silaturahmi yang terbangun. Namun yang terjadi, musyrif
maupun murabbi seakan terjebak pada structural formal. Musyrif dan murabbi
bukannya menjadi penyambung dari problematika mahasantri namun justru berubah
menjadi algojo dan pengeksekusi mahasantri.
Santri dan Peci
Santri dan Peci
Seorang kawan cerita bahwa ia baru
saja menemui, sowan ke salah seorang Kyai di
kota Malang, berharap dalam hatinya ia akan mendapatkan nasehat, petuah,
atau do’a-do’a yang bersifat kontekstual yang sesuai dengan keadaan dirinya. Kebiasaan
seseorang yang sowan kepada orang yang dianggap tua adalah satu bentuk sungkem,
andap ashor, tata karma di dalam menghormati orang tua. Khususnya orang alim.
Rasulullah SAW meng-SK mereka sebagai waratsatul Anbiya’ asistennya para
Nabi, manusia dengan derajat khusus yang mendapatkan mandat kehormatan, prestisius,
wibawa, juga sekaligus ‘cobaan’.
Senin, 23 April 2012
Neng Chacha
Siapa yang tidak kenal dengan Marsyanda atau Neng chacha. Artis Indonesia yang sudah melambai namanya hingga ke pelosok desa. Neng Chacha (panggilan ankrabnya) kami temui beberapa waktu lalu di Jakarta untuk wawancara tentang arti sebuah jilbab.Bagi Chacha, jilbab adalah sebuah rasa syukur kepada Allah terhadap semua nikmat yang telah diberikan.
" Aku memakai jilbab ini adalah karena syukurku padaNya". Ujar Neng Chacha.
" Aku memakai jilbab ini adalah karena syukurku padaNya". Ujar Neng Chacha.
Kamis, 19 April 2012
Kaping telu wong sholeh kumpulono
Ada Salah satu butir syair Tombo Ati yang berbunyi "kaping telu wong kang sholeh kumpulono". Syair jawa yang digubah oleh ayahanda Gus Mus tersebut merupakan syair jawa yang sangat populer di kalangan umat muslim Indonesia, khususnya kaum santri di pesantren.
Khusus bait diatas, mempunyai kohesi didalam lingkungan hidup untuk menciptakan kepribadian yang baik maupun buruk. Anda tentu tahu, siapa yang berkumpul dengan tukang minyak, dia akan ikut menjadi wangi. Pun sebaliknya, jika anda bergaul dengan tukang besi, segala apa yang berkaitan dengan itu juga ikut mempengaruhi anda.
Khusus bait diatas, mempunyai kohesi didalam lingkungan hidup untuk menciptakan kepribadian yang baik maupun buruk. Anda tentu tahu, siapa yang berkumpul dengan tukang minyak, dia akan ikut menjadi wangi. Pun sebaliknya, jika anda bergaul dengan tukang besi, segala apa yang berkaitan dengan itu juga ikut mempengaruhi anda.
Senin, 16 April 2012
Maiyahan
Silaturahmi ke Cak Nun dalam rutinan maiyah padhang mbulan jombang alhamdulillah selalu kami ikuti setiap bulan. Cak Nun adalah tokoh nasional yang sampai saat ini masih eksis di forum-forum. Entah di masyarakat, mahasiswa, aktivis, dan lain-lain. Semoga kami bisa selalu mengikuti forum-forum dimana Cak Nun ada.
Rabu, 29 Februari 2012
Suratku untuk Bapak Imam Suprayogo
Assalamu’alaikum Wr Wb
Puji syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan
berbagai karunia, nikmat, rahmad kepada kita selaku hambaNya sehinggga bisa
melakukan aktivitas, menemukan ilmu dimana pun kita berada, menghirup nafas
rezki yang tiada henti-hentinya mengalir di sekeliling kita untuk mencapai satu
ucapan syukur kepada Tuhan sang pencipta.
Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan pada
manusia mulia, manusia agung, pemegang tonggak peradaban terbesar dalam sejarah
dunia. nabi akhiruz zaman, raja dari para nabi( mulukan nabiyya), seorang
lelaki penggenggam hujan. Dialah Muhammad SAW, yang telah mengantarkan manusia
dari kubangan dosa menuju kolam intan permata nan cahaya, yaitu Islam.
Bapak Rektor yang
terhormat…..
Ijinkan mahasiswa Bapak ini menyampaikan satu dua kata
untuk menyampaikan sesuatu, curhat, testimony, komunikasi dengan Bapak walau
hanya sebatas corat-coret dengan tulisan yang sederhana ini. Tentunya,
komunikasi yang baik harus dimulai dengan etika yang baik, tata karma yang
sopan, andap ashor kata orang jawa untuk memulai suatu perbincangan
antara murid dengan guru, ksatria dengan brahmana, santri dengan ustadz, maupun
mahasiswa dengan rektornya. Titik temu untuk bisa menemukan etika yang baik
kiranya bisa dimulai dengan satu pemahaman utuh bahwa kita adalah manusia,
bukan yang lain. Kita sering dihadapkan pada kenyataan sosial tentang hubungan
antar manusia yang selalu salah paham dalam memahami pemikiran, maksud hati,
dan keinginan untuk menyampaikan sesuatu hanya karena kita merasa paling benar
diantara yang lain, paling unggul, paling pintar, paling dewasa, menang
pengalaman dan lain-lain. Nah, disini saya sebagai mahasiswa Bapak apapun yang
saya katakan, entah solusi maupun kritik tolong anggaplah saya ini sebagai
manusia, yang segala sesuatu tidak bisa terlepas dari salah, khilaf, dan dosa.
Kiranya bapak juga demikian, tanggalkan dulu jabatan, pengalaman, prestisiusitas,
njenengan dulu agar kita bisa saling memahami, saling instropeksi diri,
bisa embat-embatan hati satu sama lain. Karena jaman sekarang, orang
sudah tidak berani menjadi manusia, mereka beraninya menjadi bupati, gubernur,
presiden, dan lain-lain. Mereka belum berani menjadi manusia seutuhnya. Kebanggaan
dan keberanian mereka satu-satunya adalah menjadi manusia struktural. Maka,
dengan ini saya dan anda mari menjadi manusia seutuhnya. Saya mohon dengan hati
yang lapang, bapak benar-benar mau sedikit mendengar keluh kesah, cerewet saya
yang selama ini saya pendam untuk bapak Imam yang terhormat.
Bapak Imam yang tak
pernah lelah berjuang…..
Dulu, ketika awal saya menjadi maba, satu hal yang saya
catat di memorandum saya adalah bahwa seorang pemimpin sejati pasti mempunyai
trik-trik, ilmu politik praktis, demi kelangsungan mempertahankan system yang
akan diterapkan pada pola kepemimpinannya. Namun, formula itu belum saya
temukan. Baru saya temukan ketika saya mendengarkan langsung pidato bapak
tentang empat pilar yang luar biasa dan terkenal di kampus ini yaitu, kedalaman
spiritual, keagungan akhlak, keluasan ilmu dan kematangan professional. Empat
formula itu akan bereksplorasi menjadi kekuatan batin, memompa semangat
kemanusiaan, membentuk karakter kepribadian yang berorentasi menjadi manusia
ulul albab. Konsep dasar ini benar-benar anda ‘plokamirkan’ dalam setiap
pidato, ceramah, khutbah dimana saja. Tidak cukup dengan itu, pengejawentaahan
yang nyata dalam bentuk yang lebih kongkrit muncul seiringan dengan gagasan
anda itu.Yaitu, ma’had sebagai wilayah srategis untuk membentuk kepribadian
‘akhlakis’, agamis, namun tetap kritis dalam membaca wacana-wacana global
tentang sosial. Inilah yang membuat saya sedikit terinspirasi dan termotivasi
untuk selalu menemukan kesejatian diri, dan selalu mengambil ilmu dari Bapak.
Bapak Imam yang selalu
di rahmati Allah….
Tidak mungkin seorang pemimpin itu mengeberi kepentingan
mahasiswa untuk kepentingan dirinya. Saya yakin itu. Maksudnya, pola system
yang diterapkan di kampus tentunya mempunyai dasar, latar belakang pemikiran,
histografis letak, untuk menciptakan budaya akademis progresif untuk kemajuan
bersama. Tidak hanya untuk kampus, tapi juga untuk masyarakat, agama, bangsa
dan Negara. Maka, dalam penerapan system yang ada, seharusnya mahasiswa selalu
diikutsertakan, di ajak rembuk untuk menciptakan kebijakan dan aturan yang ada.
Realita yang ada, banyak faktor mis komunikasi antar birokrasi dan elemen
mahasiswa dalam memahami kepentingan-kepentingan yang ada. Mahasiswa seakan
dikomodiskan sebagai pelengkap, objek pelaku system tanpa mereka mengetahui
mengapa harus ikut aturan itu. Misalnya, kasus dekat-dekat kemarin-mahasiswa
demo tentang SPP, yang berujung pada kasus yang lebih besar dan tidak terduga.
Bapak dituduh korupsi dana Negara untuk pembangunan masjid ulul albab. Saya
kira, kesalahan fatal Bapak dengan elemen jajaran birokrasi adalah meniadakan
peran mahasiswa dalam menentukan aturan, rembuk bersama, untuk menemukan
kesepakatan-kesepakatan yang bijak dan cerdas antara birokrator dan mahasiswa.
Wahai Bapak, ajaklah kami selaku mahasiswa untuk bisa urun pendapat dan
gagasan untuk menentukan langkah dimana kami yang selalu menjadi objek pelaku
aturan. Jangan menunggu didemo baru kami bisa mengajukan gagasan atau
tuntutan.. Itu salah sesungguhnya.
Bapak Imam yang bersahaja…..
Kalau boleh jujur, kepemimpinan Bapak dalam kaca mata
subjektif saya sangat luar biasa, dimata sebagian mahasiswa, karyawan, dosen
maupun di lingkup luas nasional. H.R. Taufiqurrochman dalam bukunya Imam
al-jami’ah menulis bahwa banyak sekali tokoh-tokoh termuka yang menaruh
simpati atas kesuksesan Bapak dalam
membangun kampus ini. Muhammad Maftuh Bayuni Menteri Agama menilai bahwa anda
adalah tokoh yang intens, total, dan tidak mengorbankan satu untuk lainnya. Prof.
Drs. A. Malik Fadjar, M.Sc Menteri Pendidikan Nasional juga megungkapkan hal
yang sama. Prof. Dr. Yahya Muhaimin Menteri Pendidikan Nasional kabinet
persatuan, Prof. Komaruddin Hidayat, Ph.d Rektor UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta, sampai dengan Basri Zain, MA, Ph.D ketua pusat studi tarbiyah ulul
albab UIN Maliki Malang. Semua sangat apresiasi terhadap cirri khas, gaya,
retorika kepemimpinan anda. Namun, ada yang janggal dalam buku Imam
Al-jami’ah karangan H.R Taufiqurrochman tersebut, yaitu tidak adanya
statement dari mahasiswa terhadap Bapak. Yang ‘dipajang’ hanyalah statement
orang-orang yang mempunyai prestisius besar dengan menempati posisi srategis
dalam birokrasi maupun kepemerintahan. Bapak boleh berbangga, tetapi jangan
lupakan bahwa sesungguhnya penilaian yang sejati, jujur, objektif, mempunyai
supremasi hukum, adalah penilaian mahasiswa. Bukan orang-orang ‘besar’ seperti
yang telah diungkapkan. Karena pelaku utama dari aturan-aturan yang diterapkan
adalah mahasiswa. Mahasiswa bukanlah objek, tapi mereka adalah subjek. Otoritas
tertinggi secara hukum, subtansi, filosofi, social development adalah mereka.
Rektor, wakil rektor, dekan, wakil dekan, kajur, wakil kajur, kamahasiswaan,
karyawaan, adalah buruh dan pemimpinnya adalah mahasiswa. Jajaran birokrasi
hanyalah orang yang dibayar untuk menemani mahasiswa belajar, mencari ilmu,
mandiri dan lain-lain. Jangan semena-mena dan sombong dengan jabatan akademik
dengan meniadakan peran mahasiswa dalam berkontribusi untuk kampusnya. Wahai
Bapak, elus kepala kami dengan kasih sayang layaknya orang tua kepada anaknya.
Tidak hanya secara struktural, namun lebih kepada romantisme hubungan kultural.
Wahai Bapak Imam yang
selalu sabar….
Napak tilas perjuangan Bapak saya yakin akan
dikenang oleh siapa saja yang mau menghargai akan sebuah perjuangan. Saya ingat
satu cita-cita luhur Bapak untuk kampus ini kedepan, yaitu menjadikan kampus
ini unggul, unggul, dan unggul. Keunggulan itu diperkuat dengan banyaknya
jajaran birokrasi, pemimpin fakultas, maupun universitas yang hafal Al qur’an.
Sebagai mahasiswa, sungguh itu adalah cita-cita luhur nan luar biasa. Beberapa
bulan ke depan, Bapak sudah tidak memimpin kammpus ini, tapi Bapak sudah
meninggalkan warisan cita-cita, mimpi dan impian untuk kampus, mahasiswa, dan
semuanya untuk depannya.
Sekali lagi apapun yang saya ungkapakan, terimalah saya
sebagai manusia yang penuh salah dan dosa. Trima kasih Pak mau membaca surat
sederhana ini. Semoga Rahmad Allah selalu menaungi kita dalam melakkukan
aktivitas sehari-hari. Amin.
Wassalamu’alaikum Wr Wb
Senin, 16 Januari 2012
Prabu Brawijaya
Prabu Brawijaya (lahir: ? - wafat: 1478) atau kadang
disebut Brawijaya V adalah raja terakhir Kerajaan Majapahit versi naskah-naskah babad dan
serat, yang memerintah sampai tahun 1478. Nama Brawijaya berasal dari kata Bhra Wijaya. Gelar bhra adalah singkatan dari bhatara,
yang bermakna "baginda". Sedangkan gelar bhre yang banyak
dijumpai dalam Pararaton berasal dari gabungan kata bhra i, yang
bermakna "baginda di". Dengan demikian, Brawijaya dapat juga disebut Bhatara
Wijaya.
Jaka Tingkir
Nama aslinya adalah Mas Karèbèt,
putra Ki Ageng Pengging atau Ki Kebo Kenanga. Ketika ia
dilahirkan, ayahnya sedang menggelar pertunjukan wayang
beber dengan dalang Ki Ageng Tingkir. Kedua ki ageng ini adalah murid Syekh
Siti Jenar. Sepulang dari mendalang, Ki Ageng Tingkir jatuh sakit dan
meninggal dunia.
Sepuluh tahun kemudian, Ki
Ageng Pengging dihukum mati karena dituduh memberontak terhadap Kerajaan
Demak. Sebagai pelaksana hukuman ialah Sunan Kudus.
Setelah kematian suaminya, Nyai Ageng Pengging jatuh sakit dan meninggal pula.
Sejak itu, Mas Karebet diambil sebagai anak angkat Nyai Ageng Tingkir (janda Ki
Ageng Tingkir).
Mas Karebet tumbuh menjadi pemuda
yang gemar bertapa, dan dijuluki Jaka Tingkir. Guru pertamanya adalah Sunan
Kalijaga. Ia juga berguru pada Ki
Ageng Sela, dan dipersaudarakan dengan ketiga cucu Ki Ageng yaitu, Ki
Juru Martani, Ki Ageng Pemanahan, dan Ki Panjawi.
Babad
Tanah Jawi
selanjutnya mengisahkan, Jaka Tingkir ingin mengabdi ke ibu kota Demak. Di sana ia tinggal
di rumah Kyai Gandamustaka (saudara Nyi Ageng Tingkir) yang menjadi perawat Masjid
Demak berpangkat lurah ganjur. Jaka Tingkir pandai menarik simpati
raja Demak Trenggana
sehingga ia diangkat menjadi kepala prajurit Demak berpangkat lurah
wiratamtama.
Beberapa waktu kemudian, Jaka
Tingkir bertugas menyeleksi penerimaan prajurit baru. Ada seorang pelamar
bernama Dadungawuk yang sombong dan suka pamer. Jaka Tingkir menguji
kesaktiannya dan Dadungawuk tewas hanya dengan menggunakan SADAK KINANG.
Akibatnya, Jaka Tingkir pun dipecat dari ketentaraan dan diusir dari Demak.
Jaka Tingkir kemudian berguru pada
Ki Ageng Banyubiru atau Ki Kebo Kanigoro (saudara tua ayahnya / kakak mendiang
ayahnya). Setelah tamat, ia kembali ke Demak bersama ketiga
murid yang lain, yaitu Mas Manca, Mas Wila, dan Ki Wuragil.
Rombongan Jaka Tingkir menyusuri
Sungai Kedung Srengenge menggunakan rakit. Muncul kawanan siluman buaya menyerang
mereka namun dapat ditaklukkan. Bahkan, kawanan tersebut kemudian membantu
mendorong rakit sampai ke tujuan.
Saat itu Trenggana sekeluarga sedang
berwisata di Gunung Prawoto. Jaka Tingkir melepas seekor kerbau gila yang
dinamakan sebagai Kebo Danu yang sudah diberi mantra (diberi tanah kuburan pada
telinganya). Kerbau itu mengamuk menyerang pesanggrahan raja, di mana tidak ada
prajurit yang mampu melukainya.
Jaka Tingkir tampil menghadapi
kerbau gila. Kerbau itu dengan mudah dibunuhnya. Atas jasanya itu, Trenggana
mengangkat kembali Jaka Tingkir menjadi lurah wiratamtama.
Kisah dalam babad tersebut seolah
hanya kiasan, bahwa setelah dipecat, Jaka Tingkir menciptakan kerusuhan di Demak, dan ia tampil
sebagai pahlawan yang meredakannya. Oleh karena itu, ia pun mendapatkan simpati
raja kembali.
Prestasi
Jaka Tingkir sangat cemerlang meskipun tidak diceritakan secara jelas dalam Babad
Tanah Jawi. Hal itu dapat dilihat dengan diangkatnya Jaka Tingkir sebagai
Adipati Pajang
bergelar Adipati Adiwijaya. Ia juga menikahi Ratu Mas Cempa, putri Trenggana.
Sepeninggal
Trenggana tahun 1546, puteranya yang bergelar Sunan
Prawoto seharusnya naik takhta, tapi kemudian ia tewas dibunuh Arya
Penangsang (sepupunya di Jipang) tahun 1549. Arya Penangsang membunuh
karena Sunan Prawoto sebelumnya membunuh karena Sunan Prawoto sebelumnya juga
membunuh ayah Aryo Penangsang yang bernama Pangeran Sekar Seda Lepen sewaktu ia
menyelesaikan salat ashar di tepi Bengawan Sore. Pangeran Sekar merupakan adik
kandung Trenggana sekaligus juga merupakan murid pertama Sunan Kudus.
Pembunuhan-pembunuhan ini dilakukan dengan menggunakan Keris Kiai Setan Kober.
Selain itu Aryo Penangsang juga membunuh Pangeran Hadiri suami dari Ratu
Kalinyamat yang menjadi bupati Jepara.
Kemudian
Aryo
Penangsang mengirim utusan untuk membunuh Adiwijaya di Pajang, tapi gagal.
Justru Adiwijaya menjamu para pembunuh itu dengan baik, serta memberi mereka
hadiah untuk mempermalukan Arya
Penangsang.
Sepeninggal
suaminya, Ratu Kalinyamat (adik Sunan
Prawoto) mendesak Adiwijaya agar menumpas Aryo
Penangsang karena hanya ia yang setara kesaktiannya dengan adipati Jipang
tersebut. Adiwijaya segan memerangi Aryo
Penangsang secara langsung karena sama-sama anggota keluarga Demak dan merupakan
saudara seperguruan sama-sama murid Sunan Kudus.
Maka,
Adiwijaya pun mengadakan sayembara. Barangsiapa dapat membunuh Aryo
PenangsangPati dan mentaok/Mataram sebagai
hadiah. akan mendapatkan tanah
Sayembara
diikuti kedua cucu Ki Ageng Sela, yaitu Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi. Dalam perang
itu, Ki Juru Martani (kakak ipar Ki Ageng Pemanahan) berhasil menyusun siasat
cerdik sehingga sehingga Sutawijaya (Anak Ki Ageng Pemanahan) dapat menewaskan Arya
Penangsang setelah menusukkan Tombak Kyai Plered ketika Aryo Penangsang
menyeberang Bengawan Sore dengan mengendarai Kuda Jantan Gagak Rimang.
Setelah
peristiwa tahun 1549 tersebut, Pusat kerajaan tersebut kemudian dipindah ke Pajang dengan
Hadiwijaya sebagai raja pertama. Demak kemudian dijadikan Kadipaten dengan anak
Suan Prawoto yang menjadi Adipatinya
Hadiwijaya
juga mengangkat rekan-rekan seperjuangannya dalam pemerintahan. Mas Manca
dijadikan patih bergelar Patih Mancanegara, sedangkan Mas Wila dan Ki Wuragil
dijadikan menteri berpangkat ngabehi.
Sumpah
setia Ki Ageng Mataram
Sesuai perjanjian sayembara, Ki Panjawi mendapatkan tanah Pati dan bergelar Ki
Ageng Pati. Sementara itu, Ki Ageng Pemanahan masih menunggu karena
seolah-olah Hadiwijaya menunda penyerahan tanah Mataram.
Sampai tahun 1556, tanah Mataram masih
ditahan Adiwijaya. Ki Ageng Pemanahan segan untuk meminta. Sunan
Kalijaga selaku guru tampil sebagai penengah kedua muridnya itu. Ternyata,
alasan penundaan hadiah adalah dikarenakan rasa cemas Adiwijaya ketika mendengar
ramalan Sunan Prapen bahwa di Mataram akan lahir
sebuah kerajaan yang mampu mengalahkan kebesaran Pajang. Ramalan itu
didengarnya saat ia dilantik menjadi raja usai kematian Arya
Penangsang.
Sunan
Kalijaga meminta Adiwijaya agar menepati janji karena sebagai raja ia
adalah panutan rakyat. Sebaliknya, Ki Ageng Pemanahan juga diwajibkan bersumpah
setia kepada Pajang.
Ki Ageng bersedia. Maka, Adiwijaya pun rela menyerahkan tanah Mataram pada
kakak angkatnya itu.
Tanah Mataram adalah
bekas kerajaan kuno, bernama Kerajaan
Mataram yang saat itu sudah tertutup hutan bernama Alas Mentaok. Ki Ageng Pemanahan sekeluarga, termasuk Ki
Juru Martani, membuka hutan tersebut menjadi desa Mataram. Meskipun
hanya sebuah desa namun bersifat perdikan atau sima swatantra. Ki Ageng Pemanahan yang kemudian bergelar Ki
Ageng Mataram, hanya diwajibkan menghadap ke Pajang secara rutin
sebagai bukti kesetiaan tanpa harus membayar pajak dan upeti.
Menundukkan Jawa Timur
Saat
naik takhta, kekuasaan Adiwijaya hanya mencakup wilayah Jawa Tengah
saja, karena sepeninggal Trenggana, banyak daerah bawahan Demak yang melepaskan
diri.
Negeri-negeri
di Jawa
Timur yang tergabung dalam Persekutuan Adipati Bang Wetan saat itu dipimpin
oleh Panji Wiryakrama bupati Surabaya. Persekutuan adipati tersebut sedang menghadapi
ancaman invansi dari berbagai penjuru, yaitu Pajang, Madura,
dan Blambangan.
Pada
tahun 1568 Sunan Prapen penguasa Giri
Kedaton menjadi mediator pertemuan antara Hadiwijaya raja Pajang di atas
negeri yang mereka pimpin. Sebagai tanda ikatan politik, Panji Wiryakrama
diambil sebagai menantu Adiwijaya.
Selain
itu, Adiwijaya juga berhasil menundukkan Madura
setelah penguasa pulau itu yang bernama Raden Pratanu bergelar Panembahan Lemah
Duwur Arosbaya menjadi menantunya.
Dalam
pertemuan tahun 1568 itu, Sunan Prapen untuk pertama
kalinya berjumpa dengan Ki Ageng Pemanahan dan untuk kedua kalinya
meramalkan bahwa Pajang
akan ditaklukkan Mataram
melalui keturunan Ki Ageng tersebut.
Mendengar
ramalan tersebut, Adiwijaya tidak lagi merasa cemas karena ia menyerahkan
semuanya pada kehendak takdir.
Pemberontakan Sutawijaya
Sutawijaya
adalah putra Ki Ageng Pemanahan yang juga menjadi anak angkat
Hadiwijaya. Sepeninggal ayahnya tahun 1575, Sutawijaya
menjadi penguasa baru di Mataram, dan diberi hak untuk tidak menghadap selama setahun
penuh.
Waktu setahun berlalu dan Sutawijaya
tidak datang menghadap. Adiwijaya mengirim Ngabehi Wilamarta dan Ngabehi
Wuragil untuk menanyakan kesetiaan Mataram. Mereka
menemukan Sutawijaya
bersikap kurang sopan dan terkesan ingin memberontak. Namun kedua pejabat
senior itu pandai menenangkan hati Adiwijaya melalui laporan mereka yang
disampaikan secara halus.
Tahun demi tahun berlalu. Adiwijaya
mendengar kemajuan Mataram semakin pesat. Ia pun kembali mengirim utusan untuk
menyelidiki kesetiaan Sutawijaya. Kali ini yang berangkat adalah Pangeran
Benawa (putra mahkota), Arya Pamalad (menantu yang menjadi adipati Tuban), serta Patih
Mancanegara. Ketiganya dijamu dengan pesta oleh Sutawijaya.
Di tengah keramaian pesta, putra sulung Sutawijaya
yang bernama Raden Rangga membunuh seorang prajurit Tuban yang didesak
Arya Pamalad. Arya Pamalad sendiri sejak awal kurang suka dengan Sutawijaya
sekeluarga.
Maka sesampainya di Pajang, Arya
Pamalad melaporkan keburukan Sutawijaya, sedangkan Pangeran
Benawa menjelaskan kalau peristiwa pembunuhan tersebut hanya kecelakaan
saja. Hadiwijaya menerima kedua laporan itu dan berusaha menahan diri.
Pada tahun 1582 seorang keponakan Sutawijaya
yang tinggal di Pajang,
bernama Raden Pabelan dihukum mati karena berani menyusup ke dalam keputrian
menemui Ratu Sekar Kedaton (putri bungsu Adiwijaya). Ayah Pabelan yang bernama
Tumenggung Mayang dijatuhi hukuman buang karena diduga ikut membantu anaknya.
Ibu Raden Pabelan yang merupakan
adik perempuan Sutawijaya meminta bantuan ke Mataram. Sutawijaya
pun mengirim utusan untuk merebut Tumenggung Mayang dalam perjalanan
pembuangannya ke Semarang.
Kematian
Perbuatan Sutawijaya
itu menjadi alasan Hadiwijaya untuk menyerang Mataram. Perang
antara kedua pihak pun meletus. Pasukan Pajang bermarkas di
Prambanan
dengan jumlah lebih banyak, namun menderita kekalahan. Adiwijaya semakin
tergoncang mendengar Gunung Merapi tiba-tiba meletus dan laharnya ikut
menerjang pasukan Pajang
yang berperang dekat gunung tersebut.
Adiwijaya menarik pasukannya mundur.
Dalam perjalanan pulang, ia singgah ke makam Sunan
Tembayat namun tidak mampu membuka pintu gerbangnya. Hal itu dianggapnya
sebagai firasat kalau ajalnya segera tiba.
Adiwijaya melanjutkan perjalanan
pulang. Di tengah jalan ia jatuh dari punggung gajah tunggangannya,
sehingga harus diusung dengan tandu. Sesampai di Pajang, datang
makhluk halus anak buah Sutawijaya bernama Ki Juru Taman memukul dada Adiwijaya,
membuat sakitnya bertambah parah.
Adiwijaya berwasiat supaya anak-anak
dan menantunya jangan ada yang membenci Sutawijaya,
karena perang antara Pajang dan Mataram diyakininya sebagai takdir. Selain itu, Sutawijaya
sendiri adalah anak angkat Adiwijaya yang dianggapnya sebagai putra tertua.
Pada cerita rakyat dinyatakan bahwa sebenarnya Sutawijaya adalah anak kandung
Adiwijaya dengan anak Ki Ageng Sela.
Adiwijaya alias Jaka Tingkir
akhirnya meninggal dunia tahun 1582 tersebut. Ia dimakamkan di desa Butuh,
yaitu kampung halaman ibu kandungnya.
Pengganti
Hadiwijaya memiliki beberapa orang
anak. Putri-putrinya antara lain dinikahkan dengan Panji Wiryakrama Surabaya,
Raden Pratanu Madura, dan Arya Pamalad Tuban. Adapun putri yang paling tua
dinikahkan dengan Arya Pangiri bupati Demak. Arya Pangiri
sebenarnya adalah anak Sunan Prawoto, yang seharusnya memang menggantikan
Trenggana menjadi raja Demak.
Arya
Pangiri didukung Panembahan Kudus (pengganti Sunan Kudus)
untuk menjadi raja. Pangeran Benawa sang putra
mahkota disingkirkan menjadi bupati Jipang. Arya
Pangiri pun menjadi raja baru di Pajang dengan nama
tahta Ngawantipura.
Langganan:
Postingan (Atom)

